Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Pelarian Tengah Malam dan Lautan Bintang
Jalanan kota yang biasanya macet kini terasa sangat lengang. Angin malam yang menusuk tulang berhembus kencang, menampar kaca helm Amira saat motor sport hitam metalik milik Alfian melesat membelah keheningan malam.
Di atas motor yang melaju dengan kecepatan di atas rata-rata itu, Amira menyandarkan sisi wajahnya di punggung tegap Alfian. Kedua lengannya melingkar sangat erat di pinggang cowok itu—bukan hanya karena takut jatuh, tapi karena pelukan itu adalah satu-satunya sumber kehangatan di tengah udara malam yang mulai membuat ujung jari-jarinya kebas.
Amira memejamkan mata, membiarkan aroma mint dan sisa wangi cologne maskulin milik Alfian menenangkan jantungnya yang sedari tadi berpacu tak karuan. Ia tidak tahu ke mana kapten arogan ini membawanya, dan anehnya...
Amira sama sekali tidak merasa takut.
Sekitar dua puluh menit membelah jalanan kota, laju motor Alfian perlahan memelan.
Amira membuka matanya. Gedung-gedung tinggi telah berganti dengan deretan pohon cemara laut.
Bau khas garam dan deburan ombak seketika menyapa indra penciumannya. Alfian membelokkan motornya memasuki sebuah area dermaga kayu tua di pesisir pantai yang sudah tidak beroperasi, jauh dari hiruk-pikuk kawasan wisata utama. Tempat itu sangat sepi, gelap, dan hanya diterangi oleh pantulan cahaya rembulan yang jatuh ke permukaan air laut.
Mesin motor dimatikan. Hening langsung menyergap, menyisakan suara deburan ombak yang menabrak tiang-tiang dermaga.
Alfian turun lebih dulu, lalu tanpa banyak bicara, ia menangkup pinggang Amira dan menurunkan gadis itu dari jok motor yang tinggi, seolah Amira seringan kapas.
"Kita... ngapain ke pelabuhan tua jam segini, Al?" tanya Amira sambil melepas helm bogonya. Suaranya sedikit bergetar menahan angin laut yang jauh lebih dingin dari udara kota.
"Kamu beneran mau nyulik aku terus ngejual aku ke perompak ya?"
Alfian mendengus geli mendengar tuduhan konyol itu. Cowok itu meletakkan helm Amira di atas spion, lalu menatap gadis itu dari atas sampai bawah.
Amira hanya mengenakan kaus panitia lengan pendek. Gadis itu berdiri sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya mencari kehangatan.
Tanpa menjawab pertanyaan Amira, Alfian membuka boks samping motornya. Ia mengeluarkan sebuah jaket hoodie tebal berwarna abu-abu gelap miliknya.
Dengan gerakan cepat dan sedikit kasar—khas Alfian—ia memakaikan jaket kebesaran itu ke tubuh mungil Amira, lalu menarik ritsletingnya hingga menutupi leher gadis itu.
"Kalau mau jual lo, gue mending jual ke panti asuhan anak cerewet," balas Alfian datar, meski tangannya kini bergerak menaikkan kupluk hoodie itu untuk menutupi kepala Amira agar tidak kedinginan.
Tubuh Amira langsung tenggelam di balik jaket kebesaran itu. Rasa hangat seketika menjalar, apalagi jaket itu dipenuhi dengan aroma khas Alfian.
"Terus ngapain kita ke sini? Katanya kamu tadi kecapekan habis main drum beringas gitu," gerutu Amira, meski wajahnya merona di balik kupluk jaket.
Alfian menarik pergelangan tangan Amira, menuntun gadis itu berjalan mendekati ujung dermaga kayu.
"Duduk," titahnya pelan, menunjuk tepian dermaga yang langsung berbatasan dengan laut lepas.
Keduanya duduk bersebelahan, membiarkan kaki mereka menggantung di atas air laut yang beriak tenang. Langit malam itu luar biasa cerah, bertaburan ribuan bintang yang seolah tumpah dari kanvas hitam kelam.
Alfian merogoh saku celananya, mengeluarkan dua kaleng minuman kopi susu hangat yang ternyata sempat ia beli di minimarket drive-thru sebelum sampai ke sekolah tadi. Ia menyodorkan satu kaleng yang sudah ia buka penutupnya kepada Amira.
"Makasih," cicit Amira, menerima kaleng hangat itu dan langsung menempelkannya ke pipinya sejenak sebelum meminumnya.
Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka selama beberapa menit. Keduanya hanya duduk diam, menikmati suara deburan ombak dan membiarkan sisa-sisa adrenalin dari panggung Pensi perlahan menguap.
"Gue capek," ucap Alfian tiba-tiba, memecah kesunyian.
Amira menoleh.
Alfian sedang menatap lurus ke arah cakrawala laut. Cahaya bulan memantul di wajah sampingnya, mempertegas garis rahangnya yang kokoh dan hidung mancungnya.
Ekspresi cowok itu tak lagi tegang seperti saat di backstage atau di atas panggung. Ia terlihat sangat santai, sangat rapuh, dan luar biasa damai.
"Kalau capek, harusnya tadi kita langsung pulang, Alfian. Kamu juga butuh istirahat, besok kan..."
"Gue capek ngebagi lo sama orang lain, Amira," potong Alfian pelan, mengalihkan pandangannya dari laut untuk menatap tepat ke sepasang mata bulat Amira.
Deg.
Tangan Amira yang memegang kaleng kopi refleks mengerat.
