Indonesia
NovelToon NovelToon
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.

​Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.

​Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.

​Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.

​Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.

​Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

​Matahari sore mulai meredup, memancarkan rona jingga kemerahan di ufuk barat saat rombongan itu bersiap untuk meninggalkan kediaman orang tahu Hanum. Namun, ada yang berbeda dari kepulangan mereka kali ini. Halaman belakang yang tadinya riuh oleh suara tawa anak-anak kini mendadak sepi bagi Hanum. Sesuai kesepakatan, Kayla dan Kenzie untuk sementara waktu akan tinggal dan menginap di rumah kakek dan nenek mereka. Kedua orang tua Hanum bersikeras menahan cucu kembar mereka agar Hanum bisa fokus mengurus segala keperluan berkas perceraiannya besok tanpa harus mencemaskan kondisi psikologis anak-anak.

​Di area parkir depan, Papa Irwan memilih untuk pulang menggunakan mobil sedannya sendiri yang dikemudikan oleh sopir pribadi kepercayaan beliau karena kebetulan ada urusan mendadak. Sementara Hanum, kembali mendapati dirinya harus masuk ke dalam kabin SUV hitam besar milik Tian.

​Begitu pintu mobil tertutup rapat dan mesin dinyalakan, Hanum seketika mengembuskan napas pendek. Jujur, dia kembali merasakan atmosfer yang dingin. Bahkan kali ini rasanya jauh lebih dingin dan mencekam daripada perjalanan mereka tadi pagi. Jika tadi pagi masih ada kantong kue dari patisserie yang menyebarkan aroma vanila hangat, sore ini kabin mobil itu benar-benar murni dihuni oleh kesunyian yang tebal.

​Tian duduk di balik kemudi dengan gestur tubuhnya yang tegak, kaku, dan luar biasa tenang. Pandangan matanya lurus menyapu jalanan raya yang mulai padat oleh volume kendaraan di sore hari. Mulutnya terkatup rapat, membentuk satu garis tegas yang seolah-olah dipaku mati. Aura intimidasi Tuan Dingin kembali menguar kuat dari balik kemeja biru dongker yang lengannya masih tergulung rapi hingga siku.

​Hanum melirik sekilas dari sudut matanya, lalu dengan cepat membuang muka ke arah jendela samping. Entah mengapa, untuk membuka mulut atau sekadar berdehem saja, Hanum rasanya tidak memiliki keberanian. Berada di dalam satu ruangan tertutup dengan seorang Tian seperti sedang duduk di dekat gunung es yang sewaktu-waktu bisa membekukan apa saja. Alhasil, di dalam mobil mewah yang bergerak membelah kota itu hanya berisi dua orang dewasa yang sama-sama memilih tenggelam dalam diam seribu bahasa.

​Perjalanan telah berlangsung selama hampir tiga puluh menit ketika mereka mulai memasuki area pusat kota yang padat. Hanum yang hafal betul rute jalan menuju rumahnya mulai bersiap-siap untuk merapikan tasnya. Berdasarkan rute normal, mobil SUV hitam ini seharusnya mengambil jalur lurus melewati lampu merah di depan untuk langsung menuju ke arah kompleks perumahan elit tempat tinggal Hanum.

​Namun di luar dugaan Hanum, Tian justru memutar kemudinya dengan satu tangan secara taktis, membelokkan moncong mobil ke arah kiri, memasuki kawasan pusat bisnis dan kuliner premium yang dipenuhi deretan restoran mewah.

​Hanum mengerutkan keningnya bingung. Dia menoleh ke arah Tian, mengumpulkan segenap keberanian yang tersisa di dalam dadanya untuk memecah keheningan yang sudah berlangsung selama setengah jam itu.

​"Loh, Kak... kok belok?" tanya Hanum memberanikan diri, suaranya terdengar agak canggung memenuhi kabin yang sunyi. "Kan harusnya kita lurus ke arah kompleks perumahan aku?"

​Tian tidak langsung menjawab. Dia memundurkan sedikit posisi duduknya, menginjak pedal rem dengan halus karena mobil mengantre di depan lobi sebuah restoran steik premium bergaya industrial. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Hanum, pria kaku itu membuka suara dengan nadanya yang lempeng dan super datar.

