Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.
Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.
Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.
Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2 — Pagi Terakhir di Rumah Mertua
"Pernikahan ini selesai. Saya yang akan pergi."
Kalimat itu masih menggantung di rumah keluarga Prawira ketika Raka menaiki tangga tanpa menunggu jawaban.
Tak ada yang mengejarnya.
Larasati tetap berdiri di dekat sofa. Sulastri mengomel bahwa seorang menantu tak tahu diri sedang mencari perhatian. Ratna menyuruh Pak Joko membuang makanan yang dingin. Hanya Bambang yang sempat memandang ke arah tangga, tetapi seperti biasa, lelaki itu memilih diam ketika satu kalimat darinya mungkin mengubah sesuatu.
Di kamar utama, Raka membuka lemari dan menarik sebuah koper kain yang warnanya telah pudar.
Separuh lemari dipenuhi kostum latihan, gaun, dan kotak sepatu Larasati. Bagian milik Raka tak sampai selebar satu lengan: empat kemeja, dua celana panjang, kaus lama, serta jaket yang ia beli sebelum menikah.
Ia memasukkan semuanya tanpa tergesa-gesa.
Di laci bawah terdapat map berisi ijazah, beberapa sketsa, buku tabungan dengan saldo tipis, dan sertifikat lomba seni dari masa kuliah. Raka mengambil semua yang mencantumkan namanya. Ia meninggalkan kartu tambahan rekening Larasati, kunci mobil keluarga, dan jam tangan pemberian Sulastri yang pernah disebut perempuan itu sebagai "upah mengurus rumah".
Di atas meja rias, foto pernikahan mereka memantulkan cahaya lampu.
Raka tidak merobeknya.
Ia hanya membalik bingkai itu menghadap dinding.
Malam tersebut ia tidur di sofa kecil dekat jendela. Larasati masuk hampir satu jam kemudian, mandi, lalu berbaring tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Perempuan itu mungkin menunggu Raka meminta maaf lebih dulu seperti biasa.
Permintaan maaf itu tidak datang.
Saat azan Subuh terdengar samar dari masjid lingkungan, Raka sudah selesai melipat pakaian terakhirnya.
Ia menyelipkan liontin giok berukir naga ke balik kaus, mengunci koper, lalu keluar dari kamar yang telah ditempatinya selama lima tahun.
Baru tiga anak tangga ia turuni, suara Sulastri melengking dari lantai bawah.
"Raka! Buatkan teh jahe. Kepalaku pusing gara-gara pertunjukanmu semalam."
Raka terus berjalan sampai ke ruang makan.
Hidangan semalam telah hilang. Di sudut dapur, beberapa wadah makanan tertata rapi; Pak Joko tampaknya benar-benar membagikannya kepada petugas keamanan. Meja yang kosong terasa lebih jujur daripada enam kursi kosong semalam.
Sulastri duduk dengan baju tidur sutra, memijat pelipis. "Kau dengar atau tidak? Teh jahe, jangan terlalu manis. Lalu buat bubur untuk Keisha."
"Bu Sulastri bisa meminta Mbok Iyem atau memesannya," jawab Raka.
Tangan Sulastri berhenti. "Apa?"
"Mulai pagi ini saya tidak mengurus kebutuhan rumah ini lagi."
"Kau masih tinggal di bawah atapku!"
Raka mengangkat gagang koper. "Tidak lama."
Wajah Sulastri memerah. Ia memukul meja dengan telapak tangan. "Jangan mengira ancaman cerai membuatmu penting. Laras bisa mendapatkan laki-laki seratus kali lebih baik. Sebas saja tinggal menjentikkan jari—"
"Kalau begitu, Bu Sulastri seharusnya senang saya memberi jalan."
Jawaban tenang itu membuat mulut Sulastri terbuka, tetapi tak ada kalimat yang segera keluar.
Raka melewatinya dan berjalan menuju kamar Keisha.
Pintu kamar bercat putih itu tidak terkunci. Keisha masih tidur memeluk boneka balerina, rambutnya tersebar di atas bantal. Di meja samping ranjang, wadah es krim berlapis emas dari semalam dipajang seperti piala.
Raka duduk di tepi ranjang dan menyentuh dahi putrinya. Suhunya normal. Tidak ada ruam di leher ataupun sesak pada napasnya.
Ia mengembuskan napas lega.
"Kei," panggilnya lembut. "Bangun sebentar, Nak."
Kelopak mata Keisha bergerak. "Ayah? Masih pagi."
