"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi ayah
"Tapi bagaimana dengan orang orang kampung ini? Mereka mungkin akan menjauhi keluarga Fatih nanti, masalah agama itu sangat sensitif di sini" tanya Hamka khawatir.
"Kita akan cari cara supaya Fatih bisa tetap belajar tanpa diketahui oleh warga, kalau anak anak di sekolah tahu juga pasti mereka akan ikut belajar, mereka punya semangat belajar yang tinggi tapi orang tua mereka kurang mendukung" ucap Hamka
"Lo benar, sejak dua bulan sekolah berdiri saja, murid dewasa hanya ada tiga orang, Aini, Nurma sama Hindun istrinya Windu" ucap Lintang
"Anga Ica aji" ucap Kenanga
"Iya sekarang kamu sudah pintar mengaji, bacaan shalat yang belum lancar" jawab Liam
"Huekk... Huek..."
"Pertanda apa ini Hamka?" Tanya Liam saat melihat Laily berlari ke arah kamar mandi dapur untuk memuntahkan apa yang dia makan di temani Lintang yang khawatir.
"Pertanda kalau mungkin kita akan pulang nanti membawa seorang keponakan yang sudah bisa berlari" jawab Hamka
"Ada bahan bakal di bawa mommy ke Jakarta nih Laily, soalnya di sini tidak ada dokter dan mommy pasti khawatir sama Laily" ucap Liam
"Tenapa?" Tanya Kenanga
"Laily mau punya bayi di perutnya" jawab Liam
"Aau, Anga uda au" ucap Kenanga antusias
"Mau mau saja, kamu apa sih yang nggak maunya" gerutu Liam
"Au ayi" rengek Kenanga
"Kasih Liam" ledek Hamka terkekeh
"Dia saja masih bar bar begitu, mana mungkin gue kasih dia bayi, ngomong saja masih belum lancar mirip Bethari" cibir Liam
"Kan lumayan, ngurus dua bayi, Lo jadi tambah mirip bapak bapak nanti pas pulang" ledek Hamka
"Laily! Bang, tolongin bang, Laily pingsan" panik Lintang menggendong Laily.
"Gimana cara tolongnya" bingung Liam
"Lo temani Lintang, biar gue buat teh manis hangat untuk Laily, kasih minyak kayu putih juga perut sama tengkuknya" ucap Hamka
"Iya juga, dulu dia merawat Alda saat hamil" gumam Liam segera menyusul Lintang
"Lintang, Lo bocil yang udah akan punya bocil, ngurus diri sendiri aja susah sekarang mau ngurus bocil sama emaknya" gumam Hamka terkekeh
Rencananya setelah kondisi Laily membaik, mereka akan membawa Laily ke tempat Rumi untuk di periksa apakah Laily hamil atau tidak, karena Lintang bilang Laily sudah satu bulan ini tidak datang bulan dan kemungkinan hamilnya sangat besar.
"Sudah sadar? Minum ini supaya lebih baikan" ucap Hamka memberikan secangkir teh manis hangat untuk Laily.
"Anga?" Protes Kenanga karena dia tidak di berikan teh juga.
"Ada di depan televisi, sana ambil, ada kuenya juga" jawab Hamka dan Kenanga langsung berlari ke sana.
"Sudah lebih baik?" Tanya Lintang
"Iya kang, tapi Laily mau nyium ini terus" jawab Laily menunjuk minyak kayu putih yang di pegang Lintang.
"Tidak apa apa, yang penting kamu tidak mual, nanti bisa di oleskan pada sapu tangan supaya wanginya bisa tetap kamu cium" ucap Hamka
"Terima kasih ya, untung ada Lo yang seorang duda anak tiga" ungkap Liam meledek
"Nyesel gue bikinin Kenanga teh juga" gerutu Hamka menggeplak kepala Liam.
