10 juta orang berusia 18-25 tahun dengan tingkat kecerdasan, kekuatan fisik, ketangguhan mental dan kemampuan beradaptasi di atas rata rata, serta berstatus lajang, dipilih untuk menjadi penghuni planet baru bernama subiru selama 5 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ponny Sagita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALIANSI
Malam terus bergulir, hingga beranjak pagi.
Geulis sudah ada di sisiku saat aku menyelesaikan meditasiku semalam suntuk. Aku mengelus kepalanya sambil memandangi kedalam hutan.
"Dia cuma sendirian ya. Tapi energinya lebih tinggi dari kamu." Ujarku pada geulis. Dia mendengus sebagai jawaban. Dia agak kesal dengan kenyataan itu.
Aku membuka layar hologram.
Membuka panel baru : aliansi.
3 pilihan :
Manusia
Hewan
Mutan
Aku pilih hewan.
- harimau, geulis.
Kekuatan : 80/500
Ketangkasan : 65/500
Kecerdasan : 50/500
Tingkatan hewan :
Tk. 1 : 0/500
Tk. 2 : 500/1.000
Tk. 3 : 1.000/3.000
Tk. 4 : 3.000/5.000
Tk. 5 : 5.000/10.000
Nampaknya aku harus mulai melatih fisik geulis.
.
(Celia, apa aku bisa menaikkan level peliharaanku?)
(Sudah tentu bisa naya. Dengan kamu rutin mentransfer energi ke peliharaanmu, maka mereka akan menyerapnya dan dapat menaikkan level. Tumbuhan dan mahluk hidup yang selama ini terpapar energimu saat kamu bermeditasi, tanpa kamu sadari mereka menyerapnya.)
(Kalau aku mau bikin mereka naik level cepat, harus berapa lama transfernya?)
(Tergantung ketahanan peliharaanmu. Ada baiknya untuk yang masih kecil, cukup dengan energi saat kamu bermeditasi. Untuk yang lebih besar, seperti geulis, kamu butuh sekurang kurangnya dua jam, disarankan lakukan bertahap dengan jumlah energi kecil agar tidak menyebabkan hewan kolaps karena tekanan energi berlebihan)
(Ok. Bakal aku coba nanti. Sekarang mau siap siap berantem lagi.)
Aku dan geulis turun dari tower, masuk ke rumah. Para bocil sudah ribut menunggu kami.
Aku menyediakan makan untuk mereka. Lalu beranjak ke kamar mandi. Setelahnya aku juga sarapan.
...----------------...
Aku memulai aktivitas harianku, berolah raga, berlatih tempur.
Aku menerapkan beberapa latihan untuk geulis. Terutama untuk ketangkasannya.
Dua jam kupakai sebaik mungkin.
Ku cek progres di layar, ada peningkatan pada geulis. Aku cukup puas.
Lalu aku berganti pakaian. Dan melangkah ke area lapang di samping wilayahku. Kujadikan sebagai arena pertarungan.
Para bocil dan geulis duduk diam di dalam batas wilayah. Aku bergerak ke tengah tanah lapang. Menunggu lawanku datang.
Seekor banteng muncul.
Yups! Beneran banteng.
Kayaknya kalo punya kain merah, aku bisa berubah jadi matador. Mengibas kain sambil berteriak "OLEEEE".
Agak rancu sih. Kemarenan dikasi lawan karnivora, kok sekarang dikasi lawan herbivora.
Tapi emang gak bisa disepelekan. Energinya aja lebih tinggi dari geulis.
"Tanduknya bagus om banteng, bisa nih jadi pajangan buat di pintu. Boleh kah?" Pancingku.
Aku sih yakin yakin aja dia bakal ngerti omonganku. Lah para bocil dan geulis aja faham.
Om banteng mendengus keras, mulai terpancing. Kaki depannya sudah mengais ngais tanah.
"Ck! Lama bener mau nyeruduk." Aku mengeluarkan katanaku. Posisi siap bertahan dangan bilah pedang di tanganku. Energi siap tempur memancar dari tubuhku.
Ready or not, here we go.
Banteng mulai berlari kencang ke arahku, mengarahkan tanduk besarnya yang bisa membuatku patah tulang dan ketusuk kalo kena.
Untung aja gak kena.
Karena saat dia sudah dekat, aku bergeser ke samping dengan cepat, dan menggoreskan pedangku di sepanjang tubuh nya.
Ternyata kulitnya tebel bener cuy! Kagak ngefek amat. Goresanku melukainya namun belum terlalu dalam.
Aku agak terpana. "Wah wah wah.. Tebel bener tuh kulitnya om. Enak kali ya jadi krupuk. Krupuk kulit banteng!"
Banteng kembali emosian dan berlari ke arahku, aku mengambil ancang ancang. Dengan gerakan berputar aku menghindari serudukkannya, dan menghunusnya, pedangku hampir terpental saking kerasnya itu kulit.
"Dih! Mulai serius nih. Ok! Lo jual gw beli!" Aku meningkatkan energiku, dan menyalurkan energi api ke bilah pedangku.
