Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.
Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.
Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!
IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com
Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemilik Rahasia Takhta Anderson
Cangkir teh tarik dingin di genggaman Emily mendadak terasa teramat berat. Busa putih di permukaan minuman itu perlahan pecah, seirama dengan napas Sean yang tertahan kaku di seberang meja plastik merah kedai mamak SS15.
Di balik riuk-pikuk klakson sepeda motor yang melintas di jalanan Subang Jaya dan kepulan uap gurih roti canai, keheningan yang tegang membungkus mereka berdua.
"Sean... ada apa?" bisik Emily, matanya membelalak cemas menatap perubahan drastis pada raut wajah cowok di hadapannya.
Sean menurunkan ponselnya dengan tangan yang bergetar pelan. Ia menatap Emily lurus-lurus, menembus lensa kacamata tipis gadis itu. Di dalam iris mata Sean, tidak ada kemarahan atau cemburu, melainkan sebuah kejutan yang amat dahsyat berpadu dengan rasa haru yang membakar dada.
"Surat wasiat tahap akhir almarhumah Ibuku di Zurich baru saja disahkan oleh Pengadilan Tinggi Swiss malam ini," suara Sean terdengar serak, bergetar menahan gejolak emosi.
Emily mengerutkan dahinya bingung. "Wasiat Ibumu? Bukannya saham warisan itu atas nama kamu?"
Sean menggeleng pelan. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam erat jemari Emily, lalu mengelus punggung tangan gadis itu dengan kelembutan yang amat dalam.
"Dua puluh lima persen saham dasar yang kita rebut dari Ayahku kemarin memang hak milikku," jelas Sean dengan nada suara rendah. "Tapi lima puluh satu persen saham mayoritas penentu kontrol penuh atas Anderson Group... tidak pernah dihibahkan kepadaku, Mil."
Napas Emily seketika tercekat. "Maksud kamu...?"
"Almarhumah Ibuku mengatasnamakan seluruh saham mayoritas itu atas nama tunggal kamu, Emily Valencia," tegas Sean. "Ibumu yang dulu sering kamu tangisi karena merasa tak dianggap... ternyata dilindungi oleh Ibuku dari jauh. Kamu adalah pemilik sah dan mutlak dari seluruh raksasa bisnis Anderson Group."
Deg.
Jantung Emily seolah berhenti berdetak saat itu juga. Denting cangkir dan suara gelak tawa mahasiswa di meja sebelah mendadak sayup-sayup menghilang dari indra pendengarannya.
Ibunya Sean, seorang wanita berdarah bangsawan yang dulu hanya beberapa kali melihat Emily secara sembunyi-sembunyi saat Emily ketiduran di perpustakaan sekolah dua tahun lalu telah merancang perlindungan hukum tingkat tertinggi ini.
Wanita itu paham betul betapa kejam dan serakahnya suaminya sendiri, dan ia tahu bahwa hanya seorang gadis bertangan dingin, bertulus hati, serta berotak tajam seperti Emily yang sanggup menyelamatkan masa depan Sean.
Setitik air mata panas menetes menembus kacamata tipis Emily, jatuh menimpa permukaan meja plastik.
"Kenapa Ibumu melakukan ini, Sean...?" bisik Emily dengan suara pecah, tenggorokannya tersumbat rasa haru yang teramat sangat. "Aku... aku cuma anak tengah dari keluarga biasa yang bahkan diusir dari rumah..."
Sean berdiri dari kursinya, berpindah duduk ke samping Emily di atas kursi plastik. Tanpa memedulikan pandangan warga lokal dan mahasiswa yang sedang menikmati makan malam, Sean merengkuh tubuh kecil Emily ke dalam pelukan hangatnya, membiarkan gadis itu menangis sesenggukan di dada bidangnya.
"Karena Ibuku tahu kamu adalah satu-satunya orang di dunia ini yang mencintaiku tanpa peduli pada hartaku, Mil," bisik Sean lembut, mengecup puncak kepala Emily dengan kehangatan yang amat tulus. "Ibuku percaya sepenuhnya sama kamu. Dan aku... menyerahkan seluruh hidup dan masa depanku ke dalam tanganmu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, pukul 07.00 pagi.
Sinar matahari fajar membias hangat di sepanjang jembatan canopy walk yang menghubungkan kawasan pemukiman Subang Jaya dengan kampus Sunway University. Angin sejuk membelai dedaunan palem, membawa aroma khas kopi white coffee dari kedai-kedai lokal yang baru buka.
Di tengah kenyataan fantastis bahwa dirinya adalah pemilik sah konsorsium bisnis triliunan rupiah di Jakarta, Emily Valencia tetap melangkah menyusuri trotoar kampus dengan penampilan paling sederhananya.
Ia mengenakan kaus rajut polos warna krem, celana jins gelap yang nyaman, dan kets putih kesayangannya. Di bahunya, tas kain kusam berisi buku teks Macroeconomics dan laptop terenkripsi tersampir kaku. Rambut hitam lurusnya dibiarkan terurai alami, membingkai wajahnya yang bersih tanpa riasan tebal.
