menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.
Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.
Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.
Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Depan Penuh Piring Pecah
"Nih, buat kamu." Silva menyodorkan piring nasi gorengnya ke depan dada Baffin.
Silva menunggu respon laki-laki itu. Beberapa detik berlalu Baffin hanya diam mematung menatap isi piring dengan pandangan menilai, Silva buru-buru menambahkan, "Nih, ambil. Enak kok, beneran!"
Enak? Apa Baffin harus percaya begitu saja? Tentu saja tidak. Menurut kamus hidup Baffin, tidak ada satu pun hal yang bisa dipercaya secara instan dari seorang Silvanna, termasuk jaminan masa depan cewek itu.
Namun gilanya, takdir kuno orang tua mereka justru sudah menunjuk cewek ajaib bin ceroboh di depannya ini sebagai masa depan seorang Baffin Gualla Estuary.
Dengan helaan napas terpaksa, Baffin akhirnya mengulurkan tangan dan mengambil alih piring panjang tersebut.
Begitu piringnya berpindah tangan, Silva langsung melosor masuk ke dalam kamar Baffin tanpa izin. Ia berjalan santai sambil mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. "Eh, kamar kamu sudah banyak berubah ya, Pin? Aku sudah berapa tahun ya gak masuk ke kamar kamu?" tanya Silva takjub.
Kamar Baffin yang dulu saat mereka masih kecil dipenuhi oleh dekorasi serba astronot, replika roket, dan stiker bintang menyala, sekarang sudah berubah total menjadi ruangan minimalis modern yang didominasi oleh warna hitam polos dan abu-abu gelap. Sangat mencerminkan kepribadian pemiliknya yang kaku.
Baffin sebenarnya ingin langsung mengusir cewek itu keluar dari area teritorinya, namun entah kenapa lidahnya mendadak kelu.
Karena tidak kunjung mendapat balasan dari sang pemilik kamar, Silva memutar tubuhnya dan menatap Baffin. "Kamu gak mau makan? Enak kok, Ayah selalu bilang nasi gorengku enak!"
Tanpa menunggu persetujuan Baffin, Silva langsung menarik ujung kaus abu-abu cowok itu, menuntunnya untuk duduk di kursi meja belajar.
Baffin menatap isi piringnya lagi, lalu menunjuk sebuah benda hijau panjang dan bulat merah di sudut piring menggunakan ujung sendok. "Ini timun sama tomatnya kok gak dipotong?"
Silva menyengir tanpa dosa. "Dimakan langsung gak masalah kok! Di film-film aku sering lihat banyak artis luar negeri yang makan timun utuh langsung digigit begitu."
"Terus tomatnya?" Baffin menaikkan sebelah alisnya, menatap tomat merah bulat yang menggelinding pasrah di samping selada. "Dimakan kayak makan buah apel gitu maksud kamu?"
"Ya kayak bagaimanapun cara makannya, sama aja kan, Apin? Ujung-ujungnya bakal tetap hancur juga di dalam mulut," sahut Silva dengan logika ajaibnya yang tak terbantahkan.
Sebelum Baffin sempat membalas, Silva sudah mengambil alih sendok dari tangan Baffin. Ia menyendok sesuap nasi goreng beserta cuilan telur ceplok yang bentuknya abstrak itu, lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Baffin. "Ayo, buka mulutnya. Aaa..."
Masih dengan perasaan terpaksa dan pasrah pada keadaan, Baffin akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari Silva.
"Enak, kan?" tanya Silva langsung dengan mata berbinar-binar penuh harap, menopang dagunya di pinggiran meja belajar Baffin.
Baffin mengunyah makanan di dalam mulutnya dengan gerakan ragu pada awalnya. Namun begitu nasi itu melewati kunyahan ketiga, mata Baffin sedikit melebar. Lidahnya mendeteksi perpaduan rasa gurih, sedikit manis, dan bumbu yang meresap dengan pas. Sial*n, di luar dugaan, rasa nasi goreng ini memang benar-benar enak.
Baffin menelan makanannya, lalu menatap Silva dengan pandangan menyelidik. "Kamu masak sendiri?"
Silva mengangguk mantap dengan bangga. "Iya dong!"
"Beneran? Gak ditolongin Tante Airin?" tanya Baffin lagi, masih agak tidak percaya.
"Beneran buatan aku sendiri, Apin!" sahut Silva meyakinkan.
Sebenarnya, kemampuan masak Silva tidak tiba-tiba instan menjadi enak seperti ini. Di balik statusnya yang dilarang menyentuh dapur, dulu Silva sudah berulang kali melakukan percobaan rahasia. Mulai dari nasi goreng yang rasanya hambar seperti air putih, agak keasinan, hingga akhirnya ia berhasil membuat nasi goreng yang mampu memanjakan lidah. Meskipun sempat berubah-rubah. Hari ini enak, besok kurang.
Dan seterusnya.. sampai akhirnya setelah melewati puluhan kegagalan, sekarang ia bisa dibilang cukup jago.
