Indonesia
NovelToon NovelToon
When The Extra Writes The Rules

When The Extra Writes The Rules

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

When the Extra Writes the Rules/ Ketika karakter tambahan menulis aturan.

Kisah seorang pekerja kantoran modern Kirana yang masuk ke tubuh Evelyn Rosenberg, karakter figuran kaya raya namun berpenyakit kronis dalam novel fantasi favoritnya.

Karena tahu takdir karakter pendukung dan dunia novel tersebut akan berujung bad ending, Evelyn bertekad mengubah alur dengan memanfaatkan pengetahuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 : Langkah pertama memutus takdir

Ruangan itu akhirnya hening setelah badai kepanikan melandai.

Dokter Tristan—pria paruh baya berkacamata tebal dengan jubah dokter kerajaan yang baunya menyengat racikan jamu—baru saja melangkah keluar membawa mangkuk bekas usapan darah.

Sebelum menghilang di balik pintu ganda, dokter tua itu sempat menepuk bahu Julian sambil membisikkan instruksi soal dosis obat.

"Ingat, Lord Julian," bisik dokter itu dengan raut wajah amat serius.

"Jangan biarkan Lady Evelyn terlalu banyak terkena angin malam. Paru-parunya tidak kuat."

Julian hanya mengangguk kaku, tangannya terkepal di gagang pedang

Di atas ranjang, Evelyn menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.

Piyama yang membalut tubuhnya terasa terlampau longgar, menggeluncur pelan di bahunya yang kurus.

Ia mengamati tangannya sendiri, membalikkan telapak tangan lalu memperhatikan jemarinya yang lentik namun pucat berbayang biru.

"Tangan ini..." gumam Evelyn lirih, jarinya menyentuh tulang selangka yang menonjol tajam di balik kerah piyama.

"Nggak ada kapalan bekas ngetik sepuluh jam sehari. Tapi rasanya kayak mau patah cuma gara-gara ngangkat cangkir."

Duchess Rosenberg yang duduk di kursi samping kasur langsung memajukan badannya.

Tangannya yang hangat mengusap pipi Evelyn dengan lembut.

"Kenapa, Sayang? Lengannya pegal? Atau dadanya sesak lagi?" tanya sang ibunda.

"Mama sudah minta dapur buatkan sup kaldu tulang burung phoenix dan ramuan penenang dari akar Ginseng Es. Nanti diminum sedikit-sedikit, ya?"

Evelyn menoleh, menatap wajah anggun wanita di depannya.

Di dunia aslinya, Kirana tak pernah tahu rasanya diusap pipinya oleh seorang ibu.

Ibunya meninggal sejak ia masih balita, sementara ayahnya pergi entah ke mana meninggalkan tumpukan utang.

Di sini, di dunia novel fantasi yang gila ini, ada seorang wanita bangsawan berpangkat Duchess yang rela duduk berjam-jam di tepi ranjang hanya untuk memastikan napas putrinya tidak tersengal.

Rasa hangat yang agak asing mendadak merayap di rongga dada Evelyn. Senyum tipis terukir di bibirnya yang masih pucat.

"Evelyn nggak apa-apa, Ma. Cuma... masih agak linglung aja," jawabnya, mencoba menirukan intonasi nada bicara gadis bangsawan yang lembut, walau otak modernnya menjerit ingin bicara ceplas-ceplos.

"Papa sama Kakak mana?"

"Papamu sedang di ruang kerja, langsung ngirim surat teguran keras ke pengawal batas wilayah karena terlambat ngirim laporan bunga obat," sahut Duchess seraya mengusap rambut Evelyn.

"Kalau Julian... tuh, masih berdiri di depan pintu."

Evelyn menoleh ke arah pintu. Julian memang masih berdiri di sana, menyandarkan punggungnya di pintu.

Wajah tampannya tertekuk masam, mata cokelat terangnya menatap Evelyn dengan perpaduan rasa cemas dan kejengkelan yang amat sangat.

"Kakak ngapain berdiri di situ? Sini masuk," panggil Evelyn, melambaikan tangan pelan.

Julian mendengus pelan, lalu melangkah lebar mendekati ranjang. Ia berhenti di samping ibunya, lalu bersedekap dada sambil menunduk menatap Evelyn.

"Kamu tuh ya, Lyn," kata Julian dengan nada omelan yang berusaha ditekan agar tak terdengar galak. "Baru kemarin sore dibilangin, jangan nekat ke rumah kaca pas angin lagi kencang. Malah nekat milih bunga tulip. Sekarang batuk darah kan? Kalau kamu kenapa-napa, Papa bisa langsung copot jabatan Kakak sebagai ksatria keluarga, tahu nggak?"

"Julian, jangan dimarahi adiknya. Dia kan baru bangun," tegur Duchess sambil menepuk paha putranya pelan.

