Indonesia
NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kalung, Serly, dan Sebuah Misteri

“Diandra, malam ini ada undangan pesta dari Imperial Moon Club .”

Diandra yang sedang merapikan rambutnya menoleh. Imperial Moon Club ? Apa itu?”

“Acara perkumpulan para pengusaha. Aku mau kamu ikut denganku.” Bastian menatap istrinya serius. “Semua tamu biasanya datang bersama pasangan. Sekalian nanti aku kenalkan kamu dengan beberapa rekan bisnis.”

“Malam ini?”

“Iya. Jam delapan.”

Diandra mengerutkan kening. “Kenapa baru bilang sekarang? Aku perlu waktu untuk mempersiapkan diri.”

Bastian tersenyum tenang. “Kamu nggak perlu khawatir. Semua sudah aku siapkan.”

Dan ternyata Bastian benar-benar menepati ucapannya.

Tak lama kemudian, seorang desainer, penata rias, dan psikolog datang ke rumah. Bastian sengaja menyiapkan semuanya agar Diandra tidak merasa gugup menghadiri acara yang dipenuhi orang-orang penting.

Beberapa jam kemudian, setelah semuanya selesai, Diandra berdiri di depan cermin.

Gaun elegan yang dikenakannya membuat penampilannya terlihat anggun. Riasan wajahnya pun tampak sempurna tanpa membuatnya kehilangan sisi natural.

Diandra tersenyum kecil.

Tadi ia sempat merasa minder. Ia takut tidak pantas berdiri di samping Bastian yang selalu terlihat percaya diri di hadapan rekan-rekan bisnisnya.

Namun, perhatian Bastian membuat rasa gugup itu perlahan menghilang.

“Terima kasih,” ucap Diandra kepada desainer, penata rias, dan psikolog yang sudah membantunya.

Setelah ketiganya meninggalkan kamar, Diandra kembali menatap pantulan dirinya.

“Aku sudah selesai.”

Bastian yang sedang berbicara melalui telepon spontan menghentikan kalimatnya.

Tatapannya langsung tertuju pada Diandra.

Untuk beberapa detik, pria itu hanya diam.

“Kenapa?” Diandra bertanya sambil tersenyum malu. “Jelek?”

Bastian segera mengakhiri panggilannya, lalu berjalan menghampiri istrinya.

“Bukan.”

“Lalu?”

“Di luar perkiraanku.” Tatapan Bastian menyapu penampilan Diandra dengan kagum. “Kamu sangat cantik.”

Pipi Diandra menghangat.

“Lebay.”

“Aku serius.” Bastian tersenyum. “Ternyata keputusan membayar mahal untuk membuatmu tampil sempurna memang sepadan.”

Diandra mendengus geli. “Jadi aku cantik karena MUA-nya hebat?”

“Bukan.” Bastian menggeleng. “Karena kamu memang sudah cantik. Mereka hanya membantu menonjolkannya.”

Diandra terdiam sesaat, lalu tersenyum.

“Pandai sekali merayu.”

“Ayo. Kita bisa terlambat.”

Bastian mengulurkan tangannya.

Diandra menyambutnya, kemudian melingkarkan lengannya pada lengan sang suami.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Diandra merasa Bastian benar-benar ingin membawanya berdiri di sisinya—bukan sekadar sebagai seorang istri, tetapi sebagai perempuan yang ingin ia banggakan.

Gedung tempat pesta Imperial Moon Club malam itu terlihat begitu megah. Lampu-lampu kristal menghiasi langit-langit ballroom, sementara para tamu yang datang merupakan orang-orang dari kalangan pengusaha ternama.

Acara ini memang hanya digelar enam bulan sekali dan biasanya dihadiri sekitar seratus hingga dua ratus pengusaha sukses beserta pasangan mereka.

Bastian sebenarnya sudah cukup lama bergabung dengan klub tersebut. Namun, ia jarang menghadiri kegiatannya. Bahkan, ini menjadi kali pertama ia datang ke pesta Imperial Moon Club bersama Diandra.

Diandra memperhatikan suasana sekitar dengan mata berbinar.

“Berarti semua orang di sini sudah punya pasangan?”

Bastian menoleh dengan tatapan curiga.

“Kenapa? Kamu sedang mencari calon cadangan?”

Diandra menahan tawa.

