Akira Yoshikawa, pengurung diri yang menghabiskan waktunya selama 4 tahun untuk menamatkan sebuah game yang hanya dimainkan oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Namun, setelah ia menamatkan game itu, hal mustahil mulai terjadi, Benua, Monster dan Raja Iblis yang ada di game semuanya menjadi nyata, bahkan beberapa orang dipilih menjadi Pahlawan untuk melawan para Monster, termasuk Akira, dan mereka yang dipilih sebagai pahlawan akan mendapatkan sebuah sistem.
Berbeda dengan Pahlawan yang lain, Akira ditakdirkan sebagai seseorang yang dapat menyelamatkan manusia dengan persentase tertinggi, walau dia tau, terkadang dia tidak menyadari, betapa kuat dirinya di hadapan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laten Kishi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api Yang Membakar Dan Menyembuhkan
WUUSSHH!!
“Mati Kau!!”
Dengan tangan mengepal, tatapan sinis, Iblis itu menerjang maju dengan cepat ke arah Akira.
BAM!!
Shuko yang sedang terbang turun dan menahan serangan dari iblis itu dengan kakinya.
“Padahal cuman hewan rendahan!! beraninya—”
GREP!
“Hah?!”
Iblis itu ditangkap oleh Shuko dengan kakinya.
FWOOOSH!!
Shuko terbang melesat dengan kedua sayapnya yang lebar disertai angin yang lebih besar meniup kencang hingga hampir mematahkan batang pohon disekitarnya.
Shuko sudah jauh dari darat namun ia tidak berhenti sedetikpun, iblis yang tertangkap mencoba melepaskan diri, tapi berusaha sekeras apapun cengkraman Shuko terlalu kuat.
“Kyyyy-eeeeak!!”
Saat sudah dekat dengan awan, Shuko melempar iblis itu ke atas dengan sangat jauh.
Disaat iblis itu terlempar jauh ke atas, dia membenarkan posisi dengan sayapnya, dan berhasil terbang di langit.
"Beraninya ka—"
BLARR!
Shuko mengepakan sayapnya dari bawah iblis itu dan muncul api yang sangat panas dan besar ke arah iblis itu hingga mendorongnya jauh menembus atmosfer Bumi.
“Awas saja kalian!!”
......................
"Hei apa itu?
"Api? Apa ada yang bertarung?"
"Entahlah, tapi itu terlihat indah, sebaiknya kufoto."
Api yang dilepaskan Shuko begitu terang, hingga orang yang sedang berlalu lalang di jalan pusat Tokyo melihatnya dan memotretnya seolah itu adalah suatu pertanda.
......................
Tidak lama api itu menghilang bersamaan dengan hilangnya tanda-tanda keberadaan iblis itu.
Shuko yang masih terbang di langit sambil melihat kebawah, hanya punya sisa waktu 5 detik, dengan waktu itu dia menyebar apinya secara hangat dari kepakan halus sayapnya ke arah hutan.
Disisi lain, Akira melihat api yang dilepaskan Shuko bersinar terang hingga memantul dimatanya.
“Anak burung yang kutolong saat di game, mungkin itu dirimu, Shuko.” gumamnya.
Perlahan hutan yang tadinya hancur kembali normal, dan hilangnya jejak pertempuran yang terjadi, di langit, Shuko menghilang seperti partikel cahaya.
“Aduh… kau menabrakku loh Kak!” Suara Nako terdengar dari dalam hutan.
“Itu bukan salahku.”
Nako bersama Lumina berjalan keluar dari arah dia terpental bersama Lumina.
Akira yang melihat mereka berdua, langsung berjalan menghampiri mereka dan berkata,
“Apa kalian baik-baik saja?”
“Tentu saja! Kami baik-baik saja berkat kakak!” Nako dengan wajah berseri-seri mengacungkan jempolnya.
“Terimakasih Akira, lalu, apa burung tadi itu yang pernah kamu panggil saat di Dungeon? keliatannya sangat berbeda.” ucap Lumina.
“Iya, dia burung yang dulu pernah kupanggil di Dungeon,” ucap Akira.
“Apa perasaanku ya? Burung itu sangat mirip dengan yang kami lihat saat 2 tahun yang lalu, ya kan? Kak Lumina,” ucap Nako.
Lumina yang mendengar perkataan Nako mengangguk setuju.
“Sepertinya memang benar dugaanku," pikir Akira.
“Burung itu memang yang pernah dulu kalian lihat.”
“Ohh! kalau begitu, hebat sekali Kakak bisa memanggilnya, padahal dia lewat begitu saja saat dulu.” ucap Nako.
“Tidak juga, yang lebih penting, sebaiknya kita segera pulang, karena serangan tadi terlalu mencolok, mungkin ada seseorang yang melihatnya dan datang kesini.”
