Indonesia
NovelToon NovelToon
Hujan Yang Tak Pernah Reda

Hujan Yang Tak Pernah Reda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Rico Warsa

Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Wajah di Balik Senyum

Hari pertemuan pembagian saham akhirnya tiba. Kirana, Sari, dan Denis berdiri di depan gedung kantor pusat PT Wijaya Sejahtera, sebuah bangunan delapan lantai yang telah menjadi simbol kerja keras Bapak selama puluhan tahun. Pak Wibowo, pengacara yang mereka sewa, sudah menunggu di lobi, membawa map tebal berisi dokumen-dokumen penting yang telah mereka susun selama berhari-hari.

"Ingat," Pak Wibowo mengingatkan sebelum mereka masuk ke ruang rapat, "tetap tenang, jangan terpancing emosi, dan biarkan saya yang menangani aspek hukumnya. Kalian fokus saja menunjukkan bahwa keluarga ini solid dan mampu mengelola situasi ini dengan baik."

Sari mengangguk mantap, meski Kirana bisa melihat sedikit ketegangan di rahang kakaknya yang mengeras. Denis berdiri di belakang mereka, mengenakan setelan jas yang tampak sedikit canggung di tubuhnya—jelas bukan sesuatu yang biasa ia kenakan.

Ruang rapat besar itu sudah dipenuhi beberapa anggota dewan direksi dan pemegang saham minoritas lainnya ketika mereka masuk. Di ujung meja, seorang wanita berusia sekitar enam puluh tahun duduk dengan anggun, mengenakan busana formal mahal yang memancarkan aura otoritas. Wajahnya tersenyum ramah begitu melihat mereka masuk, namun matanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih tajam dari senyumnya.

"Sari, Kirana," sapa wanita itu dengan suara yang terdengar hangat, meski terasa dibuat-buat. "Dan tentu saja, ini pasti Denis. Senang akhirnya bertemu langsung denganmu."

"Bu Ratna," Sari menjawab formal, mengulurkan tangan yang disambut dengan jabatan tangan singkat. "Terima kasih sudah bersedia mengatur pertemuan ini di tengah kondisi darurat keluarga kami."

"Tentu saja, sayang," Ratna tersenyum lebih lebar, meski nada 'sayang' itu terdengar lebih seperti sindiran halus daripada kehangatan tulus. "Keluarga adalah segalanya, bukan? Itulah mengapa aku begitu khawatir dengan kondisi bisnis ini di tengah situasi sulit Hartono."

Mereka semua duduk, dan pertemuan pun dimulai dengan pembacaan agenda formal oleh sekretaris perusahaan. Namun ketegangan di ruangan itu bisa dirasakan jelas, tersembunyi di balik kesopanan formal yang dipertahankan semua pihak.

"Sebagaimana kita ketahui bersama," Ratna mulai bicara setelah agenda pembukaan selesai, "kondisi kesehatan Hartono yang serius membuat kita perlu mempertimbangkan langkah-langkah darurat untuk memastikan kelangsungan operasional perusahaan. Saya mengusulkan pembentukan dewan pengawas sementara, dengan saya sebagai ketuanya, mengingat pengalaman saya di industri ini selama lebih dari tiga puluh tahun."

"Dengan segala hormat, Bu Ratna," Pak Wibowo menyela dengan tenang namun tegas, "keluarga Wijaya sudah memiliki mekanisme yang sah untuk situasi ini. Saya ingin mempresentasikan Surat Kuasa Sementara yang telah ditandatangani Bapak Hartono beberapa bulan sebelum operasi, yang secara sah memberikan wewenang kepada Ibu Sari Wijaya untuk mengambil keputusan operasional atas nama beliau."

Ratna mengangkat alisnya, ekspresi terkejut yang tampak dibuat-buat. "Surat kuasa? Menarik sekali. Bolehkah saya melihatnya?"

Pak Wibowo menyerahkan salinan dokumen tersebut, yang kemudian diperiksa Ratna dengan seksama, matanya menyipit membaca setiap detail dengan teliti.

"Dokumen ini tampak sah," Ratna akhirnya berkata, meski nadanya masih menyimpan keraguan yang disengaja, "tapi tentu kita perlu memverifikasi keasliannya melalui notaris yang bersangkutan. Kita tidak bisa terburu-buru mengambil keputusan penting hanya berdasarkan satu dokumen tanpa verifikasi menyeluruh."

"Notaris kami sedang berada di luar negeri," jelas Sari, mencoba menjaga suaranya tetap tenang. "Tapi kami bisa menghubunginya untuk konfirmasi jarak jauh jika diperlukan."

"Tentu, tentu," Ratna mengangguk, meski senyumnya kini terlihat lebih tipis, lebih dingin. "Sambil menunggu verifikasi itu, saya rasa bijaksana jika kita tetap membentuk dewan pengawas sementara, hanya sebagai langkah pencegahan. Toh, ini demi kebaikan bersama, bukan?"

Kirana merasakan amarah mulai membara di dadanya mendengar taktik licik itu—cara Ratna membungkus setiap manuvernya dengan bahasa yang terdengar peduli dan masuk akal, padahal jelas bertujuan mengambil alih kendali secepat mungkin.