"Dari siang, gue harus nahan diri buat nggak narik lo dari kerumunan panitia. Di backstage, gue harus nahan emosi lihat Fino natap lo pakai tatapan soft andalannya. Dan di atas panggung..." Alfian menjeda kalimatnya, menggeser posisi duduknya menjadi menghadap Amira sepenuhnya.
Cowok itu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Di atas panggung... gue main drum kayak orang kesetanan cuma buat mastiin satu hal."
"M-mastiin apa?" tanya Amira terbata, napasnya mulai terasa sesak oleh intensitas tatapan cowok di hadapannya.
"Mastiin mata lo nggak lihat ke mana-mana selain ke arah gue," jawab Alfian posesif, nadanya berat dan mutlak.
"Gue pengen nunjukin ke lo, ke Fino, dan ke satu sekolah... kalau kapten basket arogan yang selama ini lo musuhin, adalah satu-satunya cowok yang pantas berdiri di samping lo."
Wajah Amira memanas. Jantungnya berdetak sekeras dentuman bass drum Alfian di panggung tadi. Pengakuan blak-blakan tanpa filter ini jauh lebih mematikan daripada gombalan puisi mana pun.
"Kamu... kamu sadar kan, kamu tuh posesif banget, Kapten?" balas Amira pelan, memaksakan senyum untuk menutupi kegugupannya yang luar biasa.
"Aku cuma bantu-bantu anak panitia, dan Fino juga udah janji bakal mundur. Kamu nggak perlu sampai insecure segitunya."
Alfian mendengus pelan, sebuah senyum miring terbit di sudut bibirnya.
Cowok itu mengangkat tangannya. Jari-jari panjangnya yang sedikit kasar akibat terlalu kuat menggenggam stik drum tadi, kini bergerak sangat lembut menyentuh rahang Amira.
"Gue nggak insecure, Amira. Gue cuma... lagi menandai wilayah," bisik Alfian serak.
Ibu jari Alfian mengusap pelan pipi Amira yang merona dingin karena angin laut. Sentuhan itu mengirimkan gelombang kejut ribuan volt ke seluruh sistem saraf Amira.
Gadis itu membeku, kaleng kopi di tangannya nyaris tergelincir jatuh jika saja ia tidak meletakkannya di samping paha.
"Alfian..." panggil Amira lirih, nyaris seperti embusan angin.
"Hm?" balas Alfian, wajahnya perlahan mendekat, mengikis jarak di antara mereka sentimeter demi sentimeter.
"Kamu... serius bawa aku ke sini cuma buat ngomong gini?" tanya Amira dengan sisa-sisa kesadaran yang ia miliki. Matanya refleks turun menatap bibir cowok itu, sebelum kembali menatap mata elang yang kini memancarkan sorot mendamba yang sangat dalam.
Alfian tersenyum simpul, jarak wajah mereka kini tak lebih dari setapak tangan. Hembusan napas hangat cowok itu menyapu hidung Amira, beraroma kopi dan mint yang sangat memabukkan.
"Nggak cuma buat ngomong," bisik Alfian tepat di depan bibir Amira.
"Gue bawa lo ke sini karena gue nggak mau ciuman pertama gue sama lo jadi tontonan Rio atau anak OSIS lainnya."
Deg!
Mata Amira membelalak. Namun, sebelum ia sempat memprotes atau bahkan menarik napas, Alfian telah menangkupkan tangan satunya di tengkuk Amira, dan memiringkan wajahnya.
Bibir cowok itu menyentuh bibir Amira.
Lembut. Sangat pelan. Dan luar biasa berhati-hati, sangat kontras dengan kepribadian Alfian yang biasanya meledak-ledak dan dominan.
Amira mematung. Matanya terpejam rapat dengan sendirinya saat sengatan listrik dari sentuhan itu meledak di dalam kepalanya, menghancurkan seluruh logika yang tersisa. Tangan mungil Amira perlahan merambat naik, meremas ragu-ragu ujung kaus hitam yang dikenakan Alfian di bagian dada.
Merasakan balasan kecil itu, Alfian mengeratkan sebelah tangannya di tengkuk Amira, menarik gadis itu sedikit lebih dekat untuk memperdalam sentuhan mereka di bawah ribuan bintang dan kesunyian laut malam.
Ciuman itu tidak menuntut, hanya sebuah penyaluran emosi, sebuah janji tanpa suara, dan klaim mutlak dari seorang kapten arogan bahwa gadis ini, seutuhnya, adalah miliknya.
Beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Alfian perlahan menarik wajahnya.
Napas keduanya sedikit tersengal. Alfian menempelkan dahinya ke dahi Amira, menatap langsung ke dalam mata bulat gadis itu yang kini berkaca-kaca karena luapan emosi dan wajah yang semerah tomat.
Alfian terkekeh pelan, tawa yang berat dan serak, tangannya mengusap lembut sisa rona merah di pipi gadisnya.
"Mulai besok," bisik Alfian dengan senyum paling menawan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun di dunia ini,
"gue nggak akan biarin lo jalan sendirian di koridor sejengkal pun. Lo pacar gue, Amira. Titik."
Amira mendengus di sela-sela senyumnya yang mengembang lebar, menyembunyikan wajahnya yang sudah tidak karuan bentuknya ke dada bidang cowok itu.
"Dasar kulkas posesif nggak tahu aturan," gumam Amira teredam di dada Alfian.
Alfian tertawa lepas, mendekap erat tubuh mungil itu di bawah langit malam Marina.
Masa lalu tentang Sky dan janji masa kecil itu telah benar-benar usai. Malam ini, di atas dermaga kayu tua, babak baru dari cerita SMA mereka resmi dikunci dengan sebuah janji yang tak akan mudah dipatahkan.