Indonesia
NovelToon NovelToon
Kurebut Pacarmu

Kurebut Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: gadis bucin

Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.

​Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.

​Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Rekaman yang Pecah dan Janji di Balik Duka

Layar monitor besar di tengah gudang tua itu seketika menampilkan barisan data finansial yang terus bergerak acak. Pak Broto, pengacara tua yang memegang dokumen pengambilalihan aset, mendadak membeku di tempatnya.

Sistem proteksi yang dirancangnya selama belasan tahun kini dibongkar paksa oleh kombinasi peretasan Narendra dan Cassandra. Aroma oli mesin dan garam laut dari luar gudang seolah makin menambah ketegangan di udara.

"Ini... ini enggak mungkin!" teriak Pak Broto histeris dengan wajah yang memucat pasih. "Kalian cuma sepasang anak SMA, gimana bisa menembus enkripsi tingkat militer ini?!"

Narendra melangkah maju satu tindak, menyunggingkan senyum miringnya yang amat khas dan penuh kemenangan. Jemarinya masih menari lincah di atas jam tangan pintar yang terhubung langsung ke server kejaksaan.

"Kita memang cuma anak SMA, Pak," balas Narendra dengan suara tenang namun menekan. "Tapi kita anak SMA yang tahu kalau setiap kejahatan lama pasti menyisakan celah di sistem barunya."

Cassandra mengimbangi langkah Narendra, menggenggam erat jemari cowok itu di bawah pendar cahaya monitor. Rasa takut yang sempat melumpuhkan dadanya kini sepenuhnya berganti menjadi keberanian utuh.

Di sudut ruangan, Nabila terduduk lemas di atas tumpukan peti kayu yang berdebu. Cewek itu menatap layar monitor dengan mata berkaca-kaca, menyadari bahwa seluruh skenario palsu yang ditawarkannya telah runtuh.

"Cas... maafin gue," bisik Nabila dengan suara bergetar dan amat rapuh. "Gue terdesak, adik gue butuh biaya operasi ginjal minggu ini dan Pak Broto janji bakal menanggung semuanya."

Cassandra memandang teman sebangkunya itu dengan tatapan penuh rasa iba yang mendalam. Kebencian yang sempat membakar dadanya perlahan terkikis oleh kenyataan pahit di balik pengkhianatan sahabatnya sendiri.

"Gue paham rasa sakit lu, Bil," sahut Cassandra pelan namun penuh kepastian. "Tapi mengorbankan keluarga orang lain demi keluarga sendiri bukan jalan keluar yang benar."

Pak Broto secara mendadak mengarahkan sebuah tongkat lipat besi ke arah Narendra dengan raut wajah penuh keputusasaan. "Kalian enggak akan pernah bisa keluar dari gudang ini membawa bukti itu!"

Namun, sebelum pria tua itu sempat mengayunkan senjatanya, suara sirine mobil kepolisian meraung-raung dari arah gerbang depan pelabuhan. Lampu merah dan biru memantul dramatis di dinding-dinding beton gudang yang retak.

Pasukan SWAT bersama belasan petugas kejaksaan menerobos pintu besi gudang dengan senjata lengkap. Dalam hitungan detik, Pak Broto dan para pengawalnya berhasil dilumpuhkan tanpa sempat melakukan perlawanan berarti.

Ibu Cassandra yang telah dibebaskan langsung berlari menembus kerumunan petugas, merengkuh tubuh putrinya dalam pelukan hangat yang sangat erat. Isak tangis haru memecah keheningan, di antara serakan dokumen yang berhamburan di lantai.

Pukul 20.00 WIB.

Suasana kedai kopi kecil di sudut Jakarta Selatan terasa begitu hangat dan menenangkan. Suara alunan musik indie-pop yang diputar pelan berpadu cantik dengan aroma biji kopi yang baru diseduh.

Cassandra dan Narendra duduk berhadapan di meja sudut dekat jendela besar yang memantulkan rintik hujan gerimis. Di atas meja mereka menumpuk dua piring kentang goreng, dua cangkir hazelnut latte, dan sebuah flashdisk berwarna perak.

"Lu beneran enggak apa-apa, Cas?" tanya Narendra pelan, seraya meraih jemari Cassandra yang melingkari cangkir hangatnya.

Cassandra mengangguk pelan, membalas genggaman tangan Narendra dengan senyuman tulus yang sangat manis. "Gue merasa lega banget, Ren. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, gue bisa bernapas tanpa beban bayang-bayang masa lalu."

Narendra menatap wajah Cassandra dengan raut penuh kehangatan yang amat jujur. Cowok itu mengusap punggung tangan Cassandra menggunakan ibu jarinya, menciptakan getaran halus yang membuat pipi Cassandra merona merah.

"Gue bangga sama lu," bisik Narendra lembut seraya menatap lurus ke dalam mata cokelat Cassandra. "Lu cewek paling tangguh yang pernah gue temui seumur hidup gue."

"Lu juga cowok paling nekat yang pernah ada," goda Cassandra seraya tertawa kecil, berusaha menutupi rasa canggung akibat perlakuan manis Narendra. "Luka di bahu lu kan belum sembuh total, tapi sok-sokan gaya berantem di gudang tadi."

