Indonesia
NovelToon NovelToon
Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romansa / Bad Boy
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.

Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.

Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!

IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com

Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saingan dari Zurich

Lampu sedan sport silver di bahu jalan SS15 membiaskan pendaran tajam di atas aspal yang basah. Pria berambut cokelat keemasan itu tersenyum hangat, melangkah mendekat dengan mantel cashmere yang kontras dengan udara malam Subang Jaya.

"Julian...?" bisik Emily, matanya membelalak tak percaya.

Julian von Bern, putra pengusaha perbankan terkemuka di Zurich sekaligus mantan rekan satu tim Emily dalam kompetisi analisis risiko di Gymnasium Zurich tiga tahun lalu, kini berdiri tepat di hadapannya.

"Sudah lama sekali, Emily," ujar Julian dalam bahasa Inggris berlogat Eropa yang kental. "Aku dengar kamu pindah ke Kuala Lumpur dan menguasai Helios cabang Malaysia. Begitu aku tiba di KL untuk program pertukaran dan riset finansial, aku langsung mencarimu."

Belum sempat Emily menjawab, sebuah lengan tegap merengkuh pinggangnya dengan posesif.

Sean melangkah maju, memasang tubuh tingginya persis di samping Emily. Aura dingin dan berbahaya seketika terpancar dari sosok Sean. Matanya menatap Julian dengan kejam, tatapan seorang pelindung yang siap menghancurkan siapa pun yang mencoba mengusik wilayahnya.

"Who are you?" tanya Sean dengan suara rendah, suaranya sarat akan ancaman yang tak terelakkan.

Julian menghentikan langkahnya, melirik jemari Sean yang melingkar erat di pinggang Emily. Senyum menawan di wajah tampan Julian tidak pudar, namun kilat ketertarikan yang kompetitif tampak di matanya.

"Ah, kamu pasti Sean Anderson," tebak Julian santai, mengulurkan tangannya. "Emily sering menceritakanmu saat di Zurich. Dulu dia selalu melihat fotomu di ponselnya setiap kali selesai belajar."

Sean sempat terdiam beberapa detik karena kaget melihat Julian lancar berbicara dengan bahasa Indonesia.

Sindiran halus itu dibalas Sean dengan genggaman kaku dan singkat pada tangan Julian. "Aku kekasih Emily. Dan kami baru saja mau masuk untuk beristirahat."

Julian terkekeh pelan, memasukkan tangannya ke dalam saku mantel. "Tentu. Maaf mengganggu malam kalian. Tapi Emily, besok pagi aku akan mengisi kuliah tamu di kampusmu di Sunway. Sampai jumpa di kelas International Banking."

Julian mengedipkan sebelah matanya pada Emily sebelum berbalik dan masuk ke dalam mobil sport-nya, meninggalkan raungan mesin yang membelah keheningan Subang Jaya.

Sean menatap mobil yang menjauh itu dengan rahang yang mengeras. Emily menoleh, mengusap lembut lengan Sean seraya tersenyum tipis. "Kamu cemburu ya, Sean?"

Sean menatap Emily, wajah dinginnya melunak namun ada raut gelisah yang sangat manusiawi di sana. "Dia melihatmu dengan cara yang tidak aku sukai, Mil."

Emily tertawa kecil, memeluk lengan Sean erat-erat. "Di Zurich dia cuma teman tim kompetisiku. Dan hati aku... cuma punya kamu dari dulu."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan harinya, pukul 08.00 pagi.

Kehidupan Emily sebagai mahasiswi baru di Kampus Sunway kembali berdenyut. Suara langkah kaki ratusan mahasiswa, aroma manis kopi arabika dari booth kampus, dan riuh obrolan persiapan presentasi memenuhi koridor gedung Fakultas Ekonomi.

Emily berjalan menyusuri canopy walk bersama Mei Ling. Pagi ini, Emily tampil sangat sederhana namun segar, kaus polo warna hijau sage yang dimasukkan ke dalam celana jins longgar, sepatu kets putih, dan kacamata berbingkai tipis favoritnya. Di dalam tas kain kusamnya, tersimpan laptop dan bekal nasi lemak RM 3 yang ia beli di SS15 tadi pagi.

