Indonesia
NovelToon NovelToon
Belenggu Cinta Sang CEO

Belenggu Cinta Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Gastor Gaming

Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.

Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jurang Keputusasaan

Rendra! Pegangan! jerit Maya seraya melompat dan mencengkeram erat pipa besi utama yang membentang di langit-langit ruangan server.

​Baskara! Raih tanganku! berteriak Rendra dengan raungan yang menembus derak besi yang patah. Ia berhasil mengaitkan kakinya pada kerangka pipa atas, mengulurkan tangannya sekuat tenaga ke arah Baskara.

​Aku tidak bisa mejangkaumu, Rendra! tangis Baskara pecah, jarinya hanya memotong udara kosong saat plat besi tempatnya berpijak makin miring drastis.

​Brak! Bzzzt!

​Baskara merosot cepat, namun dengan refleks sisa tenaganya, ia melemparkan drive portabel berisi data peretasan ke arah Rendra. Tangkap data Proyek Genesis itu! Jangan sampai jatuh ke tangan mereka!

Rendra menyambar drive kecil itu di udara, lalu menyangkutkannya ke dalam saku taktisnya. Baskara! Pegang kabel itu!

​Baskara berhasil mencengkeram gulungan kabel serat optik yang menggantung bebas, tubuhnya berayun di atas jurang gelap yang merembeskan uap hijau menyengat.

​Di bawah sana, raungan keras yang tak lagi menyerupai suara manusia bergema saling bersahutan. Ratusan makhluk subjek uji coba gagal bergerak saling tumpang tindih, mencoba memanjat dinding jurang untuk menggapai mereka.

​Sebuah pemandangan yang amat puitis, suara Sophia bergema dingin dari speaker darurat yang masih berfungsi di sudut dinding. Kalian bertaruh nyawa demi idealisme konyol, sementara evolusi sejati sedang merayap naik untuk memangsa kalian.

​Tutup mulutmu, Program Busuk! bentak Maya seraya melepaskan tembakan pistolnya ke arah lorong atas. Duar! Duar! Rendra, kita harus memanjat naik ke saluran udara sebelum makhluk-makhluk itu mencapai kabel Baskara!

​Aku tahu! sahut Rendra. Ia menatap ke bawah, ke arah Baskara yang bergelantungan dengan tangan gemetar. Baskara! Tarik tubuhmu naik! Gunakan kedua kakimu untuk menjepit kabel itu!

​Tenagaku sudah habis, Rendra! keluh Baskara seraya terbatuk-batuk menahan uap beracun yang mulai menaik. Gas ini... gas neurotoksin ini mulai melumpuhkan saraf tanganku!

​Jangan menyerah sekarang, Pria Tua! bentak Rendra keras. Anindya masih membutuhkanmu! Adrian masih bertarung di atas sana! Kau mau membiarkan cucumu lahir di tangan Sophia?

​Mendengar nama Anindya dan Adrian, mata Baskara membelalak. Rasa panik dan bersalah membakar sisa-sisa daya tahan tubuhnya. Anindya... Ya Tuhan, anakku...

​Ayo naik! desak Rendra lagi.

Sret! Sret!

​Salah satu subjek uji coba berukuran besar berhasil memanjat dinding beton, melompat dan mencengkeram kaki kanan Baskara yang menggantung!

​AAAGHHH! Lepaskan aku! jerit Baskara histeris saat beban berat menarik tubuhnya ke bawah. Kabel serat optik yang dipegangnya mulai terdengar meretas mau putus.

Krrkk...

​Baskara! Maya mengarahkan moncong pistolnya ke bawah, menembak tepat ke arah kepala makhluk yang menggantung di kaki Baskara.

​Duar!

​Kepala makhluk itu hancur, cengkeramannya terlepas dan jatuh kembali ke dasar jurang cairan hijau.

Namun dampak dari sentakan itu membuat genggaman tangan Baskara meluncur turun hingga ujung kabel.

​Rendra! Aku tidak sanggup lagi! teriak Baskara penuh keputusasaan.

