Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkah dan Bayangan yang Tersisa
"Ugk!" meringis Amara sambil memegangi perutnya, wajahnya mendadak pucat saat rasa mual yang melilit menghantam dadanya secara tiba-tiba.
Gabriel yang sedang menyesap kopinya langsung meletakkan cangkir itu hingga berdenting keras, meraih tubuh istrinya dengan raut panik. "Ada apa, Sayang?"
"M-mau muntah..." cicit Amara terbata, memegangi mulutnya dengan tangan yang gemetar.
"Muntah?" ulang Gabriel terkejut.
Amara menganggukkan kepalanya dengan cepat. Tanpa membuang waktu, Gabriel langsung membopong tubuh Amara menuju kamar mandi, menuntunnya di depan wastafel saat gadis itu meluapkan rasa mualnya.
Setelah tiga bulan berlalu sejak kejadian penyusupan itu, kehidupan Amara memang telah berubah total. Suaranya kini jauh lebih lancar, dan berkat perhatian ekstra serta kehangatan dari Gabriel, tubuh Amara yang dulu sangat kurus kini mulai berisi dan tampak segar merona.
Gabriel memijat pelan tengkuk istrinya, mengusap punggung Amara penuh rasa cemas. "Sudah agak mendingan, Sayang? Biar kupanggilkan dr. Aris ke rumah sekarang, ya?"
Amara membasuh mulutnya dengan air, lalu menyandarkan tubuh lemasnya ke dada tegap Gabriel. "N-tidak usah ke rumah sakit, Gabriel... A-aku cuma pusing dan mual..."
"Tidak ada bantahan, Amara," pangkas Gabriel tegas namun lembut. Pria itu mengangkat Amara kembali ke ranjang, menyelimutinya hingga dada. "Reno! Hubungi dr. Aris sekarang juga!"
"B-baik, Tuan!" sahut suara Reno dari luar kamar.
Sementara Gabriel duduk di tepi ranjang membelai dahi istrinya, pikiran pria itu sempat terlempar pada masalah lain yang belum tuntas. Sayangnya, selama tiga bulan ini juga, Gabriel belum berhasil menemukan di mana keberadaan Hendra.
Pria licik itu seolah lenyap ditelan bumi bersama asistennya, berhasil melintasi jalur pelarian bawah tanah sebelum blokir total diterapkan.
"Gabriel..." panggil Amara pelan, menyadari sorot mata suaminya yang sempat melamun tegang. "K-kamu memikirkan apa?"
Gabriel tersenyum manis, membuang jauh-jauh pikiran tentang Hendra dan kembali memusatkan seluruh perhatiannya pada sang istri. Ia menunduk, mengecup jemari Amara dengan penuh kasih.
"Aku cuma mengkhawatirkanmu, Sayang," bisik Gabriel lembut. "Semoga ini kabar bahagia yang sudah lama aku tunggu-tunggu."
Pipi Amara merona tipis mendengar ucapan itu. Tangan mungilnya terulur, mengusap rahang tegas suaminya dengan penuh kehangatan.
"A-apa pun hasilnya nanti... aku selalu bahagia di sisimu, Gabriel."
Tak lama beberapa menit kemudian, terdengar langkah kaki terburu-buru dari koridor luar. Pintu kamar utama terbuka pelan setelah ketukan singkat.
"Tuan Gabriel, dr. Aris sudah datang," lapor Reno yang berdiri sopan di ambang pintu, memberi jalan bagi dokter spesialis langganan keluarga itu untuk masuk.
"Selamat pagi, Tuan Gabriel, Nyonya Amara," sapa dr. Aris ramah seraya membawa tas medisnya. "Saya dengar Nyonya Amara mengalami mual dan pusing?"
"Langsung periksa istriku, Dok," pangkas Gabriel cepat tanpa basa-basi, raut cemas belum sepenuhnya hilang dari wajah tampannya. "Dia mual sejak bangun tidur tadi dan wajahnya mendadak pucat."
"Baik, Tuan. Mohon izin saya periksa sebentar," ujar dr. Aris santai. Ia melangkah mendekati ranjang, lalu mengeluarkan stetoskop dan beberapa alat pemeriksaan dasar.
Amara menatap dr. Aris dengan binar agak gugup, jemari mungilnya mencengkeram erat tangan Gabriel yang duduk setia di sampingnya.
"T-tidak apa-apa kan, Dok?" cicit Amara pelan, suaranya sudah terdengar amat jernih tanpa lagi bergantung pada buku catatan.
"Sama sekali tidak apa-apa, Nyonya," balas dr. Aris tersenyum menenangkan seraya memeriksa denyut nadi dan perut Amara. Tak butuh waktu lama, raut wajah dr. Aris berubah menjadi cerah dengan senyuman lebar.