“Boleh, kan? Kalau kamu macam-macam, aku tinggal cari yang lebih kaya.”

Bastian mendengkus pelan. Tangannya justru menggenggam tangan Diandra semakin erat.

“Jangan berharap bisa kabur semudah itu.”

“Kenapa?”

“Karena malam ini kamu datang bersamaku. Jadi, tetap di sampingku.”

Diandra tersenyum geli melihat sikap posesif suaminya.

Bastian kemudian mengajaknya berkeliling untuk berkenalan dengan beberapa rekan bisnisnya. Diandra bertemu dengan sejumlah pasangan yang selama ini hanya ia dengar dari cerita Bastian.

Ada Rezvan bersama Agatha, Jayden bersama Flora, Rayden bersama Melody, Andreas bersama Rachel, Devan bersama Bella, Morgan bersama Zahra, dan Daffa bersama Hana.

Diandra cukup terkesan melihat mereka. Para pria tersebut dikenal sebagai pengusaha sukses, sementara para istri mereka tampil elegan dan percaya diri.

Setelah selesai berkenalan, Bastian mengajak Diandra menuju meja yang sudah disiapkan untuk mereka.

Meja bundar itu memiliki enam kursi.

Bastian bahkan belum tahu siapa saja yang akan duduk bersama mereka malam ini.

Diandra duduk di samping suaminya, lalu berbisik, “Teman-temanmu ternyata romantis juga.”

“Romantis dari mana?”

“Tadi aku lihat Rayden. Perhatiannya ke Melody kelihatan banget.”

Bastian mengangkat sebelah alis.

“Aku juga perhatian sama kamu.”

“Benarkah?”

“Memangnya selama ini kurang?”

Diandra tersenyum jahil. “Aku masih merasa perhatianmu belum sepenuhnya tulus.”

Bastian terkekeh.

“Terus perhatian yang tulus menurutmu seperti apa?”

“Misalnya kamu berdiri di pinggir tebing sambil berteriak, ‘Diandra, aku cinta mati sama kamu!’”

Bastian menatap istrinya seolah tidak percaya.

“Kamu mau aku mati?”

Diandra langsung tertawa.

“Bukan begitu. Tapi idenya lumayan.”

“Kamu benar-benar istri yang merepotkan.”

“Tapi tetap kamu sayang, kan?”

Bastian hendak menjawab ketika seseorang tiba-tiba menghampiri meja mereka.

“Eh, Diandra?”

Diandra spontan menoleh.

Matanya membesar saat mengenali perempuan yang berdiri di hadapannya.

“Ola?”

Perempuan itu tersenyum lebar. Tangannya bahkan sudah melingkar manja di lengan seorang pria bule yang berdiri di sampingnya.

“Kenapa?” Ola tertawa kecil. “Kaget lihat aku ada di sini?”

Diandra masih menatap mereka bergantian.

Sementara itu, Bastian mulai memperhatikan pria asing di samping Ola dengan tatapan penuh tanda tanya.

Sepertinya malam mereka baru saja dimulai dengan sebuah kejutan.

Ola tertawa kecil melihat keterkejutan di wajah Diandra.

Ada kepuasan tersendiri dalam sorot matanya. Ia tidak menyangka bisa bertemu Diandra di acara sebesar ini. Namun, justru pertemuan itu membuatnya merasa punya kesempatan untuk menunjukkan bahwa dirinya juga bisa berdiri sejajar dengan perempuan yang selama ini dianggap lebih unggul darinya.

Ila datang bersama Richard, pria berkebangsaan asing yang sudah lama tinggal di Indonesia dan bahkan telah menjadi warga negara Indonesia.

Pertemuan mereka bermula ketika Richard beberapa kali memberikan donasi ke Panti Asuhan Kasih Bunda. Ola kemudian mendekatinya dan hubungan mereka berkembang hingga berada pada tahap pendekatan yang semakin serius.

Ola pernah mendengar bahwa Richard menyukai perempuan yang berani dan agresif. Karena itulah ia tidak pernah ragu menunjukkan ketertarikannya.

“Memangnya cuma kamu yang punya suami kaya?” Ola mengangkat dagunya dengan percaya diri. “Aku juga punya.”

Diandra mengerutkan kening.

