Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Lentera

Gadis Pembawa Lentera

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Cintamanis / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:543
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Time travel seorang gadis yang terpeleset di acara festival lampion kampus.
Karya Fantasi kedua setelah Petualangan Mayanza, semoga berkenan di baca tiap episode nya... 🤍😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 3 Malam Tahun Baru

Seminggu sebelum Tahun Baru kami sudah berusaha maksimal.

Beruntung, sudah tidak turun hujan.

Dekorasi sudah di pasang sesuai dengan tempatnya.

Aku bersiap dengan pakaian tradisional, merias wajah sendiri dan menyanggul rambut dengan cara yang paling sederhana yang bisa aku lihat di Internet.

Yang penting rapi dan terlihat pantas, itu saja sudah cukup.

Aku mengunci pintu kost, berpapasan dengan Ibu Kost.

"Bu...mungkin aku pulang jam dua atau tiga malam karena acara di kampus, aku titipkan kunci kamarku bagaimana dengan pagar depan" tanyaku.

"Tidak masalah, malam Tahun baru dirayakan bersama, mungkin orang-orang juga banyak belum tidur, ketuk saja pagarnya" kata Ibu Kost.

Aku mengangguk.

"Lee..kau cantik sekali seperti putri di dongeng" kata Ibu Kost.

"Terima Kasih bu.." kataku.

Aku masuk ke mobil, lalu mengemudi menuju ke Kampus.

Di depan kampus kami sudah mengantri masuk mengambil nomor, ternyata setelah kami semua berkumpul di lapangan kami mulai di kelompokkan.

masing-masing tiga orang berjalan, mengelilingi kampus dengan lentera.

Kebetulan dua orang dalam kelompokku beda jurusan dan semuanya perempuan.

Kami mulai berjalan dari garis start dimulai dari pukul tujuh setelah arahan Ketua Panitia.

Suasana gelap dan berangin.

**

Aku kembali ke masa kini, setelah bertemu dengan kedua temanku.

Pakaian yang berbeda namun masih di acara Tahun Baru.

Lampu di hidupkan di lapangan terbuka, Band artis ibukota mulai bernyanyi memeriahkan malam Tahun Baru, lagu-lagu di dendangkan bersama.

Kedua temanku mengajakku ke garis Finish,

Aku kembali berjalan ke arah berlawanan dimana aku sempat kembali ke masa lalu dan kembali ke masa kini.

Melepaskan pegangan kedua temanku.

"Pangeran Fang..." aku mulai menangis, menunduk di bawah pohon.

Aku tidak rela kembali, aku kehilangan arah berputar mencari cara agar kembali lagi ke masa lalu.

"Fang..." aku terisak menyentuh tanah.

Menunduk dengan air mata yang membanjiri wajahku serta keringat kelelahan.

Suara dari panggung di lapangan terdengar" Satu...Dua...Tiga..." kata Pembawa acara.

Letusan Kembang api bersahut-sahutan, sinanya berwarna-warni di angkasa menandakan tepat pukul dua belas malam.

Tahun sudah berganti menjadi Tahun Baru, Selembar Kertas bertuliskan Selamat Tahun Baru berwarna merah terbang jatuh tepat di hadapanku yang menunduk di bawah pohon.

"Hei..Lee...kenapa kau disini?" seorang teman perempuan meraih tanganku keheranan melihat aku duduk di bawah pohon tidak pergi ke lapangan.

Ku usap air mataku, lalu memeluknya, aku menangis, dia membalas pelukanku bingung tapi tidak banyak bertanya.

"Selamat Tahun Baru Lee..." kata temanku menepuk-nepuk bahuku.

"Se...la....mat Tahun Baru" kataku terisak.

Aku tidak menyangka kembali, aku belum sempat berpamitan dengan Pangeran Fang, kemarin kami masih bersama dan aku membantunya berlatih berjalan.

**

Akhirnya aku juga ikut ke lapangan, di tengah acara yang masih ramai aku hanya memikirkan pulang.

Balutan luka di tanganku masih ada, apakah Xiu Ren sudah kembali ke tempatnya di sisi Pangeran Fang.

Itu yang menjadi tanda tanya bagiku.

"Aku boleh numpang pulang" kataku dengan Kakak Kost yang kutemui di lapangan.

"Boleh, bukannya tadi kau datang dengan mobil Lee?" tanya Kakak Kost.

"Aku lupa kunciku kemana" kataku dengan lentera ditangan dan wajah lelah, mata bengkak setelah banyak menangis.

