Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Adrian menutup ponselnya rapat-rapat. Raut wajahnya mendadak membeku, menyembunyikan badai besar yang siap meledak.

Dengan penuh ketenangan yang dipaksakan, ia membawa nampan sarapan itu dan meletakkannya di atas meja di hadapan Sasi.

"Sayang, aku keluar dulu. Dan jangan ke mana-mana," ucap Adrian lembut namun sarat akan ketegasan, memegang kedua bahu Sasi dan menatap dalam-dalam manik mata istrinya.

Sasi menganggukkan kepalanya patuh, merasakan ada aura ketegangan luar biasa dari suaminya.

"Iya, Mas. Hati-hati."

Adrian mengecup dahi Sasi cukup lama sebelum berbalik melangkah lebar keluar dari apartemen rahasia, memacu mobilnya membelah jalanan kota menuju jebakan akhir.

Sementara itu, Fitria dan Hendrik sudah berada di dalam ruangan VIP kantor notaris terkemuka.

Di meja kayu jati yang megah itu, map cokelat tebal telah terbuka lebar.

Seorang notaris dan perwakilan pejabat bank duduk di hadapan mereka, memeriksa lembar demi lembar berkas pindah tangan aset, sertifikat rumah, dan surat kuasa finansial perusahaan.

Mereka tersenyum tipis. Sorot mata Fitria dan Hendrik memancarkan keserakahan yang membuncah.

Di pikiran mereka, beberapa detik lagi, seluruh kekayaan Adrian akan sepenuhnya berada di dalam genggaman.

"Semua dokumennya lengkap dan tanda tangan Pak Adrian sudah terverifikasi di atas meterai," ujar pejabat bank seraya mengarahkan stempel resmi ke atas kertas tersebut.

Hendrik meremas jemari Fitria di bawah meja, saling melempar tatapan kemenangan yang begitu culas. Namun, sebelum stempel itu benar-benar mendarat di atas kertas—

BRAK!

Pintu kaca ruangan VIP itu didobrak paksa dari luar.

Suara benturan keras menggelegar, menghentikan seluruh pergerakan di dalam ruangan.

Dikejutkan oleh suara itu, Fitria dan Hendrik spontan menoleh ke arah pintu.

Derap langkah kaki yang berat dan tegas menggema masuk.

Di depan rombongan polisi berpakaian dinas lengkap dan pengacara Pak Baskoro, berdirilah sosok Adrian.

Pria itu berdiri tegap, mengenakan jas hitam legam dengan tatapan mata yang begitu dingin, tajam, dan mematikan.

Seketika, darah di tubuh Fitria dan Hendrik seolah berhenti mengalir. Wajah mereka mendadak pucat pasi tanpa warna, bibir mereka berguncang hebat, membuat Fitria dan Hendrik seperti mayat hidup.

"M-mas Adrian?!" jerit Fitria menahan napas, matanya membelalak hampir keluar.

"K-kamu? Bukannya kamu di Kanada?!"

"Kanada?" Adrian melangkah maju perlahan, suara langkah sepatunya berdenyut bagai ketukan lonceng kematian.

Senyum dingin tercetak di bibirnya. "Bagaimana bisa aku ke Kanada, sementara aku harus menyaksikan istriku sendiri dan selingkuhannya memalsukan tanda tanganku di depan CCTV rumahku sendiri?"

Hendrik bangkit berdiri dengan tubuh gemetar hebat, berniat meraih berkas di atas meja untuk menghancurkan barang bukti.

"I-ini salah paham! Adrian, ini tidak seperti yang kamu bayangkan!"

"Jangan bergerak!" gertak perwira polisi di belakang Adrian seraya mencabut senjata api dan mengarahkannya tepat ke dada Hendrik.

"Kalian berdua berada di bawah penangkapan atas dugaan tindak pidana pemalsuan dokumen, penipuan berskala besar, dan konspirasi kejahatan!"

Pak Baskoro maju melangkah, meletakkan rekaman video beresolusi tinggi di atas meja notaris.