Baffin kembali menerima suapan kedua yang disodorkan Silva. "Kamu bisa masak apa lagi selain ini?" tanya Baffin di sela kunyahannya.
Silva mendadak memasang wajah cemberut, lalu menggelengkan kepalanya lesu. "Cuma bisa ini aja..."
Sebenarnya Silva sangat ingin mencoba mengeksplorasi resep masakan lain yang ada di internet.
Namun apa mau dikata, otoritas tertinggi di rumahnya—yaitu sang bunda—sudah mengeluarkan dekrit keputusan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat: BAHWA ANANDA SILVA DILARANG KERAS UNTUK MEMASAK LAGI SEUMUR HIDUP. DEMI KESEHATAN MENTAL BUNDA, KENYAMANAN BERSAMA DAN KEUTUHAN DAPUR MEREKA.
Baffin yang melihat perubahan ekspresi Silva hanya bisa menyunggingkan senyum miring yang sangat tipis.
Di tengah rasa lapar malamnya yang akhirnya terpuaskan oleh nasi goreng tataan pasar tradisional itu, Baffin menyadari satu hal:
Masa depannya bersama gadis ceroboh ini mungkin akan dipenuhi oleh piring pecah dan lantai berminyak, tapi setidaknya, perutnya dipastikan tidak akan pernah kelaparan. Dan entah kenapa, pemikiran itu membuat Baffin tidak lagi terlalu membenci takdir perjodohan mereka.
•••
Sinar matahari pagi itu mulai terasa menghangat saat Baffin berjalan keluar dari pintu rumahnya. Cowok itu sudah rapi dengan jaket kasualnya, berniat untuk berkumpul bersama 'Baffin-..' ah, itulah! Baffin- tidak mau menyembutnya.
Namun, langkah kakinya mendadak terkunci begitu netranya menangkap sesosok gadis di pelataran rumah sebelah.
Di sana, Silva sedang duduk sendirian di undakan teras rumahnya yang sepi. Tubuhnya agak menunduk dengan kedua lutut yang ditekuk ke dada. Jari-jari mungilnya tampak sibuk bergerak, mengusap-usap ujung sandal bulu putih bergambar kepala kelinci yang sedang ia kenakan. Ada aura kesepian yang terpancar jelas dari punggung rapuh itu.
Entah angin malam mana yang berembus, atau entah dorongan aneh apa yang tiba-tiba merasuki kepalanya, Baffin melangkah mendekat.
Padahal biasanya, disapa sekeras apa pun oleh Silva, Baffin hanya akan melengos pergi.
"Kamu ngapain di situ?" tanya Baffin datar.
Silva terlonjak kaget. Ia mendongak cepat dengan mata membulat polos. "Ah?"
Baffin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. "Kamu di situ ngapain?" ulangnya, kali ini dengan nada yang sedikit lebih lembut.
"Aku... aku cuman bosen," cicit Silva pelan, kembali menatap sandalnya.
"Ayah sama Bunda kamu mana?"
"Ayah pergi kerja. Kalau Bunda lagi beresin rumah di dalam," jawab Silva. Matanya kemudian melirik pakaian rapi Baffin dengan binar penuh harap. "Kamu mau main keluar ya, Apin?"
"Iya."
"Aku... ikut boleh?" tanya Silva ragu, suaranya mencicit pelan.
Baffin menaikkan sebelah alisnya. "Temen aku laki-laki semua."
Mendengar penolakan halus itu, bahu Silva langsung merosot lemas. "Hemhhh, Ya udah..." ucapnya dengan nada sedih yang amat ketara.
Dan entah kenapa, demi melihat gumpalan kekecewaan di wajah gadis itu, ulu hati Baffin mendadak dirayapi rasa kasihan yang asing.
Baffin berdeham singkat, mencoba mengusir rasa canggungnya sendiri. "Kamu punya temen gak? Aku anterin ke rumah temenmu."
Seketika itu juga, Silva langsung berdiri tegak seolah baru saja disengat listrik. Sepasang matanya berbinar cerah. "Punya! Kamu beneran mau anterin?"
Baffin mengangguk pelan. "Asal kamu nurut."
"Ok!" Silva setuju tanpa berpikir dua kali. Ia langsung mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat.
"Kamu tunggu sebentar ya... aku mau minta uang sama ambil handphone dulu di dalam."
Silva berbalik dan setengah berlari menuju pintu depan rumahnya. Model perumahan mereka menggunakan pintu ganda; sebuah pintu kayu besar di bagian dalam dan pintu tralis besi di bagian luar.
Saat itu, pintu kayunya terbuka lebar, namun tralis besarnya terkunci rapat dari dalam.
Silva menempelkan wajahnya ke tralis besi, berusaha mengedarkan pandangan ke dalam rumah. "Bunda... bukain dulu... sebentar aja. Silva cuman mau ambil HP sama minta uang, Bunda..." panggil Silva berulang kali.
Namun, sosok Airin sama sekali tidak kelihatan dari area ruang tamu.
"Bunda..."
"Dikunci?"