Indonesia
NovelToon NovelToon
The Artefact Of The Past And The Chosen One'S Destiny

The Artefact Of The Past And The Chosen One'S Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Romansa Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ARDICK

( upload Senin - Sabtu= 6× dalam seminggu )
( jam upload 3 sore )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny

Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.

Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.

Ater. Mala. Angis. Evir.

Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.

Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.

Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.

Kemudian semuanya berubah.

Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.

Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

{Chapter 7 }:{secret journey }

Di Alam Ruh, Zeo berhenti melangkah.

Kabut di sekelilingnya semakin tebal, semakin pekat, seolah menelan setiap jejak yang ia tinggalkan. Tangannya terulur, menyentuh udara kosong, mencari sesuatu yang tidak bisa ia lihat. Semakin ia melangkah, semakin jalan di depannya bercabang. Semakin ia mencari, semakin pertanyaan menumpuk tanpa jawaban.

Waktu terus berputar. Detik demi detik. Ia bisa merasakannya—denyut yang lambat, berat, seperti detak jantung yang kelelahan. Berapa lama ia sudah di sini? Berapa hari di dunia luar telah berlalu? Ia tidak tahu. Yang ia tahu hanya kabut, dan sunyi, dan kebingungan yang semakin mencekik.

"Sampai kapan aku mencari jawaban ini?" bisiknya pada kekosongan. Suaranya tidak bergema. Alam Ruh menelannya. "Alam... tunjukkan jalan untukku. Tunjukkan jalan untuk menemukan jawaban."

Tidak ada jawaban. Hanya kabut yang terus bergulung.

Dan perlahan, wajah-wajah di dunia asli mulai memudar dari ingatannya. Nama-nama. Suara-suara. Semua mengabur, seperti tinta yang larut dalam air.

Di tempat tersunyi alam semesta, di dalam ruang kecil yang membeku dalam waktu, Sora masih di sana. Matanya terpejam, namun di balik kelopaknya, pikirannya berjalan. Berjalan ke satu tempat. Satu wajah. Satu nama.

"Dewi Bulan..." bisiknya, meski bibirnya tidak bergerak. "Aku menunggumu di sini. Mataku tidak tahan melihat kekosongan tanpamu. Detik demi detik yang kurasakan... bagaikan bulan tanpa cahayanya."

Ia tidak membuka mata. Tidak perlu. Kenangan itu sudah cukup. Senyumnya. Suaranya. Cahaya di matanya. Sora hanya menatap kosong ke dalam gelap di balik kelopaknya, memutar ulang malam berbintang itu, lagi dan lagi, hingga batas antara kenangan dan kenyataan semakin tipis.

Di Kerajaan Api, Raja Api duduk di singgasananya. Bibirnya menyungging—bukan senyum, melainkan lipatan licik yang tidak mencapai matanya. Jari-jarinya mengetuk lengan kursi dengan irama pelan, puas.

Dan di luar istana, dunia mulai retak.

Tanah yang dulu subur kini mengering, pecah-pecah seperti kulit yang terbakar matahari terlalu lama. Tanaman layu, batang-batangnya menghitam, daun-daunnya berguguran tanpa angin. Di pasar-pasar, di jalan-jalan, di rumah-rumah—senyum menghilang. Berganti dengan bibir yang bergetar. Mata yang basah. Air mata menetes. Bukan puluhan. Bukan ratusan. Miliaran. Tak terhitung. Mengalir tanpa henti hingga tanah yang kering tidak mampu lagi menyerapnya.

Harum tanah basah yang dulu menyambut pagi kini berganti. Bau kegersangan. Bau abu. Bau sesuatu yang telah mati dan tidak akan kembali.

Alam merintih. Bukan dengan suara—melainkan dengan getaran yang dirasakan setiap makhluk. Burung-burung berhenti bernyanyi. Sungai-sungai melambat. Angin kehilangan arah. Ketidakstabilan merambat seperti racun, menyentuh setiap negeri, setiap elemen, setiap napas.

Di suatu tempat yang jauh dari Kerajaan Api, para penjaga berdiri di bawah langit yang mulai berubah warna. Wajah mereka tegang. Bahu mereka turun.

"Mau sampai kapan ini?" Suara itu keluar serak, lelah.

"Aku tidak tahu, Sikir." Asta menghela napas, matanya menatap cakrawala yang retak. "Andai kita yang menjadi yang terbaik, kita tidak harus merasakan kesulitan ini."

"Asta." Sikir menoleh, rahangnya mengeras. "Ini jalan yang kau dan aku pilih. Dan ini hasil dari pikiranmu terhadap Sora."

"Bilah, Zeo tahu, dan Sora..." Asta menggeleng pelan. "Entah apa yang akan terjadi pada kita."

"Diam kau, Sikir!" Asta melangkah maju, suaranya meninggi. "Kau sama sepertiku. Kau yang diam. Kau tidak mengajarku. Aku menahan diri melakukan ini."

