Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Penyeberangan Dunia Lain / Fantasi Isekai
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Nekat Menuju Gerbang Gaib

Hening menyelimuti markas kecil Laskar Cakra sepulang mereka dari ladang perbatasan, kesunyian yang jauh lebih berat dibandingkan lelah fisik yang mereka rasakan sepanjang perjalanan pulang tadi malam. Lampu minyak di ruang tengah rumah sewa Larasati menyala remang, menciptakan bayangan panjang yang bergoyang pelan di dinding kayu.

Galih duduk termenung di sudut ruangan, lututnya ditekuk ke dada, matanya menatap kosong ke lantai kayu di bawahnya. Bayangan tawa mengejek Raka dan sorak sorai warga yang mengagumi Naga Selatan masih terngiang jelas di kepalanya, membuat dadanya terasa sesak oleh campuran malu dan frustrasi yang sulit ia jelaskan. Sesekali ia meremas ujung lengan bajunya sendiri, mencoba menyalurkan kekesalan yang tidak tahu harus ia arahkan ke mana.

Larasati duduk tidak jauh darinya, membersihkan tongkat sihirnya dengan kain lembut, gerakannya pelan dan berulang, seolah aktivitas sederhana itu menjadi satu-satunya cara baginya menenangkan pikiran yang masih dipenuhi amarah tertahan sejak insiden di ladang.

Tidak ada yang berbicara untuk waktu yang lama. Suara jangkrik di luar dan desisan lampu minyak menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi keheningan ruangan itu, sebuah jeda yang terasa berat oleh kekecewaan yang belum sempat mereka bicarakan.

Sekar berdiri dari duduknya, langkahnya mondar-mandir singkat sebelum akhirnya berhenti di tengah ruangan, tubuhnya tegak dengan tatapan mata yang menyala tajam, jauh berbeda dari raut lelah yang tadi menyelimuti wajahnya sepanjang perjalanan pulang. Bayangannya yang jatuh panjang di lantai kayu akibat cahaya lampu minyak seolah ikut membesar seiring tekad yang mulai membakar di dadanya.

"Aku sudah muak," katanya tiba-tiba, suaranya memecah keheningan dengan tegas. "Kalau kita terus begini, terus mengambil misi rendahan yang gampang dicuri kelompok lain, Naga Selatan akan selamanya menginjak harga diri kita. Mereka akan terus menganggap kita lelucon, kelompok kecil yang tidak layak diperhitungkan sama sekali."

Galih mendongak, terkejut mendengar nada suara Sekar yang begitu berbeda dari biasanya. "Sekar, kita sudah berusaha semampu kita hari ini tadi. Bukan salah kita mereka datang lebih dulu."

"Aku tahu," sahut Sekar cepat, "tapi masalahnya bukan soal siapa yang salah. Masalahnya, selama kita masih dianggap remeh, kita akan terus jadi bahan tertawaan, terus dilangkahi setiap kali ada kesempatan penting. Kita butuh sesuatu yang membuktikan kapasitas kita, sesuatu yang tidak bisa mereka bantah lagi di depan seluruh desa."

Larasati menghentikan gerakan tangannya, meletakkan tongkat sihir dan kain pembersih di pangkuannya, memperhatikan Sekar dengan penuh perhatian. "Apa yang kau pikirkan, Sekar? Wajahmu seperti orang yang baru saja menemukan sesuatu."

Sekar menarik napas dalam-dalam, matanya berkilat penuh tekad yang belum pernah dilihat Galih sejauh ini. "Loka Gaib Desa. Kita masuk ke sana, sekarang juga."

Hening kembali menyelimuti ruangan, kali ini karena keterkejutan yang membuat Galih dan Larasati sama-sama terdiam beberapa detik.

"Loka Gaib Desa?" Galih akhirnya bersuara, suaranya meninggi tidak percaya. "Dungeon resmi dengan tiga puluh lantai itu? Sekar, kita bahkan belum pernah masuk dungeon sungguhan sekali pun seumur hidup kita!"

"Justru karena itu," balas Sekar tegas, tidak menunjukkan sedikit pun keraguan. "Kalau kita terus menunggu sampai merasa cukup siap, kita tidak akan pernah bergerak maju. Naga Selatan sudah membuktikan diri dengan menaklukkan misi-misi besar. Kita perlu bukti serupa, dan Loka Gaib Desa adalah tempat paling logis untuk memulainya."