​"Saya lapar," jawab Tian pendek, seolah kata-kata itu adalah sebuah hukum absolut yang tidak butuh penjelasan panjang. "Dari siang kan saya belum makan."

​Mendengar jawaban super singkat itu, Hanum seketika terdiam seribu bahasa. Ingatannya langsung berputar kembali pada kejadian tadi siang di rumah orang tuanya. Saat semua orang dewasa sedang duduk tegang di ruang tamu membahas masalah pengkhianatan Hanif, Tian memang lebih banyak menghabiskan waktunya di halaman belakang. Pria kaku itu dengan begitu sabar menemani, mengawasi, dan meladeni segala tingkah ajaib kedua anak kembar Hanum.

​Bahkan saat makan siang dihidangkan oleh ibunya, Kayla dan Kenzie terus-menerus menggelayuti lengan Tian, meminta sang om untuk menyuapi mereka atau membantu memotongkan daging ayam mereka. Akibatnya, Tian sendiri sama sekali tidak sempat menyentuh piring makannya sendiri hingga waktu kunjungan berakhir. Pria itu benar-benar mengutamakan perut keponakan tirinya daripada perutnya sendiri.

​Rasa bersalah mendadak merayap di dalam hati Hanum sebagai seorang bunda. Dia merasa tidak enak hati karena anak-anaknya telah merepotkan pria sedingin Tian sampai membuatnya melewatkan waktu makan siang.

​"Oh... iya, maaf ya, Kak," ucap Hanum dengan nada suara yang penuh penyesalan, menatap profil samping wajah Tian dengan tulus. "Maafkan anak-anak ya, Kak... gara-gara mengurusi mereka, Kakak jadi kelaparan sampai sore begini."

​Cittt.

​Mobil berhenti dengan sempurna di area parkir khusus restoran. Tian mematikan mesin mobil, lalu perlahan memutar tubuhnya. Untuk pertama kalinya sejak sore tadi, sepasang mata elang yang tajam milik Tian menatap lurus ke dalam manik mata Hanum. Wajahnya tampak sedikit berkerut, mengekspresikan rasa kesal yang khas dan sarat akan gengsi tingkat tinggi.

​"Saya tidak kelaparan, Hanum," ketus Tian dengan nada suara yang terdengar sangat tidak terima dengan pilihan kata yang digunakan oleh Hanum. "Saya hanya lapar."

​Hanum tertegun sejenak, mengerjapkan matanya beberapa kali karena bingung dengan respons super sensitif dari kakak ipar tirinya ini. "Eh? Tapi... bukannya sama saja, Kak? Lapar dan kelaparan kan artinya Kakak belum makan dari siang karena anak-anak."

​"Beda," sanggah Tian cepat dengan wajah yang masih terlipat ketat, seolah-olah mereka sedang memperdebatkan sebuah pasal kontrak bisnis yang sangat krusial. "Kelaparan itu artinya saya tidak punya makanan atau tidak punya uang untuk membeli makanan seperti adik tiri saya saat ini. Sedangkan saya? Saya punya banyak uang dan saat ini saya sedang berada di depan restoran. Jadi status saya hanya lapar, bukan kelaparan. Jangan menyamakan saya dengan orang-orang yang tidak punya kemampuan finansial."

​Mendengar rentetan kalimat sarkas namun absurd yang keluar dari bibir pria dingin itu, Hanum sempat terpaku selama tiga detik. Namun sedetik kemudian, sudut-sudut bibir Hanum mendadak berkedut. Rasa sedih, tertekan, dan pening yang melingkari kepalanya sejak kemarin akibat kelakuan Hanif, seketika sirna begitu saja, digantikan oleh rasa geli yang menggelitik dadanya.

"​Laki-laki ini... di tengah aura monsternya, kenapa bisa sekaku dan segengsi ini hanya untuk urusan kosakata tata bahasa?." batin Hanum tak habis pikir.

​Sebuah senyuman lebar yang kali ini benar-benar murni merupakan senyuman geli dan lucu akhirnya terukir di wajah cantik Hanum. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan kekehan pelan di depan Tuan Dingin yang sedang memasang wajah kesal tersebut.