Panas api mulai merambat dari tanganku lalu sampai ke ujung pedang. Aku kembali mengambil ancang-ancang.
Menyeringai ke arah om banteng, " Kita coba cara ini ya om banteng, bakal tembus gak ke kulitmu."
Banteng kembali bersiap untuk menyeruduk, dengus nafasnya makin keras, dan berderap kencang ke arahku. Aku kembali fokus, menghindar dan memutar, lalu menebas tubuhnya kembali.
Crash! Kali ini kulitnya terbakar pada jejak pedangku. Bahkan mulai terlihat luka dalam pada robekannya. Selanjutnya aku tak menunggu dia menyerang duluan, aku sudah kasih kesempatan 3 kali.
Aku mulai bergerak sangat cepat mendekatinya, menebasnya beberapa kali, hingga banyak goresan dan luka terbakar di tubuhnya.
Om banteng melenguh kesakitan.
Aku berdiri 10 meter darinya.
"Aku kasi pilihan ya, mau nyerah ato mampus. Silahkan dipilih."
Banteng mendengus, menantangku.
"Oh, jadi dilanjutin aja nih. Boleh boleh." Kunyalakan lagi api di pedang ku. Dan berlari cepat ke arahnya, banteng tak mau kalah, mulai bergerak meski lebih lambat dari sebelumnya.
Crash! Crash! Crash! Tiga kali sabetanku menambah garis garis luka bakar ditubuhnya. Luka yang semakin terbuka dan mulai berdarah.
Om banteng mulai doyong, hampir jatuh. Tapi masih ngotot bertahan.
Aku geleng-geleng kepala. "Om om.. Masih ngotot aja. Kutanya terakhir kali nih ya. Nyerah atau mampus?"
Banteng keras kepala itu tetap menantangku.
"Semangatnya boleh juga sih om. Tapi tubuhmu udah minta diistirahatkan. Yo wis. Kubikin aja kamu istirahat selamanya. Maaf nih, kan kamu yang minta." Aku lalu memberi penghormatan terakhir padanya dan mengambil ancang ancang. Menyalakan api besar pada pedang.
Dengan teriakan penuh tenaga aku berlari kencang ke arahnya, melompat dan menusuk diatas lehernya. Pedangku tertancap dalam di sana hingga tembus ke bawah. Masih mengeluarkan kobaran api, yang menghanguskan si banteng dari dalam.
Aku mendarat di samping om banteng yang sudah rubuh terduduk, lalu mencabut pedangku. Aku menepuk-nepuk nya, "Maaf ya om banteng. Ini pilihanmu."
Om banteng mengeluarkan lenguhan pelan, mengucapkan pengakuannya atas kemenangan ku dan terima kasih.
Kami saling bertatapan, ada air mata di pelupuk matanya sebelum akhirnya dia menutup mata dan tergeletak di atas tanah.
Aku berdiri diam sambil memandanginya, hingga asap menyelubungi tubuhnya dan dia pun menghilang.
Aku mendongak dan menatap langit di atasku. Menarik nafas panjang.
"HAH!!" Teriakku lantang.
Menutup mataku, dan air mata mengalir di pipiku. Entah kenapa aku sedih membuatnya mati ditanganku.
Tapi seakan aku mengerti, om banteng mempertahankan martabatnya sampai ajal menjemput.
...----------------...
Di bumi.
"Ih.. Mba.. Kan jadi ikutan sedih." Amelia berujar lirih, melihat naya menangisi sang banteng.
Yangti dan yangkung pun menangis, mereka tahu betapa naya pasti berat harus mengakhiri hidup lawannya. Lawan yang sebenarnya bisa jadi kawan. Seperti harimau yang sekarang dia pelihara.
"Mba naya tuh penyayang binatang, pasti berat harus bunuh banteng nya, tadi aja dia nanya ampe dua kali. Tapi banteng nya tetep ngelawan." Ujar amelia. Mengusap matanya yang berkaca kaca.
.
Sementara di basis kota jaya.
Kolonel hamdi terdiam. Masih menatap naya yang mulai bergerak ke arah para peliharaannya, terduduk disamping harimaunya dan bersender. Para bocil ayam dan bocil harimau mengelilinginya.
"Saya terkesima dengan kemampuan nya menggunakan energi hingga bisa menyalakan api di pedangnya, tapi saya juga takjub dengan kesedihannya setelah mengalahkan lawannya."
Satu petugas mengangguk, "Berbeda dengan saat dia menghabisi dua macan kumbang, dia tampak tak ragu sama sekali. Berbeda dengan saat kemarin melawan harimau dan hari ini melawan banteng. Mungkin dia merasakan aura yang berbeda dari setiap hewan itu. Dia tau mana yang harus langsung dibunuh dan mana yang sebisa mungkin dipertahankan." Ujarnya.
Kolonel hamdi mengangguk angguk. "Bisa jadi. Seperti harimau yang akhirnya dia pelihara, ternyata memiliki dua anak yang harus dilindungi. Mungkin banteng pun tak memancar kan aura membunuh, hanya mempertahankan teritory."
...----------------...