Larasati, alih-alih menunjukkan keraguan yang sama seperti Galih, justru mengangguk mantap, matanya berbinar antusias yang mengejutkan. "Aku setuju. Kita sudah cukup lama dipandang sebelah mata. Sudah waktunya kita menunjukkan sesuatu yang benar-benar berarti bagi desa ini."

"Kalian berdua gila," gumam Galih, meski suaranya sendiri terdengar lebih ke arah kewalahan daripada penolakan sungguhan. "Dungeon itu punya reputasi berbahaya. Kita belum pernah latihan formasi cukup lama, belum pernah menghadapi monster dungeon sungguhan. Bagaimana kalau kita malah jadi korban berikutnya yang harus diselamatkan orang lain?"

"Karena itu kita akan mulai dari lantai paling rendah, perlahan," jelas Sekar, nada suaranya melunak sedikit melihat kekhawatiran jelas di wajah Galih. "Kita tidak akan sembrono menerjang sampai dalam. Tapi kita harus mulai bergerak, Galih. Sekarang, malam ini juga, sebelum keberanian kita menguap lagi."

Galih menelan ludahnya sendiri, terasa kasar di tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Ia menatap wajah Sekar, mencari tanda keraguan yang mungkin masih tersembunyi, namun yang ia temukan hanya tekad bulat yang tidak tergoyahkan. Ia menoleh ke arah Larasati, berharap menemukan sekutu untuk menahan rencana nekat ini, namun gadis itu justru sudah berdiri, bersemangat menyiapkan tongkat sihirnya seolah sudah tidak sabar memulai petualangan baru ini.

Ketakutan masih menggerayangi dadanya, bayangan bahaya yang mungkin menanti di dalam dungeon berputar liar di kepalanya. Ia teringat cerita-cerita yang pernah ia dengar dari para pemburu senior di Balai Desa, tentang monster dungeon yang jauh lebih licik dan terorganisir dibanding penghuni hutan biasa. Namun melihat kesungguhan di mata kedua rekannya, sesuatu di dalam dirinya juga ikut tergerak, sebuah keinginan kecil untuk tidak lagi menjadi satu-satunya yang ragu, untuk ikut membuktikan bahwa Laskar Cakra pantas diperhitungkan.

"Baiklah," katanya akhirnya, suaranya masih sedikit bergetar namun tekadnya cukup jelas terdengar di telinga kedua rekannya. "Aku ikut."

Senyum tipis terukir di wajah Sekar, sebuah kepuasan yang bercampur rasa syukur karena tidak harus meyakinkan Galih lebih jauh lagi. "Kalau begitu, siapkan diri kalian. Kita berangkat malam ini juga, mumpung tekad kita masih membara."

Mereka bertiga segera mengemas perbekalan seadanya, memeriksa senjata masing-masing untuk terakhir kalinya sebelum melangkah keluar dari rumah sewa Larasati menuju kegelapan malam yang menyelimuti Desa Wanasari. Sekar menyisipkan beberapa lembar kain pembalut luka ke dalam tasnya, Larasati memastikan persediaan mananya cukup untuk pertarungan panjang, sementara Galih hanya bisa menggenggam erat gagang kerisnya, berharap keberaniannya cukup untuk menghadapi apa pun yang menanti di dalam gerbang dungeon nanti.

Langkah kaki mereka berbelok arah, meninggalkan jalur menuju rumah panggung Ki Wira, menyusuri jalan setapak yang jarang dilalui menuju ujung desa. Di sana, tersembunyi di antara pepohonan tua, berdiri gerbang batu kuno yang ditumbuhi lumut tebal, permukaannya dipenuhi ukiran simbol yang berpendar redup keunguan, ditutupi segel magis yang sudah berusia ratusan tahun. Angin malam berembus dingin menyapu wajah mereka bertiga saat langkah terakhir membawa mereka berdiri tepat di hadapan gerbang yang akan membuka babak baru dalam perjalanan Laskar Cakra. Suara serangga malam yang biasa terdengar riuh di sekitar desa seolah meredup begitu mereka mendekati area itu, seakan alam sendiri tahu betapa berbedanya tempat ini dari dunia yang biasa mereka pijak.

1
quancyberx studio
untuk novel nya lumayan dan perlu peningkatan dari segi kata paragraf dan lain nya
quancyberx studio
semangat ya
PLEMIK: Kamu juga semangat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!