Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Pamitan, Istana Baru
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk lewat celah gorden kamar utama menyinari dua insan yang masih terbaring kaku. Di atas kasur king size yang luas itu, terdapat jarak tak kasat mata sepanjang satu meter di antara mereka.
Alexa terbangun lebih awal. Gadis mungil itu memegangi bibir tipisnya dengan jemari yang gemetar halus. Ingatan tentang kejadian semalam—tentang first kiss dadakan yang dicuri oleh pria di sampingnya—langsung berputar kencang di otaknya bagaikan kaset rusak. Wajahnya seketika memerah padam. Tanpa membuang waktu, Alexa melompat turun dari tempat tidur dengan gerakan sangat pelan, mengambil seragam sekolahnya, dan meluncur masuk ke kamar mandi untuk melarikan diri dari rasa salah tingkah yang membakar dada.
Ketika suara gemericik air terdengar dari kamar mandi, mata cokelat gelap milik Exel perlahan terbuka. Pria itu menatap langit-langit kamar dengan napas terengah pelan. Tangan kanannya terangkat, menyentuh bibirnya sendiri. Rasa manis dan hangat dari ciuman semalam masih tertinggal dengan sangat jelas. Sang CEO berdarah dingin itu memejamkan mata rapat-rapat, mengutuk kebodohan impulsifnya sendiri.
Satu jam kemudian, suasana di ruang tamu kediaman keluarga Pramudya terasa penuh haru. Pagi itu, setelah acara pernikahan privat yang heboh kemarin, orang tua Alexa bersiap melepas putri semata wayang mereka.
Surya Pramudya menggenggam erat tangan Exel. Wajah pria paruh baya itu memancarkan campuran rasa bahagia dan kecemasan seorang ayah.
"Exel," panggil Surya dengan suara berat yang penuh wibawa. "Papa titipkan putri semata wayang Papa padamu. Alexa memang masih sangat muda, kadang bising, cerewet, dan tingkahnya seperti anak kecil. Tapi dia adalah harta paling berharga yang Papa dan Mama miliki."
Exel menatap Surya dengan pandangan tegas dan penuh rasa hormat. "Iya, Pa. Exel mengerti."
"Tolong bimbing dia ya, Nak," tambah Sarah, Mama Alexa, dengan mata yang sudah berkaca-kaca seraya mengelus pipi tembam putrinya. "Jangan galak-galak sama Alexa. Kalau dia nakal atau cempreng, tegur dengan lembut. Sekarang dia sepenuhnya jadi tanggung jawabmu."
Alexa yang berdiri di samping Exel menunduk lesu, meremas rok abu-abu seragam sekolahnya. Rasa sedih karena harus berpisah dari orang tuanya mendadak mengalahkan rasa canggung pada Exel.
"Mama... Papa... Alexa nanti kangen," cicit Alexa dengan suara pelan—sebuah pemandangan langka di mana suara cemprengnya mendadak melunak.
Exel melirik ke arah gadis mungil di sampingnya. Ada sedikit desiran aneh di hatinya melihat raut sedih di wajah yang biasanya selalu heboh itu. Dengan gerakan kaku namun mantap, Exel memajukan tangannya dan merangkul bahu mungil Alexa, menepuknya pelan seolah memberi perlindungan.
"Mama dan Papa tidak perlu khawatir," ujar Exel mantap. "Saya akan menjaga Alexa dengan baik."
Siang harinya, seluruh keluarga berkumpul kembali di ruang makan kediaman utama keluarga Dirgantara untuk makan siang bersama sebelum anak-anak muda itu memulai lembaran baru.
Maria Dirgantara tersenyum sangat lebar seraya mengeser piring berisi hidangan penutup ke arah Alexa. "Alexa Sayang, makan yang banyak ya. Kamu kelihatan agak pucat hari ini. Apa... capek gara-gara acara kemarin dan malam pertama?"
Uhuk!
Alexa yang baru saja menyesap jus jeruknya seketika tersedak hebat. Pipi tembamnya langsung berubah warna menjadi merah padam bagaikan tomat matang.
"M-malam pertama apa, Tante—maksud Alexa, Mama!" seru Alexa heboh dengan suara cemprengnya yang sudah kembali ke performa maksimal. "Gak ada apa-apa kok, Ma! Semalam cuma... cuma tidur aja! Nyenyak banget malah!"
Hendra Dirgantara terkekeh pelan melihat menantu barunya yang heboh, sementara Exel hanya bisa meminum air putihnya dengan penekanan kaku untuk menutupi kecanggungannya sendiri.
"Nah, bicara soal tempat tinggal..." Hendra meletakkan sendoknya, menatap Exel dan Alexa secara bergantian. "Exel, Papa dan Mama sudah sepakat. Mulai hari ini, kamu dan Alexa akan tinggal di unit penthouse apartemen milikmu di kawasan Pusat."
Alexa mendongak kaget. "E-eh? Pindah ke apartemen, Om—eh, Papa?"
