Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!
Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!
IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Pertama Sang Calon Menantu
Terkadang, batas antara kebencian dan rasa nyaman hanya terpisah oleh sekat tipis yang perlahan mengikis tanpa pernah kita sadari.
Berdiri di lorong mall yang megah dengan bahu merosot, aku memandangi tumpukan paper bag tebal di kedua tanganku. Kantung dari butik Gucci, toko mainan impian Glenn, hingga gaun-gaun indah milik Gwen membuat kedua pergelangan tanganku mulai terasa panas dan pegal.
Di hadapanku, Varro berdiri santai dengan kedua tangan terbenam di dalam saku celananya, menatapku dengan senyum miring yang menghiasi wajah tampannya.
“Varro,” panggilku, menghentikan langkah.
“Iya, kenapa, Gisel cantik?” sahut Varro seraya menoleh halus padaku.
“Bantu gue bawain semua kantong belanja ini dong! Tangan gue mau patah rasanya,” jawabku seraya meringis pelan, menyodorkan beberapa kantung tebal ke arah dadanya.
Varro menaikkan sebelah alisku, tidak menunjukkan niat sedikit pun untuk meraih paper bag tersebut. “Bukannya lo udah biasa bawa barang-barang berat sebanyak ini?” tanya Varro dengan raut penuh kebingungan yang dibuat-buat.
Langkahku terhenti. Aku memicingkan mata, menatapnya penuh rasa curiga. “Iya sih... tapi lo tahu dari mana kalau gue terbiasa bawa barang berat?”
Varro tertawa pelan, membuang muka ke samping seraya menjawab asal. “Ya... kelihatan dari postur badan lo aja. Semua orang juga tahu kalau cewek mandiri kayak lo itu kuat bawa barang-barang berat.”
Aku mendengus keras, memutar bola mata jengkel. “Masa sih? Alasan lo gak masuk akal banget!”
“Yaudah, lo taruh dulu aja semua kantung itu di lantai. Gue punya solusi yang jauh lebih praktis daripada menguras tenaga pangeran tampan kayak gue,” kata Varro santai.
“Apa solusinya?” tanyaku bingung, meski tanganku tetap menahan tumpukan kantung belanjaan itu agar tidak menyentuh lantai mall yang dingin.
Varro merogoh ponsel pintarnya dari saku jaket, menempelkan benda itu ke telinganya setelah menekan satu tombol panggilan cepat.
“Halo. Suruh dua orang anggota patroli langsung datang ke mall lantai dua sekarang buat bawakan barang-barang. Gue tunggu lima menit,” perintah Varro dengan nada bariton yang tegas dan penuh komando.
Hanya dalam hitungan detik, ia mematikan sambungan telepon tersebut dan mengantongi ponselnya kembali. “Lo tunggu aja di sini. Lima menit lagi orang-orang gue sampai.”
Benar saja, tepat lima menit kemudian, dua pria bertubuh tegap dengan pakaian serba hitam melangkah cepat membelah kerumunan pengunjung mall. Mereka berhenti tepat di hadapan Varro lalu membungkukkan badan sembilan puluh derajat dengan sikap sangat patuh.
“Tuan Muda,” panggil kedua pria itu serempak dengan suara berat dan penuh rasa hormat.
Varro mengibaskan tangannya santai ke arah tumpukan belanjaan di tanganku. “Kalian bawakan semua barang ini ke dalam mobil, lalu antarkan langsung ke rumah orang tua cewek ini.”
“Baik, Tuan Muda!” jawab kedua anak buahnya cekatan. Tanpa menunggu waktu lama, mereka mengambil alih seluruh paper bag tebal dari cengkeraman tanganku yang memerah, membiarkan jemariku akhirnya bisa bernapas lega.
Aku memperhatikan punggung kedua pria tegap itu yang berjalan menjauh, lalu menoleh menatap Varro dengan dahi berkerut tajam. “Tunggu deh... emang lo tahu alamat rumah gue di mana?”
Varro menyunggingkan senyum misterius, menatap mataku lekat-lekat. “Gue tahu atau enggak, mereka pasti tahu. Anak buah keluarga Wijaya bisa melacak lokasi mana pun di kota ini dalam sekejap.”
Mata membelalak kaget. “Hah?! Lo nyari di mana orang-orang sepintar dan sekeren itu?”
“Bukan gue yang nyari, tapi Bokap gue,” jawab Varro santai seraya melangkah mendahuluiku menuju arah keluar.
Akan tetapi, kepanikan mendadak menyergap dadaku saat membayangkan tumpukan barang belanjaan bernilai ratusan juta rupiah itu sampai di depan pintu rumah sederhanaku lebih dulu.
“Oke, Varro! Terus kalau lo nyuruh mereka mengantarkan semua barang mahal itu ke rumah orang tua gue sekarang, gue harus kasih alasan apa ke Mama sama Papa?!” tanyaku panik setengah mati seraya mensejajarkan langkah dengannya.
Varro menghentikan langkahnya sejenak, membalikkan badan menghadapku. Senyum manis nan jahil terukir indah di bibirnya. “Bilang aja ke orang tua lo... itu semua hadiah dari calon menantu mereka.”