Bagi Emily, gelar pimpinan tertinggi Anderson Group hanyalah amanah hukum di atas kertas. Di dunia nyata, ia tetaplah seorang mahasiswi baru yang berjuang mempertahankan nilai akademisnya secara murni.
"Emily! Tungguin aku!"
Suara nyaring Mei Ling bergema dari arah tangga LRT. Sahabatnya itu berlari kecil dengan napas memburu, memegang dua kantong plastik berisi nasi lemak ayam goreng dan dua gelas kopi ais.
Emily menghentikan langkahnya, menyunggingkan senyum hangat. "Pagi, Mei. Kamu kok lari-lari?"
"Gara-gara ketiduran semalam gara-gara marathon drama!" ringis Mei Ling seraya menyerahkan satu kantong nasi lemak pada Emily. "Ini sarapan buat kamu. Kita makan di taman dekat kolam Sunway yuk sebelum kelas Pak Rahmat dimulai."
Mereka berdua duduk di bangku batu taman kampus yang rindang. Emily membuka bungkus daun pisang nasi lemak-nya dengan telaten, mencicipi sambal pedas manisnya dengan lahap menggunakan sendok plastik.
"Mil, kamu tahu nggak berita bisnis pagi ini?" ujar Mei Ling heboh di sela-saha mengunyah makanannya. "Gila banget tahu! Di koran The Star Malaysia hari ini, katanya dewan komisaris Anderson Group di Jakarta mendadak lumpuh total! Seluruh direksi panik karena pimpinan baru pemegang saham mayoritas mereka ternyata ada di luar negeri dan belum mau menampakkan diri!"
Emily yang sedang menyesap kopi ais-nya hampir saja tersedak pelan. Ia batuk kecil, dengan cepat membetulkan posisi kacamata tipisnya untuk menutupi rasa canggungnya.
"Oh ya? Masa sih, Mei?" sahut Emily polos, berpura-pura tidak tahu.
"Iya! Serius!" seru Mei Ling antusias. "Katanya pemegang saham barunya itu sosok misterius banget. Semua media di Jakarta lagi nyari tahu siapa orangnya. Pasti dia konglomerat tua yang galak dan dingin banget ya?"
Emily menyunggingkan senyum tipis yang amat misterius. Kalau kamu tahu pimpinan misterius itu lagi duduk di sampingmu sambil makan nasi lemak empat ringgit pakai sendok plastik... kamu pasti pingsan, Mei, batin Emily tertawa dalam hati.
Kehidupan maba yang realistis dan membumi ini adalah cara Emily menjaga kewarasan jiwanya. Di dalam kelas ber-AC dingin, Emily tetaplah mahasiswi yang mencatat penjelasan dosen dengan rajin, mengacungkan tangan saat sesi diskusi ekonometrika, dan membantu Mei Ling menghitung rumus persentase inflasi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 15.00 sore. Jam kuliah berakhir.
Hujan gerimis tipis menyapu pelataran depan Gedung Utama Sunway University. Puluhan mahasiswa berkerumun di bawah naungan kanopi kaca, menantikan bus kampus atau jemputan ojek online.
Emily berjalan keluar dari lobi utama bersama Mei Ling, merapikan kardigan abu-abunya.
Namun, suasana santai di depan kampus mendadak berubah tegang. Bisik-bisik heboh dan decak kagum mahasiswa langsung menyebar luas.
Sebuah iring-iringan lima unit mobil sedan Rolls-Royce berwarna hitam legam dengan pelat nomor diplomatik khusus mendadak berhenti tepat di depan tangga utama gedung kampus. Puluhan pengawal bertubuh tegap berjas hitam turun dengan cepat, membentangkan payung-payung besar dan memagari area tangga.
Brandon dan geng mahasiswa kayanya yang sedang berdiri di dekat tangga langsung melotot kagum, berbisik-bisik ketakutan melihat pengawalan tingkat tinggi yang belum pernah ada di kampus Sunway tersebut.
Pintu penumpang mobil Rolls-Royce paling tengah terbuka.
Seorang pria paruh baya berkemeja batik sutra mahal dengan wajah yang tampak sangat lelah, kusam, dan penuh guratan penyesalan melangkah turun. Wajahnya yang biasa terlihat angkuh di televisi kini tampak hancur dan putus asa.
Tuan Besar Anderson. Ayah kandung Sean.
Ia melangkah menaiki anak tangga kampus, mengabaikan tatapan heran dari ratusan mahasiswa asing di sekitarnya.
Mei Ling menahan napas, memegang erat lengan Emily. "Mil... itu kan Ayahnya Sean? Pria kaya dari Jakarta yang kemarin di televisi?"
Emily tetap berdiri tenang di atas tangga. Lensa kacamata tipisnya membiaskan pendaran cahaya lampu lobi. Tidak ada ketakutan, tidak ada kebencian, hanya ada ketenangan luar biasa yang memancar dari sosok mahasiswi baru itu.
