Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam pertama Moza & Egha
Malam itu rumah keluarga Mozza telah kembali hening. Di kamar pengantin, lampu dibiarkan temaram; wangi melati menempel pada udara seperti doa. Mozza duduk di tepi ranjang, masih memakai gaun resepsi. Egha berdiri tak jauh darinya, kemeja putihnya tampak kusut manis setelah hari yang panjang.
“Capek?” tanyanya pelan.
Mozza tersenyum, sedikit gugup. “Lelahnya hilang kalau kamu di sini.”
Egha mendekat satu langkah, lalu satu langkah lagi, sampai jarak itu tinggal selebar napas.
“Aku boleh… ngelihatin kamu lebih lama?” gumamnya, setengah bercanda, setengah berandai.
“Boleh,” jawab Mozza, matanya menghangat, “kan sekarang aku milikmu.”
Egha mengangkat jemarinya, menyibak helaian rambut yang jatuh di pipi Mozza. Sentuhannya hati-hati, seolah menyentuh sesuatu yang lama dirindukan. Keningnya menyentuh kening Mozza; napas mereka bertemu, ragu-ragu yang manis. “Boleh aku cium?” suaranya hampir tak terdengar.
Mozza mengangguk. “Boleh.”
Di awali ciuman yang lembut, pendek, seperti mengetuk pintu. Yang kedua lebih lama, lebih yakin. Di ciuman ketiga, Mozza mulai ikut mencari ritme; jemarinya meraih kerah kemeja Egha, menahan agar yang lain tidak menjauh. Hangatnya menyebar pelan, menenangkan gemetar kecil di ujung jari.
“Kamu gemetar,” bisik Egha, tersenyum.
“Kamu juga,” Mozza membalas, matanya berkilat, “jadi… kita adil.”
Mereka tertawa pendek, lalu tawa itu larut dalam ciuman yang bertambah dalam. Egha mengusap pelan punggung Mozza, garis demi garis, seperti menghafal jalan pulang. Mozza merasakan tubuhnya merespons, napasnya memendek, dadanya naik turun seirama. Kancing pertama Egha longgar—perlahan, tanpa tergesa. Kain gaun bergeser mengikuti gerak napas Mozza, menyisakan kehangatan kulit yang baru saling mengenal.
“Kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman, bilang ya,” ucap Egha di sela ciuman.
Mozza menatapnya—serius, lembut. “Aku nyaman. Sama kamu, aku selalu nyaman.”
Mereka bergeser ke tengah ranjang. Jemari saling bertaut, saling mengunci seperti janji. Ciuman merambat ke pelipis, ke tulang pipi, kembali ke bibir lebih sabar, lebih dalam. Setiap sentuhan adalah kalimat; setiap helaan napas adalah tanda baca. Dunia menyusut sampai hanya ada dua nama: Mozza dan Egha dan jeda-jeda kecil di antaranya yang dipenuhi debar.
“Pelan?” tanya Egha.
“Pelan,” jawab Mozza, “tapi jangan berhenti.”
Detik-detik berikutnya menjauh dari kata, mendekat pada rasa. Kain melorot setinggi bisikan, kulit merinding oleh beda suhu; deru napas saling mengejar, lalu menyatu. Di luar, angin menyentuh tirai; di dalam, keheningan pecah oleh desah yang tertahan. Egha mengikuti ritme Mozza, Mozza memandu ritme Egha—saling mengajar, saling belajar. Ketika kata “ya” muncul di tenggorokan, itu bukan jawaban; itu rumah.
Lampu diredupkan satu tingkat; tirai ditarik lebih rapat. Malam menyimpan sisa-sisa suara: tawa kecil yang pecah di tengah serius, nama yang dipanggil lebih dari sekali, janji yang diucapkan tanpa perlu sumpah. Dan ketika puncak rasa akhirnya datang seperti ombak yang lama ditunggu, keduanya menggenggam lebih erat—seolah takut terpisah dari sesuatu yang akhirnya utuh.
Hening. Detik-detik kembali lambat. Egha mengecup kening Mozza, lama, tanpa tergesa. “Kamu nggak apa-apa?”
Mozza mengangguk, matanya basah oleh lega. “Aku… bahagia.”
Mereka berbaring berdampingan, menyelimuti tubuh dengan selimut tipis. Egha meraih gelas di nakas, mengangkatnya ke bibir Mozza. “Pelan-pelan.”
“Terima kasih Mas,” ucap Mozza, suaranya serak manis.
“Terima kasih sudah percaya,” balas Egha. “Mulai malam ini, semua lelahmu juga tugasku.”
Mozza tersenyum, menyusup lebih dekat ke dada Egha, mendengarkan denyut yang stabil. “Kalau begitu, semua bahagiaku juga tugasmu.”
“Tugas favoritku,” jawab Egha, mengecup rambutnya.
Lampu dimatikan. Di gelap yang aman, mereka saling mencari lagi kali ini tanpa gugup, tanpa ragu; hanya kelembutan yang tumbuh dari keberanian untuk mencinta. Malam mengalir panjang, lalu diam-diam menutup babak pertama mereka sebagai suami istri: hangat, penuh, dan sah.
Menjelang dini hari, tawa kecil kembali pecah, entah karena candaan sepele atau rasa yang tak selesai didefinisikan. Di akhirnya, hanya ada dua napas yang tertidur dalam satu selimut dengan detak jantung yang, untuk pertama kalinya, berjalan di jalur yang sama.