“Baiklah! ayo!” ucap Nako.
Mereka berdua pun jalan keluar dari hutan sambil berbincang-bincang.
"Di mana topi mu?" tanya Akira.
"Itu rusak, tapi tenang saja! aku bisa membuatnya berkali-kali." jawab Nako
"Mending gak usah pake kalo gitu."
"Emm!!" Nako memejamkan matanya dengan dahi berkerut sambil memegang dagunya.
"Entah kenapa aku lebih tenang saat memakai Topi itu."
Ding...
[Skill Bifurcation Meningkat 5% > 10%]
"Apa ini? Kenapa tiba-tiba meningkat?" pikir Akira.
"Oiya!"
Saat Akira sedang melihat sistem, Nako berbicara, hingga fokusnya berganti melihat ke arah Nako.
"Apa kakak bisa belikan aku beberapa camilan manis?” Nako menatap Akira sambil kedua tangannya di belakang.
“Besok aja.”
“Ehh~ ayolah...” Nako menatap dari sebelah kiri Akira menunjukan matanya yang berbinar-binar dan wajahnya yang berseri-seri.
“Hah… yaudah.”
“Yess!!” Nako mengepalkan tangannya didepan karena merasa berhasil membujuk Akira.
“Apa kau juga mau Lumina?” tanya Akira sambil menatap Lumina yang sedang berada di sebelah kiri Nako.
“Eh? ji-jika boleh.” Lumina menatap sebentar Akira lalu langsung menunduk sambil memainkan tangannya.
Lumina menginginkannya karena dia menjadi suka hal yang manis semenjak makan di kafe, walau ditawari langsung, dia merasa agak tidak enak walaupun sebenarnya dia mau.
“Wahh~ malu-malu, padahal tinggal bilang saja ma—”
DUAK!
“Aduh!” Nako memegangi kepalanya karena kesakitan dipukul oleh Lumina.
“Gak usah main pukul dong!” ucap Nako melirik ke arah Lumina.
“Gak ada yang mukul tuh.” Lumina memejamkan matanya seolah tidak ada yang terjadi.
“Hah… ada-ada aja mereka ini.” pikir Akira.
Ding...
[Iblis yang anda lawan telah berhasil melarikan diri]
[Anda tidak mendapatkan EXP atau Hadiah apapun]
“Sudah kuduga, dia gak akan kalah semudah itu, tapi, apa ini baik-baik aja?”
......................
Jauh di daratan yang dipenuhi pohon mati, dengan suasana gelap karena cuaca yang tidak stabil, angin kencang bertiup bersamaan dengan petir-petir yang menyambar.
Di daratan itu terlihat sebuah kastel besar dengan suasana gelap, di dalam kastel, di ruang singgasana yang kosong, sebuah retakan muncul di udara.
PRANG!
Retakan itu pecah dan jatuh iblis yang dilawan Akira sebelumnya dengan wajah yang terkena luka bakar akibat api Shuko.
“Awas saja kau! akan kubuat kau menyesal karena menghinaku!” Tatapannya tajam dengan tangan yang mengepal kuat, ia mengingat Akira jelas-jelas dengan kebencian yang mendalam.
......................
Keesokan Harinya…
Pukul 9:00 Pagi.
Akira sedang duduk dikursi kamarnya dengan tangan bersidekap ia menatap layar monitor komputer.
“Bagaimana ini…” gumamnya.
Ding… Dong…
Suara Bel berbunyi namun karena Akira masih terfokus dengan hal lain, ia tidak mendengarnya.
Di layar monitornya ia melihat sebuah video yang berjudul, ‘Pilar Api! Apa Ini Pertanda Kedatangan Monster?!’
Akira menghembuskan nafas panjang karena video yang bahkan belum sehari bisa mendapatkan puluhan juta penonton dan lagi video itu berkaitan erat dengannya.
“Selama tidak ketahuan kurasa tidak masalah, tapi, aku yakin ada dua orang yang tau kebenaran di balik ini,” gumamnya.
Tok! Tok!
“Akira, ada Amamiya dan Kato datang,” ucap Lumina.
“Baru saja kubilang,” pikir Akira.
“Aku akan segera kebawah.”
Setelah itu Akira keluar dari kamarnya, bersama Lumina dia pergi ke lantai bawah.
Saat masih di tangga Akira melihat Nako sedang berbicara dengan Kato.
“Apa kau punya hubungan erat dengan Yoshikawa?,” tanya Kato sambil tersenyum.
“Bukan urusanmu, lagian kalian kesini ada apa?” jawab Nako dengan tatapan dingin.
“Eh, I-iya kami kesini ingin memberi hadiah yang dijanjikan.” Kato tetap tersenyum walau agak kaku.
