Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengasuh Manis Sang Direktur

Pengasuh Manis Sang Direktur

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengasuh
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.

Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.

Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**

Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.

Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.

Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.

Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Aku yang Lindungi Kau

Nara

Pintu mobil belum berhenti bergetar ketika aku melihat tangan lelaki itu mencengkeram pergelangan Sekar.

Cabai berserakan di aspal. Ponselnya tergeletak dengan layar retak. Orang-orang membentuk lingkaran, dan Sekar berdiri di tengahnya dengan wajah pucat sambil terus berusaha menarik tangan.

Aku mengenali Sukir dari foto penyelidikan Bayu.

Aku melangkah cepat, meraih pergelangan tangannya, lalu menekan titik di antara tulang sampai jarinya melemah.

"Lepaskan tangannya. Sekarang."

Sukir mengumpat dan mencoba menepis. Aku tidak memukul. Aku hanya meningkatkan tekanan sampai cengkeramannya terbuka. Sekar langsung mundur ke belakangku.

Bekas jari merah melingkari kulitnya.

Kemarahanku menjadi sesuatu yang sangat dingin.

"Siapa kau?" bentak Sukir.

"Nara Adiwijaya."

Namaku membuat wajahnya berubah. Jadi benar, dia sudah mendengar gosip.

"Bagus," katanya. "Kalau kau majikannya, bayar utang anak ini. Setelah itu urusan selesai."

"Dia tidak berutang kepada siapa pun."

"Dia anak saya. Utang keluarga tanggung jawab keluarga."

"Bukan menurut hukum. Terlebih jika utang dipakai sebagai alasan memaksa perempuan dewasa menikah."

Sukir melirik orang-orang yang merekam. "Ini salah paham keluarga. Suruh mereka bubar."

"Tidak. Mereka saksi."

Aku mengambil ponsel dan menghubungi Bayu dengan pengeras suara.

"Saya di pasar dekat rumah. Sukir menahan Sekar dan mencoba membawanya. Hubungi polisi. Bawa pengacara dan salinan hasil pemeriksaan latar belakang."

"Lima menit," jawab Bayu. "Jangan biarkan dia pergi sebelum petugas datang."

Sukir bergerak mundur. "Saya tidak melakukan apa-apa."

Seorang pedagang perempuan menunjuknya. "Kami lihat Bapak menarik dan membekap mulutnya."

Lelaki muda mengangkat ponsel. "Saya rekam."

Sekar berdiri di belakang bahuku. Napasnya cepat, tetapi suaranya terdengar ketika berkata, "Dia memaksa saya pulang untuk dinikahkan dengan pemberi utang."

Aku menoleh. Dia tidak bersembunyi. Matanya masih takut, tetapi ia mengucapkan fakta di depan semua orang.

"Kau diam!" Sukir membentak.

Aku menghalangi pandangannya. "Jangan berteriak kepadanya lagi."

"Kau pikir karena kaya bisa mengambil anak orang?"

"Tidak ada yang mengambil Sekar. Dia memilih pergi dari orang yang hendak menjual hidupnya."

"Saya wali-nya."

Kata itu kusimpan. Dalam urusan pernikahan nanti, posisi Sukir bisa menjadi masalah yang perlu diselesaikan lewat jalur agama dan hukum yang benar. Hari ini, kewalian tidak memberinya hak menyeret perempuan dewasa dari pasar.

"Wali nikah bukan pemilik tubuh," kataku. "Dan tidak bisa memakai akad untuk membayar utang."

Wajahnya memerah. "Jangan ajari saya agama."

"Kalau begitu jangan gunakan agama untuk menutupi paksaan."

Suara sirene terdengar dari jalan utama. Sukir berbalik hendak pergi. Petugas parkir dan dua pedagang memindahkan gerobak, menutup jalurnya tanpa menyentuh.

"Saya harus pulang," katanya. "Tidak ada perkara."

"Sekar yang menentukan apakah ada laporan."

Aku menoleh kepadanya. "Kau mau melapor?"

Dia menatap Sukir, lalu pergelangan tangannya.

"Ya."

Satu kata itu membuat Sukir kehilangan sisa keberanian.

