Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

...

Jam menunjukkan pukul

08.40.

Langit cerah membentang di atas area kampus. Mahasiswa berlalu-lalang memenuhi koridor dan taman, beberapa membawa tumpukan buku, sebagian lagi sibuk menyeruput kopi sambil berjalan cepat.

Evelyn baru saja turun dari mobilnya sambil menguap lebar hingga rahangnya hampir berbunyi

krek

"Pen tidur lagi deh..."

Entah kenapa, semalam ia tidur sangat nyenyak. Terlalu nyenyak, malah.

Biasanya, pikirannya dipenuhi berbagai macam kekhawatiran dan daftar tugas sebelum terlelap. Namun tadi malam, begitu kepalanya menyentuh bantal, ia seperti langsung kehilangan kesadaran sampai pagi.

Aneh.

Tubuhnya juga terasa sedikit berat dan pegal. Seolah semalam ia habis melakukan sesuatu yang sangat menguras tenaga, seperti lari maraton atau... diguling-gulingkan oleh beruang.

"Tapi gue tidur doang..." gumamnya pelan, mengacak rambutnya yang berantakan sebelum berjalan menuju gedung fakultas.

"EVVVV!"

Suara nyaring yang sangat dikenalnya membuat Evelyn menoleh kaget.

Celine berlari kecil sambil melambaikan tangan dengan energik, seolah baterai tubuhnya baru saja diisi penuh 100%.

"Ehh, pagi, Cel!"

"Pagi katanya. Muka lo kayak mayat hidup yang baru saja ditolak jadi zombie."

"Makasih ya."

"Sama-sama, dengan senang hati."

Mereka berjalan berdampingan memasuki area kampus. Celine, yang ingatannya selalu tajam soal jadwal, langsung menepuk bahu Evelyn.

"Semangat."

"Hah?"

"Nanti setelah kelas kan lo harus ke ruang sidang BEM kan?."

"Oh..."

Seketika, senyum di wajah Evelyn memudar. Jantungnya berdegup tidak karuan, teringat kejadian memalukan di toilet beberapa hari lalu.

"Iya juga ya..."

"Tenang aja. Gue temenin."

Evelyn langsung terharu, matanya berkaca-kaca. "Celine......

"Apaan."

"Lo baik banget."

"Tau."

"PD."

"Makasih."

Evelyn memutar bola matanya hingga hampir melihat otak sendiri. Namun, saat mereka sedang asyik bercanda seperti itu, langkah Celine mendadak berhenti. Tatapannya tertuju tajam ke arah leher Evelyn.

Keningnya berkerut.

Kemudian matanya membesar.

Lalu membesar lagi.

"Ev."

"Hm?"

"Ev."

"Apa sih?"

"EV."

"APA?!"

Celine langsung menunjuk leher Evelyn dengan jari telunjuk yang gemetar dramatis. Evelyn makin bingung, meraba-raba lehernya sendiri.

"Hah?"

Tanpa menjelaskan apa pun, Celine langsung mencengkeram pergelangan tangan Evelyn.

"Ikut gue."

"Heh?!"

"LARI."

"Malah lari?!"

Lima menit kemudian.

Mereka sudah berada di dalam toilet wanita terdekat yang sepi. Evelyn masih belum mengerti apa yang terjadi,napasnya sedikit memburu.

Sedangkan Celine berdiri di belakangnya, menunjuk ke arah cermin dengan ekspresi detektif yang baru saja menemukan bukti pembunuhan.

"Lihat."

Evelyn menatap pantulan dirinya di cermin. "Lihat apa?"

"Leher lo."

Evelyn memiringkan

kepala, menyibakkan rambutnya ke samping. Dan di situlah ia melihatnya. Sebuah bekas kemerahan samar, agak bulat, tepat di bawah garis rahangnya.

"..."

"..."

"Oh."

"Oh?!" Celine nyaris berteriak.

"Kayaknya digigit nyamuk," ucap Evelyn santai, mencoba mencari logika yang paling masuk akal.

Celine hampir tersedak ludahnya sendiri. "NYAMUK PALA LO!"

Evelyn refleks mundur selangkah. "Astaga, kaget gue!"

"Di apartemen *private floor* yang AC-nya dingin banget itu mana ada nyamuk segede itu!"

"Ya kali aja nyamuk sultan.

Nyamuk limited edition yang nyasar."

"Diam."

"Oh."

