Pernikahan megapahit antara Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat murni dirancang demi menyatukan kerajaan bisnis dua keluarga old money. Tanpa cinta, Arya yang dingin dan angkuh memandang ikatan ini sebatas transaksi bisnis, sementara Lilianne tumbuh sebagai putri manja yang impulsif dan gemar berfoya-foya. Tinggal di bawah satu atap justru menyulut perang dingin dan benturan ego antara tradisi serta kebebasan. Namun, saat intrik korporasi mulai mengancam dinasti mereka, Arya dan Lilianne terpaksa bersatu, perlahan meruntuhkan tembok gengsi dan membuka hati satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
***
Melangkah keluar dari kamar utama dengan langkah lebar yang menghentak kaku di atas marmer, aura Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Kelembutan dan permohonan rentan yang ia tunjukkan di hadapan Lilianne luluh tak berbekas, berganti menjadi dominasi kelam yang sarat akan murka mematikan.
Di ruang tamu utama lantai dasar, tim forensik Kepolisian Republik Indonesia bersama jajaran penyidik senior telah bersiaga. Cangkir porselen berisi sisa kopi hitam, botol kaca bening yang ditemukan di saku Widya, hingga salinan rekaman CCTV koridor dapur telah diamankan di dalam kantong bukti berlabel steril.
"Pak Arya," sapa Kepala Unit Reskrim dengan bungkukan hormat yang teramat dalam. "Berdasarkan hasil uji cepat zat kimia laboratorium forensik, cangkir kopi tersebut positif mengandung senyawa obat perangsang sintetis dosis tinggi yang berpotensi memicu bahaya fisiologis akut. Kami akan membawa tersangka ke markas besar untuk proses penyidikan sesuai hukum berlaku."
"Tidak," pangkas Arya dingin, suaranya meluncur sangat rendah hingga membekukan atmosfer ruangan. Pria itu merapikan kancing kemeja hitamnya seraya menatap lurus sang penyidik dengan manik kelam yang menusuk. "Tersangka tidak akan dibawa ke markas besar pagi ini."
Penyidik itu tersentak tipis, menelan ludah dengan canggung. "M-maksud Bapak?"
Arya memajukan tubuhnya setengah digit, memancarkan presensi seorang penguasa dinasti bisnis yang sanggup mengendalikan hukum dalam satu petikan jari. "Sediakan ruang interogasi khusus di paviliun pengamanan bawah tanah mansion ini. Saya sendiri yang akan menginterogasi wanita itu secara langsung sebelum kalian memasukkannya ke dalam sel tahanan. Pastikan seluruh akses komunikasi luar atas nama Widya terputus total."
"B-baik, Pak Arya! Berkas dan pengawasan penuh ada di bawah kendali Anda," sahut sang perwira polisi tanpa berani memprotes sedikit pun.
Satu jam kemudian, di dalam ruang interogasi bawah tanah yang kedap suara dan beraroma semen dingin, Widya duduk terikat di kursi besi. Wajahnya yang biasa dipenuhi kepalsuan kini pucat pasi bagai mayat, rambutnya berantakan, dan kedua tangannya gemetar hebat di bawah kuncian borgol baja.
Suara dentang sepatu kulit berbunyi nyaring membelah keheningan. Pintu besi berat terdorong terbuka, menampilkan sosok Arya Sena yang melangkah masuk sendirian. Pria itu menarik kursi kayu tegap di hadapan Widya, lalu duduk bersandar seraya menatap kepala pelayannya itu dengan pandangan merendahkan yang teramat pekat.
"Pak Arya..." desis Widya dengan suara parau bergetar, mencoba menampilkan raut wajah memelas yang biasa ia gunakan. "T-tolong dengarkan penjelasan saya, Pak... Saya melakukan ini semua karena saya peduli pada Bapak! Wanita bangsawan itu tidak pernah menghargai Bapak, dia cuma memanfaatkan nama besar Soerjoatmodjo! Saya hanya ingin Bapak melihat siapa yang paling setia di rumah ini—"
Brak!
Arya menghantam meja kayu di antara mereka dengan satu dorongan tangan kekarnya, menghasilkan dentuman memekikkan yang menghentikan kata-kata Widya seketika.
"Tutup mulut murahmu itu, Widya," pangkas Arya dengan nada suara yang begitu dingin hingga sanggup menyayat saraf.
Arya memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Widya yang bergetar hebat ditelan ketakutan mutlak.
"Kamu pikir saya tidak tahu siapa kamu sebenarnya?" bisik Arya menohok, menyebarkan lembaran dokumen intelijen klan Djojodiningrat yang dikirimkan Lilianne ke atas meja. "Anak haram dari mantan pelayan ibu saya... yang dibesarkan dari belas kasihan Soerjo Foundation, namun tumbuh menjadi ular berbisa yang lupa diri."