Kakak Kost heran, "Baiklah...yuk..." katanya lalu aku ikut pulang bersamanya.

setelah mengambil kunci kamar kost aku mengambil kunci serep mobil di laci meletakan di meja, aku mandi berendam.

Aku berusaha untuk tidak menangis, tapi air mataku terus keluar, aku merindukan kehidupan istana.

Berbulan-bulan aku tinggal disana berjuang untuk kembali, tapi saat aku kembali semuanya terasa berbeda.

Aku menggunakan piyama ku duduk berjongkok di samping kasur, tanpa makan atau minum menatap pakaian tradisionalku yang berwarna putih corak bunga berwarna merah kain yang kubeli kemarin bersama Pangeran Fang di Pasar Ibukota, kain Sutra Pilihan untuk acara Malam Festival Lentera.

Kain dari ribuan tahun yang lalu.

Aku menyentuh buku tua yang kusalin dari perpustakaan, kisah itu sudah berubah bukan tentang Xiu Ren tapi tentang Aku.

Aku dan segala sifatku sampai menjadi permaisuri, tapi kisah akhirnya aku pergi tidak ada tercantum di buku itu.

**

Aku menghubungi kantor polisi, handponeku hilang, dompet dan kartu identitasku juga di dalamnya.

Aku tau hilangnya dimana, tentu saja di Istana Kediaman Pangeran Fang.

Tapi aku hanya bisa bilang hilang terjatuh saar Festival Lentera.

Aku sementara menghubung Kakakku dengan nomor handphone ibu kost, tidak lama kemudian handphone dan nomor baru dikirimkan padaku melalui kurir.

Tidak lagi berharap barang-barangku kembali.

Pintu kamarku di ketuk, "Lee...ada di dalam?" tanya Ibu kost.

Aku keluar menggunakan piyama, mataku bengkak, "Bagaimana? sudah dapat kabar barang-barangmu?" tanya Ibu Kost.

"Belum" kataku menggeleng.

"Dua hari ini setelah tahun baru aku lihat kau mengurung diri terus dikamar, ada masalah selain barangmu yang hilang" tanya Ibu Kost pelan.

Aku menggeleng, "Tidak ada bu.." kataku.

"Baiklah kalau begitu, ikut ibu makan di rumah, ibu masak banyak" kata Ibu Kost.

"Terima Kasih bu...aku sudah kenyang" kataku menolak pelan, aku memang sudah makan dan tidak selera makan, dipikiranku hanya kejadian kehidupanku yang berbulan-bulan di masa lampau.

**

"Xiu Ren, bagaimana kalau kita keluar pergi ke toko kain" tanya Pangeran Fang.

"Boleh" kataku mengangguk bersemangat.

Aku dan Pangeran Fang turun dari kereta, kaki Pangeran Fang juga sudah sangat baik.

Aku memegang tangannya, Pengeran Fang memandangku.

"Kenapa dengan wajahku?" tanyaku heran.

"Wajahmu bulat" katanya.

"Hah, apa?" kataku bercermin.

Pangeran Fang mencubit pipiku, Aku memang banyak makan, tiap hari aku selalu makan cemilan di istana kurang berolah raga.

"Putri, kain ini sangat indah model terbaru satu-satunya baru datang dari selatan" kata penjual kain.

Aku suka motifnya, dan kain itu berpasangan.

"Aku suka ini, bagaimana Pangeran" kataku.

Pangeran Fang ikut saja apa mauku, setelah dibungkus, kain itu diserahkan ke Pengawal Ziu untuk mengantarnya ke penjahit.

Lentera sudah di pesan dengan orang tua Pengawal Ziu seorang pengrajin kayu.

"Pengawal Ziu, berapa lama orang tuamu sudah berkerja sebagai tukang kayu" tanyaku pada Pengawal Ziu.

"Sudah Puluhan tahun, ayahku sudah menjadi pengrajin kayu, bukankah Putri mengenalnya juga" Kata Pengawal Ziu sambil mengusap kuda memandangku aneh.

Aku mengangguk-angguk merasa gugup dengan tatapannya.

Sesuatu yang aneh tiba-tiba dengan pandangan Pengawal Ziu, apa dia mengenalku dengan baik sebelum ini?

Bagaimana caraku bertanya?

Pangeran Fang datang, "Sedang membicarakan apa?" tanyanya.

Aku menggeleng kepala mungkin ini tidak penting baginya.

**

Apakah aku harus terus mengingat semua apa yang terjadi di Istana Pangeran Fang, atau belajar melupakannya untuk menjalani kenyataan.

Bersambung...

1
Novita Tory
Sampai saat ini berharap happy ending
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!