Punya nama Samson Perkasa Putra dan postur gagah setinggi 178 cm ternyata jadi beban berat buat Samson. Dituntut Papi jadi cowok macho penerus bengkel, Samson malah lebih paham urusan skincare dan bakat histeris tiap liat kecoa. Kehidupan Samson makin riweh saat dia harus bertahan di antara harapan keluarga yang manly abis, godaan gosip tetangga, hingga urusan asmara yang serba salah. Bisakah Samson membuktikan kalau pria "otot kawat, tulang lunak" juga punya caranya sendiri buat jadi pahlawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PenaGabut_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laboratorium Rahasia di Bawah Pohon Sakura
"Suhu udara boleh berada di titik beku, tetapi semangat untuk menjaga keaslian racikan herbal tidak akan pernah bisa dibekukan oleh siapa pun."
"Samson! Jangan terlalu lama membuka tabung reaktor pendingin itu! Udara dingin Tokyo bisa mengubah tingkat kelembapan ekstrak Bunga Wijayakusuma!" panggil Papi Joko seraya memeriksa indikator suhu digital di meja laboratorium.
Dua hari menjelang pembukaan World Beauty & Aesthetic Expo, tim Perkasa Putra tidak membuang waktu sedikit pun. Berkat bantuan Ryuji dan geng motor Bosozoku, Perkasa Putra berhasil menyewa sebuah ruang laboratorium bawah tanah yang sangat steril di kawasan tradisional Asakusa, tepat di bawah rimbun pohon sakura yang sedang meranggas di musim gugur.
Di dalam ruangan ber-AC, Samson berdiri tegap mengenakan jubah laboratorium putih yang dipadukan dengan bando pita merah muda kesayangannya. Jemari lentiknya begitu lihai memutar katup mikron pada alat penyulingan minyak esensial.
"Tenang, Papi sayang..." sahut Samson lembut seraya menatap cairan ungu keemasan yang menetes perlahan ke dalam labu ukur steril. "Samson sudah menyesuaikan viskositas Serum Royal Wijayakusuma ini dengan kelembapan udara Tokyo. Racikan kita kali ini bakal meresap dua kali lebih cepat di kulit orang-orang yang tinggal di negara empat musim!"
Di sudut ruangan, Kenanga sibuk memeriksa monitor CCTV yang terhubung ke area jalanan di atas laboratorium. Sementara itu, Bang Jarot—yang duduk di atas kursi lipat seraya mengenakan sarung tangan latex—dengan sangat tekun menempelkan segel hologram khusus berlambang Bengkel & Auto-Beauty Lounge Perkasa Putra pada setiap botol kemasan.
"Gue kagak pernah membayangkan, Sam," gumam Bang Jarot seraya mengamati stiker hologram yang berkilau di bawah lampu laboratorium. "Dulu tangan gue cuma tahu caranya memegang rantai besi sama membongkar blok mesin motor tua di Pasar Subuh. Sekarang malah sibuk menjaga kesterilan botol kosmetik kelas dunia di Tokyo."
Kenanga terkekeh pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor. "Itu namanya peningkatan taraf hidup, Bang Jarot. Yang penting, tugas utama Abang malam ini adalah memastikan tidak ada penyusup suruhan Kenjiro yang mencoba masuk ke area Asakusa."
"Tenang aja, Mbak Ken!" sahut Bang Jarot tegap seraya menepuk dada bidangnya. "Di luar sana, Ryuji sama anak-anak Bosozoku udah patroli keliling pakai lima motor gede. Kalau ada anak buah Pak Tua Kribo yang berani mendekat, mereka langsung dihadang pakai jurus usap toner!"
Papi Joko tertawa kecil mendengar perkataan Bang Jarot. Namun, raut wajah pria berkumis tebal itu kembali berubah serius saat menatap tabung utama racikan yang berada di tengah ruangan. "Joko 'The Glowing' Perkasa..." bisik Papi Joko pada dirinya sendiri seraya mengelus permukaan tabung kaca tersebut. "Dulu di kota ini Papi dihina oleh Kenjiro karena racikan herbal Papi dianggap tidak memiliki masa depan. Malam ini, Papi dan Samson akan membuktikan bahwa alam Indonesia punya keajaiban yang tidak bisa ditandingi oleh laboratorium kimia mana pun."
Samson melangkah mendekati Papi Joko, lalu merangkul bahu tegap sang Papi dengan kehangatan yang tulus. "Aduh Papi sayang... jangan melamun sedih gitu dong," ucap Samson manis seraya membetulkan kerah baju Papi Joko. "Papi harus ingat, racikan kita ini lahir dari perjuangan keringat bengkel, cinta Mami, keberanian Mbak Kenanga, ketegasan Bang Jarot, dan tentu saja... sentuhan glowing dari Samson! Pak Kenjiro itu kagak bakal punya rahasia sebagus ini!"
