Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.
Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.
Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.
Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka batin Azarin
Tatapan Mia beralih ke arah Azril, memanyun kecil. Menatap mobil yang melaju menjauh intens.
"Entah."
Azril tersenyum seraya membuang sisa apel itu sembarang arah. Lalu menggandeng tangan Mia, pergi menuju area ternak Pak Sapto.
*
"Untuk rapat sampai disini saja."
Dean rapihkan berkas di depannya, sementara para staff yang lain segera berjalan keluar dari ruangan.
"Bos, ada yang ingin bertemu dengan anda."
Dean spontan menoleh ke arah pintu, dimana sang asisten berdiri menyampaikan hal tadi.
Kening Dean mengerut kecil, segera berdiri dari sana, "Siapa."
"Namanya Tuan Fajar, bos."
Makin tanda tanya lah Dean disana. Ada apa Fajar menemuinya secara pribadi ke perusahaan.
"Baiklah, suruh ke ruanganku."
Sang asisten merunduk patuh, lalu berbalik pergi dari sana. Diikuti oleh Dean yang juga hendak menuju ruangannya.
"Ada apa kamu datang jauh-jauh kesini."
Mendengar suara Dean dari arah pintu Fajar segera berdiri. Seraya meletakkan tote bag ke atas meja pria itu.
Satu alis Dean naik. Duduk dengan tenang di kursi kebesarannya.
"Aku pribadi datang kesini sebagai tanda permintaan maafku, Dean."
Pria itu tarik nafas panjang, ia lepas kaca mata baca miliknya, meletakkannya ke tempat semula. Menatap Fajar intens.
"Langsung saja ke intinya, Fajar. Aku tidak ingin berbasa-basi."
Fajar merapatkan bibirnya dalam seraya mengambil nafas, tak ada lagi basa-basi seperti sebelumnya. Menatap ke arah Dean intens.
"Ini tentang putriku, Dean."
"Dia bukan hanya putrimu."
"Aku tau itu, maksudku. Tadi aku menemuinya."
Mendengar itu Dean menoleh cepat, menatap Fajar serius.
"Apa kamu tidak berfikir dua kali?! Setidak sabarkah dirimu menahannya?! Setidaknya beri Azarin nafas." geram Dean.
Fajar merunduk, memilin jemarinya gusar, "Aku tau, Dean. Tapi aku tidak bisa menahannya. Ak-aku...." Air mata lolos dari pelupuk mata Fajar.
Dean terdiam, tidak ada protes keluar dari bibirnya. Pria itu menarik nafas panjang. Memejam dalam.
Bukan hanya perasaan Fajar yang dia fikirkan, tapi perasaan Azarin ia pertimbangkan juga.
Butuh waktu untuk wanita itu menerima rasa sakitnya, mengobatinya, hingga tak ada lagi luka yang membuatnya begitu membenci Fajar.
"Aku tau perasaanmu, hanya saja—gara-gara itu juga Azarin mendiamkanku. Kau tau itu."
Fajar gigit bibir bawah gusar, merunduk menatap jari jemarinya yang saling memilin. Air matanya tak kunjung berhenti. Mengingat wajah polos Mia yang menatapnya seraya menghapus air matanya membuat dada Fajar nyeri.
Anak yang dulu tak ia anggap, tumbuh selucu dan seperhatian itu. Bagaimana mungkin Fajar tidak merindukannya. Namun ia juga tak ingin merebutnya dari Azarin. Hanya—dia ingin punya banyak waktu dengan Mia tanpa larangan dari ibunya.
Tapi semua serasa mustahil. Azarin amat membencinya, saking membencinya sampai melihatnya pun enggan.
"Aku, benar-benar tak bisa menahannya, Dean. Mengingat putriku tak mengenaliku, sementara disini aku setengah mati merindukannya itu rasanya.....argh!" Fajar pijit keningnya yang berdenyut, bertumpu pada meja.
Dean tatap Fajar intens. Ia pun bingung harus berucap apa. Dan apa yang harus dilakukan agar Azarin menerima kehadiran Fajar kembali sebagai sosok ayah kandung Mia.
"Pelan-pelan saja, sampai Azarin lebih tenang." balas Dean akhirnya.
Fajar merunduk dalam, menatap lantai kosong. Apa yang Dean ucapkan benar, butuh waktu untuk Azarin menerimanya kembali. Setidaknya ia tak ingin menyerah, dan ingin terus berusaha agar Azarin mau sedikit membuka maaf untuknya.
"Baiklah...Dean, mungkin hanya itu saja. Aku izin—"
"Asalamualaikum, Mas. Maaf aku datang kesini tidak bilang-bilang. Ini—"
Hening.