Tuan Besar Anderson menghentikan langkahnya tepat tiga anak tangga di hadapan Emily. Pria yang dulu mengusir Emily dari rumah, menudingnya cewek pemeras, dan mencoba menghancurkan masa depannya itu... kini menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Emily Valencia.
"Emily..." suara Tuan Besar Anderson bergetar parau, kehilangan seluruh kesombongan kekuasaannya. "Papa... Papa minta maaf."
Ratusan mahasiswa di depan lobi Sunway seketika tertahan napas. Brandon di barisan belakang hampir melompat kaget melihat konglomerat raksasa dari Indonesia itu membungkuk memohon pada gadis kacamata berseragam sederhana di hadapan mereka.
"Perusahaan di Jakarta runtuh, Emily," bisik Tuan Besar Anderson dengan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya yang keriput. "Keluarga Wijaya menyeret nama kita ke jalur hukum, bank-bank menarik likuiditasnya. Hanya kamu... hanya kamu satu-satunya pemilik sah saham mayoritas yang punya otoritas untuk menyelamatkan Anderson Group dari kebangkrutan total."
Pria tua itu menatap Emily dengan pandangan memohon yang amat sangat. "Tolong... tolong selamatkan perusahaan almarhumah ibunya Sean, Emily. Papa bersedia menyerahkan seluruh sisa jabatan Papa. Papa janji tidak akan pernah mengusik kehidupan kamu dan Sean lagi."
Emily menatap pria di hadapannya. Memori masa lalu yang menyakitkan sempat melintas di benaknya, namun Emily yang berdiri di Sunway hari ini telah melampaui dendam masa lalunya.
Emily membetulkan posisi kacamatanya, menyunggingkan senyum tipis yang amat anggun dan berkuasa.
"Saya akan menyelamatkan perusahaan itu, Tuan Anderson," suara Emily mengalun tenang, jernih, dan bertenaga. "Tapi bukan untuk Anda. Saya melakukannya demi memegang amanah dari almarhumah Ibu Sean."
Emily melangkah satu titik lebih dekat.
"Seluruh operasional Anderson Group di Jakarta mulai hari ini akan dikelola penuh oleh Sean secara independen dari Kuala Lumpur," tegas Emily, setiap kata yang keluar dari bibirnya memutus penuh tirani masa lalu keluarga tersebut. "Anda bisa pensiun dengan tenang dan tidak perlu menampakkan diri lagi di depan kami."
Tuan Besar Anderson menyapu air matanya, mengangguk berkali-kali dalam rasa lega dan malu yang tak terhingga. Ia membungkuk sekali lagi sebelum berbalik dan kembali masuk ke dalam mobil mewahnya, meninggalkan kampus Sunway dalam kekalahan yang mutlak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore harinya, pukul 17.30. Kedai Mamak SS15, Subang Jaya.
Aroma gurih Maggi Goreng telur mata yang baru diangkat dari wajan panas dan aroma harum Teh Tarik Ais memenuhi udara malam yang sejuk di kawasan Subang Jaya.
Di meja plastik berwarna merah langganan mereka, Emily dan Sean duduk berhadapan.
Sean mengenakan kaus oblong hitam polos dan celana jins santainya. Ia memegang pena sederhana, menandatangani dokumen pengalihan kewenangan operasional Anderson Group yang baru saja disodorkan oleh tim hukum dari Zurich.
Setelah menaruh penanya, Sean menatap Emily yang sedang lahap menghabiskan mi gorengnya di seberang meja. Senyum paling tulus, paling bahagia, dan paling tampan mengukir bibir Sean.
"Jadi... sekarang aku bekerja di bawah perintahmu ya, Ibu Pimpinan?" goda Sean seraya terkekeh pelan, mengusap lembut sudut bibir Emily dengan tisu dapur.
Emily tertawa renyah, membetulkan kacamatanya yang sedikit melorot. "Tentu saja! Dan sebagai bos kamu, aku perintahkan kamu buat bayarin mi goreng ini."
Sean tertawa hangat, jemari tangannya terulur menyeberangi meja, menggenggam erat telapak tangan Emily yang halus di atas meja plastik merah.
"Siap, Princess," bisik Sean lembut, matanya memancarkan rasa cinta yang amat dalam. "Apapun peritahmu, aku bakal turuti seumur hidupku."
Di antara riuh rendah suara kendaraan yang melintas di SS15, derai tawa mahasiswa lokal, dan aroma kuah kari yang hangat, Emily Valencia dan Sean Anderson akhirnya menemukan takhta sejati dalam hidup mereka.
Bukan di dalam gedung pencakar langit yang megah atau di balik panggung kemewahan yang kaku, melainkan di dalam kedamaian sederhana masa muda mereka di Kuala Lumpur sebagai dua insan yang saling mencintai, saling melindungi, dan melangkah bersama menuju masa depan yang abadi.
Bersambung......