Papi Joko menatap putra tunggalnya dengan mata berkaca-kaca, lalu mengangguk mantap. Rasa cemas dan trauma masa lalu yang sempat membayanginya seketika sirna digantikan oleh kebanggaan yang luar biasa.
Namun, tepat saat Samson hendak menguji stabilitas formula pada sampel kulit tiruan, lampu indikator tekanan pada mesin penyulingan utama mendadak berbunyi nyaring.
BEEP! BEEP! BEEP!
"Papi! Tekanan gas pendinginnya melonjak drastis!" jerit Samson panik seraya memegang katup darurat. "Ada yang mematikan aliran listrik cadangan dari saluran luar!"
Di layar monitor CCTV, Kenanga melihat tiga bayangan hitam bergerak cepat di gang atas laboratorium seraya memotong kabel sistem pendingin utama. "Anak buah Kenjiro mulai bergerak!" seru Kenanga tegas seraya mencabut tongkat lipat besi dari pinggangnya. "Bang Jarot! Ikut gue ke atas! Sam, jaga racikan utama!"
"Siap, Mbak Ken!"
Di bawah remang cahaya lampu darurat dan ancaman kerusakan formula akibat lonjakan suhu, pertarungan untuk mempertahankan warisan Perkasa Putra di tanah Sakura kembali diuji!
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kenanga dan Bang Jarot menerobos keluar melalui pintu rahasia laboratorium bawah tanah. Langkah kaki mereka melangkah cepat menaiki anak tangga menuju lorong sempit di samping bangunan kayu tradisional Asakusa.
Di luar, angin malam yang berembus kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon sakura yang meranggas. Di bawah remang cahaya lampu jalan yang redup, tiga pria berpakaian serba hitam dengan topeng kain rapat tampak sibuk mengorek kotak panel listrik utama menggunakan alat pemotong besi.
"Hei! Tangan kusam! Jauhkan alat penyabotase lu dari panel listrik tempat usaha Perkasa Putra!" raung Bang Jarot seraya melompat dari tangga teratas.
Suara raungan Bang Jarot mengejutkan ketiga penyusup tersebut. Penyusup pertama yang memegang pemotong kabel langsung membalikkan badan dan mengayunkan tongkat besi ke arah kepala Bang Jarot. Namun, dengan refleks yang sudah terlatih di jalanan Pasar Subuh, Bang Jarot miring sedikit, mengelak dengan mulus, lalu mendaratkan pukulan kombinasi ke arah perut musuh.
BUK! BUK!
Penyusup itu terhuyung mundur tiga langkah seraya memegangi perutnya yang kesakitan. Sementara itu, dua penyusup lainnya mencoba mengepung Kenanga. Salah satu dari mereka mencabut pisau lipat berbilah tajam yang berkilat di bawah cahaya bulan.
"Pisau? Di hadapan seni bela diri tradisional Indonesia?" cemooh Kenanga dingin seraya memasang kuda-kuda pencak silat tingkat tingginya.
Penyusup berpisau itu menerjang maju, mengayunkan sasarannya ke arah dada Kenanga. Dengan gerakan secepat kilat, Kenanga memutar tubuhnya ke samping, menangkis pergelangan tangan musuh menggunakan teknik kuncian tangan, lalu memuntir lengan pria itu ke belakang hingga pisaunya terlepas dan jatuh ke atas tanah.
CTAK!
Tanpa memberi kesempatan bernapas, Kenanga meluncurkan tendangan tumit memutar yang mendarat telak di dada penyusup kedua.
BUM!
Pria itu terpental menabrak pagar kayu hingga pingsan seketika. Di saat yang bersamaan, dari ujung gang Asakusa, suara derum mesin lima motor gede meraung-raung mendekat. Ryuji bersama empat anggota geng motor Bosozoku tiba di lokasi dengan lampu sorot motor yang menyilaukan mata. "Aniki! Daijoubu ka?! (Kakak! Apakah kamu baik-baik saja?!)" teriak Ryuji seraya menghentikan motornya dan melompat turun bersama anak buahnya.
Melihat kedatangan rombongan geng motor lokal yang garang dengan balutan jaket kulit dan tongkat kayu, dua penyusup yang tersisa mendadak panik luar biasa. Mereka menyadari bahwa misi sabotase malam itu telah gagal total. Tanpa memikirkan rekannya yang pingsan, mereka melompat pagar bambu dan melarikan diri menembus kegelapan lorong kota Tokyo.
"Jangan mengejar mereka!" cegah Kenanga seraya menahan lengan Ryuji yang hendak mengejar. "Fokus utama kita adalah mengamankan laboratorium dan memulihkan arus listrik!"