Amamiya yang berada di sebelah Kato hanya melihat dan berpikir,
“Sifatnya beda sekali saat bersama dengan Yoshikawa.”
Pat!
“Hmm?” Nako menyadari kepalanya sedang disentuh, ia melihat keatas dan mendapati Akira di belakangnya.
“Ohh, kakak!” ucap Nako sambil tersenyum.
“Jangan kasar begitu.”
“Ehh… gak kok, hanya berbicara santai, ya kan?” nada suaranya terdengar begitu beda saat menatap Kato didepannya dengan tatapan dingin seolah ingin mendapatkan jawaban yang bagus.
“Ah i-iya kita cuman bicara santai saja.”
“Bohongnya ketauan banget…” pikir Akira.
Akira pun mengelilingi sofa dan duduk di sebelah Nako disusul dengan Lumina, saat duduk ia mendapati sebuah kotak persegi panjang berada di meja, tapi ia tak memperdulikannya.
“Sepertinya kalian sudah tau tanpa kuberitahu ya,” ucap Akira.
“Tentu saja, bahkan aku juga langsung datang untuk menemuimu, padahal baru sehari, tapi kau sudah bisa memusnahkan sisanya, pembuat Pilar Api memang hebat.” ucap Kato sambil tersenyum.
“Langsung saja keintinya, aku gak suka basa-basi.”
“Hahaha! santai saja, aku tau kau tidak suka basa-basi, jadi ada dua hal yang ingin saya sampaikan.” Nako mengangkat satu tangannya menunjukan dua jarinya sambil tersenyum dan menatap serius.
“Yang pertama, hadiah yang kami janjikan.” Kato membuka kotak persegi panjang dimeja dan memperlihatkan sebuah pedang yang tersarung dengan gagang pedang yang berwarna putih dan sedikit emas.
“Ini barang S yang kami dapatkan, pedang ini memiliki efek untuk meningkatkan 40 % STR, 30% DEX dan juga pedang ini sangat kuat hingga hampir dapat menembus apapun, tapi—” Kato mengeluarkan pedang itu dari sarungnya dan memegangnya lurus ke atas.
“Hal yang paling menarik adalah hal ini.”
SHING!
Pedang yang dipegang kato mengeluarkan sebuah cahaya tipis keemasan yang menyelimuti pedang itu.
“Begitu ditambahkan sedikit mana saja, Pedang ini menjadi sangat kuat dan tajam, tapi—”
Cahaya yang berkilau di sekitar pedang tiba-tiba menghilang dalam sekejap.
“Padahal pedang ini sangat kuat, tapi ketika ahli pedang yang kami punya menggunakan pedang ini, mana mereka langsung terkuras habis.”
“Aku gak pernah tau ada pedang seperti ini…” pikir Akira sambil menatap pedang yang dipegang Kato.
“Apa aku boleh mencobanya?” ucap Lumina.
“Lumina? walau mananya kecil, dia bisa menggantinya dengan daya hidupnya yang besar, tapi apa ini akan baik-baik saja,” pikir Akira.
“Tentu saja, silahkan.” Kato menyerahkan pedang ditangannya.
“Hehehe.”
“Hah?” Akira mendengar sebuah suara tertawa kecil yang membuatnya mengamati semua orang.
Namun tidak ada satupun yang terlihat tertawa kecil.
“Apa perasaan ku saja,” pikir Akira.
Lumina pun segera mengambil pedang yang dipegang Kato, lalu ia memegangnya dengan mengarahkan bilah pedangnya ke atas.
SWOSSSSHH!
Dalam sekejap cahaya yang lebih terang serta tajam dan tinggi muncul dari pedang itu hingga menembus atap tertinggi rumah dengan rapih, membuat semua orang terkejut saat melihatnya.
“Eh? Aku belum melakukan apapun,” ucap Lumina dengan kebingungan menatap pedangnya yang tiap detiknya semakin kuat.
GREP!
Mata Akira membulat dan dengan cepat dia mengambil pedang yang ada di tangan Lumina.
Begitu pedangnya di rebut, cahaya yang sangat terang menghilang dalam sekejap.
Dia memegang pedang itu di bawah dengan kedua tangannya, pegangannya sangat erat hingga urat tangan Akira terlihat menonjol dan menatap tajam ke arah pedang itu tanpa berkedip sedikitpun.
“Siapa kau?!” Suara Akira terdengar berat dan mengancam.
Yang lain hanya kebingungan menatap Akira, karena dia berbicara sendiri.
“Kakak? Ada apa?” ucap Nako dengan penasaran sekaligus waspada seperti ada sesuatu yang tidak beres.
“Pedang ini… punya kesadaran.”
“?!”
Mendengar perkataan Akira membuat mereka semua terkejut.
“Hehehe! ketahuan ya.” Suara seperti seorang lelaki terdengar dari pedang yang dipegang Akira.