Narendra tertawa lepas, menyandarkan kepalanya di tepi meja seraya menatap Cassandra tanpa berkedip. "Buat melindungi cewek kesayangan gue, luka sekecil ini doang enggak bakal terasa sakit, Cas."

Pipi Cassandra makin memerah mendengar perkataan tulus dari cowok di hadapannya. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkannya flashdisk perak milik almarhum ayahnya yang baru saja diserahkan pihak kejaksaan sebagai barang bukti terverifikasi.

"Di dalam flashdisk ini ada rekaman suara terakhir ayah gue sebelum kecelakaan itu terjadi," kata Cassandra dengan suara yang mendadak melunak penuh duka.

Narendra menegakkan duduknya, memberikan dukungan emosional penuh tanpa memotong kalimat Cassandra.

Cassandra menghubungkan flashdisk tersebut ke laptop portabelnya, lalu memasang salah satu earphone nirkabel ke telinga Narendra dan satu lagi di telinganya sendiri. Ia menekan tombol play pada pemutar suara.

Suara parau dan napas tersendat milik almarhum ayah Cassandra bergema pelan di antara denting rain-drop di jendela kedai.

"Cassandra... anak Ayah yang paling cantik," ucap suara di rekaman itu dengan nada yang amat lembut namun rapuh. "Kalau kamu mendengarkan rekaman ini, artinya Ayah sudah tidak bisa memelukmu lagi secara langsung."

Air mata Cassandra menetes perlahan membasahi pipinya. Narendra dengan sigap mengusap tetesan air mata itu menggunakan jemarinya, mendekatkan kursinya agar bahu mereka saling bersentuhan rapat.

"Ayah minta maaf karena belum bisa jadi pahlawan yang sempurna buat kamu dan Ibu," lanjut suara ayah Cassandra di dalam rekaman. "Tapi ingat satu hal, Cas, kebenaran tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh uang atau kekuasaan. Janji sama Ayah untuk tetap tersenyum dan mencintai hidupmu."

Rekaman suara itu berakhir dengan nada bising linier yang perlahan menghilang. Cassandra menyandarkan kepalanya di dada bidang Narendra. Membiarkan tangis harunya pecah dalam dekapan hangat cowok tersebut.

Narendra merengkuh tubuh Cassandra erat-erat. Mengusap rambutnya yang halus seraya mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala cewek itu. "Gue janji bakal bantu lu menjaga amanah Ayah lu, Cas."

Satu Hari Kemudian.

Suasana SMA Garuda mendadak geger di pagi hari yang cerah. Berita penangkapan Pak Broto dan pembongkaran skandal konspirasi keuangan terbesar yang melibatkan pejabat yayasan menjadi perbincangan hangat di setiap sudut koridor.

Cassandra dan Narendra berjalan bergandengan tangan menelusuri koridor utama sekolah menuju kelas mereka. Tatapan kagum dan bisik-bisik hormat dari para siswa mengiringi setiap langkah pasangan peretas muda tersebut.

"Rasa-rasanya kita kayak pahlawan film komik yang baru selesai menyelamatkan kota," seloroh Narendra seraya menyenggol bahu Cassandra pelan.

Cassandra tertawa geli, menepok pelan lengan Narendra. "Gaya lu melejit banget! Inget ya, nanti jam istirahat lu harus ngajarin gue materi fisika bab tiga!"

"Siap, Kanjeng Ratu," sahut Narendra dengan nada bercanda seraya memberi hormat secara dramatis yang membuat beberapa siswi di koridor bersorak gemas.

Namun, ketika mereka berdua baru saja sampai di depan pintu kelas XI IPA 2, seorang pria berjas serba putih berdiri menanti di dekat meja guru. Pria itu memegang sebuah amplop berlapis segel emas dengan lambang kedutaan besar internasional.

Pria berjas putih itu melangkah menghampiri Narendra dan Cassandra dengan raut wajah yang amat serius.

"Selamat pagi, Saudara Narendra dan Saudari Cassandra," sapa pria itu dengan nada suara yang resmi. "Saya diutus langsung oleh Dewan Keamanan Siber Internasional di Swiss."

Narendra mengernyitkan dahinya penuh rasa curiga. "Ada urusan apa lembaga internasional sama kami berdua?"

Pria berjas putih itu menyerahkan dokumen di dalam amplop segel emas tersebut ke tangan Cassandra.

"Aksi peretasan massal yang kalian lakukan untuk membongkar server pasar gelap tiga hari lalu, telah tidak sengaja meretas satelit komunikasi rahasia milik organisasi peretas global tingkat dunia," jelas pria itu dingin.

Ia menunjuk ke arah layar ponsel Cassandra yang mendadak menyala sendiri, menampilkan sebuah peta dunia digital yang dipenuhi titik-titik merah yang berkedip cepat.

"Organisasi tersebut telah mendeteksi identitas kalian berdua," lanjut pria itu seraya menatap mata Cassandra dan Narendra secara bergantian. "Dan mereka baru saja memberi tenggat waktu 24 jam, sebelum data pribadi seluruh siswa di sekolah ini dimusnahkan secara total dari dunia maya."

1
Ros Mawa Tyy
👍👍👍
gadis bucin: terima kasih 🤗🙏🏻
total 1 replies
gadis bucin
Teman-teman, silakan mampir dan baca karyaku. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. 🤗❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!