Bang Jarot dengan cepat memeriksa panel listrik yang sempat rusak. "Mbak Ken! Kabel utamanya putus! Tapi gue bisa menyambungkan kembali kawat tembaganya pakai teknik darurat!"
Sementara itu di dalam laboratorium bawah tanah, suasana semakin kritis. Indikator suhu pada tabung reaktor racikan utama terus merambat naik dari tiga derajat Celsius menuju delapan derajat Celsius. Asap tipis mulai keluar dari katup pengaman tekanan.
"Papi! Kalau suhunya tembus sepuluh derajat, molekul ekstrak Bunga Wijayakusuma bakal teroksidasi dan berubah warna jadi keruh!" jerit Samson panik seraya menahan tuas katup manual dengan kedua tangan kekarnya.
Papi Joko sibuk memutar katup pendingin sekunder, namun tanpa daya listrik utama, pompa es otomatis tidak bisa berputar. "Gunakan teknik pendinginan es manual, Sam!" perintah Papi Joko tegas. "Ambil seluruh cadangan es di lemari penyimpanan bawah!"
Dengan ketangkasan luar biasa, Samson yang mengenakan jubah laboratorium putih mengambil dua blok es kering besar menggunakan sarung tangan isolasi. Tubuh tegap setinggi 178 sentimeter itu bergerak sangat cepat namun tetap anggun. Ia menempelkan blok es tersebut langsung ke dinding luar tabung reaktor kaca, menjaga agar suhu cairan ungu keemasan di dalamnya tetap berada di titik aman.
"Tahan, Samson... Tahan..." gumam Samson pada dirinya sendiri seraya memejamkan mata dan mengencangkan otot-otot lengannya. "Demi kehormatan Mami, Papi, dan seluruh warga Pasar Subuh... racikan ini kagak boleh rusak!"
SZZZZT!
Lampu indikator laboratorium yang tadinya padam mendadak berkedip-kedip sebelum akhirnya kembali menyala terang benderang. Suara berdengung dari mesin pendingin otomatis kembali terdengar berputar halus. Aliran listrik telah berhasil dipulihkan oleh Bang Jarot dari luar!
Layar pemantau suhu digital yang tadinya menunjukkan angka sembilan koma delapan derajat Celsius perlahan-lahan merangkak turun kembali ke angka tiga derajat Celsius yang ideal.
Papi Joko terduduk lemas di atas kursi laboratorium seraya menghela napas lega yang sangat panjang. Ia mengusap air mata harunya seraya menatap tabung reaktor utama yang kini memancarkan kilau murni tanpa ada cacat sedikit pun.
"Selamat... Formula kita selamat, Sam..." bisik Papi Joko bergetar.
Samson melepas sarung tangan isolasinya, merapikan tatanan rambut poninya yang agak berantakan, lalu menyunggingkan senyum manisnya.
Pintu laboratorium terbuka lebar. Kenanga, Bang Jarot, Ryuji, dan Mami yang baru turun dari lantai atas langsung masuk ke dalam ruangan dengan raut wajah cemas. "Gimana, Sam?! Pak Joko?! Serum kita aman?!" tanya Bang Jarot dengan napas memburu.
Samson membalikkan badan, membusungkan dada bidangnya dengan sangat percaya diri, lalu mengangkat satu botol sampel Serum Royal Wijayakusuma yang berkilau sempurna di bawah sinar lampu laboratorium. "Aduh Bang Jarot sayang... Samson gitu lho! Racikan utama Bengkel & Auto-Beauty Lounge Perkasa Putra kagak bakal hancur cuma gara-gara ulah kroco-kroco kusam itu!" seru Samson riang dengan nada meliuk mewahnya. "Formulanya sekarang makin stabil dan siap bikin seluruh juri internasional di panggung besok terpana!"
Mami langsung berlari memeluk Samson dan Papi Joko erat-erat, sementara Ryuji dan geng Bosozoku bertepuk tangan riuh seraya berseru "Sugoi! Sugoi!" dalam bahasa Jepang.
Kenanga menepuk bahu tegap Bang Jarot seraya tersenyum puas. "Kerja bagus, Bang. Lu ternyata kagak cuma jago memegang kunci pas, tapi juga jago jadi teknisi listrik darurat."
Bang Jarot menyeringai bangga seraya meraba kumis tebalnya. "Harus dong, Mbak Ken! Demi masa depan glowing Perkasa Putra di tanah Sakura, rantai besi dan keahlian montir gue bakal selalu siap pasang badan!"
Dengan lolosnya mereka dari ancaman sabotase malam itu, seluruh tim Perkasa Putra semakin menyatu dalam ikatan solidaritas yang tak tergoyahkan. Esok pagi, panggung megah World Beauty & Aesthetic Expo di Tokyo bakal menjadi saksi bisu pembuktian puncak antara kejujuran bahan herbal alami melawan kesombongan teknologi sintetis Kenjiro!