Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: AME author

menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.

akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.

apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA GARIS MERAH DAN JANJI BERSAMA

Beberapa minggu setelah kunjungan manis ke rumah kedua orang tua mereka, ritme kehidupan Akira dan Yuki kembali berjalan. Namun, ada kehangatan berbeda yang kian merekat di dalam rumah Meguro. Perbincangan ringan serta godaan hangat dari sang Ibu tentang "cucu" malam itu seolah meninggalkan jejak manis yang terus berputar di dalam pikiran mereka berdua.

Malam itu, hujan gerimis kembali menyapu kota Tokyo dengan lembut. Di dalam kamar tidur mereka yang beraroma terapi lavender yang menenangkan, Akira baru saja selesai memeriksa beberapa berkas risetnya lewat laptop. Ia melepas kacamatanya, menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari, lalu menatap istrinya yang sedang bersiap untuk tidur.

Yuki sedang duduk di depan meja rias studio pribadinya, menyisir rambut panjangnya yang halus dan hitam berkilau. Melalui pantulan cermin, mata mereka saling bertaut. Senyuman tipis dan tatapan pekat penuh pesona dari Akira seketika membuat dada Yuki berdebar—sebuah debaran hangat yang tak pernah berubah sedikit pun sejak pertama kali mereka jatuh cinta.

Akira berdiri dari tepi ranjang, melangkah mendekati Yuki dari belakang secara perlahan. Jemari kekarnya dengan lembut mengambil alih sisir di tangan Yuki, meletakkannya di atas meja, lalu mengelus pundak istrinya dengan penuh kelembutan.

"Masih memikirkan ucapan Ibu kemarin tentang cucu?" bisik Akira lembut di dekat telinga Yuki, membuat Yuki sedikit merinding manis.

Yuki menunduk kecil, pipinya memerah merona hingga ke ujung telinga. "Sedikit... Tapi aku tidak merasa tertekan sama sekali, Akira. Aku cuma berpikir... apakah kita sudah benar-benar siap untuk menjadi orang tua?"

Akira memutarkan tubuh Yuki pelan hingga mereka berhadapan. Ia berlutut di sebelah kursi Yuki, mendongak menatap mata bening istrinya dengan binar penuh kepastian dan rasa cinta yang mendalam.

"Selama aku melakukannya bersamamu, aku siap untuk apa pun dalam hidup ini, Yuki," tutur Akira tulus, menggenggam erat kedua tangan istrinya. "Tidak ada kata terlambat atau terlalu cepat. Jika saatnya tiba nanti, kita akan menghadapinya dan membesarkannya bersama-sama."

Tatapan tenang dan penuh perlindungan dari Akira seketika meluruhkan seluruh keraguan di hati Yuki. Yuki tersenyum sangat manis, mengusap rahang tegas suaminya dengan penuh kasih sayang.

Akira berdiri merengkuh tubuh ramping Yuki ke dalam pelukannya, mematikan lampu utama kamar hingga hanya menyisakan pijar lampu tidur yang redup dan hangat. Di bawah naungan malam yang tenang dan bisikan kata-kata cinta yang tulus, mereka menyatukan rasa, jiwa, dan raga dalam kehangatan malam yang penuh kasih sayang—menanamkan janji masa depan bagi keluarga kecil mereka.

Satu bulan kemudian.

Pagi itu, Yuki terbangun dengan perasaan yang tidak biasa pada tubuhnya. Tubuhnya terasa jauh lebih cepat lelah dalam beberapa hari terakhir, dan pagi ini rasa mual yang luar biasa kuat mendadak menyerangnya begitu ia baru saja membuka mata. Dengan tubuh yang sedikit bergetar dan jantung berdebar kencang, Yuki melangkah perlahan ke kamar mandi dan menggunakan alat pemelihara kehamilan (testpack).

Ia menunggu beberapa menit yang terasa begitu panjang. Dan ketika ia melihatnya kembali, dua garis merah yang sangat jelas muncul di layar kecil itu.

Yuki menutupi mulutnya dengan kedua tangan, air mata kebahagiaan seketika menetes deras tanpa bisa ditahan. Dengan langkah terburu-buru namun hati-hati, ia bergegas keluar dari kamar mandi. Akira, yang sedang merapikan kemeja kerjanya di depan cermin, terkejut melihat istrinya menangis sesenggukan.

"Yuki? Ada apa? Kamu sakit?" Akira langsung menghampiri istrinya dengan raut wajah yang sangat panik.

Tanpa mampu bersuara karena rasa haru yang membuncah, Yuki menyerahkan alat kecil itu ke genggaman tangan Akira.

