Indonesia
NovelToon NovelToon
Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?

Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Draft

Dika masih menatap layar ponselnya.

Nama Miranda terpampang jelas di dokumen tersebut. Ia membuka transaksi lainnya. Satu demi satu tanggal muncul di layar. Beberapa transaksi terjadi dalam waktu yang berbeda, bahkan ada yang sudah berlangsung bertahun-tahun lalu.

Dika mengerutkan kening. "Kenapa aku tidak pernah melihat ini?"

Ia kembali menghubungi kepala bagian keuangan. "Periksa semua transaksi yang berkaitan dengan perusahaan ini."

"Baik, Pak."

"Dan jangan menyentuh rekening atau aset apa pun sebelum aku memberi perintah."

"Baik."

Dika memutuskan sambungan. Ia masih belum ingin menuduh Miranda. Bisa saja ada alasan yang tidak diketahuinya. Selama bertahun-tahun, Miranda memang diberi kewenangan mengurus sebagian aset keluarga.

Tetapi jumlah transaksi yang mulai muncul membuat Dika sulit menganggap semuanya sebagai urusan biasa. Ia menyalakan mesin mobil. Kali ini tujuannya bukan rumah.

Ia ingin kembali ke kantor. Ada sesuatu yang harus diperiksanya sendiri.

Sore itu, hujan baru saja reda.

Halaman belakang rumah sakit masih basah. Air menetes dari ujung daun dan mengalir pelan di sela-sela batu pijakan. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, membuat Azmira memilih duduk sebentar di bangku kayu dekat taman sebelum kembali ke ruangannya.

Hari itu cukup melelahkan. Ia baru saja selesai menangani beberapa pasien ketika Tania muncul dari arah lorong.

"Mira, kamu belum pulang?"

Azmira menggeleng. "Masih ada laporan yang harus kuselesaikan."

"Kalau begitu jangan lama-lama. Aku duluan, ya."

Tania hendak pergi, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat seseorang berdiri tidak jauh dari sana.

William.

Lelaki itu sedang berbicara dengan salah seorang pengurus rumah sakit. Setelah pembicaraan selesai, pandangannya beralih dan langsung menemukan Azmira.

Tania menyeringai. "Wah, ada yang dicari."

Azmira mengernyit. "Siapa?"

Tania menunjuk William dengan dagunya.

"Ya, siapa lagi?"

"Tania..."

Tania terkekeh lalu meninggalkan mereka. William berjalan mendekat.

"Kamu belum pulang?"

"Belum. Masih ada laporan."

William duduk di ujung bangku, tidak terlalu dekat.

"Ayah memintaku memeriksa beberapa laporan renovasi gedung lama. Tadi aku selesai rapat."

Azmira memperhatikan taman yang masih basah setelah hujan. Udara sore terasa lebih sejuk. Beberapa genangan kecil memantulkan cahaya lampu taman yang baru saja menyala.

William berdiri di sampingnya sambil membawa beberapa lembar dokumen.

"Aku tadi selesai dari gedung lama," katanya. "Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan."

Azmira menoleh. "Apa?"

"Ikut sebentar."

William berjalan lebih dulu menuju bagian belakang taman. Azmira mengikutinya dengan langkah santai.

Di sana terdapat sebuah papan pengumuman yang baru dipasang. Beberapa gambar rancangan tertempel di atasnya.

Azmira mendekat. "Ini apa?"

"Rancangan taman baca."

William menunjuk salah satu gambar.

"Rumah sakit berencana mengubah sebagian lahan kosong ini menjadi tempat bermain dan membaca untuk anak-anak yang menunggu keluarganya."

Azmira mengamati gambar tersebut dengan lebih teliti.

"Bagus."

"Tapi menurutmu bagaimana?"

Azmira mengernyit kecil.

"Kenapa tanya aku?"

"Karena kamu lebih sering melihat keadaan mereka secara langsung."

Azmira kembali memperhatikan rancangan itu.

"Kalau boleh memberi saran, tempat duduknya jangan terlalu banyak yang menghadap satu arah. Anak-anak biasanya lebih suka bergerak bebas."

William mengambil pulpen dari sakunya.

"Yang mana?"

Azmira menunjuk bagian tertentu.

"Di sini. Kalau dibuat sedikit lebih luas, mereka bisa bermain tanpa mengganggu keluarga pasien."

William langsung mencatat.

Azmira memperhatikannya.

"Kamu benar-benar mencatat?"

William menoleh.

"Kenapa? Bukankah aku memang minta pendapatmu?"

