Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Angin senja bertiup kencang di balkon Paviliun Awan Mengambang, menggoyangkan tirai sutra ungu yang tergantung di pilar kayu jati.
Patriark Song Tianhe meletakkan gulungan kertas kulit hitam di atas meja, tepat di samping cangkir teh Gu Ran.
“Mata-mata kita di Lembah Naga Jatuh baru saja mengirimkan rincian arena,” ucap Song Tianhe dengan suara bergetar cemas. “Master Yan Wuji dari Paviliun Giok Ilahi telah memasang Formasi Isolasi Dimensi Sembilan Cermin di sekeliling panggung duel.”
Gu Ran melirik gulungan tersebut sambil menyesap teh melatinya. “Formasi macam apa itu?”
“Formasi segel ruang tingkat tinggi,” sahut Song Tianhe cepat. “Begitu kau melangkah ke atas arena dan lonceng turnamen berbunyi, penghalang kubah dimensi akan menutup total. Tidak ada energi dari luar yang bisa menembus masuk, dan tidak ada seorang pun yang bisa melarikan diri keluar sampai salah satu petarung mati.”
Sebelum Gu Ran sempat membalas, lantai balkon bergetar hebat.
DUG!
Sosok berjubah abu-abu melesat mendarat di lantai kayu balkon, membuat pagar pembatas berderak keras.
Leluhur Song Pojun berdiri di sana dengan janggut putih acak-acakan. Wajah sang Leluhur pucat pasi tanpa setetes pun rona merah, kedua matanya membelalak dipenuhi kepanikan liar.
“Tidak boleh pergi!” raung Song Pojun seraya mencengkeram tepi meja kayu hingga serpihan seratnya retak. “Nak! Cucu emasku, kau tidak boleh melangkahkan kakimu satu inci pun ke lembah terkutuk itu!”
Song Ming yang sedang berdiri memegang teko teh seketika gemetar ketakutan melihat kedatangan kakek buyutnya, buru-buru mundur merapat ke dinding.
Gu Ran meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi denting pelan di atas piring porselen.
“Orang Tua, kenapa kau berisik sekali sore-sore begini?” tanya Gu Ran datar seraya menatap sang Leluhur dengan mata mengantuk. “Pagar balkon ini baru saja diperbaiki kemarin.”
“Bagaimana kakek tua ini bisa tenang?!” teriak Song Pojun dengan suara parau tercekat di tenggorokan. “Formasi isolasi dimensi itu dirancang khusus untuk memotong jalur pedangku! Jika kau masuk ke dalam kubah tertutup itu dan lawanmu menusuk jantungmu, pedang spiritualku tidak akan bisa menembus dinding dimensi untuk melindungimu!”
Sang Leluhur mengacak-acak janggutnya sendiri dengan tangan gemetar.
“Jika jantungmu tertusuk di dalam kubah itu,” lanjut Song Pojun dengan mata berair menahan horor, “sepuluh detik kemudian rongga dadaku di sini akan meledak hancur tanpa kakek tua ini bisa berbuat apa-apa!”
Song Pojun menjatuhkan kedua tangannya ke atas lutut Gu Ran, menatap pemuda berambut putih itu dengan pandangan memohon yang sangat menyedihkan.
“Nak… tinggallah di paviliun ini seumur hidupmu,” pinta Song Pojun dengan nada merayu yang terlalu manis. “Kakek tua ini punya tiga ratus ribu batu roh purba di dasar gua. Aku juga punya simpanan Pil Pemanjang Usia Seribu Tahun. Kau mau makan apa saja kuberi, kau mau tidur siang sampai malam pun tidak ada yang berani melarang… asalkan kau tidak pergi ke turnamen itu!”
Song Tianhe di sampingnya menelan ludah, merasa wibawa pendiri sekte mereka telah benar-benar runtuh menjadi debu di depan kakinya sendiri.
Gu Ran menatap wajah tua Song Pojun yang penuh keputusasaan.
Ia mengangkat tangan kanannya, lalu menepuk pundak sang Leluhur yang gemetar dengan ketukan pelan dan berirama.
“Orang Tua,” kata Gu Ran dengan senyum tipis di bibirnya, “jangan berpikiran sempit. Bersembunyi di sekte ini hanya akan membuat tabungan batu rohmu habis untuk memberiku makan.”
Gu Ran menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi rotan.
“Di Lembah Naga Jatuh ada Yan Wuji yang punya tambang giok, ada Nenek Gui Hua yang punya ribuan racun langka, dan ada Zhao Badao yang memegang jalur perdagangan mineral guntur,” lanjut Gu Ran santai. “Tiga orang kaya itu belum masuk dalam daftar investasiku. Jika aku tidak ke sana, siapa yang akan memeras mereka untuk membiayai penerobosan ranah baruku?”
Song Pojun mematung sesaat, ternganga mendengar logika gila pemuda di hadapannya.
“T-Tapi… mereka ingin membunuhmu…” bisik sang Leluhur terbata-bata.
“Membunuhku?” Gu Ran mendengus pelan, lalu berdiri dari kursi rotannya sambil merapikan ikatan sabuk jubah putihnya. “Mereka belum tahu aturan mainnya saja. Begitu aku naik ke atas panggung, leher mereka bertiga yang akan terikat tali gantung.”
Gu Ran menoleh ke arah Song Ming yang masih mematung di sudut ruangan.
“Song Ming, dengar instruksiku,” perintah Gu Ran dengan nada dingin dan tenang. “Sewa kereta naga bertingkat dua paling mewah di kota sekte. Pasang kasur bulu angsa di lantai atas dan siapkan arak persik terbaik. Besok fajar, kau yang memegang tali kekang sebagai kusir pribadiku menuju Lembah Naga Jatuh.”
Song Ming tersentak, lalu buru-buru membungkuk memberi hormat dengan suara gemetar penuh kepatuhan.
“S-Siap, Tuan Muda Gu!”