Dua petugas datang dan memisahkan semua pihak. Aku menyerahkan percakapan kepada Sekar lebih dulu. Dia menjelaskan urutan kejadian, menunjukkan luka, ponsel rusak, dan meminta saksi menyimpan video. Aku hanya menambahkan identitas serta informasi bahwa Bayu memiliki catatan ancaman sebelumnya.

Salah satu petugas menanyakan apakah Sukir membawa kendaraan atau ada orang lain yang menunggu. Sekar menunjuk arah tempat Bapak tadi berusaha menariknya. Petugas lain memeriksa area itu dan menemukan sebuah sepeda motor sewaan. Nomor pelat serta identitas penyewa dicatat, memastikan upaya membawa Sekar bukan ancaman kosong.

Pedagang sayur memberikan nama dan nomor telepon. Lelaki muda mengirim video asli tanpa memotong durasi. Aku meminta Bayu menyimpan salinan, tetapi tidak menyebarkannya. Sekar sudah cukup dipermalukan oleh foto yang beredar. Bukti harus melindungi, bukan menjadi tontonan baru.

"Apakah rekaman ini akan masuk media sosial?" tanya Sekar.

"Tidak dari pihak kami," jawab petugas. "Kami minta saksi tidak mengunggah sebelum pemeriksaan."

Aku melihat rasa lega kecil di wajahnya. Bahkan dalam bahaya, dia masih takut namanya kembali dijadikan bahan grup.

Sukir terus mengatakan ini urusan ayah dan anak. Petugas menegaskan hubungan keluarga tidak membenarkan penahanan atau kekerasan. Karena Sekar belum bersedia pergi ke kantor saat itu, laporan awal dan dokumentasi dibuat di lokasi, disertai undangan pemeriksaan lanjutan. Sukir diminta pergi setelah identitasnya dicatat dan diperingatkan tidak mendekati Sekar.

Sebelum menjauh, dia menatapku.

"Ini belum selesai. Kau tidak bisa menjaganya setiap saat."

Aku ingin menjawab dengan ancaman yang lebih keras. Sebaliknya, aku menunjuk kamera petugas dan puluhan ponsel.

"Ulangi lebih jelas supaya semua rekaman menangkapnya."

Dia menutup mulut, lalu pergi.

Bayu tiba tak lama kemudian bersama staf hukum. Mereka mengumpulkan nomor saksi, menyalin video, dan memastikan Sekar mendapat surat pemeriksaan luka. Polisi menjelaskan pilihan untuk melanjutkan pengaduan resmi setelah bukti medis tersedia.

"Saya ikut," kata Bayu. "Bapak bawa Sekar pulang."

Aku mengangguk.

Sekar membungkuk hendak memungut belanjaan. Aku lebih cepat mengambil ponselnya dan menyerahkan kepada Bayu untuk disalin. Lalu aku mengumpulkan kantong yang masih bisa diselamatkan. Santan sudah tumpah, cabai kotor, tetapi catatan harga kain terselip aman di saku tas.

"Ini penting?" tanyaku.

Dia mengangguk. "Untuk rencana usaha."

Di tengah semua kekacauan, dia masih memikirkan masa depannya. Aku menyimpan kertas itu dengan hati-hati.

Di mobil, Sekar duduk di kursi belakang bersamaku. Pengemudi menjalankan kendaraan perlahan. Aku menaikkan suhu pendingin dan mengambil kotak pertolongan pertama.

"Boleh saya lihat tanganmu?"

Dia menyerahkan pergelangan. Aku membersihkan goresan dengan kapas antiseptik. Ketika dia meringis, tanganku berhenti.

"Sakit?"

"Sedikit."

"Kita ke klinik."

"Tidak perlu."

"Untuk bukti medis, bukan hanya luka."

Dia terdiam, lalu mengangguk. "Baik."

Aku membalut pergelangannya longgar. Jaketku kulepas dan kuberikan kepadanya.

"Saya tidak dingin."

"Kau gemetar."

"Karena marah."

"Bisa keduanya."

Dia mengenakan jaket tanpa berdebat. Tubuhnya tenggelam di dalam ukuran yang terlalu besar. Aku menahan dorongan untuk menariknya lebih dekat.

Pengemudi bertanya apakah kami langsung pulang. Aku memberi alamat klinik yang bekerja sama dengan kantor dan meminta ruang pemeriksaan perempuan. Sekar menatapku.

"Saya bisa ke puskesmas biasa."