Azmira tersenyum kecil.

"Kirain cuma basa-basi."

William terdiam sesaat.

"Aku tidak pernah basa-basi kalau menyangkut kamu."

Azmira spontan mengangkat wajah.

Mata mereka bertemu.

William tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya kembali melihat rancangan di tangannya, seolah kalimat tadi bukan sesuatu yang perlu dijelaskan.

Azmira pun memilih diam. Ada sesuatu yang terasa berbeda sore itu. Bukan karena William datang membawa perhatian seperti biasanya.

Justru karena untuk beberapa saat, mereka hanya menjadi dua orang yang sedang berbagi pikiran tanpa terburu-buru.

Dari balik pintu, Tania yang baru hendak pulang melihat keduanya dari kejauhan. Ia berhenti sebentar.

"Ini sih bukan bahas taman," gumamnya sambil tersenyum geli.

Tania memilih tidak mengganggu. Sementara itu, Azmira masih berdiri di samping William. Setelah beberapa saat, ia menunjuk gambar lainnya.

"Kalau bagian ini diberi tanaman yang tidak terlalu tinggi, anak-anak tetap bisa melihat orang tuanya dari sini."

William kembali mencatat. "Baik."

"Dan mungkin bisa ditambah rak buku kecil."

William mengangguk. "Besok aku minta bagian desain menambahkannya."

Azmira menatapnya.

"Kamu langsung percaya begitu saja?"

"Aku percaya penilaianmu."

Kali ini Azmira tidak menjawab.

Entah kenapa, kalimat sederhana itu justru terasa lebih dalam daripada rayuan apa pun.

Mereka kemudian kembali berjalan melewati taman yang masih menyisakan aroma tanah basah.

Tidak ada yang menyadari bahwa pertemuan sederhana sore itu perlahan mengubah sesuatu di antara mereka.

☘️☘️☘️☘️

Sementara itu, Miranda berada di rumah. Ia baru saja menerima telepon dari seseorang yang beberapa waktu lalu ia minta mencari informasi tentang Azmira.

"Sudah ada hasilnya?"

"Belum semuanya, Bu."

Miranda berdiri di dekat jendela. Tatapannya mengarah ke halaman rumah yang mulai gelap.

"Aku sudah bilang, aku tidak punya banyak waktu."

"Azmira ternyata cukup sulit ditelusuri, Bu. Data tentang kehidupannya juga tidak banyak."

"Lalu?"

"Ada beberapa hal yang menarik."

Miranda mengerutkan kening. "Apa?"

"Azmira bekerja di rumah sakit yang beberapa kali menjalin kerja sama dengan perusahaan Pak Dika."

Lelaki itu melanjutkan. "Dan beberapa waktu lalu, Azmira juga yang menangani Pak Dika ketika beliau sakit."

Jari Miranda yang memegang ponsel mengencang. Ia sudah mengetahui tentang kejadian itu. Selama ini ia menganggapnya sebagai kebetulan.

"Selain itu?"

"Belum ada bukti yang menghubungkan mereka secara langsung, Bu. Saya masih menelusuri hubungan Azmira dengan Rina."

Miranda menarik napas pelan.

"Jangan berhenti sebelum menemukan sesuatu."

"Baik, Bu."

Panggilan berakhir. Miranda tetap berdiri di tempatnya. Azmira pernah menangani Dika. Rumah sakit tempat perempuan itu bekerja juga pernah bekerja sama dengan perusahaan Dika. Semua itu memang bisa dianggap kebetulan.

Tetapi sekarang Dika sedang mencari Rina. Itulah yang membuat Miranda mulai kehilangan ketenangannya.

Beberapa detik kemudian, pintu utama terbuka. Dika masuk dengan wajah serius. Miranda mencoba bersikap biasa.

"Kamu sudah pulang?"

Dika hanya mengangguk. "Ada yang ingin aku tanyakan."

Miranda berusaha tersenyum.

"Masalah apa?"

Dika menatap istrinya cukup lama. "Besok aku ingin kamu ikut denganku ke kantor."

Senyum Miranda menghilang. "Untuk apa?"

"Ada beberapa aset keluarga yang sedang diperiksa."

Miranda menahan napas. "Aset?"

"Iya."

Dika berjalan melewatinya. "Dan aku ingin mendengar penjelasannya langsung darimu."

Miranda tidak bergerak. Dika menaiki tangga tanpa menoleh lagi. Sementara Miranda berdiri di tempatnya untuk kali ini setelah bertahun-tahun, ia merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia takutkan.

Dika mulai memeriksa kehidupannya. Dan jika lelaki itu terus menggali, bukan hanya soal uang yang akan ditemukan. Ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Sesuatu yang berkaitan dengan Shiren.

Miranda mengepalkan tangan. Ia tidak boleh membiarkan masa lalu itu terbuka. Tidak setelah dua puluh lima tahun ia berhasil menjaga semuanya tetap tersembunyi.

Namun di dalam ruang kerja, satu lembar dokumen yang tadi disentuh Miranda tidak kembali tersusun sempurna.

Sudutnya sedikit keluar dari map. Dan tanpa diketahui Miranda, Dika yang kembali turun beberapa menit kemudian melihatnya.

Langkahnya terhenti. Ia menarik map tersebut. Membukanya. Matanya langsung tertuju pada tanggal yang tercantum di sana.

Tanggal kelahiran Shiren. Dika mengernyit. Ada sesuatu yang tidak sesuai dengan ingatannya. Ia membaca sekali lagi. Kemudian membuka halaman berikutnya.

Sebuah nama muncul di sana. Nama seseorang yang sama sekali tidak pernah ia duga akan berkaitan dengan keluarganya.

Dika terdiam, sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya. Kenapa Miranda menyimpan dokumen ini? Ia belum tahu jawabannya.

Tetapi, kecurigaannya tidak lagi hanya tertuju pada harta. Ada rahasia lain yang sedang disembunyikan istrinya. Dan mungkin, rahasia itu jauh lebih besar daripada semua aset yang telah berpindah tangan.

Bersambung

1
Nancy Nurwezia
penyesalanmu mulai mendrkati mu dika
Nar Sih
lanjut kakk👍🥰
Tengku Nafisa
Terasa lamban semuanyaa. Dika banyak duit spt jalan di tempat sementara Dedemit Miranda dan anaknya sdh spt detektif yg sdh maju selangkah. Dan yg di cari tau kehidupannya ada di sekitar mereka. Adegannya seperti main kucing kucingan. Gaskan thor.. jgn keduluan dedemit yg mencelakai Azmira dan ibunya. Oh Wiliam lindungilah Azmira.
Nar Sih
kak ayu jdi gk sabar nunggu kebusukan miranda kebongkar dan penyesalan dika yg telah melupakan azmira
Sri Widiyarti
eh ga taunya Sherin bukan anak kandungnya 🤦🤦🤦
Nar Sih
kesalah mu sendiri dika ,yg sdh piara ular di rmh mu 🤣🤣
ceuceu
Ga sabar liat kehancuran dika pas tau kebusukan miranda wanita yg dia pilih,sampai rela membuang putri kandung
Tengku Nafisa
jgn lama2 thor membuka kedok miranda di dpn keluarga.
Nar Sih
semoga sgra terbongkar kejhtn miranda biar dika menyeslll🤣🤣🤣
ros
🙏
Suanti
setelah terungkap shiren bukan kandung dika
dika bakal menyesal seumur hidup 🤭
Nar Sih
kasihan kmu dika ,klau ternyata ank yg kau anggap ank kandung mu eh...ternyata ank sekingkuhan pelakor mu ,sedang ank kandung mu tak kau anggap🤣🤣
Tengku Nafisa
ketahuan... sdh terlambat utk sadar. terlanjur terlena dgn duniamu Dika. rasakan itu penyesalan yg tak bisa kembali
Marini Suhendar
anak orang lain d urus..anak sendiri d d usir..
ceuceu
sepertinya shiren bukan anak dika,sukurin deh dika biar tau rasa,ngurus anak orang lain,anak sendiri di telantarkan
Heni Fitoria
intinya anakku bukan anakku...
🤣🤣🤣🤣
itulah karma Dika...
sakit tak berdarah ketika tau kenyataan yang sebenarnya 😆😆😆
Nar Sih
satu demi satu rahasia miranda sgra terungkap dan saat dika tau tinggal lah penyesalan yg terlambat
Tengku Nafisa
Dika akan sadar ketika dirinya selama ini telah tertipu dan yg menipunya adalah wanita yg dipeliharanya dirmhnya sendiri.
Nar Sih: bnr banget kak ,dan saat kbnran itu tiba tinggal lan penyesalan
total 1 replies
ceuceu
Dika egois menelantarkan anak selama 25 tahun,ngapain sekarang baru cari tau
Nar Sih
seperti nya shiren bkn ank kandung mu dika ,dan bila kbnran rahasia istri perebut suami org terbongkar saat itu lah karma penyesalan mu tiba🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!