Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Naya berdiri di terminal keberangkatan Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan koper hitam berukuran sedang di sampingnya. Pakaian yang dikenakannya sederhana namun terlihat rapi, celana panjang hitam, dan sepatu flat yang nyaman untuk perjalanan jauh. 

Rambutnya diikat rendah, wajahnya terlihat tenang, meski di balik ketenangan itu ada getaran tipis yang hanya bisa dirasakan oleh dirinya sendiri. 

Hari ini, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia akan menaiki pesawat menuju negara lain tanpa menoleh ke belakang.

Di sampingnya berdiri Dara dan Adrian. Dara memegang tas kecil berisi beberapa camilan dan obat-obatan yang sempat ia siapkan semalam, sementara Adrian membawa map tipis berisi salinan dokumen penting yang mungkin dibutuhkan Naya dalam kasus perceraiannya dengan Aslan. 

Suasana di terminal ramai seperti biasanya, pengumuman penerbangan, bunyi koper yang digulingkan, dan percakapan penumpang yang bercampur menjadi satu. Tapi di antara ketiganya, ada semacam gelembung keheningan yang terasa berbeda.

Dara yang sejak tadi menahan diri akhirnya melangkah mendekat. Ia membuka kedua lengan dan menarik Naya ke dalam pelukan erat. “Kamu hati-hati ya,” bisiknya di telinga Naya, suara sedikit bergetar. “Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku. Nanti kalau ada waktu, aku pasti kesana main ke tempatmu. Jangan sendirian terus.”

Naya membalas pelukan itu dengan sama eratnya. Ia menutup mata sejenak, membiarkan kehangatan sahabatnya meresap. Ketika akhirnya mereka melepaskan pelukan, Naya tersenyum lembut. “Terima kasih sudah membantuku selama ini, Dar. Aku tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kamu.” Suaranya tulus, hampir serak. 

“Kamu yang nemenin aku ke pengacara, yang dengerin aku nangis di tengah malam, yang bilang aku pantas dapat yang lebih baik. Aku nggak akan lupa.” lanjutnya.

Dara mengusap sudut matanya yang mulai basah, lalu tertawa kecil untuk menyamarkan emosi. “Iya, iya. Jangan bikin aku makin sedih. Kamu fokus saja dengan kehidupan barumu. Jangan pernah balik kalau cuma karena kasihan atau rindu yang nggak jelas.”

Naya mengangguk. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Adrian yang berdiri sedikit di belakang dengan sikap profesional yang tetap hangat. “Saya harus pergi sekarang,” ucap Naya jelas. “Saya serahkan semuanya pada Anda. Urusan sidang, harta gono-gini, semuanya. Nanti kalau ada yang urgent, langsung hubungi saya saja. Nomor saya masih sama”

Adrian mengangguk mantap. Ia menepuk lengan Naya pelan, gerakan yang menenangkan. “Kamu tenang saja. Saya akan mengurus semuanya. Surat-surat sudah lengkap, bukti-bukti kuat. Kamu fokus saja di sana. Mulai hidup baru. Kalau ada perkembangan, saya kabari.”

Naya menarik napas dalam-dalam. Ia menatap kedua orang di hadapannya, satu sahabat yang sudah seperti saudara, satu pengacara yang menjadi benteng terakhir urusannya di Indonesia. 

“Sekali lagi, terima kasih,” katanya pelan.

Pengumuman boarding untuk penerbangannya mulai terdengar dari pengeras suara. Naya mengangguk pada keduanya, lalu menarik koper dan berjalan menuju pintu pemeriksaan. Langkahnya stabil, tidak ragu. Dara dan Adrian berdiri di tempat, memandang punggungnya sampai menghilang di balik pintu kaca.

Di ruang tunggu, Naya duduk di dekat jendela besar yang menampilkan deretan pesawat di apron. Ia mengeluarkan ponsel, menatap layar kosong sejenak, lalu memasukkannya kembali ke tas. Tidak ada pesan masuk dari Aslan. Tidak ada panggilan tak terjawab. Dan anehnya, ia merasa lega.

Pikirannya sempat melayang jauh ke belakang, tentang rumah tangganya dulu dengan Aslan. Semua itu kini terasa seperti bab yang sudah ditutup rapat.

Pesawat yang akan membawanya ke Australia sudah terlihat di kejauhan. Naya menatapnya lama. Di negara itu, tidak ada yang tahu siapa dirinya. Di sana, ia hanya Naya, mahasiswa baru, perempuan yang memulai semuanya dari awal.

Ketika pengumuman boarding dipanggil, Naya berdiri. Ia merapikan blazernya, menarik napas sekali lagi, lalu bergabung dengan antrean penumpang. Di dalam pesawat, ia mendapat tempat duduk di dekat jendela. Begitu duduk, ia menyandarkan kepala ke sandaran dan memejamkan mata sejenak.

