Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan tropis dan Danau
Aku berendam di bath up air hangat.
Tubuhku gatal setengah hari di hutan.
Sepertinya perjalananku lumayan jauh.
Kakiku pegal.
Beberapa bagian kaki luka tertusuk.
Besok kalau aku pergi lagi aku pasti menggunakan peralatan lengkap.
Ibu mulai curiga, karena kemarin aku terlambat makan siang.
Kamarku kotor berserakan daun dan lumpur.
Aku harus mengelap dan mengepel sendiri lantai kamar agar tidak mencurigakan.
**
"Nona Mayanza...
Apakah Nona masih di dalam?" tanya bibi sambil mengetuk kamar.
"Iya.. Aku sedang mandi bi.. " ucapku.
"Tuan dan Nyonya sudah menunggu" jawab bibi lagi.
"Baik, aku akan segera turun" jawabku sambil mengenakan handuk.
Aku mengenakan pakaian kerja sekalian berangkat ke rumah sakit untuk bertugas.
**
Ruang perawatan Pasien kanker anak.
Namanya Karen.
Anak itu berusia 8 tahun.
rambutnya yang hitam panjang sudah rontok akibat kemoterapi.
Badannya kurus 15kg sungguh tidak seimbang untuk anak seusianya.
tapi anak itu tetap semangat.
tetap memberikan senyumnya yang tulus ketika kunjungan ke ruangannya.
Kanker darah, anak sekecil ini harus merasakan sakit dari usia muda.
"Dokter besok kesini lagi ya... " katanya.
"Baik" jawabku sambil mengelus-elus tangannya. Mataku fokus pada botol infusnya yang sisa setengah.
"Sus, 30 menit lagi cek ulang infusnya dan beri obat yang aku resepkan tadi."
Suster mengangguk tanda mengerti.
"sampai jumpa besok" kataku.
Karen mengangguk pelan sambil memeluk boneka beruang coklatnya.
**
Aku mencoba berkonsentrasi.
Aku masuk hutan lagi.
Dan kembali ke Rumah Sakit beberapa menit kemudian.
Aku melakukannya di tangga darurat agar tidak ada yang melihatku dan menghindar dari beberapa titik cctv.
Kali ini aku berkonsentrasi memutar jariku merapal tanda berbentuk lingkaran saat cahaya emas lubang waktu itu muncul aku membayangkan tempat terakhir aku berjalan.
"Yeay... Berhasil"
Aku melangkah ke arah suara gemericik air..
ternyata ada Danau...
Danau dan Air terjun yang tidak terlalu tinggi di hutan ini. Bebatuan terlihat alami berlumut dan segar...
Baru kali ini aku melihat cahaya...
Cahaya terang dari matahari dan langit biru yang indah.
Aku duduk, aku lepaskan jas putihku memasukan ke dalam tas ransel hitam yang kubawa.
Kulirik jam tanganku.
Tidak berfungsi.
Setengah jam lagi aku harus kembali,
karena aku masih piket.
Aku baru ingat di tas ada handphone apakah ini berfungsi.
Tidak ada signal.
aku bisa gunakan sebagai senter dan mendengar lagu.
Aku lihat sekeliling bebatuan.
Aku melangkah mendekat ke area danau berhati-hati.
Aku sudah menukar sepatuku dengan sepatu boots sebelum mencoba melakukan perpindahan dunia.
Kulihat sekeliling tidak ada orang.
Lalu aku duduk berhati-hati di bebatuan besar.
Batunya basah karena cipratan air terjun.
Dan Aku terpesona pada hamparan bunga yang tersembunyi di balik batu... Masih di pinggir danau...
Bunga Teratai...
semua berwarna kuning emas.
Aku menemukannya.
Aku melangkah hati-hati berpegangan.
dengan hati yang sangat senang.
aku melihat sekeliling lagi aku petik satu bunga yang dapat kugapai.
bunga yang mekar sempurna.
tanpa ragu aku memotong dengan pisau bedahku.
Yeay... Bunganya terputus...
Tiba-tiba langit berubah mendung, hujan gerimis.
aku membungkus bunga itu dengan jas putihku.
memasukan ke dalam ransel.
Sebelum aku basah dan gelap aku segera kembali merapalkan mantra.
Aku kembali ke tempatku semula.
Tangga darurat rumah sakit.
Aku lega...
Senang...
Tubuhku sedikit basah, tapi tidak apa-apa.
Ku cek kembali bunga itu.
Masih ada.
Aku lekas bergerak ke ruanganku, mengambil jas putih lain untuk kembali berkerja seperti biasanya.
sepatu tas ransel segera kusimpan di loker.
**
Setelah makan malam,
aku segera masuk kamar, agak terburu-buru.
mengunci rapat kamar dan jendela aku pastikan semua tertutup rapat.
aku lega semuanya aman, buru-buru membuka tas ransel hitam dan membuka bunga yang terbungkus jas putih, aku sangat senang melihat bunga teratai di tanganku bunga dalam buku ini nyata.
