Indonesia
NovelToon NovelToon
Legenda Teratai Es Abadi

Legenda Teratai Es Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
​Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyergapan di Jurang Halilintar

​Di tengah lebatnya hutan yang mengarah ke puncak Gunung Petir, angin bertiup kencang membawa aroma ozon dan sengatan listrik yang pekat.

​Lima ratus murid elit Sekte Pedang Petir, mengenakan zirah biru tua dengan lambang petir perak di dada mereka, bergerak dalam formasi rapi. Mereka tidak berjalan di tanah, melainkan melompat dari dahan ke dahan, menciptakan deru angin tajam yang menggetarkan dedaunan.

​Memimpin barisan paling depan di udara adalah Lei Tianba sendiri. Pria paruh baya itu melayang perlahan menggunakan kekuatan Tahap Pembentukan Fondasi tingkat lanjut. Matanya menyala biru, memancarkan niat membunuh yang begitu dingin hingga embun di udara di sekitar tubuhnya langsung membeku menjadi es sebelum menguap.

​Tiba-tiba, seorang tetua bermata tajam melesat mendekati Lei Tianba dan membungkuk hormat.

​"Ketua Sekte! Pasukan pengintai dari depan baru saja mengirimkan sinyal giok!" lapor tetua itu dengan napas sedikit memburu. "Mereka melihat target... Target sedang berjalan kaki menyusuri jalur utama menuju Gunung Petir. Sendirian. Tanpa menyembunyikan identitasnya!"

​Mendengar laporan itu, Lei Tianba menghentikan gerakannya di udara. Seluruh pasukan di belakangnya seketika berhenti serentak, menciptakan kesunyian yang mencekam di tengah hutan.

​Wajah Lei Tianba berkedut. Alih-alih merasa senang karena mangsanya berjalan sendiri ke sarang macan, amarahnya justru semakin tersulut hingga ke puncaknya.

​"Sendirian?" desis Lei Tianba, suaranya terdengar seperti gesekan batu asahan. "Dia tidak lari ke pegunungan terpencil? Dia tidak bersembunyi di kota lain? Dia berjalan lurus ke arah markasku?!"

​"B-benar, Ketua. Dia bahkan tidak mengenakan penutup wajah. Dari laporan pengintai, dia terlihat sangat santai, seolah-olah sedang berdarmawisata," jawab sang tetua dengan ragu.

​"Argh! Bajingan sombong itu benar-benar menginjak-injak harga diri Sekte Pedang Petir!" raung Lei Tianba. Suaranya memicu sambaran petir kecil di langit cerah di atas mereka. "Dia mengira setelah membunuh dua tetua, dia bisa meremehkanku? Dia tidak tahu perbedaan antara langit dan bumi!"

​Lei Tianba menarik napas panjang, menenangkan amarahnya untuk menyusun strategi yang lebih mematikan. Sebagai pemimpin sekte yang berpengalaman, ia tahu bahwa tidak boleh meremehkan musuh yang begitu percaya diri.

​"Di mana jalur yang sedang dia lewati sekarang?" tanya Lei Tianba dingin.

​"Dia baru saja memasuki kawasan Jurang Halilintar, Ketua."

​Mata Lei Tianba menyipit tajam. Sebuah senyuman kejam dan sinis terukir di bibirnya. "Jurang Halilintar... Tempat itu adalah jalur sempit yang diapit oleh dinding batu curam dan dipenuhi medan magnet petir alami. Tempat itu adalah kuburan yang sempurna."

​Lei Tianba melambaikan tangannya memberikan komando mutlak kepada pasukannya.

​"Dengar semuanya! Kita tidak akan menyambutnya di gerbang utama! Kita akan menyergapnya di tengah Jurang Halilintar!" perintah Lei Tianba dengan suara menggelegar yang didengar oleh seluruh pasukan.

​"Tetua Kedua dan Tetua Kelima, bawa dua ratus murid elit untuk memasang Array Petir Pemusnah Sembilan Penjuru di dinding tebing atas jurang! Sisanya, bentuk formasi pengepungan di ujung pintu keluar jurang! Kali ini, aku tidak akan membiarkan sehelai pun rambutnya lolos dari tempat ini!"

​"BAIK, KETUA!" jawab ratusan kultivator itu serentak, suara mereka menggelegar mengguncang pepohonan di sekitar gunung.

​Dalam waktu singkat, gerakan mesin perang Sekte Pedang Petir bergerak dengan sangat efisien. Ratusan orang bergegas mendahului jalur perjalanan Ye Chen, menempati posisi strategis di Jurang Halilintar—sebuah ngarai curam sepanjang dua mil dengan dinding batu hitam yang dialiri arus listrik alami.

​Sementara itu, beberapa mil di belakang, Ye Chen berjalan menyusuri jalan setapak berbatu dengan tangan bersidekap di balik jubah hitamnya.

​Langkah kakinya terdengar santai, namun setiap kali sepatunya menyentuh tanah, gelombang kejut tak kasat mata menyebar ke dalam bumi. Tubuhnya kini terasa sangat ringan namun kokoh, hasil sempurna dari penyatuan Fosil Cakar Naga Bumi.

​"Bocah, auramu terlalu mencolok sekarang," suara Ao Tian tiba-tiba terdengar memperingatkan dari dalam giok hitam. "Di depan sana, sekitar tiga mil, fluktuasi energi spasial dan formasi petir buatan manusia mulai terdeteksi. Sekte Pedang Petir sedang menyiapkan mangkuk penyambutan untukmu di Jurang Halilintar."

​Ye Chen berhenti sejenak. Ia mendongak, menatap ke arah langit di ufuk utara tempat awan badai buatan mulai berputar pekat. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.

​"Aku tahu, Senior," jawab Ye Chen dalam hati. "Sejak aku melangkah keluar dari kedai teh tadi, aku memang sengaja tidak menyembunyikan jejakku. Aku ingin melihat seberapa besar 'hadiah' yang disiapkan oleh Ketua Sekte itu untukku."

​"Hahaha! Menghadapi ratusan kultivator dan seorang ahli puncak Tahap Pembentukan Fondasi dengan kepala tegak... Jiwa pejuangmu benar-benar mirip dengan para tetua naga purba!" tawa Ao Tian terdengar puas dan bangga. "Tapi ingat, jangan meremehkan formasi penyergapan skala besar. Manusia terkadang menjadi jauh lebih berbahaya saat mereka bergabung dalam kelompok dan menggunakan energi alam."

​"Tenang saja, Senior," mata Ye Chen memancarkan kilatan keemasan yang tajam. "Dulu, aku diinjak-injak dan dibuang ke jurang oleh klan sendiri. Hari ini, aku akan menggunakan mayat para 'penguasa' ini untuk mendeklarasikan kembaliku ke dunia kultivasi."

​Ye Chen kembali melangkah. Kali ini, kecepatannya sedikit meningkat.

1
Driver Muda
💪💪💪💪💪👍
Driver Muda
lanjutkan
Aman Wijaya
semangat Ye Chen jadilah kuat bunuh mereka semua yang membully mu
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!