"Iya, Cantik," sahut Maria penuh semangat. "Biar kalian berdua punya ruang pribadi yang lebih leluasa. Kalau tinggal di rumah besar ini kan terlalu ramai dan banyak pelayan. Di apartemen, kalian bisa belajar mengurus rumah tangga berdua. Lagipula, jarak apartemen Exel ke sekolahmu cuma sepuluh menit!"
Exel mengangguk tenang. "Baik, Pa, Ma. Pindahan barang-barang Alexa sudah diurus oleh Achmad tadi pagi."
Alexa menelan ludahnya kaku. Tinggal berdua aja di apartemen privat sama Om Es Batu?! Dunia benaran mau kiamat! batin Alexa menjerit panik, membayangkan nasibnya yang harus berhadapan dengan suami dinginnya itu setiap hari tanpa ada benteng perlindungan dari orang tua.
Beberapa hari kemudian...
Roda kehidupan kembali berputar pada porosnya. Exel kembali berkutat dengan dunia bisnisnya yang dingin, sementara Alexa kembali menghirup udara persekolahan. Namun, status baru yang tersembunyi rapat-rapat di antara mereka membuat segalanya terasa jauh lebih rumit dari sebelumnya.
Di ruang kerja megah Dirgantara Group, Exel duduk di belakang meja mahoninya. Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang amat elegan. Namun, konsentrasinya terganggu oleh sosok pria di seberang mejanya.
Achmad. Asisten pribadi sekaligus sahabatnya itu sedang bersandar santai di kursi dengan cengiran paling mengejek yang pernah ada.
"Gimana, Bapak CEO?" goda Achmad seraya menaik-turunkan alisnya. "Gimana rasanya malam pertama dan hari-hari pertama tinggal satu atap sama Nyonya Dirgantara? Seru gak?"
Exel meletakkan pena mewahnya dengan bunyi dentang pelan, menatap Achmad dengan pandangan membunuh. "Kalau lu ke sini cuma mau bicara hal yang tidak penting, pintu keluar ada di sebelah kiri."
"Aduh, galak amat!" tawa Achmad meledak tanpa beban. Ia memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangan. "Tapi jujur ya, Cel... dari raut muka lu yang kaku ini, gua bisa tebak. Malam pertama kalian pasti... gagal total, kan?"
Exel mengetatkan rahangnya. "Bukan urusan lu."
"Hahaha! Gua udah duga!" gelak Achmad makin menjadi-jadi, menepuk mejanya pelan. "Lagian lu sih, Cel! Menikah sama gadis yang ibaratnya bunga belum mekar sempurna! Masih imut, mungil, seragam sekolah aja masih dipakai. Lu pasti bingung kan mau ngapain? Takut dituduh menganiaya anak di bawah umur, hahahaha!"
"Achmad," tegur Exel dengan suara rendah yang sangat berbahaya. Urat di leher sang CEO mulai bertambah tegang.
"Oke, oke, ampun!" Achmad menghentikan tawanya, walau binar jenaka masih terpancar jelas dari matanya. "Tapi ingat pesan gua, Bos. Bunga belum mekar itu kalau dirawat pakai kasih sayang, mekarnya bakal indah banget. Lu jangan kaku-kaku amat jadi suami. Nanti kalau si Botol Yakult disamber cowok lain di sekolahnya, lu sendiri yang gigit jari."
Exel terdiam sejenak. Kata-kata Achmad barusan entah mengapa memberikan desiran tidak menyenangkan di dadanya. Pria lain di sekolah Alexa? Exel mengepalkan tangannya di balik saku celana.
"Tidak ada yang berani menyentuhnya," pangkas Exel kaku dan dingin.
"Widih... bau-bau posesif nih!" ledek Achmad lagi sebelum dengan sigap melompat berdiri dan berjalan menuju pintu. "Gua mau pantau lapangan dulu ah, sebelum dilempar dokumen sama Pak CEO!"
Setelah Achmad keluar, ruangan kembali hening. Exel menyandarkan punggungnya, memandangi layar ponselnya yang menampilkan wallpaper standar. Jemarinya menari-nari di atas layar, membuka aplikasi pesan singkat, menatap nama kontak: Alexa. Namun, gengsi setinggi langit menahannya untuk mengetik satu kata pun.
Sementara itu, di sudut kantin SMA Garuda...
Suasana kantin sangat riuh oleh gelombang siswa yang mengantre makanan. Di meja pojok favorit mereka, Alexa, Rin, Safi, dan Melati duduk mengepung mangkuk bakso dan es teh.
Namun, tidak seperti biasanya di mana mereka tertawa bebas, kali ini posisi duduk mereka sangat rapat. Kepala keempat gadis itu saling mendekat di tengah meja, membentuk lingkaran bisik-bisik yang sangat mencurigakan.