Celine memegangi dahinya, mencoba menenangkan diri. *Sabar. Dia harus sabar.*

Kemudian, ia menatap Evelyn melalui cermin dengan sorot mata yang sangat serius dan menusuk.

"Jujur."

"Apa?"

"Lo habis tidur sama siapa?"

Evelyn langsung melongo, wajahnya datar karena bingung.

"Apa?!"

"Jawab."

"Sendiri lah!"

"Yakin?"

"Yakin!"

"Sumpah?"

"Demi stok mie instan gue di kulkas!"

Celine terdiam. Itu adalah sumpah yang cukup meyakinkan bagi seorang mahasiswa.

Namun, entah kenapa, instingnya tetap merasa ada sesuatu yang aneh. Karena ekspresi Evelyn benar-benar terlihat kebingungan. Itu bukan ekspresi orang yang sedang berbohong atau menutup-nutupi sesuatu. Itu justru ekspresi orang yang *benar-benar* tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya sendiri.

Akhirnya, Celine menghela napas panjang, pasrah.

"Diem."

"Hah?"

"Diem bentar."

Dari dalam tas selempangnya, ia mengeluarkan *concealer*, kuas kecil, dan bedak tabur. Evelyn berkedip bingung.

"Lah."

"Untung gue bawa."

"Lo mau ngapain?"

"Nutupin itu."

"Oh."

Beberapa menit kemudian, dengan keahlian layaknya *makeup artist* profesional, bekas kemerahan itu berhasil tersamarkan sempurna hingga tak berbekas.

Celine memandangi hasilnya dengan puas. "Nah. Aman."

Evelyn menatap cermin, memiringkan kepalanya. "Wah."

"Wah apaan."

"Lo jago juga."

"Tentu."

Evelyn tersenyum, merasa lega. Namun, saat mereka hendak berbalik untuk keluar dari toilet, entah kenapa pikirannya kembali melayang.

Bekas merah itu...

Ia benar-benar tidak ingat pernah terbentur apa pun. Tidak ingat digigit serangga. Tidak ingat apa-apa selain rasa berat yang aneh di tubuhnya pagi ini.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, perasaan tidak nyaman kembali muncul di dadanya.

Samar.

Dingin.

Seolah ada sesuatu yang terjadi semalam... Sesuatu yang seharusnya tidak mungkin terjadi. Namun, semakin ia mencoba mengingatnya, semakin kosong pula ingatannya, seolah ada bagian dari malam itu yang sengaja dihapus.

"Ev?"

Suara Celine membuyarkan lamunannya.

"Hm?"

lagi." "Ayo. Kelas mulai lima menit

"Oh, iya."

Evelyn mengangguk, lalu mengikuti langkah sahabatnya keluar dari toilet, mencoba mengabaikan rasa dingin yang menjalar di tengkuknya.

Tanpa ia sadari, dari lantai gedung seberang yang cukup tinggi, sepasang mata sedang memperhatikan mereka dari balik jendela. Tenang. Diam. Dan tersenyum tipis.

_______

Ruang sidang BEM terasa jauh lebih tenang dibandingkan yang Evelyn bayangkan. Tidak ada lampu sorot menyilaukan. Tidak ada interogasi ala film kriminal.

Hanya sebuah ruangan rapat yang cukup luas, meja panjang di tengah, dan beberapa orang yang duduk dengan ekspresi serius.

Evelyn dan Celine duduk berseberangan dengan pengurus inti BEM. Di hadapan mereka ada Devan, Adrian Vale, dan Kael Reneth.

Entah kenapa melihat tiga orang itu duduk sejajar membuat suasana terasa seperti sidang sungguhan.

Evelyn menelan ludah.

Sedangkan Celine yang duduk di sampingnya diam-diam menggenggam lengan Evelyn.

Sebagai dukungan moral. Atau mungkin supaya Evelyn tidak kabur.

Devan yang menyadari

ketegangan gadis itu tersenyum tipis.

"Santai aja, Evelyn."

Evelyn langsung mengangguk cepat.

"Iya."

Padahal dalam hati: Santai pala batu. Gue saksi pembunuhan, Bang Adrian yang sejak tadi diam akhirnya membuka map di depannya. Tatapannya tenang. Namun cukup tajam.

"Kami cuma ingin mendengar kembali apa yang kamu lihat hari itu. Tidak perlu terburu-buru. Ceritakan dari awal."

Evelyn menarik napas panjang. Lalu mulai bercerita. Awalnya suaranya sedikit pelan.