"Nggak dimarahi gimana, Ma? Dia ini batu banget kepalanya," sergah Julian, tapi tangannya malah terulur untuk membetulkan letak selimut Evelyn yang agak meluncur turun, menutupi dada adiknya.

"Awas ya kalau nekat turun dari kasur sebelum lusa. Kakak kunci pintu kamarmu dari luar."

Ancaman itu terdengar konyol, tapi Evelyn bisa menangkap rasa takut yang terselip di balik suara galak kakaknya. Julian takut kehilangan adiknya.

Evelyn terkekeh kecil.

"Iya, iya... Evelyn nurut. Suwer deh," ceplos Evelyn tanpa sadar menggunakan bahasa gaul dunia aslinya.

Julian dan Duchess saling pandang dengan alis berkerut.

"Su... wer?" ulang Julian, keningnya berkerut makin dalam. "Bahasa apa lagi itu? Kata-kata ajaib dari buku dongeng yang kamu baca?"

Evelyn meringis dalam hati, merutuki lidahnya yang kelepasan. "Maksudnya... Evelyn janji, Kak. Janji nggak bakal aneh-aneh."

Duchess menghela napas lega lalu berdiri. "Ya sudah. Mama mau cek ke dapur dulu, mau liat ramuan obatmu yang lagi diolah. Julian, jaga adikmu. Jangan ajak dia berdebat berat."

"Siap, Ma," jawab Julian singkat.

Setelah sang ibu melangkah keluar dari kamar itu, suasana menjadi agak lebih santai.

Julian menarik kursi yang tadinya diduduki ibunya, lalu melesakkan tubuh tingginya di sana dengan napas terengah pelan. Ia melepas sarung tangannya dan melemparnya ke atas meja kecil di samping tempat tidur.

"Kakak kelihatan capek banget," celetuk Evelyn, mengamati lingkaran hitam tipis di bawah mata ksatria muda itu.

"Siapa yang nggak capek kalau adiknya bolak-balik pingsan tiap tiga hari sekali?" cibir Julian, meski begitu tangannya terulur meraih cangkir teh hangat di meja dan menyerahkannya pelan-pelan ke tangan Evelyn. "Nih, minum air hangat dulu."

Evelyn menerima cangkir itu. Ia menyesapnya pelan, menikmati rasa manis samar madu yang meresap di tenggorokannya yang kering.

Sementara Julian sibuk mengelap bilah pedangnya dengan kain khusus di tempatnya, pikiran Evelyn mulai berkelana bebas, menggali ingatan dari novel The Crown of Fallen Stars yang pernah ia baca di kehidupan sebelumnya.

Oke, Kirana... fokus. Mari kita susun semua informasi ini, batinnya mulai berpikir.

Evelyn Rosenberg. Umur sekarang: 18 tahun.

Keluarga: Keluarga Duke Rosenberg, salah satu dari tiga keluarga teratas di Kekaisaran Arkania.

Kekayaan? Tak terbatas. Tambang kristal mana, perkebunan anggur, lini perdagangan sutra—semuanya milik keluarga ini.

Orang tua? Sangat amat sayang padanya. Kakak laki-laki? Sister complex tingkat akut yang siap meratakan gunung bahkan kalau adiknya bersin.

Secara statistik, ini adalah cheat code kehidupan yang luar biasa, pikir Evelyn sambil menatap langit-langit kamar. Tapi... masalah utamanya ada di takdir tubuh ini.

Di dalam cerita novel aslinya, Evelyn Rosenberg cuma karakter figuran yang namanya muncul beberapa kali di bab-bab awal.

Karakter ini ditakdirkan mati tragis di usia 20 tahun—tepat dua tahun dari sekarang. Sebab resminya?

Gagal jantung dan paru-paru akibat komplikasi penyakit bawaan sejak lahir.

Tapi Kirana ingat betul plot twist konyol yang ditulis oleh pengarang novel itu di bab pertengahan: Evelyn sebenarnya tidak mati murni karena penyakitnya!

Ada pelayan pribadi keluarga Rosenberg yang diam-diam diberi imbalan oleh keluarga saingan untuk memasukkan bubuk racun pelumpuh saraf dosis sangat tipis ke dalam ramuan obat harian Evelyn.

Racun itu tidak membunuh secara instan, melainkan pelan-pelan menggerogoti daya tahan tubuhnya, membuat kondisi kesehatannya makin menurun sampai akhirnya berhenti bernapas sama sekali.

Dan setelah Evelyn mati, keluarga Rosenberg hancur karena duka. Duke Rosenberg kehilangan fokus hingga ditipu dalam bisnis pertambangan, Julian menjadi brutal di medan perang dan akhirnya tewas dieksekusi karena tuduhan pemberontakan palsu, sementara seluruh kekayaan keluarga Rosenberg diserap habis oleh pihak kerajaan dan sang tokoh utama wanita—Rosalia.