"Dokumen yang baru saja kalian serahkan resmi menjadi barang bukti utama kejahatan sempurna kalian. Tidak ada celah jaminan, tidak ada praperadilan."

Fitria terduduk lemas di kursi, napasnya tersengal-sengal saat borgol besi yang dingin menyambar dan mengunci kedua pergelangan tangannya dengan bunyi KLIK yang nyaring.

Ia menatap Adrian dengan histeris dan mata berkaca-kaca, meminta belas kasihan.

"Mas Adrian, ampuni aku! Ini semua ide Hendrik! Dia yang memaksaku, Mas!" jerit Fitria ratap menangis, mencoba menggapai kaki Adrian.

Hendrik yang mendengar hal itu langsung membelalak murka.

"Apa?! Kau wanita iblis! Kau yang memintaku menyingkirkan Sasi dan mengambil semua harta Adrian!"

Adrian hanya menatap pertikaian saling tuduh kedua orang itu dengan tatapan jijik dan dingin tanpa ampun.

Ia merapikan kerah jasnya, melangkah mendekati Fitria, lalu berbisik pelan tepat di telinganya.

"Nikmati sisa hidupmu di balik jeruji besi, Fitria. Tempat itu jauh lebih pantas untuk iblis sepertimu."

"Mas, ampuni aku. Aku sudah kehilangan rahimku, Mas! Aku tidak bisa memberimu keturunan lagi!" jerit Fitria histeris sambil terisak di lantai, memotong ucapan polisi yang hendak menyeretnya.

Ia mencoba menjual rasa iba, berharap kebohongan lamanya masih bisa meluluhkan hati Adrian.

Adrian terdiam seketika. Suasana ruangan VIP menjadi hening dan mencekam.

Fitria tersenyum tipis di balik air mata palsunya, mengira drama kehilangannya berhasil menggoyahkan keyakinan pria di hadapannya.

"Rahim?" ulang Adrian pelan, suaranya terdengar begitu berat dan dalam.

Adrian melangkah maju satu tapak, merendahkan tubuhnya, lalu secara perlahan menyentuh perut Fitria yang dilapisi gaun mewahnya.

Sentuhan jemari Adrian yang dingin menyapu permukaan perut itu tanpa ada kehangatan sedikit pun.

"Bukankah sekarang kamu sedang hamil anak selingkuhanmu?" bisik Adrian tepat di hadapan wajah Fitria.

Sensasi dingin dari kata-kata itu seketika meremukkan seluruh pertahanan Fitria. Wajahnya yang sudah pucat kian memutih bagai kain kafan.

"M-mas, kamu sudah tahu?" gagap Fitria dengan suara gemetar hebat, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.

Adrian menganggukkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum penuh kejelakan.

"Aku tahu semuanya, Fitria. Tentang hasil tes kehamilanmu, tentang rencana penukaran bayimu dengan anak Sasi, hingga niat keji Hendrik yang ingin menyingkirkanmu setelah harta ini terkumpul."

Hendrik di sudut ruangan hanya bisa melotot tak percaya, sementara Fitria membeku bagai patung.

Adrian berdiri tegap kembali, membersihkan telapak tangannya dengan sapu tangan seolah baru saja menyentuh sesuatu yang sangat kotor.

Ia menatap Fitria lurus-lurus dengan tatapan penuh kehampaan dan keharusan yang mutlak.

"Dan sekarang, detik ini juga, aku jatuhkan talak tiga padamu, Fitria," tegas Adrian melontarkan kalimat keramat itu dengan satu hembusan napas yang dingin.

"Hubungan kita berakhir secara hukum agama dan negara. Kamu bukan lagi istriku."

"TIDAK! MAS ADRIAN, TIDAK!" jerit Fitria histeris saat petugas kepolisian langsung menarik tubuhnya berdiri.

Borgol besi mencengkeram erat tangan Fitria dan Hendrik.