“Suami? Sejak kapan kamu menikah? Bu Liliana saja nggak pernah cerita apa-apa kepadaku.”

Ola terkekeh.

“Belum menikah, sih. Tapi Richard sudah berjanji akan menikahiku.”

Ia menoleh kepada Richard dengan senyum penuh kemenangan.

“Iya, kan, Sayang?”

Richard mengangguk singkat.

Setelah itu, mereka mengambil tempat duduk di meja yang sama. Richard dan Bastian segera terlibat dalam pembicaraan mengenai bisnis, sementara Diandra memilih mengobrol dengan Ola.

Sebenarnya Diandra ingin mengetahui lebih banyak tentang hubungan Ola dan Richard. Ia hanya tidak ingin ola kembali mengambil keputusan terburu-buru dan berakhir bersama orang yang salah.

Namun, melihat Richard bisa berada di antara para pengusaha yang hadir malam itu, Diandra cukup yakin pria tersebut memang memiliki kehidupan finansial yang mapan.

Sayangnya, sebelum sempat bertanya lebih jauh, perhatian Diandra justru tertuju pada sesuatu yang berkilauan di leher Ola.

Tatapan Diandra berubah.

“Kalung itu…”

Ola refleks memegang liontin yang dikenakannya.

Diandra menatapnya lekat-lekat.

“Itu kalungku, kan?”

Bastian yang semula berbicara dengan Richard langsung menghentikan percakapannya.

Richard pun ikut menoleh.

Diandra menunjuk liontin berlian biru tersebut.

“Aku masih ingat betul kalung itu. Liontinnya sama persis. Jadi selama ini benar kamu yang mengambilnya?”

Wajah Ola berubah.

“Jangan asal menuduh!”

Tangannya segera menutupi liontin tersebut. Meski berusaha mempertahankan ekspresi tenang, gerak-geriknya terlihat gugup.

Diandra tidak bergeming.

“Aku nggak mungkin salah mengenali barang milikku sendiri.”

“Sudahlah, jangan sembarang menuduh.” Ola berdiri terburu-buru. “Mas Richard, aku ke toilet sebentar.”

Tanpa menunggu jawaban, ola segera meninggalkan meja.

Diandra spontan hendak menyusul.

Namun, Bastian langsung meraih tangannya dan menahannya agar kembali duduk.

“Kamu mau ke mana?”

“Aku mau mengambil kembali kalungku.”

Bastian menatap istrinya dengan serius.

“Jangan gegabah, Diandra. Kita cari tahu dulu semuanya.”

Diandra menghela napas, tetapi matanya tetap mengikuti langkah Ola yang semakin menjauh.

Kali ini, ia tidak berniat membiarkan barang miliknya menghilang begitu saja.

“Tidak perlu sampai segitunya. Kalau kamu suka kalung seperti itu, nanti aku belikan yang baru.”

Diandra menggeleng tegas.

“Bukan soal bisa membeli yang baru atau tidak, Mas. Kalung itu peninggalan ibuku.”

Tanpa menunggu jawaban Bastian, Diandra segera berdiri dan menyusul Ola.

Namun, Ola yang menyadari Diandra masih mengejarnya langsung mengurungkan niat menuju toilet. Ia berbelok ke lorong lain, berharap menemukan tempat untuk bersembunyi sampai suasana kembali aman.

Di dalam pikirannya, ola mulai panik.

Ia sebenarnya sudah mengetahui bahwa kalung tersebut bukan miliknya. Namun, ia berani mengenakannya malam ini karena yakin Diandra tidak akan menghadiri pesta malam ini.

Sayangnya, keadaan justru berbalik.

Ola bahkan sempat mengatakan kepada Richard bahwa kalung itu merupakan peninggalan ibunya yang meninggalkannya ketika ia masih berada di panti asuhan.

Sebuah kebohongan yang terpaksa ia buat agar Richard tidak mempertanyakan asal-usul kalung tersebut.

Brukk!

“Aduh!”

Ola tersentak ketika tubuhnya tidak sengaja menabrak seorang perempuan setengah baya.

“Maaf, Bu. Saya benar-benar tidak sengaja.”

Ola hendak segera pergi, tetapi perempuan itu justru menahannya.

“Tunggu sebentar.”

“Saya benar-benar minta maaf.”

Perempuan itu tersenyum ramah.