Jemari Profesor muda itu seketika membeku. Matanya yang biasa meneliti analisis rumus rumit dan mikroskop kini menatap dua garis merah itu tanpa berkedip sedikit pun. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sosok Akira yang selalu tenang, dingin, dan rasional terlihat begitu kehabisan kata-kata.

"Ini... ini beneran, Yuki?" suara Akira bergetar parau, menatap Yuki seolah tak percaya.

Yuki mengangguk cepat sambil tersenyum lebar di tengah tangis bahagianya. "Iya... Ada kehidupan kecil di dalam sini, Akira."

Tanpa memedulikan kemeja kerjanya yang belum terkancing rapi, Akira langsung merengkuh Yuki ke dalam pelukan paling erat dan paling hangat yang pernah ada. Ia mengangkat tubuh Yuki pelan, mengecup kening, dahi, dan seluruh wajah istrinya bertubi-tubi dengan perasaan haru yang meledak di dalam dadanya.

"Terima kasih... Terima kasih banyak, Yuki," bisik Akira parau, matanya ikut berkaca-kaca menahan air mata bahagia.

Sore harinya, setelah mengunjungi dokter kandungan untuk memastikan kehamilan yang resmi dinyatakan telah memasuki usia 6 minggu, mereka berdua duduk bersama di sofa ruang tengah rumah Meguro. Di atas meja, tergeletak foto hasil USG pertama calon anak mereka bersanding dengan buku jadwal kerja Yuki dan Akira.

Diskusi hangat dan dewasa antara sepasang suami istri yang sama-sama memiliki karier cemerlang pun dimulai.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu di dunia fashion, Yuki?" tanya Akira lembut sambil mengelus jemari istrinya dengan penuh perhatian. "Aku ingin kamu dan calon bayi kita tetap aman dan sehat, tapi aku juga tidak mau menghentikan impian atau merusak karier yang sudah kamu bangun dengan susah payah."

Yuki tersenyum menenangkan suaminya, merasa sangat bersyukur memiliki suami yang begitu pengertian. "Aku sudah memikirkannya dengan matang, Akira. Aku sudah bicara dengan manajerku tadi siang setelah dari dokter. Untuk trimester pertama ini, aku akan membatasi pekerjaan secara ketat. Tidak ada lagi panggung catwalk luar kota, sepatu hak tinggi yang berbahaya, atau pemotretan malam yang melelahkan."

"Lalu bagaimana dengan kontrak majalah dan iklannya?"

"Agensiku sangat mendukung kabar bahagia ini. Mereka justru menawariku proyek maternity shoot dan kampanye produk ibu dan anak untuk beberapa bulan ke depan saat perutku mulai membesar. Jadi, aku tidak perlu berhenti berkarier sepenuhnya, hanya menyesuaikan porsi kerjaan agar tidak membuatku lelah," jelas Yuki dengan mata berbinar penuh semangat. "Dan saat mendekati bulan persalinan nanti, aku akan mengambil cuti melahirkan sepenuhnya untuk fokus pada buah hati kita."

Akira mendengarkan penjelasan itu dengan rasa bangga yang luar biasa pada kedewasaan dan kecerdasan istrinya. Ia mengecup punggung tangan Yuki dengan begitu hangat.

"Pilihan yang sangat bijak dan luar biasa, Istriku," puji Akira tulus. "Dari sisiku, sebagai Head of Department di laboratorium, aku sudah meminta Sato dan tim peneliti utama untuk memegang kontrol beberapa proyek lapangan. Aku akan memangkas jam kerjaku di laboratorium agar tidak perlu lembur lagi dan selalu bisa menemanimu kontrol rutin ke dokter serta memastikan kamu beristirahat dengan cukup di rumah."

"Benarkah? Profesor hebat kita tidak akan sengaja lembur lagi demi riset medisnya?" goda Yuki sambil tersenyum jahil, mencubit pelan pipi suaminya.

"Riset sains bisa menunggu, tapi masa-masa kehamilan istriku hanya terjadi sekali untuk bayi pertama kita ini," jawab Akira mantap tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya.

Malam itu berakhir dengan indah. Di rumah baru mereka yang hangat, Akira dan Yuki tidak hanya bersiap menjadi suami istri yang saling mendukung karier masing-masing, tetapi juga melangkah bersama dengan penuh kesiapan, cinta, dan kedewasaan untuk menyambut peran paling suci dalam hidup mereka: menjadi seorang ayah dan ibu bagi calon buah hati mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!