"Kamu istirahat sebentar ya, nanti kita periksa ke kampung mahoni" ucap Lintang
"Iya kang" jawabnya
"Ada yang kamu mau?" Tanya Liam
"Mau buah jambu air di rumah kak Panca, sepertinya enak di rujak" jawab Laily
"Nanti aku minta ke sana" jawab Lintang mengusap rambut Laily dan mengecup keningnya.
"Bikin iri saja" gerutu Hamka pergi dari sana, lebih baik dia menonton televisi dengan Kenanga karena hari itu adalah hari Minggu dan sekolah libur.
#######
"Bagaimana Mbah? Apa Laily benar benar hamil?" tanya Dirman yang ikut masuk bersama Lintang dan Lilis.
Lintang membawa Laily ke rumah Dirman terlebih dahulu sebelum ke rumah Rumi, dia ingin di temani ke sana karena takut salah bicara, mengingat sebenarnya Rumi tidak terlalu suka dengan Liam dan Lintang yang sempat ingin mendirikan puskesmas di sana satu bulan yang lalu.
"Iya, Laily hamil sekitar dua bulan, jaga kesehatannya karena sepertinya Laily ini kurang darah, dia harus banyak makan daging" jawab Rumi
"Alhamdulillah, Laily, Kita akan punya anak, nanti pasti mommy akan senang, eh tidak, mommy akan memarahiku karena tidak bisa menjaga kamu" ungkap Lintan
"Tenang kang, nanti Laily yang bicara pada mommy" bujuk Laily
"Menantu kita ini malah masih polos pak, seperti anak kecil saja padahal sudah mau jadi bapak" ungkap Lilis
"Maklum Bu, nak Lintang ini kan memang anak baik baik, tidak pernah macam macam meski tinggal di kota dulunya" jawab Dirman ikut bersyukur
"Lalu Mbah, apa saja yang tidak boleh di makan Laily?" tanya Lintang
"Jangan yang tajam tajam seperti buah durian dan nanas, itu berbahaya, biasanya ibu hamil itu akan menunjukkan ngidam yang berbeda beda, ada yang tidak suka bau nasi atau bau badan orang yang lewat di depannya, banyak lagi, dan kamu tidak boleh terkejut" jawab Rumi
"Pantas tadi Laily muntah setelah memakan roti, mungkin bau ya?" tanya Lintang polos.
"Itu bukan karena bau, tapi ibu hamil yang ngidamnya parah, setelah makan dia pasti muntah, cari saja makanan yang bisa masuk ke perutnya, untuk dua bulan ke depan sepertinya Laily akan mabuk parah" jawab Rumi
"Laily katanya tidak mual kalau mencium minyak kayu putih Mbah" ucap Lintang
"Iya, sediakan itu di sampingnya, agar saat dia mual, dia bisa langsung menciumnya" jawab Rumi
"Terima kasih ya Mbah, saya akan mengikuti saran Mbah, saya akan minta Laily untuk lebih banyak makan daging agar dia tidak lemah dan bayi kami juga sehat" ungkap Lintang mencium tangan Rumi sambil memberikan salam tempel seperti yang di ajarkan Dirman sebelum dia datang ke rumah Rumi.
"Sama sama, jaga istrimu, dia sekarang sudah jadi bagian dari keluarga kamu, perlakukan dia dengan baik, jangan karena dia berasal dari kampung, kalian tidak menyayanginya" ungkap Rumi
"Iya Mbah, akan saya pastikan Laily tidak di beda bedakan keluarga saya" jawab Lintang dan Rumi mengusap rambut Lintang sambil tersenyum lembut.
Dirman dan Lintang langsung pamit karena Laily ingin ke rumah Panca, Lintang juga memberikan cincin emas pada Rumi sebagai ungkapan rasa syukurnya atas kehamilannya Laily. Itu adalah adat di kampung itu juga, dan cincin yang di berikan lintang adalah cincin emas yang dia beli dari pasar kampung cadas beberapa minggu lalu sebagai simpanan, karena menurut Dirman orang orang di kampung mahoni akan lebih menghargai pemberian emas di banding uang.
#####