"Mil! Kamu tahu nggak?!" pekik Mei Ling heboh seraya menyikut lengan Emily. "Hari ini ada guest lecturer ganteng banget dari Swiss buat mata kuliah International Banking! Katanya dia anak pemegang saham bank di Zurich dan masih muda banget!"

Emily menyunggingkan senyum tipis, menyapu rambut hitamnya ke belakang telinga. "Iya, Mei. Aku tahu."

"Hah? Kamu tahu dari mana?!" mata Mei Ling membelalak penasaran.

"Dia... teman sekelas aku pas di Gymnasium Zurich dulu," aku Emily jujur.

"Gila! Teman kamu kenapa cowok-cowok kelas atas semua sih?!" seru Mei Ling gemas. "Kemarin cowok bertopi hitam yang posesif banget sama kamu, sekarang pengajar dari Swiss!"

Di dalam ruang kuliah auditorium yang ber-AC dingin, ratusan mahasiswa tingkat satu dan dua sudah duduk rapi.

Julian berdiri di depan panggung utama, mengenakan kemeja biru muda yang lengannya tergulung kaku. Penampilannya yang sangat tampan dan berkelas langsung mencuri perhatian seluruh mahasiswi di ruangan itu.

Namun, begitu mata Julian menemukan keberadaan Emily yang duduk di barisan tengah bersama Mei Ling, senyum Julian merekah lebar.

"Selamat pagi semuanya," sapa Julian dengan suara berat yang menawan melalui mikrofon. "Hari ini kita akan membahas dinamika akuisisi modal di pasar Eropa dan Asia Tenggara. Tapi sebelum kita mulai, saya ingin mengundang satu mahasiswi berprestasi yang analisisnya pernah memenangkan kompetisi di Zurich... Saudari Emily Valencia."

Seluruh isi auditorium seketika menoleh ke arah Emily. Steven di barisan depan menggertakkan giginya kesal, sementara Mei Ling menahan napas kagum.

Emily tidak panik. Ia berdiri dari kursinya dengan tenang, menjawab pertanyaan dasar yang dilemparkan Julian dalam bahasa Inggris yang amat fasih dan mendalam.

Pengetahuan akuntansi dan pengalaman lapangannya di Helios membuat jawaban Emily terdengar begitu brilian, memancing tepuk tangan pelan dari dosen-dosen senior yang duduk di meja samping.

Julian menatap Emily dengan binar kagum yang tak tersamar. "Jawaban yang sangat sempurna, Emily. Persis seperti yang aku ingat di Zurich."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sore harinya, pukul 16.00.

Setelah jam kuliah berakhir, Emily berjalan menuju kedai mamak langganannya di SS15 untuk membelikan teh tarik dingin kesukaan Sean.

Namun saat Emily berjalan melewati taman belakang kampus yang rindang, langkahnya terhenti.

Sean berdiri di dekat bangku taman, mengenakan kaus hitam polos dan celana jins santai. Namun ia tidak sendirian. Julian berdiri di hadapannya.

Dua cowok berpenampilan bertolak belakang itu sedang saling berhadapan dalam ketegangan yang amat pekat.

"Aku tahu siapa kamu sebenarnya, Sean Anderson," suara Julian mengalun kaku dalam bahasa Inggris, tidak ada lagi senyum ramah di wajahnya. "Kamu mengorbankan masa muda Emily di Jakarta. Kamu menyeretnya ke dalam perselisihan keluargamu yang kotor."

Sean melangkah satu titik lebih dekat, menatap Julian dengan mata yang menyala kejam. "Kamu tidak tahu apa-apa soal apa yang kami lewati, Bern."

"Aku tahu Emily pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik!" bentak Julian, suaranya sedikit meninggi. "Di Zurich, dia bisa jadi analis bintang tanpa perlu mengkhawatirkan tembakan peluru atau ancaman hukum! Kalau kamu benar-benar mencintainya, lepaskan dia! Biarkan dia ikut denganku ke Eropa untuk memimpin proyek bank keluarga kami!"

Sean mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan rasa cemburu yang membakar dada Sean hampir saja membuat tinjunya mendarat di wajah Julian.

