Alya hanya ingin bertahan hidup bersama putrinya yang masih bayi dan adik perempuan yang tidak pernah meninggalkannya. Setelah diusir keluarga, ditinggalkan pria yang seharusnya bertanggung jawab, dan dipaksa menghadapi dunia sendirian, suara adalah satu-satunya jalan yang ia punya.
Satu malam, di sebuah acara mewah yang penuh rahasia, suaranya menarik perhatian Arkan Wiratama, seorang pria berkuasa yang dikenal dingin, berbahaya, dan tidak pernah kehilangan kendali. Arkan semula mengira Alya bisa dibeli seperti segala hal lain di dunianya. Namun satu tamparan dan satu kalimat membuatnya sadar: perempuan itu tidak punya harga.
Ketika nyawa kecil Kirana terancam, Arkan memilih masuk ke hidup Alya bukan sebagai penyelamat sesaat, melainkan sebagai pria yang berani menawarkan nama, perlindungan, dan sebuah keluarga. Namun menjadi perempuan di sisi seorang Don berarti masuk ke dunia yang dipenuhi kesetiaan, rahasia, musuh, dan bahaya yang tidak pernah benar-benar tidur.
Di antara luka lama, cinta yang tumbuh perlahan, dan ancaman dari orang-orang yang ingin merebut kembali apa yang sudah mereka buang, Alya harus memutuskan apakah hati yang pernah hancur masih berani percaya. Dan Arkan harus membuktikan bahwa cinta, bagi pria sepertinya, bukan kelemahan, melainkan sumpah yang akan ia jaga dengan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vah Peres, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26 - Pertunangan Kami
Ketika kami kembali ke ruang utama, suasana sudah kembali normal. Namun aku tahu, bagi semua orang di sana, momen untuk mengikat hubungan kami juga akan menjadi saat untuk membuat semuanya jelas dan final. Aku menarik perhatian semua orang dengan isyarat tegas. Musik lembut pun mengecil sampai berhenti, menyisakan gumaman rendah yang segera ikut lenyap.
Aku membawa Alya ke tengah ruangan, tempat semua orang bisa melihat kami. Di sisiku, ibuku menggendong Kirana dengan seluruh kebanggaan, memperlihatkannya kepada siapa pun yang ingin melihat. Kulihat senyum, tatapan hormat, dan tangan-tangan yang sudah mulai terangkat untuk bertepuk bahkan sebelum aku bicara.
"Sahabat, rekan, dan keluarga," aku memulai dengan suara jelas dan kuat, agar sampai ke setiap sudut ruangan. "Hari ini kita berada di sini bukan hanya untuk merayakan sebuah pesta, tetapi untuk meresmikan sesuatu yang sudah diputuskan di dalam hati dan hidupku."
Aku menatap langsung kepada Alya, menggenggam tangannya kuat-kuat, lalu melanjutkan.
"Di hadapan kalian semua, aku menyatakan pertunanganku dengan Alya Maheswari. Perempuan yang masuk ke hidupku untuk menunjukkan bahwa cinta bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan terbesar. Mulai hari ini, dia bukan hanya tunanganku. Dia perempuan yang akan kucintai, kulindungi, kuhormati, dan kepadanya aku akan setia setiap hari dalam hidupku. Bersamanya hadir Kirana Maheswari Wiratama: putriku, tanggung jawabku, dan masa depan yang ingin kubangun. Siapa pun yang menyentuh salah satu dari mereka, menyentuhku. Siapa pun yang menghormati mereka akan mendapat kepercayaanku. Siapa pun yang mengancam mereka akan berhadapan dengan amarahku."
Tepuk tangan meledak setelah itu, hangat dan tulus. Banyak orang mendekat untuk memberi selamat, menjabat tangan, menyampaikan doa kebahagiaan. Kulihat wajah Alya bercahaya. Air matanya kini air mata bahagia, dan ia membalas setiap senyum dengan manis.
Setelah ucapan selamat pertama mulai mereda, ia menatapku dan memberi isyarat kecil, meminta izin. Aku mengangguk sambil tersenyum. Alya berjalan pelan menuju anak tangga pertama, tempat yang lebih tinggi agar semua orang bisa melihatnya dengan lebih baik. Ia berdiri di sana, tegak dan tenang. Ketika musik mulai mengalun lembut di belakangnya, ia membuka mulut dan bernyanyi.
Seolah seluruh ruangan berhenti bernapas. Suaranya lembut, tetapi penuh kekuatan, sarat perasaan. Setiap nada seperti menceritakan kisah kami: perjuangan melewati luka, kepercayaan, cinta, dan kepastian bahwa kami berdiri bersama. Lagu itu berbicara tentang kebersamaan, tentang berjalan berdampingan, tentang hadir pada hari-hari baik maupun sulit, tentang menjadi tempat berlindung bagi satu sama lain.
Saat ia bernyanyi, semua pandangan tertuju kepadanya tanpa terkecuali. Tidak ada tatapan ingin tahu atau menghakimi, hanya kekaguman. Keheningan begitu mutlak, hanya dipecahkan oleh melodi dan suaranya.
