Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Time Travel
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.

Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.

Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.

Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.

Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Tersebar Luas

Pagi hari di Gunung Langit selalu terasa sejuk dan jernih. Namun pagi ini, udara di seluruh sekte terasa jauh lebih murni dan menyegarkan dari biasanya.

Di halaman utama, tepat di tengah-tengah Aula Utama, berdiri sebuah pohon yang baru saja tumbuh — Pohon Roh.

Tingginya mencapai sepuluh zhang, batangnya berwarna perak bercampur emas, daun-daunnya berkilau lembut seolah memantulkan cahaya bintang.

Setiap kali angin berhembus, daun-daun itu bergetar pelan dan memancarkan cahaya keemasan yang menyebar ke seluruh penjuru sekte.

Belasan Tetua dan keempat murid inti berdiri mengelilingi pohon itu, menatapnya dengan kagum sekaligus takjub.

"Energi yang memancar dari pohon ini..." gumam salah satu Tetua, matanya tak berkedip menatap dedaunan yang berkilau. "Hanya berdiri di dekatnya saja, energi roh di dalam tubuh terasa bergerak lebih lancar dan meresap lebih dalam. Benar-benar benda ajaib dari Tuan Sekte."

"Itulah kebesaran Tuan Sekte," ucap Tetua Agung Mo Yuan yang berdiri di depan mereka, wajahnya penuh rasa hormat. "Pohon ini akan terus tumbuh dan menyebarkan energi murni ke seluruh sekte. Siapa pun yang berkultivasi di dekatnya akan mendapatkan keuntungan yang besar. Itu berkah bagi kita semua."

Xiao Tian, Su Ling, Tie Shan, dan Lin Hao — keempat murid inti — berdiri di sisi lain, merasakan sendiri keajaiban itu. Xiao Tian menutup matanya sejenak, merasakan energi yang mengalir masuk ke dalam tubuhnya tanpa dia minta.

"Benar-benar luar biasa," ucapnya pelan dengan wajah penuh rasa syukur. "Di tempat lain, orang berebut batu spiritual tingkat tinggi demi sedikit energi. Di sini... energi murni mengalir bebas, bahkan dari pohon itu sendiri."

"Itulah kebesaran Tuan Sekte," tambah Su Ling lembut namun tegas. "Dia tidak memikirkan dirinya sendiri saja. Dia memikirkan kemajuan kita semua. Kita harus semakin giat agar tidak mengecewakannya."

Saat seluruh penghuni sekte masih mengagumi Pohon Roh itu, seorang Tetua penjaga gerbang datang dengan langkah cepat namun penuh hormat.

"Tetua Agung!" sapa Tetua penjaga gerbang dengan menangkupkan tangan. "Ada utusan dari tiga sekte berbeda datang ke gerbang utama! Mereka membawa hadiah dan memohon izin untuk menemui Tuan Sekte atau perwakilannya! Mereka datang dari Sekte Pedang Teratai, Sekte Awan Putih, dan Sekte Gunung Batu — tidak membawa senjata, sikap mereka penuh rasa hormat."

Mo Yuan mengangguk pelan, wajahnya tetap tenang dan berwibawa. Dia langsung membagi tugas dengan jelas.

"Tetua Bai," panggilnya pelan namun tegas. "Pergilah ke gerbang utama dan sambutlah mereka. Tunggu di sana dan jaga keadaan. Saya sendiri akan menghadap Tuan Sekte untuk melaporkan hal ini dan meminta perintah. Setelah mendapat keputusan, saya akan mengirimkan transmisi suara kepadamu untuk disampaikan kepada para tamu."

"Baik, Tetua Agung," jawab Bai Yuan hormat, lalu segera berjalan menuju gerbang utama.

Mo Yuan melesat menuju Puncak ke-10 untuk menghadap Lin Yue. Di sana, Lin Yue berdiri di balkon, menatap ke bawah ke arah Pohon Roh yang bersinar terang di halaman utama. Dia mendengarkan laporan Mo Yuan dengan tenang.

"Mereka datang dengan niat baik," ucap Lin Yue pelan. "Undanglah mereka masuk ke Aula Utama. Tetapi yang duduk di kursi kebesaran... adalah Tetua Agung sendiri. Kau yang akan menyambut mereka atas nama sekte. Saya tidak perlu menampakkan diri saat ini."

"Baik, Tuan Sekte," jawab Mo Yuan hormat.

Mo Yuan segera mengirimkan transmisi suara — pesan yang langsung terdengar jelas di telinga Bai Yuan.

Tetua Bai Yuan mendengarkan perintah itu, lalu tersenyum tipis dan berbicara kepada ketiga utusan yang sedang menunggu di gerbang.

"Tuan Sekte menerima niat baik kalian," ucap Bai Yuan dengan suara yang terdengar ramah namun tetap berwibawa. "Beliau mengundang kalian masuk ke Aula Utama. Silakan ikut saya."

***

Langkah kaki ketiga utusan itu terhenti sesaat saat mereka melangkah melewati gerbang utama dan masuk ke wilayah sekte.

Mata mereka membelalak, mulut mereka sedikit terbuka — seolah mereka bukan melangkah masuk ke sebuah sekte, melainkan ke alam surga yang tersembunyi di antara pegunungan.

"Lihatlah udara di sini..." bisik utusan Sekte Awan Putih tak percaya. "Energi rohnya... jauh lebih pekat dibandingkan sekte kami yang sudah ratusan tahun berdiri."

"Dan pohon itu..." tunjuk utusan Sekte Pedang Teratai ke arah Pohon Roh yang bersinar di tengah halaman. "Itu bukan pohon biasa. Cahaya yang memancar darinya... bisa dirasakan sampai ke sini!"

Saat mereka memasuki Aula Utama, kekaguman mereka berubah menjadi kekaguman yang bercampur rasa takjub.

Aula itu luas dan megah — tiang-tiangnya terbuat dari kayu roh yang bercahaya pelan, lantainya berkilau seperti cermin yang memantulkan langit di atasnya, dan di setiap sudut ruangan terdapat manik-manik roh yang memancarkan cahaya lembut tanpa perlu api atau minyak.

Namun yang paling membuat mereka menahan napas adalah sosok yang sudah duduk di kursi kebesaran — kursi tertinggi di ujung ruangan, yang seolah menjadi pusat dari seluruh aula.

Itu adalah Mo Yuan — Tetua Agung Sekte Surgawi Langit. Dia duduk dengan tenang, punggung tegak, kedua tangan diletakkan di atas lengan kursi.

Aura yang dia pancarkan begitu dalam dan tenang, seolah dia adalah gunung yang tak tergoyahkan.

Bai Yuan berdiri di sisi kanan Mo Yuan, menunjukkan posisi dan hierarki yang jelas. Ketiga utusan itu segera menunduk hormat, tidak berani melangkah lebih jauh tanpa diizinkan.

"Kehormatan bagi kami, Tetua Agung!" ucap mereka serentak. "Kami tidak menyangka bisa disambut dengan begitu mulia."

Mo Yuan mengangkat tangan pelan — gerakan yang terlihat lambat namun membuat seluruh ruangan terasa semakin tenang. "Bangkitlah. Kalian datang dengan niat baik, maka kami menyambut kalian dengan keramahan yang pantas. Silakan duduk di kursi tamu."

"Tetua Agung! Kami datang mewakili sekte kami masing-masing, untuk menyampaikan rasa hormat dan niat baik kepada Sekte Surgawi Langit."

Tetua Agung mengangguk pelan, sikapnya tenang dan tidak sombong. "Saya mewakili Tuan Sekte menerima kedatangan kalian. Terima kasih atas niat baik yang kalian bawa. Tuan Sekte sedang berkultivasi dan tidak bisa menampakkan diri saat ini, namun beliau menyampaikan salam hormat dan terima kasih."