DEG!
Wajahku seketika membara panas. Darah rasanya mendidih naik ke kepala. “Varro! Lo gila, ya?! Kita aja belum pacaran!” bentakku seraya melayangkan satu pukulan lumayan keras tepat ke lengan kanan jaketnya.
Varro mengaduh pelan seraya tertawa renyah, sama sekali tidak merasa bersalah. “Tapi kita kan udah kencan seharian ini, Gisel cantik. Sama aja kayak pacaran, kan?”
“Tapi gak bisa pakai alasan konyol kayak gitu juga!” balasku kesal, meremas ujung bajuku sendiri.
“Terus lo mau pakai alasan apa lagi? Mau bilang dapet undian berhadiah dari supermarket?” goda Varro lagi seraya tertawa pelan.
Aku memalingkan wajah ke samping, enggan menatap mata cokelat gelapnya yang terus menggodaku. “Gue... gue gak tahu!”
Varro mengusap lembut puncak kepalaku, membuat dadaku makin berdesir gila. “Yaudah, ayo gue antar lo pulang sekarang sebelum orang tua lo kebingungan lihat dua pria berjas hitam datang membawa hadiah.”
Mobil sport mewah milik Varro membelah kemacetan jalanan ibu kota yang mulai diterangi pendar lampu jalan. Udara di dalam kabin terasa sejuk dan tenang, hanya diisi oleh alunan musik instrumen pelan dari head unit mobil.
Aku duduk menyandar di jok kulit, menatap ke luar jendela memperhatikan deretan bangunan yang makin akrab. Rumahku berada di dalam pemukiman padat penduduk dengan lorong jalan yang tidak terlalu luas.
“Gisel,” panggil Varro pelan seraya tetap fokus mengendalikan kemudi.
Aku menoleh. “Kenapa?”
Varro melirikku sekilas. “Gue... boleh masuk ke dalam rumah lo nanti?”
Dahiku berkerut heran. “Lo mau ngapain masuk ke rumah gue?”
“Bukannya lo butuh bantuan buat kasih alasan yang masuk akal ke orang tua lo soal tumpukan barang belanjaan itu?” tanya Varro memajukan alisnya.
Aku menunduk menatap jemariku di pangkuan. “Iya sih... tapi lo gak usah masuk kalau gak mau atau merasa canggung. Rumah gue kecil dan sederhana banget, gak kayak mansion lo.”
Varro menghentikan laju mobilnya tepat di mulut gang rumahku. Pria itu menoleh padaku penuh, tatapannya berubah begitu hangat dan lembut tanpa ada sedikit pun kesan menghina. “Gue mau kok masuk. Lagian, gue jamin lo gak bakal kena marah sama orang tua lo kalau ada gue di samping lo.”
Melihat keseriusan dan ketulusan di matanya, pertahananku runtuh. Aku menghembuskan napas pasrah. “Yaudah... terserah lo aja.”
Varro memarkirkan mobilnya di pelataran kecil tak jauh dari rumahku. Sebelum aku sempat menyentuh gagang pintu mobil, Varro sudah mengisyaratkan padaku. “Lo diam dulu di situ, jangan turun.”
“Emang lo mau ngapain sih?” tanyaku bingung.
Tanpa menjawab, Varro melangkah cepat memutari bagian depan mobil. Dengan gerakan yang sangat ksatria dan elegan, ia membukakan pintu mobil untukku seraya mengulurkan tangannya.
“Gue mau bukain pintu khusus buat putri cantik. Ayo turun!” seru Varro mengumbar senyum hangat.
Aku menatap uluran tangannya dengan pipi merona, lalu melangkah keluar. “Yaelah... gak usah sampai bukain pintu segala kali. Tapi... makasih ya.”
“Sama-sama, Gisel cantik,” balas Varro lembut seraya menutup pintu mobilnya.
Begitu kami melangkah masuk ke halaman rumah sederhanaku, pintu depan kayu berdecit terbuka. Mamaku berdiri di ambang pintu dengan raut wajah sangat terpukul dan bingung. Di dalam ruang tamu yang kecil, tumpukan paper bag tebal Gucci dan toko mainan tampak tertata rapi di atas sofa kain kami.
“Gisel! Kamu dari mana aja, Nak? Terus ini... barang-barang mahal sebanyak ini dari siapa?” tanya Mama panik begitu melihat keberadaanku. Namun, pandangan Mama seketika terhenti kaku saat melihat sosok pria tinggi tegap berpakaian modis yang berdiri di sampingku.
“Gisel... ini... pacar kamu?” tanya Mama kaget.
Varro melangkah maju satu tindak dengan gerakan sangat sopan. Pria yang biasanya dikenal arogan di kampus itu kini menundukkan kepalanya sedikit, mengulurkan tangan kanan untuk bersalaman dengan Ibuku.
“Halo, Tante. Saya Varro, teman kuliahnya Gisel,” ucap Varro memperkenalkan diri dengan nada suara yang amat santai namun penuh penghormatan.