"Ayah mau pergi."
"Ke pasar? Belikan es krim emas lagi, ya. Yang dibeli Om Sebastian ada mangga dan kacangnya. Enak."
Jari Raka membeku di rambut anak itu.
"Keisha tidak boleh makan mangga dan kacang. Ingat waktu Dokter bilang perut dan napas Keisha bisa sakit?"
Anak itu mengerucutkan bibir. "Tapi Mama bilang sedikit tidak apa-apa. Om Sebastian bilang anak pemberani tidak pilih-pilih makanan."
"Menjadi pemberani bukan berarti memakan sesuatu yang membuatmu sakit." Raka meraih ponsel, lalu mengetik pesan singkat kepada Larasati: Keisha makan es krim mengandung mangga dan kacang. Tolong pantau ruam, muntah, bengkak, atau sesak. Bawa ke IGD bila ada gejala. Riwayat alerginya ada di rumah sakit.
Pesan itu terkirim dan ia mengambil tangkapan layar.
Keisha sudah duduk. Matanya tertuju pada koper di dekat pintu. "Ayah mau pergi lama?"
"Ayah akan tinggal di rumah lain."
"Kenapa?"
Raka menahan jawaban yang terlalu rumit untuk anak empat tahun. "Ayah dan Mama sedang punya masalah orang dewasa. Bukan salah Keisha. Ayah tetap sayang Keisha."
Keisha memeluk bonekanya lebih erat. "Kalau Ayah pergi, Om Sebastian bisa jadi papa? Dia punya mobil yang atapnya bisa dibuka."
Sakit itu datang juga. Bukan tajam, melainkan berat, seperti tangan yang menekan dada dari dalam.
Namun Raka tidak menyalahkan anak di depannya. Seorang anak hanya mengulang nilai yang terus dipertontonkan orang dewasa.
"Papa bukan orang yang membeli hadiah paling mahal," katanya. "Suatu hari nanti Keisha akan mengerti."
Ia mencium kening putrinya dan berdiri.
Keisha tidak memeluknya. Anak itu hanya bertanya, "Ayah tetap antar Keisha ke sekolah besok?"
"Kalau Mama mengizinkan, Ayah datang."
Di ambang pintu, Raka berhenti sekali. Ia ingin menghafal wajah kecil itu tanpa mengingat es krim emas, Sebastian, atau tawa keluarga Prawira.
Lalu suara Ratna terdengar dari koridor.
"Mau pergi diam-diam?"
Ratna berdiri dengan tangan terlipat. Larasati berada di belakangnya, masih mengenakan jubah tidur. Wajah istrinya pucat karena kurang tidur, tetapi sorot matanya tetap dingin.
"Saya sudah berpamitan kepada Keisha," kata Raka.
"Belum kepadaku," balas Larasati.
"Semalam saya sudah menyampaikan keputusan saya."
Larasati menatap koper. "Kamu benar-benar melakukan sandiwara ini?"
"Saya akan mengirim alamat untuk surat panggilan dan jadwal mediasi setelah permohonan didaftarkan."
"Dengar cara dia bicara." Ratna terkekeh. "Seolah sudah punya pengacara. Sebelum bicara soal pengadilan, kita pastikan dulu dia tidak membawa barang keluarga."
Ratna meraih gagang koper.
Raka tidak menahan. Ia meletakkannya di lantai dan membuka kunci di depan mereka.
"Silakan periksa, Mbak Ratna."
Ratna tampak tidak menyangka ia akan mengizinkan begitu mudah. Namun gengsinya sudah terlanjur bergerak. Ia berjongkok, mengangkat pakaian satu per satu, membuka map ijazah, mengguncang kotak pensil, bahkan meraba lapisan dalam koper.
Sulastri datang menyusul. "Periksa baik-baik. Barang kecil pun bisa mahal."
Bambang berdiri jauh di ujung koridor. "Tidak perlu sampai begitu."
"Kalau tidak diperiksa, nanti dia menjual barang kita untuk bayar kontrakan," sahut Sulastri.
Ratna mengeluarkan sebuah kotak kayu tipis. "Ini apa?"
"Pensil arang, pisau ukir kecil, dan kuas milik saya sejak kuliah."
Kotak itu dibuka. Peralatannya terawat, tetapi jelas bukan benda mewah. Ratna menatap jari-jari Raka sejenak—jari dengan kapalan tipis yang selama ini lebih sering dilihatnya memotong sayur dan menyikat lantai.
