Indonesia
NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Mau "Naik Pangkat"

Kakak, Aku Mau "Naik Pangkat"

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Diam-Diam Cinta / Office Romance
Popularitas:54
Nilai: 5
Nama Author: Aluna Senja

Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Adik Manis Ngambek Kabur dari Rumah

Aroma mentega dari dapur seharusnya membuat pagi terasa damai. Namun punggung Kevin yang kaku membuat suara telur digoreng terdengar seperti peringatan perang.

"Kev, kamu marah?"

"Nggak."

Jawaban satu kata. Bahaya.

Dia menyajikan roti panggang, telur, dan kopi persis seperti yang kusukai. Setelah itu dia duduk di seberangku, makan tanpa mengangkat kepala. Aku mencoba menyentuh kakinya di bawah meja. Dia bergeser.

"Soal pengganti tadi cuma bercanda."

"Lucu, kok."

"Kalau lucu, senyum."

Kevin mengangkat sudut bibir dengan bentuk paling palsu yang pernah kulihat. Lima menit kemudian dia masuk kamar, berganti pakaian, lalu mengambil ranselnya.

"Mau ke mana?"

"Keluar. Cari udara."

"Kabur dari rumah?"

"Aku punya kaki sendiri."

Pintu tertutup pelan. Bahkan saat ngambek, dia tidak membanting apa pun. Aku mendengus dan pergi bekerja, yakin dia akan pulang sebelum siang.

Ternyata tidak.

Ketika pengurus apartemen mengirim pesan tentang paket, foto yang ikut terkirim memperlihatkan meja makan penuh kotak makanan. Kevin telah memasak sup, tumis sayur, dan ayam kesukaanku sebelum pergi. Di salah satu kotak ada catatan: Panaskan dua menit. Jangan cuma minum kopi.

Aku memotret catatan itu untuk Michelle.

Balasannya datang cepat. Suami lo kabur sambil ninggalin katering? Tolong jangan sia-siakan spesies langka.

Hari itu pekerjaan menelanku. Rapat susulan berubah menjadi pemeriksaan kontrak, lalu server tim legal bermasalah. Ponselku kehabisan baterai menjelang malam. Saat akhirnya keluar dari gedung hampir pukul sebelas, kepalaku berat dan kakiku sakit.

Kevin duduk di bangku dekat pintu utama kantor.

Ranselnya berada di lantai, rambutnya berantakan oleh angin, dan dua gelas kopi dingin berdiri di sampingnya. Begitu melihatku, dia bangkit. Tidak ada senyum.

"Kamu tahu nggak aku sekhawatir apa?"

Nada suaranya tidak keras, tetapi aku berhenti melangkah.

"Ponselku mati."

"Bisa pinjam telepon kantor. Bisa kirim kabar lewat siapa saja. Aku datang dari jam sembilan karena pesan nggak dibalas. Satpam cuma bilang kamu masih di atas."

"Aku biasa pulang selarut ini."

"Dulu kamu hidup sendiri. Sekarang ada aku."

Kevin menarik napas, seolah menahan kata-kata yang lebih tajam. "Aku suamimu, bukan anak kecil. Jangan perlakukan aku seperti bocah yang cuma boleh masak, dipuji ganteng, lalu diganti kalau membosankan. Kita harus komunikasi yang benar."

Rasa bersalah menusuk lebih kuat daripada tegurannya. Aku mengambil tangannya.

"Aku salah. Soal telepon dan soal lelucon pagi tadi."

"Kalau ada cowok yang masakannya lebih enak, kamu pilih siapa?"

"Kamu."

"Kalau dia lebih muda?"

"Tetap kamu."

Dia menatapku tajam. "Kalau di ranjang lebih cocok?"

Aku terlambat menjawab setengah detik.

"Cici mikir!"

"Aku sedang menghitung berapa banyak cara buat membungkam mulutmu."

Kupeluk pinggangnya di depan pintu kantor. Kevin berusaha mempertahankan muka kesal, tetapi telinganya memerah.

"Pulang sama aku," bisikku. "Kita bisa lanjutkan survei kecocokan itu di rumah."

"Aku masih marah."

"Boleh. Marahnya di rumah."

Di mobil, dia akhirnya menggenggam tanganku. Saat kutanya kenapa kembali kalau memang mau kabur, Kevin menyandarkan kepala ke kursi.

"Aku nggak kabur. Aku cuma menenangkan diri. Kamu itu rumahku. Mau pergi ke mana juga akhirnya aku cari kamu."