Bangsat banget kan alurnya?

Evelyn menggertakkan giginya gemas.

"Evelyn? Kenapa mukamu begitu? Tehnya pahit?" tanya Julian, menatap adiknya dengan pandangan selidik.

"Nggak... nggak apa-apa. Tehnya enak kok," sahut Evelyn cepat-cepat, lalu buru-buru meletakkan cangkir itu kembali ke meja.

Ia menatap Julian yang kini sedang mengamati wajahnya. Pemuda yang memliki warna rambut seperti dirinya ini berumur 22 tahun, sangat berbakat, punya masa depan cerah sebagai calon Duke berikutnya.

Rasanya sangat muak jika membayangkan pemuda sehangat dan seprotektif ini harus mati mengenaskan di tiang gantungan cuma demi memuluskan happy ending buat karakter utama novel yang racun sosial itu.

Nggak bakal tak biarin, tekad Evelyn membara di dalam dada.

Aku udah mati sekali gara-gara lemburan di dunia nyata. Aku nggak akan mati dua kali cuma gara-gara jadi batubara pembakar alur cerita orang lain!

"Kak," panggil Evelyn pelan.

"Apa?"

"Siapa nama pelayan yang biasanya nyiapin dan nganterin ramuan obat harian ke kamarku?"

Julian mengernyitkan dahi, tampak heran dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu. "Maksudmu Sasa? Atau pelayan baru yang ditunjuk Mama bulan lalu... siapa namanya, Lina?"

"Lina," ulang Evelyn, memorinya mendadak menangkap nama itu.

Ya! Di novel, Lina adalah pelayan muda yang direkrut dari wilayah luar dan dengan mudah dibeli oleh musuh politik keluarga Rosenberg.

"Dia yang biasanya mengaduk ramuan sebelum diminumkan ke aku kan?"

"Iya, biasanya dia yang bantu Dokter Tristan menggerus bahan-bahan di dapur obat," jawab Julian, matanya menatap Evelyn curiga. "Kenapa tiba-tiba tanya soal pelayan? Dia bikin kesalahan?"

"Nggak kok," Evelyn tersenyum manis, senyuman yang sengaja ia pasang agar Julian tidak curiga. "Cuma mau memastikan aja. Mulai hari ini, Evelyn mau semua obat yang masuk ke kamar ini... diserahkan langsung sama Kakak atau Mama. Jangan biarkan pelayan mana pun menyentuh mangkuk obatku tanpa ada Kakak di sampingnya."

Julian memiringkan kepalanya, makin bingung. "Lho, kenapa begitu? Biasanya kamu paling malas kalau Kakak nongkrong di kamar waktu minum obat."

"Ya... Sekarang Evelyn cuma pengin Kakak yang nemenin," ujar Evelyn beralasan, sambil memasang raut wajah memohon yang agak lesu.

"Bisa kan, Kak? Sekali ini aja nurut sama adiknya yang sakit-sakitan ini?"

Melihat ekspresi mengiba adiknya, pertahanan Julian langsung runtuh, ia menghela napas panjang dan mengusap belakang lehernya.

"Dasar manja," gumam Julian, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang hangat. "Ya sudah. Nanti Kakak yang ambil langsung dari dapur obat. Tak awasi sendiri dokter Tristan nuang airnya. Puas?"

"Puas banget!" jawab Evelyn girang.

Langkah pertama aman. Dengan memutus akses pelayan Lina ke racikan obatnya, ia sudah memotong satu jalur kematian dini yang dirancang alur cerita asli.

Tapi itu baru permulaan.

Evelyn memalingkan pandangannya kembali ke arah jendela kamarnya.

Di luar sana, pegunungan tinggi bersalju di wilayah Utara Arkania berdiri megah di bawah langit biru cerah.

Di balik pegunungan itu, ada wilayah dingin tempat bermukimnya sang antagonis utama novel ini—Duke Cassian von Obsidian.

Dan di ibu kota sana, ada Rosalia, si tokoh utama wanita yang dalam waktu dekat akan mulai melancarkan taktik-taktik manipulatifnya untuk menguasai panggung kerajaan.

1
Fazira
Cassian 😍😍
Fazira
padahal Rosalia di dunia novel ini protagonis, kenapa sifatnya jadi kaya antagonis gini yaa/Doubt/
Fazira
udah Rosalia 🤭
Fazira
Evelyn Evelyn pinter akting yaa🤣🤣
Fazira
Wah Duke Utara 😍
Fazira
Evelyn Evelyn udah badan penyakitan kenapa akting sakit 🤭
Fazira
kehidupan novel dalam novel ya😄
Fazira
wow transmigrasi kak👍
semangat nulisnya 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!