“Iya, saya tahu kamu tidak sengaja.”

Tatapannya kemudian berpindah ke leher Ola.

Ola langsung menyadari arah pandangan perempuan tersebut. Tangannya refleks menutupi liontin berlian biru yang menggantung di lehernya.

“Kalungmu cantik sekali,” ujar perempuan itu. “Boleh saya tahu kamu membelinya di mana?”

Ola terdiam sesaat sebelum menjawab.

“Ini… pemberian ibu saya.”

“Ibumu?”

Ola mengangguk.

“Saya dibesarkan di panti asuhan. Ibu saya meninggalkan kalung ini untuk saya sebelum pergi.”

Kebohongan itu keluar begitu saja.

Perempuan tersebut tampak mempercayainya.

“Oh, begitu.”

Ola tersenyum tipis.

“Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu.”

Ia segera pergi sebelum perempuan itu kembali bertanya.

Langkahnya semakin cepat.

Sementara itu, Diandra masih mencari ke berbagai sudut gedung, tetapi Ola seolah menghilang tanpa jejak.

“Diandra.”

Suara Bastian membuatnya berhenti.

“Dia sudah tidak terlihat. Sebaiknya kita kembali ke ruangan utama.”

Diandra akhirnya menyerah dan kembali bersama suaminya.

Mereka duduk di tempat semula sambil menikmati pertunjukan para penyanyi yang telah diundang khusus untuk memeriahkan acara.

Namun, pikiran Diandra masih tertuju pada kalung miliknya.

Beberapa saat kemudian, ia menyadari ada sesuatu yang berbeda.

Richard sudah tidak berada di meja mereka.

Sebagai gantinya, Daffa dan Hana serta Rezvan dan Agatha telah menempati kursi yang kosong.

Diandra menatap sekeliling.

Ke mana Richard pergi?

Dan yang lebih membuatnya penasaran, ke mana Serly menghilang setelah ketahuan mengenakan kalung peninggalan ibunya?

Bastian yang menyadari kegelisahan istrinya menggenggam tangannya pelan.

“Tenang. Kita cari tahu semuanya setelah acara selesai.”

Diandra mengangguk, tetapi firasatnya mengatakan bahwa malam itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar persoalan sebuah kalung.

Diandra tersenyum kepada pasangan yang baru bergabung di meja mereka, lalu kembali duduk di samping Bastian.

“Belum makan, kan?” tanya Bastian.

Sebelum Diandra menjawab, Bastian sudah mengambil beberapa kue dari meja hidangan dan meletakkannya di hadapan istrinya.

“Aku ambilkan. Tiga piring sekalian.”

Mata Diandra langsung berbinar. Sejak tadi ia memang belum sempat makan dengan tenang.

“Terima kasih.”

Ia segera menikmati kue tersebut.

Hana yang melihatnya tertawa kecil.

“Wah, Diandra makannya banyak juga.”

“Aku memang lapar.”

“Aku juga kalau lapar bisa makan banyak.” Hana melirik suaminya. “Sayangnya, nggak ada yang mau mengambilkan.”

Daffa langsung menoleh.

“Kalau mau, bilang saja. Jangan menyindir.”

Hana terkikik.

Daffa hanya mendengkus sebelum berdiri dan pergi mengambilkan makanan untuk istrinya.

Diandra spontan tertawa melihat tingkah mereka.

Entah kenapa, ia langsung merasa nyaman bersama Hana. Perempuan itu begitu ceria, spontan, dan mudah membuat suasana menjadi menyenangkan.

Mereka kemudian mengobrol tentang berbagai hal, mulai dari bisnis hingga hal-hal ringan yang sama sekali tidak berkaitan dengan pekerjaan.

Di atas panggung, seorang penyanyi menyelesaikan penampilannya. Tepuk tangan meriah memenuhi ballroom.

“Luar biasa!”

Setelah suasana kembali tenang, pembawa acara naik ke panggung.

“Selanjutnya, mari kita sambut penampilan dari seorang violinis berbakat dan cantik, Serly Bagaskara!”

Gerakan tangan Diandra yang sedang mengambil makanan seketika berhenti.

Nama itu saja sudah cukup membuat suasana hatinya berubah.

Serly.

Diandra sebenarnya berharap perempuan itu tidak datang malam ini. Namun, ternyata Serly justru mendapat kesempatan tampil di hadapan seluruh tamu.

Diandra tidak perlu bertanya apa tujuannya.

Ia tahu betul bahwa Serly ingin menarik perhatian seseorang.

Seseorang yang kebetulan duduk tepat di sampingnya.

Diandra perlahan menoleh kepada Bastian.

“Cantik sekali, ya.”

Nada suaranya terdengar terlalu tenang.

Bastian yang masih memperhatikan panggung menjawab tanpa berpikir panjang.

“Serly memang selalu cantik. Sejak dulu, penampilannya nggak banyak berubah. Kecantikannya memang mudah membuat orang memperhatikannya.”

Hening.

Rezvan dan Daffa yang mendengar ucapan tersebut langsung saling pandang.

Rezvan menyipitkan mata.

“Really?”

Bastian menoleh bingung.

“Kenapa?”

Rezvan hanya terkekeh kecil.

“Nggak apa-apa.”

Ia kemudian merangkul bahu Agatha.

“Tapi menurutku, nggak ada perempuan yang lebih cantik daripada istriku.”

Agatha tersenyum puas.

Daffa tidak mau kalah.

“Benar. Walaupun kadang cerewet dan suka bikin pusing, Hana tetap perempuan paling cantik buatku.”

Ia mencubit pipi istrinya dengan gemas.

Hana langsung melotot.

“Jangan cubit pipiku!”

Diandra menahan tawa.

Namun, Bastian justru mulai merasa ada yang tidak beres.

Baru sekarang ia menyadari bahwa ucapannya tadi mungkin bukan kalimat yang tepat untuk disampaikan di depan istrinya.

Perlahan, Bastian melirik Diandra.

Wajah istrinya memang masih terlihat tenang.

Terlalu tenang.

Diandra bahkan masih tersenyum sambil menatap panggung.

Namun, garpu di tangannya terus menekan kue di atas piring hingga bentuknya berantakan.

Bastian menelan ludah.

Sepertinya malam ini ia baru saja membuat kesalahan besar.

“Sa-sayang…” Bastian segera mendekat kepada Diandra. “Bagaimanapun juga, kamu tetap perempuan paling cantik di mataku.”

Diandra hanya meliriknya sekilas.

“Benarkah?”

“Seratus persen.”

Sejak pertunjukan Serly dimulai, perhatian Bastian justru tidak lagi tertuju pada panggung. Ia sibuk membujuk istrinya agar tidak salah paham.

Sesekali ia menyodorkan makanan, membisikkan candaan, bahkan berusaha membuat Diandra tertawa.

Bastian sepertinya harus banyak belajar dari Rezvan dan Daffa. Kedua pria itu tahu betul bagaimana membuat istri mereka merasa dihargai.

Di atas panggung, Serly mulai menyadari sesuatu yang membuat emosinya naik.

Sejak awal pertunjukan, ia berharap Bastian akan memperhatikannya.

Namun, pria yang ingin ia buat terkesan itu justru terus memandang Diandra.

Bahkan ketika alunan biolanya mencapai bagian terbaik, Bastian tetap tidak menoleh.

Sampai pertunjukannya berakhir, tidak sekalipun Serly berhasil mendapatkan perhatian yang ia inginkan.

Serly menggertakkan gigi.

Untuk sesaat, muncul keinginan untuk menghampiri Diandra dan menarik rambut perempuan itu. Namun, ia segera mengurungkan niatnya.

Melakukan keributan di depan ratusan pengusaha hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

“Luar biasa!” seru pembawa acara.

“Berikan tepuk tangan meriah untuk violinis cantik kita!”

Tepuk tangan memenuhi ruangan.

Serly tersenyum dan membungkuk singkat sebelum turun dari panggung.

Namun, bukannya kembali ke tempatnya, ia justru berjalan menuju meja Bastian dan Diandra.

Ia berhenti tepat di hadapan Bastian.

“Mas Bastian.”

Bastian menoleh.

Serly tersenyum manis, seolah tidak menyadari ketegangan yang mulai terasa di meja tersebut.

“Bagaimana penampilanku tadi? Kamu suka?”

Ia sengaja berbicara cukup keras agar beberapa orang di sekitar mereka bisa mendengar.

“Aku memainkan lagu itu khusus untuk kamu.”