​"Iya, iya, Kak Tian... maaf," ucap Hanum sambil menahan tawa di balik telapak tangannya. "Kakak tidak kelaparan. Kakak hanya lapar tingkat tinggi. Kalau begitu, ayo kita turun sekarang sebelum status Kakak berubah menjadi kelaparan sungguhan."

​Tian tidak membalas tawa Hanum. Dia hanya mendengus pelan sebuah dengusan khas yang menandakan egonya sedikit tercoreng karena ditertawakan lalu segera membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan gerakan kaku yang sarat akan wibawa, meninggalkan Hanum yang masih tersenyum geli di dalam kabin mobil yang atmosfer dinginnya kini telah mencair sepenuhnya.

1
Irianti
Thor kenapa harus ada kata papa tiri Hanif, lebih baik disebut mertua Hanum atau pak siapa gitu biar enak baca nya, maaf yaa Thor sekedar masukan
Irianti
di bab sebelum nya pake jilbab instan, lah ko di bab ini ngga pake jilbab, ayoo Thor lebih di perhatikan lagii tulisan nyaa💪💪💪
Hana Nisa Nisa
ini juga bukannya dirumah ya ngasih uang 10jtnya kok sekarang di parkiran ktr
Hana Nisa Nisa
usahanya yg bener apa ya hijab apa disegn interior
Anonim
💪💪💪💪
Anonim
Hereeem
Alya Cahaya Hati
lanjut👍
Indra Wahyu Rianti
hanif kan penggelapan ya. kl rahma kena pasal apa?
Indra Wahyu Rianti
wkt nikah yg orang kampung dtg dikasih seragam itu siapa? sodara sarah apa orang kampungnya sarah? masa gak nagsih tau kl menikah buat menipu.
Indra Wahyu Rianti
jd penasaran cerita awal hanum hanif. knp dulu hanum gak sama tian aja y. apa krn dari dulu tian di LN mulu?
RieNda EvZie
/Good//Good//Good//Good//Good/
Indra Wahyu Rianti
bego bgt bu rahma ditinggal pak irwan demi mantu sarah 🤣
Indra Wahyu Rianti
Yaa Allah... lakilaki udah dpt hanum spec sultan dan bidadari menggadaikan segalanya hanya untuk HS sm sarah.
Indra Wahyu Rianti
Yaa Allah bu rahmaaaaa.... udah dibuat hidupnya enak koq gak tau diri. dpt suami dan menantu spek sultan, nyari mantu yg selevelan dia lg 😅
Indra Wahyu Rianti
keren. seribu jempol buat papa hanif yg membela menantunya 💙
Indra Wahyu Rianti
real ada laki laki yg terpikat seorang perempuan krn didepannya rajin shalat. begitu udah dinikahi, gak tuh 😅. perempuan itu kekeh kerja LDR jd lakilakinya gak diopeni dari sejak nikah tp lakilakinya ttp nafkahi anakanaknya dan gak punya tabungan krn uangnya habis buat bolak balik pesawat nengok keluarga, bayar asuransi pendidikan anaknya dan beli aset dinkota istrinya. lucunya pas suaminya minta keluarganya pindah sekota dgnya istrinya mau asal dibelikan rumah gak mau tinggal di rumah mertuanya yg besar. lah pdhl uang suaminya udah dibeliin aset di kota istrinya. skrg suaminya sakit, istri dan anaknya gak ada yg nengok. harusnya nemenin kontrol ke penang malah jalanjalan sendiri ke china, korea, jepang. 😅 tertipuuuuuuu
Indra Wahyu Rianti
bego banget. kan udah tau kondisi yg di setting hanum. batalin aja nikahnya. kan blm nikah ini. setidaknya mgkn batal dicerein 😅. mikir dong bakal kehilangan hanum anak anak dan harta. trus dpt sarah?? hellow
Indra Wahyu Rianti
kerenkerenkeren.
author bikin kelas buat para istri dong biar bs kyk hanum 💙
Indra Wahyu Rianti
penasaran kl punya pengacara pribadi gitu bayarannya berbulan apa percase?
Mukeseh
q bingung thor 🤣🤣🤣 bab berapa gitu mereka tinggal di rumah kumuh eh skrg kok ada pembentong eee🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!