When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.
Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.
Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Langkah Nekat di Atas Salju
Embusan angin malam dari arah pegunungan perbatasan berembus kencang, menampar ranting-ranting pohon oak yang tak lagi berdaun di pelataran samping Kediaman Rosenberg.
Suara derit kayu dan ketukan teratur roda kereta terdengar bagaikan ritme samar yang memotong kesunyian fajar yang belum sepenuhnya merekah.
Di dalam kamarnya yang diterangi pendar hangat dari perapian, Evelyn berdiri di depan cermin. Napasnya terengah halus, menyisakan uap tipis di udara ruangan yang mulai mendingin.
Jemarinya sibuk merapikan kancing-kancing mantel.
Setiap kali tangannya terangkat agak tinggi, rasa nyeri yang tajam bagai tusukan jarum menjalar di celah-celah dadanya.
Paru-parunya yang rapuh seolah menolak hawa dingin yang mulai menyusup, memicu batuk kecil yang sebisa mungkin ia redam dengan sapu tangan di dalam genggamannya.
Uhuk! Uhuk!
Evelyn memejamkan matanya, menahan dorongan rasa sakit yang membuat pandangannya sempat berbayang sekejap.
Ketika ia menarik sapu tangan itu kembali, bercak merah tipis menempel samar di permukaan kain.
Ia buru-buru meremas kain itu dan menyembunyikannya di dalam saku mantel.
"Nona... tolong pikirkan sekali lagi," suara bibi pelayan tua, Mary, bergetar di belakangnya.
Tangan Mary yang keriput memegang nampan berisi cangkir ramuan herbal hangat yang uapnya mengepul. "Tubuh Nona sedang selemah ini. Dokter Tristan baru saja menyuntikkan penguat mana tadi malam. Kalau Nona nekat menerjang jalanan badai menuju wilayah Utara... nyawa Nona bisa benar-benar terancam di tengah jalan!"
Evelyn berbalik pelan, mengulas senyum tipis. Ia meraih cangkir ramuan itu, menyesapnya sedikit demi sedikit meski rasa pahit pekat membakar lidahnya.
"Bi Mary..." bisik Evelyn. "Kalau aku cuma duduk manis di kamar ini, menunggu keajaiban atau menunggu surat berikutnya dari Cassian, tubuhku juga bakal makin tergerus setiap hari. Cassian sudah membalas pesan kita dengan surat penolakan mentah-mentah. Dia tidak bakal percaya sama siapa pun yang dikirim Rosenberg... kecuali aku yang menunjukkan diri di depan matanya."
"Tapi Nona tidak perlu mengorbankan diri sejauh ini!" tangis Mary pecah, menyapu air mata di sudut matanya dengan celemek.
"Lord Julian bisa—"
"Kak Julian itu ksatria yang hebat, Bi," sela Evelyn lembut seraya mengusap jemari tua pelayannya.
"Tapi Julian bicara pakai bahasa pedang dan harga diri bangsawan. Cassian itu serigala yang terluka dan curigaan. Dia tidak butuh gertakan militer. Dia butuh melihat langsung seberapa jauh taruhan yang berani aku pasang di atas meja perundingannya."
Pintu kamar mendadak terdorong. Julian melangkah masuk. Wajahnya diwarnai lingkaran hitam di bawah mata dan raut wajah penuh penyesalan.
Di belakangnya, Duke Richard berjalan dengan langkah berat, disusul Duchess Eleanor yang matanya sembap karena tak berhenti menangis sejak semalam.
"Evelyn," panggil Julian, suaranya berat dan terdengar begitu tegang. Ia berhenti di depan adiknya, menatap wajah pucat Evelyn yang tampak kian tirus.
"Kakak sudah siapkan pasukan pengawal terbaik. Tapi Kakak mohon... batalkan niatmu. Jangan pergi sendiri ke tanah es itu. Kalau kamu mau, Kakak bisa memimpin penerobosan rahasia ke benteng Obsidian malam ini juga buat mencuri bunga itu!"
"Dan memicu perang terbuka antara Rosenberg dan penguasa Utara?" sahut Evelyn pelan. Ia menatap kakaknya.
"Kakak tahu betul kekuatan militer Obsidian. Kalau kita pakai kekerasan, bukan cuma bunga itu yang hancur, tapi seluruh nama keluarga kita bakal ditumpas Istana atas tuduhan pemicu pemberontakan."
"Tapi kondisimu, Sayang!" jerit Eleanor melangkah maju, langsung merengkuh Evelyn ke dalam pelukannya.
"Ibu tidak sanggup membayangkan kamu pingsan di tengah badai salju tanpa ada obat yang cukup! Udara Utara itu seperti pisau es, Evelyn!"
Evelyn meresapi pelukan ibunya, menepuk pelan punggung Eleanor dengan jemarinya yang gemetar.
"Mama... percaya sama Evelyn ya? Evelyn nggak bakal membiarkan diri Evelyn mati konyol di sana. Evelyn pergi justru buat merebut hidup Evelyn kembali."
Duke Richard yang sejak tadi membisu akhirnya melangkah mendekat. Tangannya terulur, mengusap puncak kepala Evelyn, ia merasa gagal melindungi putrinya.
"Papa sudah memerintahkan tiga kereta medis rahasia buat mengawal dari belakang secara tersamar," kata Duke Richard, suaranya parau menahan emosi yang bergolak di dadanya.
"Dokter Tristan bakal ikut dalam iringan, membawa seluruh cadangan kristal pemanas milik keluarga. Kalau... kalau rasa sakit di dadamu mulai nggak tertahankan, kamu harus janji buat berhenti di pos perbatasan."
Evelyn mendongak, menyunggingkan senyum paling manis yang sanggup ia pamerkan di tengah rasa nyeri yang mencengkeram dadanya.
"Iya, Pa. Evelyn janji."
Ia berpaling menatap Julian yang masih berdiri kaku dengan rahang mengeras.
"Kak... tugas Kakak tetap di ibu kota dan perbatasan luar. Jaga pergerakan Asteria, dan pastikan orang-orang Istana tidak mengetahui rencana ini."
Julian mengepalkan tangannya. Ia menundukkan kepalanya, menahan rasa sesak yang membakar tenggorokannya.
"Kakak merasa jadi ksatria paling tidak berguna di dunia ini... membiarkan adiknya yang sakit-sakitan jalan ke medan bahaya sendirian."
"Kakak bukan tidak berguna," bisik Evelyn seraya meraih jemari Julian, memaksa kakaknya mendongak.
"Kakak adalah orang yang membuat Evelyn berani melangkah sejauh ini. Tanpa Kakak, Evelyn nggak bisa sampai sejauh ini."
Julian menatap mata adiknya yang berkilat penuh tekad, ksatria muda itu akhirnya mengangguk pelan, menyapu sudut matanya yang basah.
"Kakak bakal sebar Pasukan Shadow di sepanjang jalur luar. Kalau ada satu saja penyamun atau orang Obsidian yang menyentuh keretamu... Kakak sendiri yang bakal ratakan wilayah mereka."
Satu jam kemudian, di pelataran tanah belakang yang gelap dan terlindung oleh rimbunnya pohon cemara.
Sebuah kereta kuda kayu, tanpa lambang bangsawan terparkir di sana.
Di atas kursi pengemudi, Komandan Vanes duduk mengenakan jubah penyamaran pedagang biasa, memegang tali kekang dengan pandangan mata yang menyapu sekeliling.
Evelyn dipandu berjalan perlahan menuju pintu kereta.
"Nona, ini kotak pemanas sihir tingkat tinggi yang sudah disesuaikan," bisik Dokter Tristan seraya menyerahkan sebuah kotak logam berukir rumit yang memancarkan hangat lembut ke tangan Evelyn.
"Minum obat botol biru ini setiap empat jam sekali. Jangan sampai terlambat satu menit pun."
"Terima kasih banyak, Dokter," sahut Evelyn tulus, memeluk kotak pemanas itu di pangkuannya saat ia sudah berhasil mendudukkan dirinya di dalam kabin kereta.
Pintu kayu kereta perlahan ditutup dari luar.
Melalui celah tirai tebal yang tersingkap sedikit, Evelyn melihat raut wajah ayah, ibu, dan kakaknya yang berdiri mematung disana.
Evelyn mengangguk kecil dari balik kaca, lalu menarik tirai.
Klitik-klitik... Krek!
Roda kereta kuda berputar menggilas permukaan tanah dan batu kerikil basah.
Di dalam kabin kereta yang hening, kehangatan dari kotak sihir perlahan menyelimuti ruangan kecil itu.
Evelyn menyandarkan kepalanya pada bantal di sudut kursi.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang.
Evelyn merogoh saku dalam mantelnya, menarik keluar peta wilayah Utara yang sudah kusam oleh lipatan.
Jemarinya menelusuri garis merah yang menandai perbatasan benteng Obsidian.
"Cassian von Obsidian..." gumam Evelyn pelan. "Kamu pikir surat penolakan kasar itu bisa bikin aku gemetar dan sembunyi di balik nama Rosenberg?"
Ia mengepalkan tangannya penuh tekad.
Tidak mungkin.
semangat nulisnya 💪