Keduanya diseret keluar dari kantor notaris di tengah tatapan hina para saksi dan pejalan kaki.

Tangisan dan makian saling tuduh di antara kedua villain itu menggema di lorong, menandai kejatuhan total dari seluruh konspirasi jahat mereka.

Setelah kedua iblis itu diseret masuk ke dalam mobil tahanan kepolisian dengan raungan sirene yang membelah jalanan, suasana di depan kantor notaris mendadak hening.

Pak Baskoro melangkah mendekati Adrian seraya menyerahkan map dokumen resmi penahanan dan penyitaan barang bukti.

"Semuanya sudah berjalan sesuai rencana, Pak Adrian," tegas Pak Baskoro.

"Pihak bank dan notaris sudah membatalkan seluruh transaksi, dan polisi akan langsung memproses pasal berlapis untuk pemalsuan, penipuan, serta konspirasi tindak pidana. Mereka tidak akan bisa keluar dengan jaminan."

Adrian mengangguk pelan, menyapu pandangannya ke arah jalanan tempat mobil tahanan itu menghilang.

Rasa sesak dan amarah yang bertahun-tahun mengendap di dadanya perlahan terangkat, berganti dengan helaan napas lega yang begitu dalam.

"Terima kasih banyak, Pak Baskoro. Tolong pastikan proses hukumnya berjalan sampai tuntas tanpa ada celah sedikit pun," balas Adrian mantap, lalu menjabat erat tangan pengacaranya.

Tanpa membuang waktu lagi, Adrian berbalik dan melangkah cepat menuju mobilnya.

Pikiran dan hatinya kini sepenuhnya tertuju pada satu orang: Sasi.

Di apartemen rahasia, Sasi duduk gelisah di tepi ranjang.

Jemarinya saling meremas kuat, menatap pintu kamar dengan dada yang bertali-tali digelayuti rasa cemas.

Meskipun Adrian telah meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja, bayang-bayang ketakutan akan ancaman Fitria dan Hendrik masih membayangi pikirannya.

Ceklek!

Suara kunci pintu depan berputar. Langkah kaki lebar dan terburu-buru terdengar mendekat ke arah kamar.

Sasi seketika berdiri dari ranjang. Begitu pintu kamar terbuka, berdiri sosok Adrian di ambang pintu.

Wajah pria itu tampak sedikit lelah, namun matanya memancarkan kehangatan dan kebebasan yang luar biasa.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Adrian melangkah lebar dan langsung menarik Sasi ke dalam pelukannya.

Ia merengkuh tubuh istrinya sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sasi seraya menghirup aroma menenangkan dari wanita itu.

"Mas," bisik Sasi kaget, namun perlahan tangannya terangkat melingkari pinggang kokoh Adrian.

"Bagaimana, Mas? Semuanya baik-baik saja?"

Adrian melonggarkan pelukannya sedikit, menangkup kedua pipi Sasi dengan telapak tangannya yang hangat.

Ia menatap manik mata Sasi penuh haru dan kebahagiaan yang membuncah.

"Semuanya sudah selesai, sayang," tutur Adrian dengan suara parau yang bergetar menahan keharuan.

"Iblis-iblis itu sudah ditangkap polisi. Mas sudah menjatuhkan talak tiga pada Fitria. Mereka tidak akan pernah bisa menyentuh atau melukaimu lagi.Selamanya."

Air mata lega seketika menetes membasahi pipi Sasi.

Beban berat dan rasa takut yang selama ini menghimpit dadanya mendadak sirna tanpa sisa.

Sasi tersenyum lebar di tengah isak tangis bahagianya, lalu menyusupkan wajahnya kembali ke dada bidang Adrian.

"Terima kasih, Mas. Terima kasih." isak Sasi tulus.

Adrian menyunggingkan senyum hangat paling tulus dalam hidupnya.

Ia mencium puncak kepala Sasi berkali-kali dengan penuh kasih sayang, merengkuh masa depan baru mereka yang kini bersih dari segala pengkhianatan dan kebohongan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!