"Psst! Ca! Cepat cerita!" bisik Rin dengan suara sepelan mungkin, matanya melirik cemas ke kanan dan ke kiri agar tidak ada anak kelas lain yang mendengar. "Gimana rasanya malam pertama di apartemen mewah?! Kamu... kamu udah 'sah' luar dalam belum sama Om Es Batu itu?!"
"Aiyo, Rin! Kau ni tanya langsung ke inti masalah betul!" tegur Safi pelan dengan logat Melayu khasnya, meski matanya sendiri berbinar-binar penuh rasa kepo. "Tapi aku pun penasaran juga, Ca... Kau tak kena makan hidup-hidup kan dengan CEO tu?"
Melati hanya bisa menutup mulutnya sambil tertawa halus melihat wajah Alexa yang mendadak kembali membara merah bagaikan kepiting rebus.
"Kalian ini bisik-bisiknya kencang banget tahu gak!" cicit Alexa panik, matanya melotot heboh seraya menutupi dadanya dengan kedua tangan mungilnya. "Pelanin suaranya! Nanti kalau anak-anak kelas sebelah dengar gimana?! Bisa geger se-sekolah kalau tahu si Botol Yakult ini udah nikah!"
"Ya makanya kamu cerita cepat, Nyonya Dirgantara!" goda Rin sambil mencubit pelan lengan Alexa.
Alexa menghela napas panjang, menundukkan kepalanya dalam-dalam ke atas meja. "Gak ada apa-apa, Rin, Safi, Melati... Malam pertama gatot! Gagal total!"
"Hah?! Gagal?!" seru Safi dan Rin bersamaan dengan bisikan yang agak terlalu nyaring, membuat Melati cepat-cepat membungkam mulut mereka berdua.
"Kenapa bisa gagal, Ca?" tanya Melati penasaran.
"Ya... ya gimana gak gagal!" racau Alexa heboh sambil meremas sedotan es tehnya. "Dia itu kan kaku banget kaya kanebo kering! Terus... terus masa semalam dia... aaaa! Malu banget ceritanya!"
"Dia ngapain, Ca?!" tuntut Rin makin kepo.
Alexa menyembunyikan wajah panasnya di antara kedua telapak tangannya, mengingat kembali momen ciuman pertama mereka yang mencuri napasnya di kegelapan malam.
"Dia... dia cuma ketidaktahuan aja!" elak Alexa bohong demi menutupi fakta bahwa bibirnya sudah dicuri oleh Exel. "Lagian kami kan udah janji ini cuma formalitas enam bulan! Jadi kami tidur dipisah jarak sejauh Samudra Pasifik di atas kasur!"
Rin menyipitkan matanya tajam, menatap sahabatnya yang penuh dengan salah tingkah itu. "Muka kamu merah banget gitu, Ca. Kamu yakin gak ada kejadian 'khusus'?"
"Gak ada! Sumpah demi boba rasa Taro favorit kita!" seru Alexa heboh. "Lagian aku ini masih sekolah! Masih mau fokus lulus ujian nasional, mau main sama kalian! Mana mau aku dipikirin urusan dewasa kaya gitu!"
Safi tertawa terkekeh, mengelus bahu mungil Alexa. "Iya lah, Ca. Kau tenang je. Tapi betul kata Rin, kau kena hati-hati di sekolah. Jangan sampai ada yang tahu status kau ni. Kalau cikgu atau budak-budak lain tahu kau dah jadi bini orang kaya, habislah."
"Iya, Safi... Aku juga takut banget," cicit Alexa lesu. "Makanya cincin kawinnya aku pasang di kalung terus aku sembunyiin di balik seragam."
Melati tersenyum hangat. "Semangat ya, Alexa. Walau suamimu kelihatan galak, tapi waktu acara kemarin aku lihat dia sebenarnya perhatian banget lho sama kamu. Matanya gak pernah lepas dari kamu."
"Perhatian dari mananya, Melati..." gumam Alexa memayunkan bibirnya. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, desiran hangat kembali muncul saat teringat bagaimana Exel merangkul bahunya kaku saat pamitan pada orang tuanya tadi pagi.
Saat mereka berempat sibuk berbisik-bisik, tiba-tiba seorang siswa laki-laki bertubuh jangkung—ketua OSIS SMA Garuda—melangkah mendekati meja mereka dengan tersenyum ramah.
"Hai, Alexa," sapa ketua OSIS itu manis. "Nanti sore ada latihan organisasi, kamu bisa ikut kan?"
Alexa tersentak kaget, langsung mendongak kaku. "E-eh? Kak Dimas... B-bisa kok, Kak!"
Dari sudut meja, Rin menyenggol kaki Melati seraya tersenyum misterius. Dunia sekolah Alexa yang biasa kini mulai bersinggungan dengan status rahasianya sebagai istri dari CEO paling dingin di Jakarta. Dan tanpa Alexa tahu, babak baru dalam kehidupan rumah tangga rahasianya bersama Exel Dirgantara baru saja dimulai.