"Bu Ratna," Kirana akhirnya angkat bicara, suaranya lebih tajam dari yang ia rencanakan. "Dengan segala hormat, keluarga kami baru saja melewati operasi besar yang menyelamatkan nyawa ayah kami. Kami sudah punya cukup banyak yang harus dihadapi tanpa perlu menambah kerumitan dengan pembentukan dewan pengawas yang sebenarnya tidak diperlukan."

Semua mata di ruangan itu tertuju padanya. Ratna menatap Kirana dengan tatapan yang sulit diartikan—antara terkejut dan terhibur oleh keberanian gadis muda di hadapannya.

"Kirana, bukan begitu?" Ratna berkata pelan, nadanya berubah lebih tajam meski masih terbungkus kesopanan. "Aku mengerti perasaanmu. Tapi bisnis bukan tempat untuk emosi semata. Ayahmu membangun perusahaan ini dengan susah payah, dan sudah menjadi tanggung jawab kita bersama, sebagai keluarga besar, untuk memastikan warisannya tidak runtuh hanya karena kalian, sebagai anak-anak yang selama ini... bagaimana aku mengatakannya dengan halus... kurang terlibat dalam operasional perusahaan."

Sindiran itu menohok telak, terutama mengingat kepergian Kirana selama delapan tahun terakhir. Namun sebelum Kirana sempat merespons, Denis, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara.

"Bu Ratna," suaranya tenang namun tegas, mengejutkan semua orang di ruangan itu, "saya mungkin bukan bagian resmi dari struktur kepemilikan perusahaan ini, tapi saya cukup mengenal Bapak untuk tahu bahwa beliau tidak pernah ingin perusahaan ini jatuh ke tangan orang yang lebih mementingkan kontrol dibanding kesejahteraan keluarga yang sesungguhnya."

Ratna menoleh cepat ke arah Denis, matanya berkilat marah sesaat sebelum kembali menguasai ekspresinya. "Menarik sekali kau bicara soal apa yang Hartono inginkan, mengingat statusmu yang... rumit dalam keluarga ini."

Kalimat itu terasa seperti pukulan telak, sengaja diarahkan untuk melukai Denis di depan semua orang. Kirana merasakan amarahnya semakin memuncak melihat taktik kotor itu.

"Status Denis dalam keluarga ini bukan urusan Anda, Bu Ratna," Kirana berkata tegas, tanpa ragu kali ini. "Yang jadi urusan bersama di sini adalah memastikan perusahaan yang dibangun ayah kami tetap dikelola dengan integritas, bukan diserahkan pada seseorang yang muncul tepat saat beliau sedang sekarat, dengan agenda yang jelas-jelas mementingkan kepentingan pribadi."

Ruangan itu hening sejenak, ketegangan memuncak hingga bisa dirasakan oleh semua yang hadir. Pak Wibowo akhirnya menengahi, mencoba mengembalikan pertemuan pada jalur formal.

"Saya rasa," ujarnya tenang, "sebaiknya kita menunda keputusan final hingga verifikasi surat kuasa selesai dilakukan. Sementara itu, operasional harian perusahaan bisa tetap berjalan seperti biasa di bawah manajemen yang sudah ada, dengan pengawasan Ibu Sari sesuai surat kuasa yang sah."

Beberapa anggota dewan direksi lainnya mengangguk setuju, tampaknya lebih memilih opsi yang lebih aman dan tidak kontroversial. Ratna, meski terlihat tidak puas, akhirnya mengalah untuk sementara.

"Baiklah," katanya, senyumnya kembali muncul meski terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. "Kita tunda dulu. Tapi saya harap verifikasi ini bisa selesai secepatnya. Bisnis tidak bisa menunggu terlalu lama untuk kepastian."

Pertemuan berakhir dengan ketegangan yang belum sepenuhnya reda. Saat mereka keluar dari ruang rapat, Sari menghela napas panjang, seolah baru saja menyelesaikan pertempuran yang melelahkan.

"Itu baru babak pertama," gumam Pak Wibowo, mengingatkan mereka bahwa perjuangan ini masih jauh dari selesai. "Ratna tidak akan menyerah semudah itu."

Denis berjalan di samping Kirana, wajahnya masih menunjukkan bekas luka dari sindiran tajam yang baru saja ia terima. Kirana menoleh padanya, merasakan dorongan untuk memberikan dukungan.

"Terima kasih sudah bicara tadi," ujar Kirana tulus. "Itu butuh keberanian besar, mengingat posisi kamu di sana."

"Aku tidak bisa diam saja melihat dia menghina keluarga ini," Denis menjawab, meski suaranya masih sedikit bergetar menahan emosi. "Bahkan jika itu berarti aku harus menghadapi sindiran soal statusku sendiri."

Kirana menggenggam pundaknya sejenak, sebuah gestur kecil namun penuh makna. "Kau bagian dari keluarga ini, Denis. Apa pun kata Ratna, itu tidak akan mengubah kenyataan itu."

Namun jauh di lubuk hatinya, Kirana tidak bisa mengabaikan firasat bahwa pertemuan hari ini hanyalah awal dari perang yang jauh lebih rumit dan berbahaya dari yang mereka bayangkan sebelumnya.

---

*Bersambung ke Bab 17...*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!