Ketiga utusan itu saling berpandangan — mereka tidak kecewa, justru merasa lega karena setidaknya diterima dengan baik. Mereka lalu menyerahkan hadiah mereka.

Ketiga utusan itu duduk dengan perasaan terhormat sekaligus kagum. Mereka melihat sekeliling aula sekali lagi — setiap detailnya menunjukkan kemewahan dan kekuatan yang tidak bisa dibangun dalam waktu singkat.

Sekte ini... baru saja muncul, namun kemegahannya melampaui sekte yang sudah berdiri ratusan tahun.

"Terima kasih atas niat baik kalian," ucap Mo Yuan. "Sebagai balasan..."

Bai Yuan maju dan menyerahkan hadiah balasan — masing-masing dua buah persik roh dan satu bungkus teh pencerahan. Saat ketiga utusan itu melihat dan mencium aroma kedua benda itu, wajah mereka berubah pucat karena terkejut. Mereka saling bertukar pandang — mata mereka penuh kekhawatiran sekaligus rasa tak percaya.

"Persik roh... dan teh pencerahan..." bisik utusan Sekte Gunung Batu dengan suara bergetar, tangannya gemetar menerima bungkusan itu. "Benda ini... sudah punah ratusan tahun lalu. Jika orang tahu kami memilikinya... kami bisa menjadi sasaran pencurian dan pembunuhan."

"Kalian datang dengan hormat," ucap Mo Yuan pelan, seolah memahami kekhawatiran mereka. "Maka kami membalas dengan hormat juga. Namun ingat — simpanlah baik-baik. Jangan sembarangan memamerkannya. Itu bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk digunakan dengan bijak."

Ketiga utusan itu segera menyembunyikan hadiah itu di dalam cincin ruang masing-masing, secepat mungkin, seolah takut ada mata yang melihatnya. Mereka mengangguk dengan wajah penuh keseriusan.

"Kami paham, Tetua Agung! Terima kasih banyak! Kami tidak akan menceritakan kepada siapa pun tentang hadiah ini!"

Pertemuan itu berlangsung singkat namun bermakna. Sebelum pergi, ketiga utusan itu sekali lagi menunduk hormat kepada Mo Yuan — dan kali ini, rasa hormat mereka bercampur dengan rasa takut akan betapa berharganya pemberian yang mereka terima.

Begitu keluar dari gerbang utama, ketiga utusan itu tidak berjalan pelan seperti biasanya.

Mereka langsung mempercepat langkah, bahkan menggunakan energi roh untuk bergerak lebih cepat — seolah ada yang mengejar mereka.

Mereka tahu betul, hadiah yang mereka bawa itu terlalu berharga untuk berada di tangan orang yang tidak cukup kuat untuk melindunginya. Mereka harus segera kembali ke sekte masing-masing dan melaporkan semuanya kepada pemimpin sekte.

***

Utusan Sekte Pedang Teratai tiba kembali di sektenya dalam waktu yang sangat singkat. Dia langsung berlari menuju Aula Utama tempat Ketua Sekte dan para Tetua sedang berkumpul. Wajahnya masih pucat dan napasnya terengah-engah.

"Ketua Sekte! Para Tetua!" serunya dengan suara penuh kegelisahan sekaligus kekaguman. "Saya baru saja kembali dari Sekte Surgawi Langit... apa yang saya lihat di sana... sungguh di luar dugaan saya!"

Dia menceritakan semuanya — dari kemegahan Aula Utama, Pohon Roh yang bersinar di halaman, energi roh yang begitu pekat, hingga wibawa Tetua Agung Mo Yuan yang duduk di kursi kebesaran.

Dia menceritakan setiap detail dengan penuh kekaguman, namun tentang hadiah balasan yang dia terima, tidak dia menyebutkan satu kata pun.