Wajah Widya seketika membeku sempurna. Manik matanya mekar oleh rasa syok yang dahsyat tatkala melihat seluruh silsilah dan borok masa lalunya terhampar jelas di depan mata Arya.
"Kamu memanfaatkan kebaikan keluarga saya untuk memuaskan ambisi murahannmu," lanjut Arya penuh kejam, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang mematikan. "Kamu mengacak-acak rumah tangga saya, memalsukan dokumen, dan nekat menaruh racun di minuman saya demi jebakan skandal yang sangat amat menjijikkan."
Widya terisak pelan, menggelengkan kepalanya pasrah di atas meja. "Saya mohon maaf, Pak Arya... Ampuni saya... Jangan jebloskan saya ke penjara..."
"Pengampunan?" Arya terkekeh dingin—sebuah tawa kaku yang sarat akan pembalasan dendam.
Arya berdiri tegap dari kursinya, merapikan lengan kemejanya seraya menatap Widya dari atas ke bawah seolah menatap seonggok sampah yang tak berharga.
"Jangankan pengampunan, Widya... Saya akan memastikan seluruh tim hukum Soerjoatmodjo Group dan Djojodiningrat Holding menyatu untuk menjeratmu dengan pasal berlapis: pemalsuan dokumen, pencemaran nama baik bangsawan, hingga percobaan pembunuhan terencana," tutur Arya tegas tanpa jeda. "Seluruh aset pribadi yang kamu kumpulkan selama bekerja di rumah ini akan disita, dan nama keluargamu akan dicoret selamanya dari daftar penerima beasiswa dinasti."
Arya memutar tubuhnya menuju pintu keluar, mengabaikan jeritan dan tangisan histeris Widya yang meraung-raung memohon belas kasihan di belakangnya.
"Serahkan dia ke markas kepolisian sekarang," titah Arya dingin pada dua pengawal tegap di luar pintu. "Pastikan dia membusuk di sel tanpa ada satu orang pun yang diizinkan menjenguknya."
Dengan tersingkirnya sampah utama di mansion tersebut, Arya menghembuskan napas berat. Pria itu melangkah kembali menuju bangunan utama, menyadari bahwa tugas terberatnya pagi ini bukanlah memenjarakan musuh, melainkan berlutut memohon ampun untuk menyembuhkan luka di hati permaisuri bangsawannya, Lilianne Prameswari.
**
Langkah kaki Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo tak terdengar sedikit pun saat melintasi marmer lantai dua. Di jemari kekarnya, nampan perak berisi sarapan hangat—bubur lembut beraroma rempah ringan dan teh herbal khusus penenang—tergenggam amat hati-hati. Pria yang biasanya mengomando ribuan karyawan dan bernegosiasi dalam transaksi bernilai triliunan rupiah itu kini melangkah seolah membawa barang kaca yang mudah pecah.
Ia mendorong pintu ganda kamar utama perlahan. Suasana kamar masih diliputi temaram fajar yang hangat. Arya melangkah menuju meja samping tempat tidur dan meletakkan nampan perak itu secara amat perlahan, memastikan tidak ada detak porselen yang menimbulkan bunyi.
Namun, saat matanya bergeser menatap sosok wanita di atas ranjang king size tersebut, napas Arya seketika tertahan di tenggorokan.
Lilianne masih terlelap pasrah berbalut selimut tebal. Pendar cahaya fajar menimpa wajah mewahnya yang biasanya begitu tak tersentuh. Namun pagi ini, kecantikan bangsawan Eropa Jawa itu tampak teramat rapuh. Kelopak matanya membengkak tipis, dan di sepanjang pipi mulusnya, terukir nyata jejak air mata mengering—sisa tangisan dan luapan emosi yang disembunyikan sang permaisuri usai penyatuan paksa di bawah pengaruh racun kemarin malam.
Melihat pemandangan itu, benteng keangkuhan dan dominasi yang selama ini membungkus sosok Raden Mas Arya Sena runtuh sepenuhnya.
Rasa bersalah yang mendalam melindas dadanya tanpa ampun. Arya meluruh, berlutut di marmer dingin tepat di samping tempat tidur. Jemari kekarnya terulur gemetaran, mengecup jemari dingin Lilianne dengan keputusasaan yang teramat rentan.
"Maafkan saya, Lilianne..." bisik Arya parau di atas jemari istrinya, suaranya bergetar hebat. "Saya sangat menyesal... demi Tuhan, maafkan saya..."
Merasakan sentuhan hangat dan desakan napas Arya di jemarinya, mata hijau jernih Lilianne perlahan terbuka.