Naya tidak akan kembali. Pesawat semakin cepat di landasan. Getaran mesin terasa di kursi. Naya membuka mata, menatap landasan yang berlalu cepat di bawah, lalu langit yang mulai terbuka di depan.

Ketika roda terangkat dari tanah, sesuatu di dadanya ikut terangkat. Bukan kebahagiaan yang meledak-ledak. Bukan juga kelegaan yang sempurna. Melainkan sesuatu yang lebih tenang dan lebih dalam,  rasa bahwa untuk pertama kalinya, ia sedang terbang menuju hidup yang benar-benar ia pilih sendiri.

Di ketinggian, kota Jakarta tampak kecil. Semua drama, semua luka, semua pengkhianatan, semuanya tertinggal di bawah sana. Naya menyandarkan kepala ke jendela, memandang awan putih yang perlahan memenuhi pandangan.

Ia tidak lagi menjadi istri yang menunggu.

Ia tidak lagi menjadi perempuan yang menangis di balik pintu. Hari ini, di atas awan, Naya resmi memulai hidup barunya, sebagai diri sendiri.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di ruang kerjanya yang biasanya rapi, kini tumpukan dokumen memenuhi hampir seluruh permukaan meja. Aslan duduk di kursi kebesarannya dengan jas yang sudah dilepas, lengan kemeja digulung asal, dan wajah yang tegang sejak pagi. Di hadapannya, pengacara kantor yang ia tunjuk khusus untuk kasus ini sedang membolak-balik berkas, sementara Faris berdiri di samping meja dengan tablet di tangan.

Mereka sudah menghabiskan hampir tiga jam mencoba mengumpulkan segala sesuatu yang bisa digunakan untuk melawan gugatan Naya. Rekening bank, sertifikat aset, bukti transfer, hingga rekaman CCTV rumah yang sempat tersimpan. Aslan ingin memastikan posisinya kuat. Ia tidak mau kalah. Apalagi di hadapan wanita yang selama ini ia anggap lemah dan bergantung padanya.

Faris yang sejak tadi memeriksa data keuangan akhirnya mengangkat wajah. Ekspresinya serius. “Tuan, nyonya Naya sudah memindahkan semua tabungan dari rekening bersama yang kalian miliki.”

Aslan yang sedang memegang pena langsung berhenti bergerak. Ia menatap Faris tajam. “Apa?”

“Semua saldo di rekening joint account sudah dipindahkan ke rekening pribadi atas nama beliau. Transaksinya dilakukan beberapa minggu lalu, tepat sebelum beliau meninggalkan rumah,” jelas Faris hati-hati. 

“Jumlahnya tidak sedikit, Tuan.” lanjutnya.

Aslan mengepalkan tangan di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya sedikit menonjol. Ia mencoba menahan amarah yang langsung naik ke kepala. “Apalagi?” tanyanya datar, suara rendah tapi penuh tekanan.

Faris menelan ludah, lalu menggeser layar tablet ke data berikutnya. “Sertifikat rumah yang Anda tempati sekarang bersama nyonya Liza… sudah digadaikan ke bank. Prosesnya selesai sekitar dua minggu sebelum nyonya Naya pergi. Atas nama beliau sebagai pemilik bersama, dan tanda tangan Anda juga ada di dokumennya.”

Keheningan memenuhi ruangan.

Aslan membeku di kursinya. Ia menatap Faris seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar. “Tanda tangan saya?” ulangnya pelan.

“Ya, Tuan. Menurut data, Anda menandatangani dokumen tersebut. Mungkin tanpa memeriksa isinya secara detail.”

Aslan teringat ketika Naya meminta tanda tangannya waktu itu. Ia menandatanganinya tanpa membaca, seperti biasa. Karena selama bertahun-tahun ia selalu mempercayakan urusan dokumen pada Naya. Karena ia menganggap istrinya tidak mungkin berbuat licik. Sekarang, kenyataan itu menamparnya jauh lebih keras daripada tamparan yang pernah ia berikan.

“Ternyata di balik wajah polosnya, dia licik juga,” geram Aslan, suaranya serak menahan marah. Ia berdiri dari kursi, berjalan mondar-mandir di ruangan dengan tangan di pinggang. 

“Dia sudah merencanakan ini dari jauh-jauh hari. Memindahkan uang, menggadaikan rumah, mengumpulkan bukti… semuanya diam-diam di belakangku.”