Tatapan mereka bertiga akhirnya bertemu. Dean melotot, begitu juga dengan Fajar. Sementara Azarin terdiam seraya menatap kosong keduanya.
"Ap-apa yang kalian lakukan?" lirih wanita itu. Berjalan lemah ke meja calon suaminya.
Dean berdiri perlahan, menatap keduanya tegang.
"Azarin, ini—ini tidak seperti yang kamu lihat."
Sementara Fajar segera berdiri, merunduk dalam, "Maaf mengganggu waktu kalian, aku izin pamit."
Fajar hendak berbalik, namun tiba-tiba tangannya di tahan oleh Azarin, mendorongnya kasar.
"Ngapain kamu kesini, Mas? Kau mau membujuk Mas Dean biar dikasih izin ketemu Mia?! Kamu fikir aku akan membiarkannya, hah?!" seru Azarin naik pitam.
Dean kebingungan disitu. Pria itu segera menghampiri Azarin, meraih kedua bahunya pelan.
"Azarin, Azarin....dengerin mas, Ini—"
"Lepasin mas!" seru wanita itu geram. Menatap Dean tajam.
Sudah.
Tamat.
Dean pun tak bisa berbuat apa-apa jika sudah begini. Menatap Fajar seraya menggeleng pelan.
Sementara Fajar hanya bisa menghela nafas pasrah, merunduk lemah. Hendak pergi, namun lagi-lagi di tahan oleh Azarin.
"Ngomong, mas! Kamu ngapain kesini?! Segitu inginnya kamu merebut Mia dariku hah?! Sampai Mas Dean juga mempertimbangkan dirimu?!" seru Azarin histeris.
Fajar tatap Azarin intens. Bola matanya mulai berkaca-kaca. Ia palingkan wajah seraya menghapus air mata di pelupuk matanya cepat. Tersenyum tipis.
"Iya."
"Fajar!" sentak Dean, namun Fajar tetap melanjutkannya.
"Aku memang ingin dekat dengan Mia. Tapi aku tidak ada niat merebutnya darimu, Azarin." jelas Fajar.
"Bohong!" sentak Azarin.
"Kau fikir aku akan mengabulkannya, hah?!" tunjuk Azarin ke wajah Fajar, "Aku—tidak akan pernah sudi membiarkan Mia denganmu, camkan itu!"
Fajar tatap Azarin dalam, penolakan langsung darinya benar-benar membuat dadanya sesak. Namun ia harus tetap bersabar dan menahannya.
"Aku tau, Azarin. Aku tak menyangkal kebodohanku. Tapi kali ini aku benar-benar serius, aku—"
"NGGAK!"
"Azarin—"
"Aku bilang ngga ya ngga!" sentak wanita itu tak terima bantahan.
Sampai akhirnya seruan wanita itu terhenti tatkala Fajar menjatuhkan lututnya di hadapan Azarin, mendongak menatapnya dengan air mata mengalir deras.
Tatapan Azarin langsung berubah kosong, menatap lekat manik mata yang dulu begitu ia rindukan, namun sekarang menjadi hal yang ia benci.
"Aku mohon, Azarin. Aku memang tidak bisa merubah semua yang sudah ku perbuat. Tapi aku berjanji akan memperbaikinya.." mohon Fajar memegang kaki Azarin.
Pria itu benar-benar tidak perduli dengan harga dirinya sekarang. Rasa cintanya pada sang putri menggugurkan kegengsiannya.
"Lepaskan aku mas!" sentak Azarin menepis kasar tangan Fajar dari kakinya.
"Dulu, saat aku melahirkan Mia, ada tidak kau datang?! Saat aku sedang repotnya mengurus bayi, kau menghilang seminggu full, mas! FULL!" Seru Azarin dengan air mata berderai.
"Saat malam-malam aku menangis karena dadaku sakit! Saat bekas sayatan caesar ku terbuka, ada tidak kau di sisiku?!"
"Saat tubuh Mia panas! Saat Mia menangis merindukan ayahnya! Saat Mia tersenyum di depanmu pun, kau perduli tidak?!"
Azarin benar-benar mengeluarkan segala beban dalam benaknya disaat itu juga. Memaki-maki Fajar yang berlutut di depannya tanpa perduli perasaan pria itu.
"Kau tidak tau mas, kau tidak tau! Kau tidak mengerti perasaanku! Tapi apa aku marah?! Tidak mas!"
"Dulu sebesar itu cintaku padamu! Bahkan saat kau bersikap dingin, saat kau acuh! Aku sama sekali tak menyalahkan mu! Tapi kau dengan lantang tanpa perasaan mau menikahi wanita lain dan memisahkan aku dengan putriku! Kau fikir dengan kata maaf luka ini bakal sembuh?!"
lanjuut thor.....