Bunga ini masih segar, kuhirup aromanya lembut wangi bunga teratai, aromanya sejuk, kuhidupkan air untuk mengisi bath up.
Lalu aku letakan bunga itu di dalamnya.
Bunga itu bercahaya.
Ini nyata dan bukan bohong...
Aku bergumam sendiri...
"Kakek.... "
Aku buka buku tua itu kembali dan mempelajari teknik pengobatannya.
**
Cuaca cerah hari ini.
Aku sarapan banyak.
Sarapan buatan ibu rebusan jagung dan egg roll isi ayam cincang, dan segelas susu.
"Mayanza hari ini kamu kelihatan senang sekali dan makan banyak" kata ibu.
"Iya bu, hari ini sarapannya lezat. Egg rollnya aku suka" kataku di sambut anggukan Ayah.
"Bagaimana perkerjaanmu? Apakah lancar" tanya ayah.
"Lancar.. Hari ini aku akan visit ke pasien kanker" kataku dijawab anggukan ayah.
"Oya, ibu lupa..
Kalau menyerahkan kunci gudang ke orang yang akan membersihkan rumah kakek. Apa kamu sempat sepulang berkerja ke rumah kakek memberikan kunci kepada bibi penjaga?" pinta ibu.
"Boleh bu...
Aku akan mengantar kunci gudang ke sana nanti sepulang berkerja" jawabku.
Sudah lama aku tidak ke rumah kakek.
**
Aku menumbuk pelan menggunakan alat tumbuk obat yang terbuat dari marmer.
setengah bunga teratai emas itu aku buat menjadi hancur kucampurkan kedalam beras yang kubawa tadi dari rumah.
Ruang kerjaku ku kunci rapat.
Lalu aku masukan ke dalam tempat cream wajah yang sudah kosong.
Aku berharap agar khasiat bunga ini benar seperti yang di buku dan semoga berhasil.
**
Aku datang seperti biasa...
Pasien kecilku Karen semakin lemah.
wajahnya tirus.
Aku mengusap tangannya.
"Karen pasti sembuh" kataku.
Lalu Karen tersenyum, membalas ucapanku dengan senyum manis di sudut bibirnya yang pucat, sementara ibunya yang selalu menangis wajahnya sembab.
**
Ruangan kosong...
Ibu Karen keluar, aku masuk perlahan.
Membuka pintu dengan perlahan takut pasien terbangun.
Karen sedang tertidur nyenyak.
Perlahan kuoles cream racikanku di kaki karen.
tangan dada dan wajah.
kuoles tipis.
dan tidak lupa kepalanya.
aku gemetaran takut Karen bangun.
saat selesai aku menghela nafas panjang.
Karen membuka mata meraih tanganku.
Tempat cream yang kosong terjatuh ke lantai.
"Dingin dokter" kata Karen lemah.
"Bagaimana rasa tubuhmu?"
"Lebih enak dokter" katanya sambil tersenyum.
Aku menunggu reaksi lain...
Tidak ada reaksi apapun.
"Dokter... Ada apa" kata Ibu Karen, dia terkejut dan buru-buru mendekat melihatku ada di kamar anaknya.
Ibu Karen baru datang membawa bungkusan makanan.
"Tidak apa-apa tadi kebetulan lewat" kataku.
Kuinjak tempat cream itu dan aku memungutnya perlahan berpura-pura menyentuh sepatu.
Aku masukan tempat cream itu ke kantong baju jas putihku.
Aku mengedipkan kedua mata pada Karen.
dan Karen mengangguk tanda setuju ini rahasia kami berdua.
"Karen tidak apa-apa kan dok? " tanya Ibunya.
"Aku tadi keluar sebentar beli makanan di kantin."
"Tidak apa-apa bu... Makan saja. Kondisi karen stabil" aku menunggu disitu sekitar 10 menit..
Kulit karen yg tadinya pucat berubah menjadi kulit segar..
seluruh alat penunjuk organ vitalnya mengalami peningkatan yang baik. Aku catat di dalam ingatanku.
Lalu perawat datang.
Aku pamit, aku lihat wajah Karen yang tadi pucat berubah lebih cerah dan segar.
Apakah aku berhasil?
**
𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜....
𝙰𝚙𝚊𝚔𝚊𝚑 𝙼𝚊𝚢𝚊𝚗𝚣𝚊 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚑𝚊𝚜𝚒𝚕 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚙𝚎𝚗𝚐𝚘𝚋𝚊𝚝𝚊𝚗𝚗𝚢𝚊?
𝚊𝚙𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚒𝚊 𝚕𝚊𝚔𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚎𝚖𝚞𝚍𝚒𝚊𝚗?
𝚃𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞 𝚍𝚒 𝙴𝚙𝚒𝚜𝚘𝚍𝚎 𝚜𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊...