Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Viie27

Sinopsis

Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.

Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.

Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.

Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.

Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.

Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab. 20

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Bab 20 — Pengkhianat di Antara Kami

Kalimat terakhir Alena masih terngiang di kepala Clara.

“Jangan percaya siapa pun.”

Clara menatap satu per satu orang yang berdiri di hadapannya.

Fedro.

Raka.

Rafael.

Amara.

Adrian.

Semuanya adalah orang-orang yang selama beberapa hari terakhir berdiri di sisinya.

Namun kini, salah satu dari mereka mungkin menyimpan rahasia besar.

Clara menarik napas panjang.

“Siapa?”

Tidak ada yang menjawab.

“Siapa yang memiliki bagian terakhir dari kunci?”

Adrian menatap Clara.

“Papi tidak tahu.”

Clara mengalihkan pandangan kepada Rafael.

“Kamu?”

Rafael menggeleng.

“Aku tidak memilikinya.”

“Raka?”

“Tidak.”

Clara kemudian menatap Fedro.

Pria itu hanya diam.

Clara langsung merasa dadanya sesak.

“Fedro?”

Fedro menatap istrinya.

“Aku tidak pernah menyembunyikan sesuatu yang bisa membahayakanmu.”

Clara menatap matanya dalam-dalam.

“Aku percaya padamu.”

Fedro menggenggam tangannya.

“Dan aku percaya kepadamu.”

Tiba-tiba Rafael berjalan mendekati mereka.

“Ada sesuatu yang harus kalian lihat.”

Ia mengeluarkan sebuah amplop hitam dari saku jaket.

Clara mengerutkan kening.

“Dari mana kamu mendapatkannya?”

“Ditemukan di dalam mobilku.”

Raka segera mengambil amplop tersebut.

“Tidak ada nama pengirim.”

Adrian membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat sebuah foto lama.

Foto Clara ketika masih kecil.

Di belakang foto terdapat tulisan:

Bagian terakhir bukan benda.

Bagian terakhir adalah darah.

Amara langsung pucat.

Clara menatap ibunya.

“Mami?”

Amara tidak menjawab.

Adrian mengambil foto itu dengan tangan gemetar.

“Tidak mungkin…”

Fedro bertanya,

“Apa maksudnya?”

Adrian menatap Clara.

“Papi baru mengerti.”

“Mengerti apa?”

“Sejak awal kami mengira kunci E-17 terbagi menjadi tiga benda.”

Ia menunjuk liontin Clara.

“Kunci.”

“Kode milik Alena.”

“Dan lokasi milik Aria.”

Adrian berhenti.

“Ternyata itu bukan semuanya.”

Raka mengerutkan kening.

“Lalu apa bagian terakhirnya?”

Adrian menatap Amara.

“Darah keluarga Evellyn.”

Clara terdiam.

“Darah?”

Amara akhirnya berbicara.

“Proyek E-17 menggunakan sistem pengamanan yang hanya bisa dibuka dengan identitas biologis keturunan langsung.”

Clara mulai memahami.

“Jadi tiga saudara…”

“Adalah kunci hidup,” jawab Adrian.

Clara menatap liontinnya.

“Kalau begitu kenapa Damian mengatakan bagian terakhir ada di tangan seseorang yang paling dekat denganku?”

Adrian tidak langsung menjawab.

Rafael tiba-tiba menatap pintu.

“Kita tidak sendirian.”

Semua orang langsung waspada.

Raka bergerak menuju jendela.

“Ada seseorang di luar.”

Fedro menarik Clara ke belakangnya.

“Siapa?”

“Tidak tahu.”

Beberapa detik kemudian terdengar suara mesin mobil.

Lalu sebuah benda kecil dilemparkan melalui jendela.

Prak!

Raka segera mengambilnya.

Sebuah ponsel.

Layar ponsel menyala.

Ada video masuk.

Raka menekan tombol putar.

Wajah Alena muncul di layar.

Clara langsung mendekat.

“Alena!”

Alena terlihat berada di sebuah ruangan gelap.

Wajahnya pucat.

“Clara, dengarkan aku.”

“Apa yang terjadi?”

“Jangan datang ke gudang.”

Clara menggeleng.

“Kami akan mencarimu.”

“Tidak!”

Suara Alena terdengar panik.

“Damian memang menginginkan kalian datang, tapi bukan untuk menangkap Clara.”

“Lalu untuk apa?”

Alena menatap kamera.

“Dia ingin menangkap Adrian.”

Semua orang membeku.

Adrian langsung berdiri.

“Kenapa aku?”

“Karena Papi satu-satunya orang yang mengetahui lokasi sebenarnya tempat penyimpanan E-17.”

Clara menatap ayahnya.

“Papi tahu?”

Adrian terdiam.

“Papi…”

“Aku tahu.”

Clara merasa kecewa.

“Kenapa Papi tidak pernah memberitahuku?”

“Karena tempat itu terlalu berbahaya.”

Alena kembali berbicara dari video.

“Clara, ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Orang yang paling dekat denganmu bukan pengkhianat.”

Clara terkejut.

“Lalu siapa?”

Alena menatap kamera dengan mata berkaca-kaca.

“Orang yang mengkhianati keluarga kita adalah seseorang yang selama ini kalian kira sudah mati.”

Video berhenti.

Ruangan mendadak sunyi.

Raka menatap layar.

“Sudah mati?”

Adrian terlihat semakin pucat.

Amara memegang lengannya.

“Kamu memikirkan orang yang sama denganku?”

Adrian mengangguk.

“Ya.”

Clara menatap mereka.

“Siapa?”

Adrian menjawab dengan suara pelan.

“Leonard.”

Clara mengerutkan kening.

“Siapa Leonard?”

“Adik Papi.”

Clara membeku.

“Jadi aku punya paman?”

Adrian mengangguk.

“Dulu dia adalah orang yang paling dipercaya keluarga kita.”

“Lalu?”

“Dia meninggal dalam kecelakaan lima belas tahun lalu.”

Rafael menyela,

“Itu yang selama ini kami percaya.”

Clara langsung menangkap sesuatu.

“Berarti dia sebenarnya masih hidup?”

Adrian tidak menjawab.

Tiba-tiba ponsel Clara berdering.

Nomor tidak dikenal.

Ia mengangkatnya.

“Halo?”

Suara pria terdengar dari seberang.

Tenang.

Dingin.

“Clara.”

Clara langsung membeku.

“Siapa?”

“Aku tahu kamu sedang bersama ayahmu.”

Adrian langsung menatap ponsel.

Suara pria itu kembali terdengar.

“Sudah lama sekali, Adrian.”

Wajah Adrian berubah.

“Leonard…”

Clara menatap ayahnya.

“Paman?”

Tawa kecil terdengar.

“Jadi akhirnya kamu memberitahunya.”

Adrian mengepalkan tangan.

“Kau seharusnya sudah mati.”

“Begitu juga kamu.”

Amara segera mengambil tangan Clara.

“Jangan dengarkan dia.”

Namun Leonard melanjutkan.

“Clara, kamu ingin tahu mengapa keluargamu hancur?”

Clara terdiam.

“Ya.”

“Karena ayahmu menyimpan sesuatu darimu.”

“Apa?”

“Bukan hanya tentang E-17.”

Clara menatap Adrian.

Leonard berkata,

“Papi-mu juga menyembunyikan kenyataan tentang kelahiranmu.”

Clara membeku.

“Apa maksudmu?”

Adrian langsung memotong,

“Jangan percaya dia!”

Leonard tertawa.

“Buka laci ketiga di ruang kerja ayahmu.”

Clara menatap Adrian.

“Apa yang ada di sana?”

Adrian terdiam.

Jawaban itu sudah cukup membuat Clara semakin curiga.

“Papi?”

Adrian menghela napas.

“Surat kelahiranmu.”

Clara terkejut.

“Surat kelahiranku?”

“Ya.”

Leonard berkata,

“Bacalah.”

Sambungan tiba-tiba terputus.

Clara berdiri terpaku.

Fedro mendekatinya.

“Clara, jangan pergi sendirian.”

“Aku tidak akan.”

Ia menatap ayahnya.

“Papi, aku ingin melihat surat itu.”

Adrian mengangguk.

Mereka berjalan menuju ruang kerja sementara Raka dan Rafael berjaga.

Sesampainya di sana, Adrian membuka laci ketiga.

Tangannya gemetar.

Ia mengeluarkan sebuah map cokelat tua.

Clara menerimanya.

Ia membuka map tersebut.

Ada akta kelahiran.

Namun di bagian nama ibu tertulis:

Amara Evellyn.

Clara menghela napas lega.

“Lalu apa yang disembunyikan?”

Adrian mengambil satu lembar dokumen lain.

“Ini.”

Clara membacanya.

Wajahnya langsung pucat.

Dokumen itu menyatakan bahwa Clara sebenarnya terdaftar sebagai anak kedua.

Clara menatap ayahnya.

“Anak kedua?”

Adrian mengangguk.

“Ya.”

“Kalau begitu siapa anak pertama?”

Adrian menundukkan kepala.

Sebelum ia menjawab, pintu ruang kerja terbuka.

Rafael berdiri di sana.

Wajahnya serius.

“Adrian.”

“Apa?”

“Kita baru menerima kabar dari Aria.”

Clara langsung berdiri.

“Apa katanya?”

Rafael menatap Clara.

“Dia mengatakan bahwa orang yang kalian cari bukan Leonard.”

Clara membeku.

“Lalu siapa?”

Rafael menjawab pelan,

“Aria mengatakan…”

Ia berhenti.

“Orang yang sebenarnya mengendalikan Damian adalah seseorang yang selama ini berada tepat di dalam keluarga Evellyn.”

Clara menahan napas.

“Siapa?”

Rafael menatap Amara.

Amara langsung pucat.

Kemudian Rafael berkata,

“Orang itu adalah…”

“Kakek Clara.”

Clara membeku.

Karena selama ini ia percaya kakeknya sudah meninggal sejak dirinya masih kecil.

Namun dari luar rumah terdengar suara mobil berhenti.

Kemudian sebuah suara tua terdengar dari halaman.

“Clara…”

Semua orang terdiam.

Suara itu kembali terdengar.

“Cucuku.”

Clara menatap jendela dengan jantung berdebar.

Kakeknya ternyata masih hidup.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!