"Liontinmu," katanya tiba-tiba. "Keluarkan."
Raka menyibak kerahnya dan menunjukkan liontin giok tersebut tanpa melepas rantainya. "Ini sudah saya miliki sebelum mengenal keluarga Prawira."
Ukiran naga itu terkena cahaya pagi. Ratna mendekat satu langkah, sorot matanya berubah seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.
"Batu murahan," Sulastri mendengus. "Biarkan dia bawa."
Raka menutup kembali kerahnya. "Ada lagi?"
Ratna membanting kaus terakhir ke dalam koper. "Tidak ada. Memang tak punya apa-apa."
"Bagus. Berarti kelak tidak ada yang bisa menuduh saya membawa milik kalian."
Raka menata ulang barangnya, menutup koper, lalu menyalakan perekam video ponsel. Ia mengarahkan kamera pada isi koper, kamar di belakang mereka, serta kartu akses dan kunci mobil yang ia letakkan di meja koridor.
"Rekaman pukul enam lewat empat puluh dua. Saya meninggalkan seluruh barang milik keluarga Prawira dan membawa barang pribadi yang telah diperiksa Mbak Ratna."
Ratna menepis arah kamera. "Kau merekam kami?"
"Saya merekam kondisi barang. Saya tidak akan mengunggah wajah siapa pun. File ini hanya untuk mencegah tuduhan di kemudian hari."
"Sok pintar," gumam Sulastri.
Namun tak ada yang berani menyuruhnya menghapus rekaman.
Raka menatap Larasati. "Riwayat alergi Keisha ada di Rumah Sakit Medika Selatan. Saya sudah mengirim peringatan lewat pesan. Jangan berikan makanan tanpa membaca komposisinya."
"Aku ibunya," kata Larasati kaku. "Aku tahu cara mengurus anakku."
"Kalau begitu, lakukan."
Bambang akhirnya mendekat. Ia menyodorkan sebuah amplop cokelat yang baru diambil dari ruang kerja. "Pegang ini untuk biaya sementara. Anggap pinjaman, kalau kau keberatan menerimanya."
Raka tidak menyentuh amplop itu. "Terima kasih, Pak Bambang. Simpan untuk Keisha. Setelah perkara terdaftar, saya akan meminta rekening khusus untuk nafkah anak supaya semua pembayaran tercatat."
"Kau bahkan belum punya penghasilan tetap," sela Sulastri. "Dengan apa kau mau membayar?"
"Dengan tangan saya sendiri."
Ia mengangkat kotak alat gambar. Tidak ada yang mewah pada benda itu. Namun ketenangan di wajahnya membuat Bambang menarik kembali amplop tersebut tanpa memaksa.
Ia berbalik dan menarik koper menuruni tangga.
Tak ada foto keluarga yang ia bawa. Tak ada perhiasan, uang tunai, atau hadiah pernikahan. Seluruh hasil lima tahun hidupnya muat dalam satu koper dan satu kotak alat gambar.
Pak Joko membukakan pintu depan dengan mata memerah. "Saya antar, Mas."
"Tidak usah, Pak. Mobil itu milik keluarga."
"Setidaknya sampai jalan besar."
"Terima kasih. Tapi saya perlu mulai terbiasa berjalan dengan kaki sendiri."
Di carport, tiga mobil berkilau terparkir berjajar. Raka melewatinya tanpa menoleh. Satpam di pos membukakan gerbang besi besar, lalu memberi salam hormat yang lebih tulus daripada semua ucapan di ruang makan semalam.
Udara pagi Pondok Indah masih sejuk. Di luar pagar, trotoar tampak lengang dan bersih. Raka meletakkan koper di sampingnya lalu memesan ojek online termurah menuju Jakarta Timur.
Dari balkon lantai dua, Sulastri berseru, "Jangan kembali menangis kalau uangmu habis!"
Raka memasukkan ponsel ke saku.
Pengemudi ojek muncul di peta, delapan menit lagi.
Ia memandang gerbang rumah itu untuk terakhir kali. Lima tahun lalu, ia masuk tanpa apa-apa dan mengira sebuah keluarga sedang menerimanya. Pagi ini ia keluar dengan jumlah harta yang hampir sama, tetapi membawa sesuatu yang dulu telah ia tinggalkan di dalam sana.
Harga dirinya.
Ketika gerbang besi menutup di belakangnya, Raka tidak menoleh lagi.