Mama menerima uluran tangan Varro dengan raut wajah terpana. “Halo, Nak Varro...” Mata Mama beralih menunjuk sofa. “Varro... semua barang-barang belanjaan mewah ini... kamu yang beliin buat keluarga kami?”
Varro tersenyum hangat, menatap Mama dengan jujur. “Betul, Tante. Tadi saat di mall, Gisel bilang kalau dia pengin banget beliin hadiah buat Mama, Papa, Glenn, sama Gwen. Jadi, saya berinisiatif membelikannya untuk Om, Tante, dan adik-adiknya Gisel.”
Mama membelalakkan mata, menyentuh dadanya terharu. “Kamu... kamu udah kenal sama Glenn dan Gwen juga?”
“Iya, Tante. Kemarin saya sempat mampir sebentar. Sekarang mereka berdua ada di mana?” tanya Varro ramah.
Mama tersenyum penuh kehangatan seraya menunjuk sebuah pintu kayu berwarna cokelat tua di sudut ruangan. “Mereka berdua udah ketiduran di dalam kamar dari tadi sore.”
Tiba-tiba, Mama menatapku lalu memberi kode mata halus agar aku melangkah ke area dapur. “Gisel... bisa tolong buatkan teh hangat dulu di dapur buat Nak Varro?”
Aku mengerti isyarat Mama. “I-iya, Ma,” jawabku pasrah seraya melangkah menuju dapur, meninggalkan Varro dan Mama berdua di ruang tamu.
Setelah aku menghilang di balik tirai dapur, Mama menggeser posisinya sedikit mendekati Varro. “Varro... Tante mau tanya sesuatu secara pribadi, boleh?”
Varro mengangguk mantap, menatap mata Ibuku tanpa ada ragu sedikit pun. “Bisa, Tante. Silakan.”
Mama menghela napas pelan, menatap wajah tampan pria muda di hadapannya. “Varro... Tante mau tahu, hubungan kamu sama Gisel sebenarnya udah sampai tahap apa?”
Varro berdehem pelan, menjawab dengan nada sangat jujur tanpa ada kebohongan yang ditutupi. “Saya sama Gisel baru kencan sekali hari ini, Tante.”
Mama tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca melihat ketulusan pria itu. “Pantas saja... Seumur hidupnya, Gisel gak pernah yang namanya pacaran atau kencan sama cowok. Tadi pagi dia cuma izin mau pergi sebentar... ternyata kamu ya yang berhasil ajak dia kencan?”
Varro tersenyum menawan, membalas tatapan hangat Ibuku. “Iya, Tante.”
Mama memajukan tubuhnya sedikit, berbisik pelan. “Kamu beneran suka sama anak Tante yang galak dan keras kepala itu?”
Tanpa ragu sekejap pun, Varro menganggukkan kepalanya tegas. Matanya memancarkan ketetapan hati yang utuh. “Iya, Tante. Saya bener-bener suka sama Gisel. Saya kagum sama sifat mandiri dan ketulusan hatinya.”
“Terus? Kamu udah resmi pacaran sama dia?” selidiki Mama penasaran.
Varro tertawa kecil, menggelengkan kepala sopan. “Belum, Tante. Saya belum ajak Gisel pacaran secara resmi. Tapi saya sudah tahu apa saja yang harus saya lakukan untuk melunakkan dan mendapatkan hati Gisel sepenuhnya.”
Mama menatap keteguhan di wajah Varro, lalu menguji perasaan pria muda itu. “Terus kalau nanti Gisel ternyata menolak perasaan kamu, apa yang bakal kamu lakukan, Nak?”
Varro terdiam sejenak. Sorot matanya memancarkan rasa hormat dan pemahaman mendalam atas prinsip hidupku. Pria itu menyunggingkan senyum tulusnya.
“Saya gak akan pernah memaksa Gisel buat membalas perasaan saya secara instan, Tante. Saya menghargai semua keputusan dan batasan yang dia punya. Tapi saya bakal terus berusaha sebaik mungkin untuk membuktikan rasa sayang saya, sampai Gisel sendiri yang yakin buat membukakan hatinya buat saya.”
Mendengar ketulusan dan kedewasaan jawaban yang meluncur dari mulut ketua geng Starlit tersebut, senyum haru terukir lebar di wajah Mamaku. Rasa cemas beliau akan latar belakang keluarga kami yang jauh berbeda seketika sirna oleh sikap ksatria pria muda ini.
Mama menepuk bahu Varro pelan dengan penuh rasa kasih. “Kamu anak yang sangat baik dan tulus, Varro. Kamu tenang aja ya. Tante pasti bakal bantu kamu buat membujuk Gisel supaya dia mau diajak kencan lagi sama kamu besok-besok.”
Varro seketika tertawa riang, matanya berbinar bahagia mendengar lampu hijau pertama dari calon ibu mertuanya. “Siap, Tante! Makasih banyak ya!”
“Sama-sama, Nak Varro,” sahut Mama hangat seraya membalas senyuman lebar dari sang ketua Starlit.
Bersambung......