​Maya, pegang kakiku! perintah Rendra cepat.

Tanpa ragu, Rendra membalikkan posisi tubuhnya, menggantung terbalik dengan bantuan kunci kaki Maya pada pipa utama, lalu menjulurkan dadanya sejauh mungkin ke bawah.

​Aku memegangimu, Rendra! Cepat! seru Maya dengan urat leher menegang menahan beban Rendra.

Raih tanganku, Baskara! Sekarang!" bentak Rendra dengan raungan memecah malam.

​Baskara mengerahkan seluruh sisa tenaganya, melompat dari kabel dan melempar kedua tangannya ke atas.

​TAK!

​Cengkeraman kulit bertemu kulit. Rendra berhasil mengunci pergelangan tangan Baskara tepat sebelum pria tua itu jatuh ke dalam jurang beracun.

​Dapat! jerit Rendra, otot-otot lengannya menegang hebat saat menarik tubuh Baskara naik ke atas kerangka pipa.

​Baskara terkapar terengah-engah di atas lorong pipa besi pelindung, dadanya naik turun dengan napas memburu. Terima... terima kasih, Rendra...

​Jangan senang dulu, sela Maya tegang seraya menunjuk ke arah celah kisi-kisi saluran udara di atas mereka. Lihat itu!

​Dari dalam saluran udara utama yang menjadi satu-satunya jalur evakuasi mereka, merembes keluar cairan kental berwarna abu-abu yang bergerak secara tidak alami.

Cairan itu memadat, membentuk kurungan barikade organik yang menutup penuh lubang ventilasi.

Apakah kalian benar-benar berpikir aku meninggalkan celah melarikan diri untuk kalian? suara Sophia kembali mengalun santai, memancarkan rasa dominasi mutlak.

Seluruh kompleks ini telah diisolasi secara biologi.

Tidak ada udara murni yang masuk, tidak ada manusia yang keluar.

​Sial! Barikade biomassa! seru Baskara seraya merayap mendekati barikade itu. Ini adalah senyawa protein buatan Sophia! Keras bagaikan baja jika terkena udara!

​Pistolku tidak akan mampu menembusnya! kata Maya frustrasi setelah memukul permukaan barikade yang terasa dingin dan licin.

​Rendra! Lihat pergelangan tanganmu! tiba-tiba Baskara berteriak dengan mata membelalak menatap tangan Rendra.

​Rendra mengernyitkan dahi, melirik tangan kanannya yang tadi digunakan untuk menarik Baskara. Di sana, terdapat bekas goresan kecil bercampur darah hitam dari subjek uji coba yang sempat memegang baju Baskara tadi.

​Ini... hanya goresan kecil, ujar Rendra santai, berusaha menepis kekhawatiran.

​Itu bukan sekadar goresan, Rendra! suara Baskara bergetar hebat. Darah mereka mengandung patogen mutator Proyek Genesis! Virus itu menular lewat kontak cairan tubuh!

​Maya tersentak mundur satu langkah, menatap Rendra dengan pandangan tak percaya. Rendra... Kau... Kau terinfeksi?

Rendra membeku. Ia memperhatikan luka goresan di tangannya. Urat-urat halus di sekitar luka itu perlahan-lahan mulai berubah warna menjadi hitam kebiruan, persis seperti garis racun yang pernah menyerang Adrian sebelumnya.

​Tidak... Ini tidak mungkin, desis Rendra, mencoba menahan rasa panas yang mendadak membakar pembuluh darah di lengannya. Aku baik-baik saja! Aku bisa mengendalikannya!

​Rendra, rasional lah! tangis Maya mulai pecah.

Dalam hitungan menit, virus itu akan menyerang saraf otakmu dan mengubahmu menjadi seperti makhluk-makhluk di bawah sana!

​Alur cerita yang sangat menarik, Sophia terkekeh dingin. "Pahlawan kalian kini menjadi ancaman terbesar bagi kalian sendiri.