"Bisa. Tapi klinik ini lebih dekat dan surat keterangannya tetap sah. Biayanya dicatat sebagai pendampingan keamanan, bukan utangmu."

"Den selalu punya jawaban."

"Tidak selalu."

"Contohnya?"

Aku hampir berkata pertanyaan tentang perasaanku kepadanya. Sebaliknya, aku menunjuk kantong belanja.

"Saya tidak tahu cabai yang jatuh tadi masih bisa dipakai atau tidak."

Untuk pertama kalinya sejak pasar, dia tertawa kecil. Suaranya tipis, tetapi cukup membuat ketegangan di bahuku turun.

"Bu Nah pasti suruh buang semua."

"Kita beli lagi setelah klinik."

"Den mau masuk pasar dengan saya?"

"Kalau kau masih mau."

"Besok saja. Hari ini saya sudah cukup terkenal di satu pasar."

Humornya kembali sedikit demi sedikit. Aku tidak mengatakan betapa lega rasanya mendengar itu.

"Den tahu saya di pasar dari mana?"

"Pekerja rumah bilang kau belum kembali. Lokasi ponselmu sempat masuk ke Bayu beberapa detik sebelum jatuh."

Ternyata tombol yang dia kira gagal terkirim berhasil memberi jejak.

"Saya berusaha melawan," katanya pelan, seperti takut aku menganggapnya hanya menunggu bantuan.

"Saya lihat. Saksi juga merekam. Kau membuat orang melihat, meminta bantuan, dan memilih melapor."

Matanya berkaca-kaca. "Tapi saat Den datang, saya lega sekali."

"Kau boleh lega tanpa menghapus keberanianmu sendiri."

Mobil berhenti di lampu merah. Cahaya senja masuk melalui kaca dan jatuh pada perban putih.

"Bapak akan datang lagi," katanya.

"Kalau dia mendekat, kita dokumentasikan dan proses. Saya akan atur pendampingan saat kau keluar. Bukan untuk mengurungmu, hanya memastikan bantuan dekat."

"Den tidak bisa menjaga saya setiap saat."

Kalimat Sukir terulang dalam suaranya.

"Benar," kataku. "Karena itu kita membangun perlindungan yang tidak bergantung pada saya seorang: laporan, saksi, keamanan rumah, Bayu, dan kemampuanmu sendiri."

"Kalau keluarga Den bilang saya membawa masalah lagi?"

"Saya akan menunjukkan bahwa masalahnya datang mengejarmu, dan kau memilih jalur yang benar untuk menghentikannya."

"Bu Retno mungkin tetap takut."

"Takut boleh. Menghukum korban tidak boleh."

Sekar mengusap ujung perban. "Saya tidak ingin Den terus bertengkar dengan keluarga karena saya."

"Saya bertengkar karena keputusan mereka salah. Kau bukan penyebab orang lain memilih bersikap tidak adil."

Dia diam, mencerna kalimat itu seperti obat yang pahit tetapi diperlukan.

Dia memandangku lama. "Kenapa Den melakukan semua ini?"

Jawaban jujur hampir keluar. Karena aku tidak tahan membayangkan hidup tanpamu. Karena setiap bekas jari di kulitmu terasa seperti kegagalanku.

Namun hari ini bukan saat meminta perasaan dari seseorang yang baru lolos dari paksaan.

"Karena kau berhak aman," jawabku. "Alasan lain akan saya katakan ketika kau tidak sedang ketakutan."

Dia menunduk. Jarinya yang tidak terluka menggenggam ujung jaketku.

Menjelang klinik, Sekar berkata sangat pelan, "Terima kasih."

Aku menatap sisi wajahnya yang mulai mendapat warna kembali.

Dia tidak tahu ucapan itu juga menenangkan sesuatu dalam diriku. Aku datang terlambat untuk mencegah ketakutannya, tetapi tidak terlambat untuk berdiri di sampingnya ketika dia memilih melawan melalui jalan yang benar.

Perban putih di tangannya terus mengingatkanku pada harga keterlambatan serta kewajiban mencegah luka berikutnya secara nyata.

Di antara bunyi mesin dan lampu jalan yang menyala satu per satu, keinginan untuk melindunginya tidak lagi terasa seperti tanggung jawab sementara. Ia sudah menancap terlalu dalam untuk dicabut tanpa membawa sebagian diriku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!