Sikir tidak membalas. Wajahnya memerah, urat di pelipisnya menonjol, rahangnya terkunci rapat. Ia berbalik dan berjalan menjauh, langkahnya cepat dan berat, seolah setiap hentakan kakinya ke tanah adalah kata-kata yang tidak bisa ia ucapkan. Seolah ada rahasia besar yang ia telan bulat-bulat, mengganjal di tenggorokannya.

Berbanding terbalik dengan kehancuran yang merambat di luar, di dalam dinding Kerajaan Api, Raja Api tertawa.

"Naikkan pajak!" perintahnya dari singgasana, suaranya menggema di seluruh aula. "Di seluruh kerajaan. Setiap sudut. Setiap rumah."

Para prajurit menunduk, tangan di dada.

Raja Api mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya menyipit, suaranya turun menjadi bisikan yang lebih tajam dari bilah pedang. "Bila ada rakyat yang memberontak..." Ia mengangkat satu jari. "Siksa. Sampai mati." Jari kedua terangkat. "Bila mengkritik..." Senyumnya melebar. "Bakar seluruh keluarganya."

Ia menyandarkan punggungnya kembali. "Ingatkan kau, para prajurit."

Dan penindasan itu berjalan. Hari demi hari. Semakin menggila. Rakyat kecil diperas hingga tulang mereka kering. Kebebasan dirampas seperti udara yang ditarik dari paru-paru. Tidak ada yang berani bersuara. Karena di balik setiap suara yang berani, ada api yang menunggu untuk membakar.

Di sisi lain kerajaan, di balik tembok emas yang menjulang, ada satu tangan yang selalu mengulurkan kembali apa yang telah dirampas.

Putri Iles berjalan di antara gang-gang sempit, jubahnya yang halus terseret debu jalanan. Di tangannya, sebuah tas berisi emas—hasil rampasan ayahnya yang ia kumpulkan diam-diam. Ia berlutut di hadapan keluarga-keluarga yang duduk di tanah kering, mata mereka kosong oleh kelaparan.

"Maafkan aku," bisiknya, suaranya bergetar. Ia mengulurkan kepingan emas dengan kedua tangan, seperti seseorang yang menyerahkan permohonan ampun. "Aku harap kalian dapat memaafkan aku dan ayahku. Ambil emas ini. Untuk kalian bertahan hidup."

Seorang lelaki tua menatap kepingan emas itu. Tangannya tidak bergerak. Rahangnya mengeras. "Kami tidak ingin." Suaranya datar, namun matanya menyala. "Kami sangat mengutuk Raja Api."

"Lihat," ucap seorang ibu di belakangnya, suaranya parau namun tajam seperti pisau. "Raja Api akan mati dengan cara yang paling rendah. Serendah-rendahnya. Lebih rendah dari tanah kerajaan ini."

Kata-kata itu menghantam dada Iles. Matanya memanas. Bibirnya bergetar, dan air mata mengalir tanpa bisa ia tahan. Ia tidak menunduk. Tidak pergi. Ia tetap berlutut di sana, di tanah yang sama dengan mereka.

"Aku mohon..." Suaranya pecah. Tangannya masih terulur, emas itu masih menggantung di udara tanpa ada yang mengambil. "Terima ini. Aku tidak memiliki kuasa untuk melawan ayahku. Aku mohon. Emas ini, atau apa pun yang kalian mau—ambil dari tas ini. Aku mohon."

Beberapa tangan akhirnya terulur. Jari-jari kurus mengambil sekeping, dua keping—cukup untuk makan sehari, dua hari. Namun sebagian lainnya berpaling. Ada yang meludah ke tanah. Ada yang menutup matanya. Ada yang bahkan tidak sudi menyentuh, seolah emas itu terbakar oleh dosa sang raja.

Iles bangkit perlahan. Kakinya melangkah kembali ke kereta kuda yang berlapis emas—kereta yang kini terasa seperti sangkar. Ia duduk di dalamnya, punggungnya bersandar, dan kata-kata rakyat tadi terus berputar di kepalanya. Lebih rendah dari tanah kerajaan ini. Jari-jarinya mencengkeram tepi kursi.

"Aku sangat tidak berdaya dengan ini semua," bisiknya pada dirinya sendiri. Matanya menatap ke arah istana yang menjulang di kejauhan. "Aku harus menemui Ayah. Untuk menghentikan ini."

Kereta berhenti. Iles turun dan berjalan. Bukan berlari—berjalan dengan langkah tegas, dagu terangkat, tekad mengeras di setiap hentakan kakinya. Gerbang istana terbuka di hadapannya, dan ia masuk tanpa menoleh ke belakang.

"Ayah!" panggilnya, suaranya menggema di koridor marmer. "Di mana Ayah? Aku ingin berbicara dengan Ayah!"

Langkah kaki berat terdengar dari balik pilar. Raja Api muncul, langkahnya lebar dan mantap, dagunya terangkat seperti biasa. Senyumnya lebar—bukan senyum seorang ayah yang merindukan putrinya, melainkan senyum seorang raja yang puas dengan kerajaannya.

