Indonesia
NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bapak rumah tangga / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.

Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.

Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.

Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Denyut Terakhir di Ujung Senja

Dunia seolah runtuh menjadi berkeping-keping ketika suara dari seberang sambungan telepon sekolah menggema membawa berita petaka yang menyayat hati. Lin Meiying terduduk lemas di atas lantai semen lorong gang yang dingin, jemarinya mencengkeram ponsel erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Udara di sekitarnya mendadak terasa begitu tipis, seolah oksigen tersedot habis oleh rasa takut yang luar biasa mencekam jiwa. Belum kering air matanya meratapi kepergian sang suami yang baru saja meluruh menjadi partikel cahaya, kini putri semata wayangnya direnggut paksa oleh tangan-tangan kotor yang tidak mengenal belas kasihan.

Di hadapannya, Sekretaris Han bergerak sigap, merangkul pundak Meiying yang bergetar hebat untuk membantunya bangkit berdiri dari lantai. Wajah pria paruh baya itu tampak tegang, garis rahangnya mengeras, menahan amarah yang membara di balik kacamata bacanya. Tidak ada waktu lagi untuk meratapi keterkejutan atau kesedihan yang mendalam; detik-detik berharga ini menentukan keselamatan nyawa Chen Anqi dari cengkeraman musuh sisa faksi lama yang masih bernafsu membalas dendam.

"Nyonya Meiying, kuatkan diri Anda," suara Sekretaris Han terdengar berat namun tegas, berusaha menyalurkan ketenangan di tengah badai kepanikan yang melanda. "Tim intelijen dan unit pelacak darurat kita sudah bergerak menyadap sinyal komunikasi para penculik. Kita harus segera mengejar mereka sebelum terlambat."

Meiying mendongakkan kepalanya, sorot mata yang tadinya kosong dan penuh kepedihan kini mendadak berubah tajam, memancarkan api kemerahan seorang ibu yang siap menerjang neraka demi menyelamatkan anaknya. Ia mengangguk cepat, menyeka sisa air mata di pipinya menggunakan punggung tangan, lalu bangkit berdiri dengan ketegaran luar biasa yang mengejutkan siapa pun yang melihatnya. Ia bukan lagi perempuan lemah yang hanya bisa menangis di sudut ruangan; ia adalah ibu dari Anqi, dan tidak ada satu pun monster di dunia ini yang boleh menyakiti putrinya.

Mobil sedan hitam mewah milik Sekretaris Han melesat bagaikan roket membelah jalanan ibu kota yang mulai padat oleh jam siang. Di dalam kabin mobil yang senyap, ketegangan terasa begitu pekat hingga membuat udara di sekitar mereka berdua terasa membeku. Sekretaris Han fokus mengemudikan kendaraan sambil memantau layar tablet navigasi satelit yang menampilkan titik koordinat pergerakan sinyal telepon salah satu pelaku penculikan.

"Sinyal mereka bergerak ke arah pelabuhan utara... kawasan gudang terbengkalai di dekat distrik industri lama," lapor Sekretaris Han dengan napas memburu, menatap layar dengan cermat. "Tempat itu adalah sarang tua milik faksi komplotan Haryanto yang luput dari penggerebekan kepolisian sebulan lalu."

Meiying duduk di kursi penumpang belakang, kedua tangannya saling meremas erat di atas pangkuannya. Tatapannya kosong menatap ke luar jendela di mana gedung-gedung tinggi berlarian mundur dengan cepat. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan wajah ceria Anqi saat memegang boneka kelinci usang pagi tadi. Janji yang baru saja diucapkan oleh suaminya sebelum meluruh menjadi cahaya—bahwa keluarga kecil mereka akan hidup bahagia—terus berputar di dalam kepalanya, menjadi bahan bakar utama yang memompa keberanian tanpa batas di dalam dadanya.

"Kita harus masuk tanpa menunggu bantuan polisi resmi, Pak Han," ucap Meiying dingin, suaranya terdengar sangat datar namun mengandung ancaman mematikan yang membuat Sekretaris Han melirik sekilas lewat kaca spion tengah dengan rasa ngeri bercampur kagum. "Mereka menginginkan aku sebagai umpan untuk menutup kasus ini. Aku akan menyerahkan diri, asal Anqi dilepaskan dalam keadaan selamat."

"Jangan berkata begitu, Nyonya," sanggah Sekretaris Han tegas. "Tuan Muda menitipkan keselamatan kalian berdua dengan nyawanya. Saya tidak akan pernah membiarkan Anda berjalan ke dalam kandang macan seorang diri."

Sesampainya di kawasan pelabuhan utara yang sepi dan berdebu, mobil sedan hitam itu berhenti di balik tumpukan kontainer berkarat, jauh dari pandangan mata orang-orang di kompleks gudang utama. Suasana di sekitar dermaga tampak begitu sunyi, hanya dipecah oleh deburan ombak kecil yang menabrak lambung beton pelabuhan dan deru angin laut yang membawa bau amis garam. Di hadapan mereka, sebuah bangunan gudang besar beratap seng tua berdiri tegak dengan pintu besi berkarat yang sedikit terbuka, mengeluarkan pendar cahaya lampu kuning temaram dari dalamnya.

Meiying membuka pintu mobil dengan cepat, melangkah turun ke atas tanah berkerikil meskipun Sekretaris Han sempat mencoba menahannya. "Tunggu aba-aba saya di luar, Pak Han. Jika dalam waktu sepuluh menit saya tidak keluar membawa Anqi, dobrak pintu itu dan habisi siapa pun di dalamnya."

Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Meiying melangkah tegap menyusuri jalan setapak menuju pintu gudang terbengkalai itu. Setiap langkah kakinya terasa begitu berat, namun tekad di dalam dadanya jauh lebih kuat dari baja. Ia mendorong pintu besi yang berderit nyaring ke samping, menampakkan pemandangan yang membuat darahnya mendidik seketika.

Di tengah ruangan gudang yang luas dan berdebu, di bawah sorotan satu lampu gantung gantung yang bergoyang tertiup angin, Chen Anqi kecil diikat di atas sebuah kursi kayu tua dengan mulut tertutup kain lakban hitam. Bocah perempuan itu tampak ketakutan setengah mati, air matanya membasahi pipi kecilnya, menatap ke arah ibunya dengan mata yang memancarkan permohonan tolong.

"Ibu...!" teriak Anqi tertahan di balik lakban saat melihat kedatangan Meiying.

"Anqi!" balas Meiying histeris, hendak berlari menerjang ke depan, namun langkahnya terhenti seketika ketika tiga orang pria berbadan kekar muncul dari balik tumpukan drum kosong, mengarahkan ujung pisau tajam dan batang besi tepat ke arah putrinya.

Dari atas tumpukan palet kayu di sudut ruangan, sesosok pria paruh baya bertubuh bungkuk dengan bekas luka bakar di sisi lehernya melangkah turun perlahan. Pria itu adalah sisa tangan kanan paling berbahaya dari komplotan Haryanto yang selama ini buron dari kejaran aparat hukum. Ia tersenyum lebar menyambut kedatangan Meiying, memperlihatkan deretan gigi kuningnya yang mengerikan.

"Selamat datang, penulis best-seller kita yang sedang naik daun—Nyonya Lin Meiying," sapa pria bungkuk itu dengan nada suara mengejek yang memuakkan. "Kau datang jauh lebih cepat dari perkiraan kami. Rupanya naluri keibuan benar-benar membuat seekor domba berani berjalan masuk ke sarang serigala."

Meiying menatap tajam pria di hadapannya tanpa menyembunyikan kebencian yang membakar di dalam dadanya. Ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun meskipun nyawa putrinya kini berada di ujung tanduk. "Aku sudah datang sesuai keinginan kalian. Lepaskan anakku sekarang juga, dan jadikan aku sebagai sandera kalian!"

Pria bungkuk itu tertawa renyah, sebuah tawa yang menggema di seluruh sudut gudang kosong tersebut. Ia melangkah mendekati kursi tempat Anqi diikat, menempelkan ujung pisau lipatnya secara perlahan di dekat pipi mulus bocah malang itu, membuat Meiying menjerit tertahan dan melangkah maju secara refleks.

"Jangan sentuh dia!" bentak Meiying penuh amarah, suaranya menggema tegas memenuhi ruangan.

"Tenanglah, Nyonya Lin. Kami tidak berniat membunuh anak ini... belum," ujar pria bungkuk itu sambil menyeringai lebar. "Tuan besar kami di luar negeri hanya menginginkan satu hal: naskah asli arsip investigasi pembunuhan proyek lantai 35 yang kau sembunyikan di rumah kontrakmu, beserta surat pengunduran diri atas seluruh aset yayasan perwalian Lu Group. Serahkan dokumen itu sekarang, atau aku akan mengukir senyuman permanen di wajah putri kecilmu ini dalam hitungan detik!"

Ancaman itu membuat seluruh darah Meiying mendidih. Ia tahu persis bahwa dokumen arsip yang dimaksud tidak pernah ada di tangannya; semua itu hanyalah akal-akalan busuk mereka untuk merebut kembali kendali perusahaan dan membungkamnya selamanya. Namun, sebelum Meiying sempat memikirkan cara untuk mengulur waktu atau membalas gertakan tersebut, suara hantaman keras yang memekakkan telinga tiba-tiba meledak dari arah pintu depan gudang.

Brak!

Pintu besi besar gudang itu jebol berkeping-keping dalam satu hantaman brutal, menampakkan sesosok bayangan tegap berjas kelabu yang melangkah masuk dengan aura membunuh yang luar biasa dingin. Di belakangnya, Sekretaris Han bersama selusin pasukan pengawal khusus berpakian seragam hitam bergerak cepat menyebar mengepung seluruh sudut ruangan dalam formasi tempur yang sempurna.

Pria bungkuk itu terperanjat kaget setengah mati, pisau di tangannya nyaris terlepas dari genggamannya saat melihat kedatangan bala bantuan yang begitu cepat. Ia segera menarik kerah baju Anqi, mengarahkan bilah pisau tepat ke leher anak itu, lalu berteriak histeris kepada anak buahnya untuk bersiap menghadapi serangan.

"Jangan bergerak! Atau anak ini mati detik ini juga!" teriak pria bungkuk itu panik, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Meiying membelalakkan matanya ngeri, menatap ke arah pintu depan gudang tempat Sekretaris Han berdiri. Namun, tepat di samping Sekretaris Han, sesosok bayangan lain yang mengenakan mantel panjang hitam beraroma mahoni melangkah keluar dari balik kabut debu pintu yang hancur—sesosok wajah yang membuat seluruh isi ruangan terdiam seribu bahasa dalam keheningan yang mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!