Namun perlahan menjadi lebih stabil. "Aku waktu itu keluar kelas bentar buat ke toilet..."

Ruangan langsung hening. Semua mendengarkan. Bahkan Kael yang terlihat tidak bias aja kini tampak semakin memperhatikan dengan fokus.

Evelyn menjelaskan bagaimana dirinya masuk ke bilik toilet. Bagaimana ia mendengar suara ribut di luar.

Bagaimana belati itu tiba-tiba menembus pintu tepat di depan wajahnya. Saat menceritakan bagian itu, Devan sampai mengernyit. "Itu dekat sekali?"

Evelyn mengangguk pelan. "Mungkin... cuma beberapa senti."

Celine langsung bergidik. "Ngeri banget."

Evelyn melanjutkan. Ia menceritakan suara benda jatuh.

Suara seseorang yang seperti berusaha berteriak.

Kemudian mendadak hening. Lalu suara air wastafel yang mengalir. Dan seseorang yang seolah mencuci sesuatu.

"Aku nggak bisa lihat wajahnya. Yang aku lihat cuma sarung tangan hitam."

Adrian mencatat sesuatu.

"Lalu?"

Evelyn menunduk sesaat. Bagian ini. Bagian yang tidak boleh ia ceritakan. Jari-jarinya sedikit mengepal.

"Aku panik. Aku memang punya riwayat mimisan kalau stres atau terlalu tegang. Itu kambuh lagi. Aku merasa pusing. Terus..."

Evelyn mengangkat bahu kecil. "Sebelum aku benar-benar sadar lagi, kalian sudah datang."

Kebohongan itu keluar cukup mulus. Setidaknya menurut Evelyn. Devan mengangguk perlahan. Masuk akal.

Adrian juga terlihat menerima penjelasan tersebut.

Namun tidak dengan semua orang. Di sudut meja. Kael bersandar santai di kursinya.

Tatapan matanya tertuju pada Evelyn.

Sampai akhirnya sudut bibir pria itu terangkat sangat tipis.

Hampir tidak terlihat.

Pembohong, Evelyn

Adreena tidak punya riwayat penyakit.

Batinnya tenang. Karena dari semua cerita Evelyn... Ada satu bagian yang sengaja dihilangkan.

Dan Kael cukup yakin akan hal itu. Namun ia tidak mengatakan apa pun. Tidak sekarang. Adrian menutup mapnya.

"Baik. Kami rasa cukup."

Evelyn langsung merasa beban satu ton terangkat dari pundaknya. Akhirnya. Selesai juga.

Adrian melanjutkan, "Untuk sementara kami hanya mengumpulkan informasi.

Kalau ada perkembangan baru, kami akan menghubungimu lagi."

Evelyn mengangguk. "Baik."

Devan ikut berdiri.

Senyumnya jauh lebih hangat dibanding suasana ruangan itu.

"Jangan terlalu dipikirkan."

"Fokus kuliah aja dulu."

Celine langsung menyahut.

"Nah itu dia. Dia malah kebanyakan mikir."

"Heh."

Evelyn menyikut lengan sahabatnya. Devan tertawa kecil.

"Kalian boleh pulang. Hati-hati di jalan. Terutama kamu, Evelyn."

Evelyn tersenyum tipis.

" Terima kasih."

Ia berdiri bersama Celine.

Kemudian keduanya berjalan keluar dari ruang sidang.

Pintu perlahan tertutup di belakang mereka. Begitu keluar dari ruangan, Celine langsung menghembuskan napas panjang.

juga." "Anjir. Akhirnya selesai

Evelyn mengangguk setuju. "Iya."

"Deg-degan gue."

"Keringetan nggak?"

"Dikit."

"Boong."

"Banyak."

Mereka berdua tertawa kecil sambil berjalan menyusuri koridor. Tidak menyadari bahwa di dalam ruang sidang yang kini kembali sepi, Kael masih duduk di tempatnya.

Tatapannya mengarah ke pintu yang baru saja tertutup.

Jarinya mengetuk meja perlahan.

Sekali. Dua kali. Tiga kali.

"Evelyn..." gumamnya pelan. Entah kenapa. Semakin lama gadis itu justru semakin menarik perhatiannya. Bukan karena hanya cantik. Bukan karena unik. Melainkan karena instingnya mengatakan satu hal.

Gadis itu sepertinya tahu lebih banyak daripada yang ia ceritakan.

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!