Apa yang akan kau lakukan, Maya? Menembak rekanku sendiri sebelum dia mengoyak lehermu?

​Tutup mulutmu, Sophia! teriak Maya dengan suara melengking. Tangannya yang memegang pistol mulai gemetar hebat, terbagi antara rasa takut dan rasa setia kawan.

​Maya...Rendra menatap tangannya yang kian membengkak, warna hitam itu kini merambat naik mencapai siku fisiknya. Sensasi panas luar biasa membuat penglihatannya mendadak berbayang merah.

Jika... jika aku mulai kehilangan kesadaran... kau tahu apa yang harus kau lakukan.

Tidak! Aku tidak akan menembakmu, Rendra!" tegas Maya seraya menghapus air matanya kasar.

Pasti ada antibodi di dalam drive yang dibawa Baskara!

​Tidak ada waktu untuk mengekstrak antibodi di sini! potong Baskara tegang. Tapi... ada satu cara ekstrem.

​Apa jalannya? desak Maya cepat.

​Gunakan cairan hijau pekat di bawah jurang itu! tunjuk Baskara ke arah dasar jurang. Cairan itu adalah pelarut organik berdaya korosif tinggi! Jika kita memercikkan cairan itu ke barikade biomassa ini, pintunya akan meleleh! Tapi...

​Tapi apa? tanya Rendra seraya menahan geraman kesakitan saat urat hitam itu mencapai bahunya.

​Tapi seseorang harus turun ke bawah menggunakan wadah manual dan mengambil cairan itu langsung dari pusat aliran! jelas Baskara.

Dan siapapun yang turun ke sana... tidak akan pernah bisa naik kembali karena konsentrasi gas racunnya berada di tingkat seratus persen!

​Suasana di atas pipa besi itu mendadak hening. Hanya ada deru napas terengah-engah dari Rendra yang berjuang mempertahankan rasa kemanusiaannya.

​Klak.

​Rendra perlahan mencabut pistol dari jemari Maya, lalu menyimpannya di saku jas Baskara. Matanya yang sebelah kiri kini telah berubah warna menjadi merah menyala—tanda infeksi mutator telah menguasai separuh otak fisiknya.

​Rendra... Jangan...bisik Maya dengan suara tercekat di tenggorokan.

​Rendra tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit yang dipenuhi keberanian terakhirnya sebagai seorang manusia.

Baskara... jaga Maya, desis Rendra dengan suara yang mulai berubah berat dan berserak.

Dan sampaikan pada Adrian... pastikan dia menghancurkan wanita tua itu sampai ke akar-akarnya.

​Tanpa menunggu jawaban dari mereka berdua, Rendra membalikkan badannya dan melompat bebas dari atas pipa besi, terjun langsung ke dalam jurang gelap yang dipenuhi ratusan mata merah dan uap beracun!

​RENDRA! jerit Maya histeris, menyergap tepi pipa seraya mengulurkan tangannya ke arah kegelapan.

​BOOM!

​Sebuah ledakan reaksi kimia mendadak tercipta dari dasar jurang saat tubuh Rendra menghantam tangki utama cairan hijau.

Gelombang uap panas berwarna keemasan membumbung tinggi ke atas, menyapu seluruh ruangan server dan mulai mengikis barikade biomassa dengan kecepatan dahsyat.

​Namun, di tengah kepulan uap emas yang membedah kegelapan itu, sebuah guncangan gempa bumi berskala besar menghantam seluruh pondasi bawah tanah rumah sakit.

​Brak! Krrrkkk!

​Dinding-dinding beton retak terbelah. Dan dari balik asap tebal di dasar jurang yang terbakar, suara langkah kaki raksasa yang amat berat terdengar melangkah naik—bukan lagi Rendra yang mereka kenal, melainkan sosok monster biologis berukuran tiga kali lipat manusia biasa dengan zirah kulit hitam yang memancar cahaya merah membara di dadanya...

1
Om Udik
lanjut🙏
Om Udik
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!