"Iya, Putriku. Ada apa?" Ia merentangkan tangan, seolah menyambut tamu kehormatan. "Bagaimana kalau kita bersenang-senang dengan kereta kudamu yang berlapis emas? Ayo, Ayah akan menyiapkan makanan istimewa."

Iles menarik napas. Dadanya naik-turun. Kata-kata rakyat itu masih bergema di telinganya. Mereka kelaparan. Mereka menderita. Dan di sini, ayahnya mengajaknya makan makanan mewah.

"Cukup, Ayah." Suaranya keluar lebih keras dari yang ia inginkan. "Ayah tidak melihat rakyat di luar sana? Mereka menderita. Mereka kelaparan. Dan Ayah di sini, dengan santai, mengajak aku makan makanan mewah?" Matanya memanas, namun ia tidak mundur. "Ayah kelewatan. Ayah tidak memiliki hati."

Senyum Raja Api lenyap.

"Iles." Suaranya turun satu oktaf. Dingin. Tajam. "Apa kau tahu sedang berbicara dengan siapa? Aku ayahmu. Dan aku raja di sini." Ia melangkah maju, satu langkah, dan Iles merasakan udara di sekelilingnya menipis. "Jadi diam. Bila kau masih ingin berada di istana ini." Jarinya terangkat, menunjuk lurus ke wajah putrinya. "Ingat ini baik-baik. Ayah tidak akan mengubah keputusan Ayah."

Iles terpaku. Bibirnya terbuka, namun tidak ada suara yang keluar. Matanya membelalak, menatap ayahnya seolah baru pertama kali melihat wajah itu. Bukan wajah yang ia kenal. Bukan wajah yang pernah tersenyum padanya di taman istana.

Ia berbalik. Langkahnya cepat, semakin cepat, hingga menjadi lari. Jubahnya terseret di lantai marmer. Air matanya sudah mengalir sebelum ia mencapai pintu kamarnya.

Di dalam kamar, pintu tertutup. Iles merosot ke lantai, punggungnya bersandar di kayu. Tangannya menutup mulutnya, menahan isakan yang meledak dari dadanya.

"Aku tidak percaya..." bisiknya di antara jari-jarinya. "Ayah membentakku."

Air matanya menetes. Satu. Dua. Jatuh ke punggung tangannya. Ia tidak menghapusnya. Ia hanya duduk di sana, di lantai kamarnya yang dingin, menatap kosong ke depan, mencoba memahami bagaimana suara yang tadi meneriakinya berasal dari orang yang sama yang pernah menggendongnya saat ia kecil.

1
Siti Aisyah
Yuk kak saling support baca juga novelku ya ka🙏
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: aku mampu ya k 🙏
total 1 replies
Ronggo Lasem
mampir nih bang jn lupa mampir balik😄
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: siap ka
total 1 replies
Jeffie Firmansyah
hadir semangat Thor,
jangan putus di tengah jalan ya💪💪💪
MOBIL Le
selamat malam semngat trus
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: malam juga 🤣
total 1 replies
Penulis2426
mampir nih
CNNTAYY
ini cerita nyaa seruu! semangat yaa/Smile//Smile/
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: serius ka 🥺
total 1 replies
CNNTAYY
kak ayokk saling support..
buat yang mau baca mampir
💪💗💗
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: siap ka
total 1 replies
yodi gaming
ada romance ny kh ini?🗿
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: ini lagi menceritakan masa lalu dulu flashback
total 2 replies
yodi gaming
gpp semangat terus ya nulisnya🙌✨
yodi gaming
penulisan kamu bagus😳
yodi gaming: iya, tulisan aku aja masih berantakan😅
total 2 replies
yodi gaming
jangan lupa mampir di novel kubya😚✌️
yodi gaming: iya tentang kehidupan kerja juga, tp ad penghianat ny
total 2 replies
yodi gaming
keren🙌
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
halus
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
maaf kalo Nulisan nya terlalu pendek aku lagi sakit jadi nulis nya dikit dikit
dan maaf bilah kurang haku
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: 👍👍💪 semngat pasti tapi sistem
total 2 replies
Nazzzwa
👍👍👍
Nazzzwa: okeyy
total 2 replies
Chaniaa12
seru jugaa
Chaniaa12
menarik nih
MOBIL Le
kaya iya dan ia mending di hapus satu ka biar mengalir
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: laksanakan
total 1 replies
MOBIL Le
lanjutin terus semangat nulis nya klo ada waktu lanjutin baca . aku mau tanya menurut kalian yang baca novel ini Giman . seru apa gak?

ayo teman teman kita dukung setiap ada karya baru. biar mereka bisa berkembang dalam setiap langkah nya . dan meningkatkan alur cerita nya
CNNTAYY: tolong support aku juga kak💗
total 1 replies
vania_
Keren, Kak. Aku mampir nih🤗
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: ka bisa saling favorit biar bisa sering
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!