Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!

​Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27.Lukisan

Matahari hari Sabtu baru saja mengintip malu-malu di balik tirai jendela kamar utama mansion Diksara, menyapukan cahaya keemasan yang malas di atas karpet beludru tebal. Jarum jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi—waktu di mana bagi seorang CEO workaholic seperti Damar Diksara, tidur lelap adalah satu-satunya kemewahan mutlak setelah sepekan penuh berjibaku dengan grafik saham, rapat direksi yang menguras otak, dan desas-desus rapat darurat yang melelahkan.

Pria itu masih terlelap dalam posisi telentang di atas sisi kiri ranjang king size mewah tersebut. Napasnya teratur, dan selimut tebal menutupi sebagian tubuh atletisnya. Wajahnya yang biasanya menyeringai dingin, kaku, dan penuh intimidasi saat mengenakan setelan jas kantor, kini tampak jauh lebih tenang, damai, dan—harus diakui—sangat tampan dalam balutan piyama tidur polos berwarna abu-abu gelap.

Namun, kedamaian absolut itu tidak ditakdirkan bertahan lama. Di sisi kanan ranjang yang dipisahkan oleh sebuah guling tebal sebagai "garis demarkasi" alias bantal pembatas suci antara mereka berdua, sesuatu mulai bergerak.

Naya baru saja melangkah masuk kembali ke dalam kamar utama setelah ia sempat bangun lebih awal untuk mencuci muka dan merapikan diri di kamar mandi luar. Gadis itu melangkah riang menghampiri tempat tidur, mengenakan baju tidur beretsel piyama katun bergambar kucing oranye yang sedang menguap lebar. Rambut panjangnya dicepol tinggi secara asal-asalan di atas kepala, membuatnya terlihat seperti gadis remaja yang baru saja kabur dari asrama kampus alih-alih seorang istri sah dari pewaris tunggal tahta Diksara Group.

Tanpa basa-basi, Naya langsung melompat ke atas tempat tidur dengan gerakan akrobatik yang sama sekali tidak elegan.

HUP!

"WAAAH, BANGUN, MAS KULKAS! WAKTUNYA KITA MENYONGSONG HARI CERAH!" teriak Naya melengking tepat di sebelah telinga kiri suaminya, sambil mengguncang-guncangkan bahu bidang Damar sekuat tenaga bak alarm kebakaran berjalan.

Damar sontak terperanjat hebat. Jantungnya nyaris copot dari rongga dada. Dengan refleks terlatih seorang mantan atlet bela diri semasa kuliah, sebelah tangannya langsung bergerak mencengkeram pergelangan tangan Naya, sementara mata tajamnya terbuka lebar, siap siaga menghadapi serangan musuh atau perampok profesional.

Namun, yang ia temukan bukanlah pembunuh bayaran atau gempa bumi, melainkan sosok istri absurdnya yang sedang nyengir lebar tanpa dosa sedetik pun, menampilkan deretan gigi putih bersih selayaknya iklan pasta gigi.

Damar mengerjap-ngerjap beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih melayang di alam mimpi. Napasnya naik-turun memburu akibat kaget yang luar biasa. Ia menatap Naya tajam dengan dahi yang berkerut dalam, mencoba memasang ekspresi paling menyeramkan yang ia miliki.

"Naya..." panggil Damar dengan suara serak khas bangun tidur yang terdengar begitu seksi sekaligus berbahaya. "Kamu sadar nggak ini hari apa, hah? Ini hari Sabtu. Hari di mana semua manusia normal di muka bumi ini menggunakan waktunya untuk tidur nyenyak, bukan untuk dijadikan korban uji nyali jam setengah tujuh pagi!"

Alih-alih merasa takut atau ciut, Naya justru semakin mendekatkan wajahnya, menatap Damar dengan mata berbinar-binar penuh antusiasme yang kelebihan dosis kafein.

"Dih, dibilangin malah protes!" sergah Naya santai sambil menepuk-nepuk paha Damar pelan. "Waktu itu kan perjanjiannya kita mau jalan-jalan ke pameran seni sama festival kuliner tradisional akhir pekan ini! Kalau kesiangan, nanti keburu diserbu emak-emak senam aerobik, Mas! Keburu kehabisan cilok mercon sama es doger legendaris di sana! Ayo bangun, cuci muka, sikat gigi, terus pasang senyum paling ganteng kamu!"

Damar menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Ia merebahkan kembali kepalanya di atas bantal empuk, melipat kedua tangannya di dada sambil membuang muka ke arah jendela.

"Saya tidak mau," tolak Damar datar dengan nadanya yang dingin. "Jadwal saya hari ini adalah tidur minimal sampai jam sebelas siang, lalu melanjutkan hidup dengan merenungi nasib punya istri yang hobi bikin darah tinggi."

Mendengar penolakan itu, mata Naya langsung menyipit licik. Gadis itu tidak kehabisan akal. Dengan gerakan kilat, ia menarik selimut tebal yang menutupi tubuh Damar, lalu mulai menggelitiki pinggang suaminya tanpa ampun.

"Ih, ngelawan ya! Dibilangin gak boleh malas-malasan!" seru Naya sambil tertawa cekikikan, melancarkan serangan jemari mautnya.

Damar yang memiliki titik geli di area pinggang langsung menggeliat kaget. Pertahanan dinginnya runtuh seketika dalam waktu tiga detik. Pria itu spontan tertawa kecil sambil berusaha menepis tangan Naya, mencoba menyelamatkan harga dirinya sebagai CEO yang disegani ribuan karyawan.

"Heh! Stop, Naya! Ampun! Jangan di situ!" cerca Damar di sela-sela tawanya yang tertahan, berusaha menangkap pergelangan tangan istrinya. "Iya, iya! Saya bangun! Jangan bikin rusuh di kasur kita!"

Naya langsung menghentikan serangannya, lalu duduk bersila di atas batas guling pembatas kasur dengan gaya jagoan kampung yang menang taruhan balap liar. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dengan senyuman kemenangan terpampang nyata di wajahnya.

"Nah, gitu dong! Nurut sama pawang! Sana buruan mandi air hangat biar aura juteknya luntur, terus kita cuss berangkat!" perintah Naya riang, lalu turun dari tempat tidur dan melangkah menuju lemari untuk menyiapkan pakaian suaminya.

Damar terbaring diam di atas tempat tidur selama beberapa detik, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong bercampur rasa takjub yang aneh. Sialnya, alih-alih merasa marah karena tidurnya diganggu secara brutal, sudut bibir pria itu justru terangkat membentuk senyuman lebar yang sangat tulus. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya—bukan karena takut, melainkan karena ia menyadari betapa rumah besar yang tadinya terasa dingin dan kaku ini kini mendadak terasa hidup, hangat, dan jauh lebih berwarna berkat kehadiran gadis absurd tersebut.

Dasar istri ajaib, batin Damar menggeleng-gelengkan kepala, sebelum akhirnya memutuskan beranjak dari tempat tidur dengan perasaan yang diam-diam jauh lebih bersemangat menyambut hari ini.

Satu jam kemudian, mobil SUV mewah berwarna hitam legam milik Damar sudah membelah jalanan kota menuju kawasan galeri seni kontemporer dan pusat festival kuliner tradisional yang terletak di jantung kota.

Di dalam mobil, suasana sama sekali tidak sunyi. Naya sibuk bernyanyi mengikuti alunan lagu pop jadul yang diputar di radio, jari-jarinya mengetuk-ngetuk dashboard mobil dengan riang, sementara Damar yang duduk di balik kemudi hanya bisa melirik sesekali sambil tersenyum tipis, menikmati pemandangan langka di sampingnya.

"Kamu ini ya, hobi banget nyanyi lagu-lagu tahun sembilan puluhan. Suara pas-pasan begitu tapi PD-nya selangit," komentar Damar iseng, sengaja memancing perdebatan kecil agar suasana semakin cair.

Naya langsung menoleh, melotot protes dengan kedua tangan berkacak pinggang di kursi mobil. "Eh, enak saja! Suara saya ini merdu bagai bulgari bernyanyi, ya! Asal tahu saja, waktu SD saya pernah juara tiga lomba karaoke tingkat kelurahan, kategori lagu dangdut koplo campur sari! Jangan sepelein kapasitas vokal seorang Naya!"

Damar mendengkus geli, tertawa renyah hingga suara baritonnya yang terdengar maskulin menggema di dalam kabin mobil. "Juara tiga dari tiga peserta ya? Pantas bangga banget."

"Yee, dihina! Awas ya nanti kalau saya minta traktiran es kelapa muda, saya beliin yang paling basi!" ancam Naya pura-pura ngambek, meski matanya berbinar jenaka.

_Bersambung

1
Runa fatia
rada ngakakkk ngebayangin wajah damar🤣🤣🤣 apa ga malu kali tuh
Luna
toh akhirnya si damar jadi ikutan stress juga kayak naya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣aset dua milyar🤣🤣🤣🤣🤣bangke si Naya ini
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣njir baperan kali si damar
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
siap siap aja mama Ratna nyetok obat darah tinggi, stroke, jantung, asma🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Penulis kentang🍠: asli suka ngakak kebayang muka mama ratna🤣
total 1 replies
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣awal yg bagus
Bambang Suanto
lanjut
Golda
😂😂😂
Diki Nd
🤣🤣🤣
Diki Nd
🤭🤭🤭
dinda aja
sukaaa kak
Pendi Gudung
sukaaa
Fadillah Langsa
ngakak terus
Ijal Messi
makanya tante diam aha🤣🤭🤣
Ijal Messi
pliss seru banget
li za
lucuuu🤭
li za
🤣🤣🤣
li za
seruuu yahh
Tugu Opak
seruuu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!