Kalimat itu menghapus sisa candaan dari lidahku. Aku mencium buku jarinya dan berjanji akan mengabari jika pulang terlambat. Malam itu kami benar-benar bicara sebelum melakukan hal lain.

Kevin mengaku keluar karena takut mengatakan sesuatu yang akan ia sesali. Aku mengakui kebiasaanku memakai lelucon untuk menghindari percakapan serius. Kami menyepakati dua hal sederhana: tidak menghilang tanpa kabar dan tidak menggunakan ancaman perpisahan, bahkan sebagai candaan.

"Kalau aku butuh waktu sendiri, aku bilang berapa lama," katanya.

"Kalau aku lembur, aku kirim pesan sebelum baterai mati."

"Dan nggak ada pengganti."

"Nggak ada pengganti."

Barulah senyum kecilnya kembali. Ia mengangkat tanganku, menyentuhkan cincin kami, lalu menyimpan janji itu dengan ciuman singkat. Pertengkaran pertama kami ternyata tidak berakhir dengan siapa yang menang. Rasanya lebih seperti belajar bahasa baru yang hanya dipakai oleh dua orang menikah terlalu cepat.

Dua hari kemudian, Rendi mengirim undangan fisik ke kantorku. Seolah itu belum cukup, dia menelepon untuk memastikan aku datang ke pesta pernikahannya.

"Bawa suami dadakan lo kalau berani," katanya.

Michelle yang sedang makan siang bersamaku langsung merebut telepon. "Kami datang. Siapin tempat yang bagus, ya. Biar pengantin bisa lihat mantannya lebih bahagia."

Setelah panggilan berakhir, aku menatapnya. "Kenapa menerima atas nama gue?"

"Karena kadang tamparan terbaik pakai suami muda yang tinggi dan wangi."

Pada hari pernikahan Rendi, Kevin ternyata menganggap tugas itu sangat serius. Rambutnya disisir rapi, jas gelapnya pas di bahu, dan aroma parfumnya memenuhi lift. Ia mengaitkan lenganku di lengannya begitu kami memasuki hotel bintang lima.

Sebelum berangkat, dia sempat menolak jam tangan yang kutawarkan. Ia memilih jam sederhana dari ranselnya sendiri, lalu memasukkan map akta perkawinan ke brankas baru di lemari.

"Akhirnya nggak dibawa jalan-jalan?"

"Aku sudah foto salinannya tiga tempat."

"Kamu lebih protektif ke akta daripada ke aku."

"Akta nggak suka lembur tanpa kabar."

Aku mencubitnya. Ia tertawa, pertanda perang dingin kami resmi selesai.

"Kamu gugup?" tanyaku.

"Nggak. Aku cuma mau kelihatan cocok sama Cici."

"Kamu kelihatan terlalu bagus. Bisa-bisa pengantin perempuan menyesal."

Kevin menatapku, mengingatkan bahwa lelucon soal pengganti belum sepenuhnya aman. Aku cepat-cepat merapikan dasinya.

Rendi menyambut kami dekat deretan bunga impor. Arloji besar melingkar di pergelangan tangannya, sementara cincin berlian baru berkedip setiap kali ia bergerak.

"Akhirnya datang juga," katanya. "Gimana, Kev? Pernah lihat barang begini?"

Kevin mengamati arloji dan cincin itu tanpa menyentuh. "Pernah."

"Harganya mungkin bikin lo pusing."

"Dua-duanya digabung paling puluhan juta doang. Kenapa harus pusing?"

Nada Kevin sama santainya seperti menyebut harga makan siang. Aku menoleh cepat. Rendi tertawa kaku.

"Sok tahu. Ini edisi khusus."

"Kalau mau, nanti aku kirim kontak yang bisa periksa nomor serinya."

Sebelum Rendi membalas, suasana di pintu masuk berubah. Beberapa tamu berdiri lebih tegak ketika seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun masuk bersama asistennya.

Rendi langsung meninggalkan kami.

"Om besar! Terima kasih sudah datang."

Pria itu, yang kudengar dipanggil Om Herman, menepuk bahu Rendi sekilas. Pandangannya bergerak melewati ruangan, lalu berhenti pada suamiku.

Wajahnya langsung bersinar.

"Kevin?"

Kevin maju dan menyalaminya dengan akrab. "Om Herman. Lama nggak ketemu."

"Kamu sudah pulang? Frans nggak bilang apa-apa. Aku mau pensiun, malah anak teman lama muncul satu-satu." Om Herman menatapku, lalu kembali kepada Kevin. "Siapa perempuan cantik ini?"

Kevin merangkul pinggangku dengan tenang.

"Ini istriku, Vanessa."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!