"Bagaimana kondisinya, Dok? Apa ada yang salah dengan pencernaan atau lambungnya?" tanya Gabriel beruntun, tak sabar menunggu kepastian.
dr. Aris terkekeh renyah seraya merapikan kembali alat-alat medisnya ke dalam tas. "Tidak ada yang salah dengan lambungnya, Tuan Gabriel. Nyonya Amara sangat sehat."
"Lalu kenapa dia muntah-muntah?!" desis Gabriel sedikit menaikkan nada suaranya karena khawatir.
"Selamat, Tuan Gabriel, Nyonya Amara," ujar dr. Aris tulus seraya menunduk hormat. "Mual dan pusing itu hal yang sangat wajar di usia kehamilan awal. Nyonya Amara sedang mengandung. Usia kandungannya sudah berjalan empat minggu."
Keheningan seketika melingkupi kamar mewah itu.
Gabriel membeku di tempatnya. Matanya membelalak tak percaya, menatap dr. Aris lalu beralih menatap Amara yang juga sama terkejutnya.
"M-mengandung?" ulang Gabriel gagap, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada pria berkuasa sepertinya. "Istriku... hamil?"
"Benar, Tuan. Usaha dan perawatan Anda selama tiga bulan ini membuahkan hasil yang luar biasa," jawab dr. Aris mantap.
Amara menutupi mulutnya dengan kedua tangan, air mata haru seketika menetes membasahi pipinya yang merona. Ia menatap Gabriel dengan binar bahagia yang tak terkira.
"G-Gabriel..." bisik Amara bergetar, menyusupkan jemarinya ke telapak tangan kokoh suaminya. "...a-aku hamil?"
Gabriel langsung berlutut di tepi ranjang, merengkuh tubuh mungil Amara ke dalam dekapannya dengan amat hati-hati, seolah istrinya adalah barang kaca yang paling rapuh di dunia.
"Terima kasih, Sayang... terima kasih banyak..." bisik Gabriel serak di leher Amara, air mata bahagia menggenang di sudut mata pria yang biasanya berhati dingin itu. "Kamu membuat hidupku benar-benar sempurna, Ratu kecilku."
"Saya sarankan, Anda harus membawa Nyonya Amara melakukan pemeriksaan lengkap di rumah sakit atau klinik terdekat. Agar Nyonya mendapatkan beberapa vitamin untuk kehamilan dan perkembangannya bisa dipantau lebih akurat," lanjut dr. Aris seraya memberikan catatan resep awal.
"Akan saya atur jadwalnya hari ini juga, Dok," sahut Gabriel tanpa ragu. Pria itu mengusap lembut jemari Amara yang masih terbaring di ranjang, matanya tak lepas menatap sang istri dengan binar sarat kasih sayang.
"T-tidak perlu terburu-buru, Gabriel..." cicit Amara malu-malu, pipinya merona makin membara saat melihat betapa siaga suaminya. "A-aku... aku masih kuat."
"Tidak ada kata nanti untuk urusan kesehatanmu dan calon anak kita, Sayang," potong Gabriel tegas namun bernada amat lembut. Ia lalu mendongak menatap dr. Aris. "Terima kasih, Dok. Reno akan mengantar Anda ke depan."
"Sama-sama, Tuan Gabriel. Sekali lagi selamat untuk Anda berdua," pamit dr. Aris tersenyum hangat, lalu mengangguk sopan pada Amara sebelum melangkah keluar ditemani Reno.
Pintu kamar kembali tertutup rapat, menyisakan keheningan yang penuh dengan kehangatan.
Gabriel kembali memfokuskan seluruh perhatiannya pada Amara. Ia mendekat, menundukkan kepala hingga kening mereka saling bersentuhan. Tangannya yang kokoh perlahan bergerak turun, mengusap lembut perut datar istrinya yang kini menyimpan kehidupan baru di dalamnya.
"Terima kasih, Ratu kecilku..." bisik Gabriel serak, suaranya sarat akan rasa syukur yang mendalam. "Kamu benar-benar memberi kebahagiaan yang tak ternilai untukku."
Amara tersenyum amat anggun. Tangan mungilnya menumpuk di atas tangan Gabriel yang berada di perutnya.
"G-Gabriel..." panggil Amara pelan, matanya berkaca-kaca menatap pria yang telah menyelamatkan hidupnya itu. "...a-aku juga... s-sangat bahagia. K-kita... akan jadi orang tua."
"Iya, Sayang. Kita akan jadi orang tua," balas Gabriel lembut, lalu mendaratkan ciuman manis dan penuh kehati-hatian di bibir Amara. "Dan aku berjanji, akan menjaga kalian berdua dengan taruhan nyawaku sendiri."
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
Gabriel gx kn percaya lgi ma janji mu nyonya ,,
selamat menikmati hidup baru kalian di hotel prodeo yx kalian berdua ,, 😒😒😒😒😒
untung nyonya Eleanor cepat sadar yx ,, dn bnr2 berubah kepada Amara ,,