----
Matahari pagi menembus tirai kamar, menciptakan semburat keemasan di dinding. Mozza terbangun lebih dulu, tubuhnya masih lelah namun senyum tak bisa hilang dari wajahnya. Ia menoleh, melihat Egha masih terlelap dengan napas teratur, lengannya melingkari pinggangnya seolah takut kehilangan.
Mozza membiarkan dirinya menatap lebih lama—siluet rahang tegas, bulu mata yang jatuh ke pipi, dan ekspresi damai yang jarang ia lihat. Hatinya bergetar: ini lelaki yang kini resmi jadi rumahnya.
Tak lama, Egha membuka mata, mengerjap pelan. Begitu melihat Mozza menatapnya, ia tersenyum kecil. “Kamu ngeliatin aku dari tadi ya?” suaranya serak, berat khas bangun tidur.
Mozza menahan tawa. “Iya, terus aku mikir… ini mimpi atau kenyataan.”
Egha mengusap pelan pipinya. “Kalau mimpi, aku nggak mau bangun.”
Keduanya tertawa kecil, lalu hening sesaat, menikmati detak jantung yang masih berdekatan. Egha menarik Mozza lebih dekat, mengecup keningnya. “Terima kasih udah jadi istriku.”
“Terima kasih udah milih aku,” jawab Mozza lirih.
---
Di dapur aroma masakan sederhana sudah memenuhi rumah. Rika menyiapkan sarapan spesial—nasi goreng hangat, telur dadar, dan teh manis. Suasana terasa berbeda; ada kehangatan baru yang menyelimuti keluarga besar itu.
Mozza dan Egha turun bersama dari kamar, wajah mereka sama-sama berseri, meski jelas terlihat ada lelah yang tersisa. Rika tersenyum hangat begitu melihat putrinya. “Akhirnya pengantin baru bangun juga. Ayo duduk, sarapan dulu.”
Ali menambahkan sambil terkekeh kecil, “Wajah kalian berdua… bahagia banget kelihatannya”
Mozza tersipu malu, sementara Egha hanya tersenyum sambil menunduk sopan.
Namun suasana cepat berubah riuh saat Grey tiba-tiba nyeletuk.
“Eh, jangan-jangan alasan kalian telat turun karena… semalaman sibuk ya?” Ia sengaja menekankan kata terakhir.
Jingga langsung menyambar, menahan tawa. “Iya tuh, coba liat wajah Kak Mozza. Ada glow-nya, kayak habis perawatan spa semalaman.”
“Spa apaan?” sahut Grey, pura-pura polos. “Spa di kamar mungkin?”
Mozza langsung melempar bantal kursi ke arah adik-adiknya. “Grey! Jingga! Kalian itu yaaa…” Wajahnya merah padam, sementara Egha hanya bisa mengelus tengkuknya dengan senyum canggung.
Rika ikut menegur sambil menahan tawa. “Sudah, jangan usil sama kakakmu. Biarkan mereka menikmati masa-masa bahagianya.”
Ali malah menambahkan dengan nada bercanda, “Tapi memang benar sih, wajah Mozza hari ini lain. Anak Papa akhirnya benar-benar jadi istri orang.”
Semua tertawa lepas, bahkan Mozza yang sempat malu akhirnya ikut terkekeh. Sarapan pagi itu penuh tawa, bercampur canda hangat keluarga, membuat suasana rumah terasa lebih hidup dari sebelumnya.
Setelah sarapan bersama penuh canda, suasana meja makan sedikit lebih tenang. Mozza tengah merapikan gelas ketika Egha menatap Ali dan Rika dengan wajah serius. Ia menarik napas sebelum berbicara.
“Mi pii …” ucap Egha hati-hati, membuat semua orang di meja refleks menoleh. “Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.”
Mozza melirik suaminya penasaran, sementara Jingga dan Grey langsung memasang wajah ingin tahu.
“Apa itu, Nak?” tanya Ali dengan nada penuh perhatian.
Egha menegakkan tubuhnya. “aku sudah mempersiapkan sebuah rumah sejak lama, jauh sebelum pernikahan ini. Rumah itu memang aku niatkan untuk menjadi tempat tinggal kami berdua. Jadi… dengan segala hormat, aku ingin meminta izin agar Mozza bisa ikut pindah bersama aku ke rumah itu.”
Ruangan sempat hening. Rika menatap putrinya sebentar, lalu tersenyum lembut. “Nak, itu memang sudah seharusnya. Sejak menikah, tanggung jawab Mozza berpindah kepada suaminya. Selama kamu bisa menjaga dia dengan baik, mami ikhlas.”
Ali mengangguk mantap. “Yang penting, jangan lupa keluarga di sini. Rumah ini selalu terbuka kapan saja kalian ingin pulang.”
Mendengar itu, Mozza terharu, matanya berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan Egha di bawah meja, memberikan senyum hangat.
Grey yang sedari tadi menahan komentar langsung nyeletuk.
“Asal jangan lupa undang kita main ke rumah baru ya,”
Jingga menimpali, “Iya tuh, jangan sampai rumahnya cuma buat pengantin baru doang. Kita juga mau ikut meramaikan.”
Semua tertawa lagi, mencairkan suasana yang sempat haru.