Pengacara yang duduk di seberang meja menghela napas. “Posisi kita memang agak sulit di bagian aset, Pak. Kalau sertifikat rumah sudah digadaikan dan dana sudah dipindahkan sebelum gugatan resmi, kita perlu langkah hukum tambahan untuk menuntut pengembalian. Tapi prosesnya tidak mudah, dan memakan waktu.”

Aslan berhenti di depan jendela. Ia menatap pemandangan kota di bawah tanpa benar-benar melihat. Di kepalanya, bayangan Naya yang dulu selalu patuh ternyata menyimpan banyak rencana.

Aslan merasa tertipu. Bukan hanya sebagai suami, tapi sebagai laki-laki yang selama ini merasa paling berkuasa di dalam hubungan itu.

“Cari celahnya,” perintah Aslan akhirnya, tanpa menoleh. “Saya tidak peduli harus bayar berapa. Saya tidak mau dia pergi dengan membawa apa pun dari saya. Rumah, dan uang itu… semuanya harus kembali.”

Faris dan pengacara saling melirik, lalu mengangguk. Mereka mulai mencatat langkah-langkah berikutnya.

Sementara Aslan masih berdiri di depan jendela, tinjunya terkepal di sisi tubuh. Rasa marah membara di dada, tapi di baliknya ada sesuatu yang lebih mengganggu,  rasa bahwa ia sudah terlalu meremehkan Naya dari awal.

Wanita yang dulu ia anggap tidak punya siapa-siapa dan tidak akan berani pergi…ternyata sudah menyiapkan jalan keluar jauh sebelum ia menyadarinya. Pantas saja dia berani menggugatnya.

1
aku
dengerin pak sam tuh bos 😁
𝐀⃝🥀Weny
jangan sampai kamu terlambat lagi Erland 😊
𝐀⃝🥀Weny
pas pacaran kan banyak janji² manis🤣🤣🤣
falea sezi
🤣🤣 nunggu penyesalan si bangke aslan
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 ingin hidup mewah , dengan merebut suami orang yang bisa kau bodohi tapi dia tetap perhitungan tentang uangnya.Benarkah anak yang kau kandung benih Aslan? Emak harap bukan.Agar jika terbongkar nanti Aslan makin menyesal.😃😃
Ariany Sudjana
hahaha pelacur murahan kamu itu Liza, kamu itu hanya bisa menghabiskan uang, tapi ga bisa menghasilkan uang 🤣🤣😂😂 dan otak kamu zonk, kelas kamu jauh dibawah Naya, yang cerdas dan mandiri 🤣🤣😂😂
jadi kenapa kamu harus marah?
cinta semu 2
🤣🤣🤣🤣 pelakor bergaya elit ...dinkasih ATM langsung tancap gas belanja barang branded... sementara suami siri ny belajar hidup irit...
cinta semu 2
pelakor kelas teri mah level ny terjun ke bawah ..jaman dah canggih masih pake gaya manual🤣🤣sekalian bawa keranjang sayuran biar Aslan yakin kalo mau pergi ke pasar 😁
𝐀⃝🥀Weny
sokoooor.... itulah wanita yang kamu pilih.. ternyata mata duitaaaan.. kuras habis saja Liza uangnya biar kapok tu orang🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
sok berkuasa 😪 padahal blm di akui secara hukum🤣🤣🤣
sunaryati jarum
🤣🤣🤣🤣 terus Liza kuras uang Aslan bersama ibumu, sebelum dibuang saat terbongkar anak dalam kandungan kamu bukan anak Aslan.
sunaryati jarum
Itu baru istri siri sudah mengacaukan pekerjaan kamu nanti setelah jadi istri sah menghancurkan perusahaan kamu 👋👋🤣🤣
Agus Tina
Rasain, memang apa si yang siharapkan dari seorang wabita yg berani menerima cinta dari pria beristri? Kekataan, ketenaraan, jadi terima saja .... itu pilihanmu Aslan ...
Sri Widiyarti
tunggu kurma otw Aslan...
Oma Gavin
rasakan itu ashlan istri siri pilihan mu bisanya habisin duit mata mu sudah ketutup selangkangannya
Ariany Sudjana
kenapa kamu harus marah Aslan? itu uangnya Naya, dan harus dia selamatkan daripada jatuh ke pelacur murahan yang ga tahu diri itu
Ariany Sudjana
baru jadi istri siri, sudah bertingkah seperti nyonya bos 😂😂🤣🤣 maklum sih orang miskin, jadi seperti kacang lupa kulitnya, karena dapat suami orang kaya, dan kelasnya jauh di bawah Naya , jadi terima saja hasil kebodohan kamu Aslan
cinta semu 2
bagus thor q suka
cinta semu 2
kapok ...kakean tingkah ...wong Lanang g bersyukur 🤭
sunaryati jarum
kok punya cuma satu bab Thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!