Ketika bait terakhir selesai, ia diam sesaat. Lalu tepuk tangan terdengar lebih kuat dari sebelumnya. Beberapa orang berdiri, yang lain bertepuk tangan penuh semangat, dan pujian datang dari segala arah.
"Suaranya indah sekali!"
"Emosinya begitu terasa!"
"Dia seniman sejati!"
"Beruntung sekali kamu, Arkan, punya perempuan seperti itu di sisimu!"
Aku tidak melepaskan pandangan darinya. Rasa bangga yang kurasakan begitu besar sampai seperti memenuhi seluruh dadaku.
Setelah itu, Alya menuruni anak tangga pelan-pelan dan kembali ke sisiku. Aku menariknya mendekat, lalu mencium keningnya di hadapan semua orang.
"Kamu sempurna," bisikku hanya untuk kami berdua. "Hari ini, lebih dari sebelumnya, semua orang tahu siapa dirimu, apa arti dirimu, dan di mana tempatmu."
Ia tersenyum, menyandarkan kepala di bahuku. Di sana, dengan tepuk tangan yang masih bergema, aku merasa keluarga kami akhirnya aman, diakui, dan terlindungi. Tidak peduli apa yang mungkin dicoba Viktor Pranata atau siapa pun yang lain, tidak ada yang akan mengguncang apa yang baru saja kami sahkan.
Satu per satu, para tamu mendekat untuk memberi selamat dengan senyum, jabat tangan, dan kata-kata baik.
Yang paling menarik perhatianku adalah cara mereka menyapa kami, terutama Kirana. Tidak ada pertanyaan tidak perlu, tidak ada yang mengungkit asal-usulnya atau pendaftaran yang baru selesai. Mereka hanya menyebutnya "putri Arkan", "cucu Bu Gita", dan ketika melihatnya, sikap mereka sama hormat dan sayangnya seperti kepada anak mana pun dalam keluarga. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari tempatnya, tidak ada komentar yang terdengar seperti penghakiman. Untuk dunia kami, itu sudah sebuah kemenangan.
"Selamat untuk kalian berdua," kata seorang pria lanjut usia, rekan lama keluarga, sambil menjabat tanganku lalu tangan Alya. "Semoga kalian sangat bahagia, dan semoga anak perempuan ini tumbuh dikelilingi semua hal terbaik yang kita miliki."
Yang lain datang setelahnya, mengulang doa yang sama, memuji suara Alya, keanggunannya, dan caranya membawa diri. Bahkan orang-orang yang belum mengenal kami dengan baik memperlakukannya sebagai tunangan keluarga ini, tanpa menyisakan ruang untuk meragukan tempatnya di sini.
Namun aku tetap mengamati semuanya dengan saksama. Di beberapa sudut ruangan, di antara para lelaki tua, orang-orang lama yang tumbuh dengan aturan kaku dan kebiasaan usang, aku bisa melihat ekspresi mereka dengan jelas. Tidak ada senyum lebar, tidak ada antusiasme yang sama seperti tamu lain. Pada beberapa wajah, tampak ketidaksetujuan yang diam, keterkejutan karena aku menerima bukan hanya seorang perempuan dari luar, tetapi juga seorang anak yang bukan darah dagingku.
Mereka saling bertukar pandang, berbisik pelan di antara mereka, tetapi tidak membuka mulut untuk mengatakan apa pun. Mereka tahu betul bahwa di rumah ini, kataku adalah keputusan terakhir. Jika aku sudah menyatakan mereka keluargaku, tidak ada perdebatan yang layak dibuka. Mereka diam, menjaga sikap, dan itu cukup bagiku. Aku tidak perlu semua orang menyetujui dengan hati. Cukup mereka menghormati, menerima kenyataan, dan tidak berani menaruh rintangan di jalan kami.
Alya juga menyadarinya. Ia sesekali merasakan tatapan yang lebih dingin, tetapi tidak menunjukkan rasa gentar. Ia tetap di sisiku, tegak, tersenyum, dan menjawab semua orang dengan sopan tanpa menundukkan kepala.
Aku meremas tangannya diam-diam, hanya agar ia tahu aku juga melihat semuanya. Ia melirikku dan mengangguk kecil, seolah berkata ia mengerti.
"Jangan pedulikan mereka yang tidak tersenyum," bisikku rendah, hanya untuk telinganya. "Diamnya mereka adalah tanda bahwa mereka tahu di mana batasnya. Dan batas itu adalah tidak menyentuh kalian."
Ia mengangguk, lebih tenang, lalu kembali menyapa orang-orang yang mendekat. Pesta berlanjut, musik kembali mengalun lembut, percakapan mengalir, dan ada kepastian bahwa sejak saat itu kedudukan mereka sudah ditegaskan: diakui di depan umum, dilindungi oleh hukum dan marga, tidak tersentuh oleh siapa pun yang tidak berani menghadapi keluarga Wiratama.