Kedua netra mereka bertemu. Menyadari Arya sedang memperhatikan wajah mewahnya dari jarak begitu dekat, Lilianne refleks mengalihkan pandangannya. Jemari lentiknya menarik diri secara halus, mencoba memalingkan wajah untuk menyembunyikan raut sembab dan kerapuhannya. Dengan cepat, Lilianne menegakkan punggungnya, berusaha memasang kembali topeng keanggunan berjarak dan benteng silent treatment yang dingin.
"Mas Arya..." tutur Lilianne dengan suara yang diusahakan sejernih mungkin, meski serak tipis masih tertinggal di tenggorokannya. "Kenapa Mas Arya masih ada di sini? Bukankah ada kantor yang harus diurus—"
Sebelum Lilianne sempat menyelesaikan kalimat formalnya, Arya tidak lagi membiarkan tembok jarak itu memisahkan mereka.
Dengan gerakan mantap namun teramat lembut, Arya menaiki tepi ranjang. Lengan kekarnya terulur merengkuh pinggang dan bahu rapuh Lilianne, menarik tubuh molek beraroma mawar-vanila itu ke dalam pelukannya yang hangat dan posesif.
"Mas Arya! Apa-apaan—"
"Jangan dorong saya kali ini, Lilianne. Tolong..." pangkas Arya rendah, membenamkan wajah tampannya di ceruk leher Lilianne seraya mempererat dekapannya.
Lilianne sempat membeku, jemari halusnya menahan dada bidang Arya yang mengeras. Namun, kehangatan tubuh Arya, detak jantung sang suami yang berdegup kencang dipenuhi kecemasan murni, serta aroma woody-tobacco yang merengkuhnya tanpa ancaman, perlahan meruntuhkan sisa pertahanan mental sang permaisuri.
Pertahanan dingin yang dibangun Lilianne lelah. Benteng gengsi seorang putri bangsawan Djojodiningrat akhirnya pecah di dalam dekapan pria yang telah mematahkan rasa percayanya.
Air mata jernih perlahan menetes membasahi kemeja hitam Arya. Lilianne tidak lagi menahan isaknya. Kedua tangannya yang tadinya menolak, kini meremas pelan kain kemeja di dada Arya, meluapkan seluruh sesak, rasa perih fisik, rasa terhina oleh fitnah pelayan, hingga emosi emosional yang tertahan selama berhari-hari.
Arya mengelus punggung mulus Lilianne dengan usapan telaten dan perlindungan mutlak, mengecup puncak kepala dan pelipis istrinya berkali-kali seraya membiarkan Lilianne meluapkan seluruh air matanya di dadanya.
"Menangislah, Sayang... Luapkan semuanya pada saya," bisik Arya serak, matanya sendiri berkaca-kaca menahan keharuan dan rasa penyesalan.
Setelah beberapa saat isakan Lilianne perlahan mereda menjadi helaan napas yang memburu seirama, Arya merenggangkan pelukannya sedikit. Jemari kekarnya dengan lembut mengusap jejak air mata di pipi mulus Lilianne, menatap lurus ke dalam sepasang mata hijau yang kini tampak lebih jernih dan terbuka.
"Saya sudah memenjarakan Widya pagi ini. Seluruh asetnya disita, dan proses hukum pidana sedang berjalan," tutur Arya tegas, suaranya dipenuhi kepatuhan mutlak pada sang istri. "Tidak ada lagi orang asing yang akan mengganggumu di rumah ini."
Lilianne menatap Arya diam, menyimak tiap kata yang meluncur dari bibir suaminya.
Arya meletakkan kedua telapak tangannya di pipi hangat Lilianne, menyatukan kening mereka.
"Dan untukmu, Lilianne..." bisik Arya parau namun sarat akan janji yang tak terbantahkan. "...mulai hari ini, tidak akan ada lagi pembatasan. Tidak ada larangan keluar mansion, tidak ada aturan kaku dari saya. Kamu memiliki kebebasan mutlak atas dirimu, atas rumah ini, dan atas hidupmu sendiri. Saya menyerahkan seluruh wewenang mansion ke tanganmu."
Arya menatap mata hijau Lilianne dengan pendar cinta terselubung yang tak lagi ia sembunyikan.
"Saya tidak meminta kamu langsung memaafkan saya hari ini," sambung Arya rendah. "Tapi izinkan saya mendampingimu, merawatmu, dan membuktikan bahwa kamu adalah satu-satunya permaisuri dalam hidup Raden Mas Arya Sena."
Lilianne menatap wajah tampan suaminya yang kini tak lagi memancarkan keangkuhan sang Presdir dominan, melainkan kejujuran seorang pria yang bertekuk lutut di hadapan wanitanya. Sudut bibir Lilianne terangkat amat tipis—sebuah ukiran senyum tipis yang tak lagi mengandung es dingin, melainkan awal dari celah rekonsiliasi yang baru di antara dua klan besar tersebut.
Bersambung
i got you 🔥🔥🔥
ceritanya bagus berkelas 🔥🔥🔥