"Sean!" panggil Emily pelan namun tegas dari balik pepohonan.

Kedua cowok itu menoleh seketika.

Emily melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Sean. Tanpa ragu sedikit pun, Emily menggenggam erat telapak tangan Sean yang mengepal, menautkan jemarinya di antara jemari Sean yang dingin, membiarkan kehangatan cintanya menenangkan emosi cowok itu.

Emily menatap Julian dari balik kacamata tipisnya dengan tatapan tegas yang amat dewasa.

"Terima kasih atas tawarannya, Julian," suara Emily mengalun tenang dan jernih. "Tapi masa depanku tidak berada di Zurich. Dan hidupku bukan sesuatu yang bisa diputuskan oleh orang lain."

Julian tersentak, menatap genggaman tangan Emily dan Sean yang tak terpisahkan.

"Di Jakarta Sean melindungiku dengan caranya," lanjut Emily tulus. "Di Swiss aku belajar untuk jadi kuat. Dan di Kuala Lumpur ini... kami memilih untuk membangun masa depan kami bersama sebagai manusia biasa. Aku tidak akan pernah meninggalkan Sean."

Sentuhan dan kata-kata Emily membuat gejolak amarah di dada Sean seketika menguap, berganti dengan rasa haru dan cinta yang teramat sangat. Sean menarik tangan Emily, mencium punggung tangan gadis itu di hadapan Julian.

Julian menghela napas panjang, menundukkan kepalanya dalam kekalahan yang elegan. "Aku mengerti, Emily. Kamu memang tidak pernah berubah... selalu tahu apa yang kamu inginkan."

Julian menatap Sean, mengangguk pelan. "Jaga dia baik-baik, Anderson. Jika kamu menyakitinya sekali lagi... aku tidak akan ragu untuk membawanya kembali ke Eropa."

Julian membalikkan badan dan melangkah pergi menyusuri trotoar kampus, menghilang di balik kerimbunan pohon.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam harinya, di meja plastik berwarna merah kedai mamak SS15.

Aroma gurih Maggi Goreng telur mata yang mengepul hangat dan dua gelas teh tarik dingin menemani keheningan yang nyaman di antara Emily dan Sean.

Emily sedang melahap mi gorengnya dengan lahap, menyingsingkan lengan kaus polosnya, sementara Sean duduk menopang dagu di seberangnya, menatap Emily dengan senyuman paling manis yang tak pernah mengudara di Jakarta.

"Makasih ya, Mil," bisik Sean lembut.

Emily menghentikan kunyahannya, menatap Sean dari balik kacamatanya. "Makasih buat apa?"

"Buat selalu memilih aku," jawab Sean tulus, mengusap pelan pipi halus Emily. "Padahal di luar sana ada banyak cowok seperti Julian yang bisa kasih kamu kehidupan mewah yang tenang."

Emily tersenyum hangat, menggeleng pelan. "Kehidupan mewah tanpa kamu itu cuma sangkar emas yang dingin, Sean. Di sini, makan mi goreng lima ringgit sama kamu... ini jauh lebih berharga dari apa pun."

Sean terkekeh pelan, mengecup pelipis Emily dengan kelembutan yang amat dalam. Di antara riuh rendah kendaraan di Subang Jaya, mereka kembali menemukan kedamaian manusiawi yang amat nyata.

Namun, di layar laptop terenkripsi milik Emily yang tergeletak di dalam tas kainnya, sebuah Notifikasi Email Rahasia baru saja masuk dari Otoritas Pasar Modal Singapura:

[PERINGATAN DINI: Sisa dana investasi rahasia almarhumah Ibu Sean Anderson di Singapura mendadak dicairkan secara paksa oleh entitas anonim yang terdaftar di New York.]

Musuh baru yang jauh lebih besar dari keluarga Wijaya dan Gabriel Setiawan telah mengintai warisan sejati Sean dari seberang Samudra.

Bersambung......

1
Alia Chans
Hadir atuuu/Smile//Smile/
Bella: haloo kakk, makasihh yaa 🥰 enjoy ceritanyaa 💖
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!