Begitu juga dengan dua utusan lainnya. Mereka kembali ke sekte masing-masing dengan tergesa-gesa, langsung menghadap Ketua Sekte dan para Tetua.

Menceritakan segala hal yang mereka lihat — kemegahan, kekuatan, kekayaan yang terlihat dari bangunan dan lingkungannya — tetapi hadiah balasan itu mereka simpan rapat-rapat, hanya diketahui oleh diri mereka sendiri dan Ketua Sekte saja.

Namun meskipun hadiah itu dirahasiakan, cerita tentang kemegahan Sekte Surgawi Langit menyebar dengan sangat cepat.

Dari mulut Ketua Sekte ke para Tetua, dari para Tetua ke murid-murid, dan dari murid-murid ke penduduk desa di sekitar pegunungan.

"Katakanlah di sana udaranya begitu murni, hanya bernapas saja sudah mempercepat kultivasi!" seru seorang murid Sekte Awan Putih kepada temannya.

"Katanya pohon di halaman utama bersinar seperti bintang! Bisa menerangi seluruh sekte tanpa lampu!" tambah penduduk desa yang mendengar cerita itu.

"Dan Tetua Agung-nya... belum mengeluarkan kekuatan apa pun, tapi orang sudah tidak berani mengangkat kepala! Sekte itu pasti punya kekuatan yang jauh melampaui apa yang kita bayangkan!"

Berita itu menyebar ke mana-mana — ke desa-desa, ke kota-kota, hingga ke telinga para pemuda yang bermimpi menjadi kultivator.

Semua orang menjadi penasaran. Sekte Surgawi Langit... sekte yang baru muncul, namun kemegahannya sudah terdengar ke seluruh penjuru wilayah.

"Kapan ya pendaftaran murid terbuka? Jika aku bisa masuk ke sana... mungkin itu adalah kesempatan seumur hidupku!"

"Benar!" sahut temannya. "Dengan lingkungan berkultivasi yang begitu luar biasa... kemajuan pasti berkali-kali lipat lebih cepat! Aku pasti ikut mendaftar!"

Tak seorang pun tahu tentang persik roh dan teh pencerahan itu — karena itu adalah rahasia yang dijaga ketat.

Namun kemegahan sekte yang mereka lihat itu saja sudah cukup membuat ribuan orang penasaran dan bersiap untuk datang.

...----------------...

Malam itu, Lin Yue berdiri di Puncak ke-10, menatap ke arah cakrawala yang gelap namun penuh bintang. Mo Yuan berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Tuan Sekte," ucap Mo Yuan pelan. "Ketiga utusan itu kembali dengan tergesa-gesa. Mereka menyembunyikan hadiah balasan itu dengan baik, mereka sudah menceritakan kemegahan sekte kita kepada semua orang. Berita itu sudah menyebar luas sekarang."

"Itu baik," jawab Lin Yue perlahan. "Hadiah itu terlalu berharga untuk diketahui orang banyak. Biarkan mereka menjaganya — itu akan membuat mereka lebih berhati-hati dan menghargai pemberian itu. Sedangkan kemegahan sekte... biarkan orang lain yang menceritakannya. Itu jauh lebih meyakinkan daripada kata-kata kita sendiri."

Lin Yue menoleh sedikit, meski cadarnya tetap menutupi wajahnya.

"Besok... Umumkan, tiga bulan lagi akan dibuka pendaftaran murid baru" ucapnya tegas namun tenang. "Dengan berita yang sudah menyebar seperti ini... aku yakin banyak orang yang akan datang. Pilihlah mereka yang tulus, yang memiliki tekad kuat, dan yang memiliki hati yang baik. Jumlah bukanlah hal utama — kualitas dan kesetiaanlah yang akan membangun sekte ini menjadi yang terbesar di benua ini."

"Siap, Tuan Sekte!" jawab Mo Yuan dengan penuh semangat.

.

.

.

.

1
Alia Chans
Hadirr Thor
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!