Diandra yang sejak tadi tenang perlahan meletakkan garpunya.

Tatapannya beralih kepada Serly.

Sementara Bastian mulai menyadari bahwa masalah baru saja datang menghampiri mereka.

“Aku mau ke toilet,” ujar Diandra tiba-tiba.

“Sayang—”

Bastian baru hendak memanggilnya, tetapi Serly lebih dulu menahan lengannya dan mengambil kursi yang baru saja ditinggalkan Diandra.

Diandra hanya mendengkus pelan sebelum berjalan meninggalkan meja.

Namun, ketika sampai di lorong menuju toilet, langkahnya mendadak terhenti.

Di kejauhan, ia melihat seseorang yang sekilas sangat mirip Ola sedang berjalan cepat menuju lift.

“ Ola?”

Perempuan itu tidak menoleh.

Diandra mempersempit pandangan.

Ada sesuatu yang terasa janggal.

Ia masih ingin meminta penjelasan tentang kalung berlian biru yang dikenakan Ola. Diandra hampir yakin kalung tersebut adalah miliknya.

Namun, melihat gerak-gerik perempuan itu yang semakin mencurigakan, Diandra memilih tidak memanggil lagi.

Ia justru mengikuti dari kejauhan.

Diandra tiba di depan lift tepat ketika pintunya tertutup.

Ia tidak sempat masuk.

Namun, dari panel indikator, ia bisa melihat lift tersebut berhenti di lantai tiga puluh.

“Lantai tiga puluh?”

Tanpa berpikir panjang, Diandra menunggu lift berikutnya.

Begitu pintunya terbuka, ia segera masuk dan menekan angka tiga puluh.

Lantai tersebut ternyata merupakan lantai paling atas gedung.

Begitu tiba, Diandra keluar dan mengedarkan pandangan.

Sepi.

Tidak ada siapa pun.

Ia menyusuri lorong perlahan hingga menemukan akses menuju tangga.

Baru beberapa langkah, seseorang dari arah tangga hampir menabraknya.

“Maaf.”

Diandra menoleh.

“Permisi, tadi kamu melihat seorang perempuan dengan gaun putih lewat sini?”

Orang itu tidak menjawab.

Ia hanya berjalan melewati Diandra dan masuk ke dalam lift.

Diandra memperhatikan sosok tersebut dengan penuh kecurigaan.

Pria itu tinggi dan mengenakan pakaian serba hitam. Wajahnya tertutup masker, matanya tersembunyi di balik kacamata hitam, bahkan kedua tangannya memakai sarung tangan.

“Siapa dia?”

Perasaan tidak enak mulai muncul.

Namun, rasa penasaran membuat Diandra tetap melangkah menuju rooftop.

Ia membuka pintu dan keluar.

Kosong.

Tidak ada Ola.

Tidak ada siapa pun.

Diandra mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rooftop yang hanya diterangi beberapa lampu redup.

“Mungkin aku salah lihat.”

Ia menghela napas dan akhirnya kembali turun.

Ketika Diandra sampai di area pesta, suasananya sudah berubah total.

Para tamu mulai meninggalkan gedung. Beberapa orang bahkan terlihat panik dan saling berbisik.

Bastian langsung menghampirinya.

“Diandra!”

Pria itu segera menggenggam tangan istrinya erat.

“Kamu dari mana? Katanya mau ke toilet. Aku cari kamu, tapi kamu nggak ada di sana.”

Diandra baru membuka mulut.

“Aku tadi—”

“Kita pulang sekarang.”

Diandra menatap suaminya bingung.

“Kenapa tiba-tiba pulang? Ada apa?”

Wajah Bastian tampak tegang.

“Ada seseorang jatuh dari rooftop.”

Diandra membeku.

“Apa?”

“Katanya…” Bastian menarik napas panjang. “Orang itu diduga bunuh diri.”

Jantung Diandra seketika berdegup lebih cepat.

Pikirannya langsung kembali pada sosok misterius yang ditemuinya di lantai tiga puluh.

Dan entah kenapa, firasat buruk mulai menyelimuti dirinya.

1
sunaryati jarum
Sherly yang bukan anak Abian,tapi anak Artha dari pria lain
sunaryati jarum
Tak sabar menunggu terjawabnya banyak teka- teki
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!