Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Keesokan harinya, sinar matahari pagi mulai menerobos masuk lewat celah-celah jendela rumah kayu.
Walau fisiknya masih lemah dan pikirannya dipenuhi kehampaan, Dayang memaksa tubuhnya bangkit dari tempat tidur.
Ia melangkah perlahan ke dapur, menyalakan tungku, dan memasak sarapan sederhana untuk Bintang.
Aroma nasi goreng tipis yang menggugah selera akhirnya memanggil Bintang keluar dari kamar.
Melihat sang kakak sudah berdiri di depan kompor, Bintang bergegas mendekat dengan raut wajah penuh kekhawatiran sekaligus harapan.
"Mbak, ayo makan," bujuk Bintang halus seraya memegang lengan Dayang.
"Dari kemarin Mbak belum makan apa-apa sama sekali."
Dayang tidak menjawab. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis yang terasa dipaksakan, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Kehilangan selera makan masih menguasai dadanya.
Tanpa bersuara, Dayang membalikkan badan dan kembali melangkah masuk ke dalam kamar. Beberapa saat kemudian, ia keluar membawa beberapa lembar uang kertas dari tempat penyimpanannya.
"Ini uang saku kamu, Bin," ucap Dayang parau, menyodorkan uang tersebut ke tangan Bintang agar sang adik tetap bisa berangkat sekolah dengan tenang.
Bintang menatap lembaran uang di tangannya, lalu beralih menatap wajah Mbak Dayang yang masih pucat dan sembap.
Menyaksikan ketegaran kakaknya yang selalu mendahulukan kebutuhannya di tengah luka batin yang begitu hebat, dada Bintang terasa makin sesak.
Setelah mengganti pakaian dengan seragam sekolahnya dan merapikan tasnya, Bintang mendekat ke arah Dayang.
Dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang, Bintang meraih jemari tegap kakaknya lalu mencium punggung tangan Dayang.
"Bintang berangkat sekolah dulu ya, Mbak. Mbak Dayang di rumah istirahat, jangan dipikirkan terus," bisik Bintang lirih sebelum melangkah keluar pintu rumah kayu.
Sepeninggal Bintang ke sekolah, Dayang melangkahkan kakinya yang masih agak berat menuju kamar belakang—ruangan kecil yang beberapa hari ini menjadi tempat Bima mengistirahatkan tubuh tegapnya.
Dayang mengambil sapu lidi, berniat membersihkan sisa-sisa jejak keberadaan pria itu untuk mengikis rasa sesak di dadanya.
Namun, setiap sudut kamar itu seolah masih menyimpan bayangan Bima: cara pria itu melipat sarung, menata bantal, hingga kehangatan yang ditinggalkannya.
Saat menyapu di dekat kolong tempat tidur bambu, ujung kaki Dayang yang tak beralas menyenggol sebuah benda kecil keras bernuansa logam.
Klek.
Dayang menghentikan gerakan sapunya. Ia membungkuk, meraih benda logam keemasan yang berkilau disiram cahaya pagi dari celah jendela.
Benda itu adalah sebuah pin dada eksklusif buatan perak berukir elegan dengan tulisan yang sangat jelas:
Rimba Suryo — Chief Executive Officer
Deg!
Jantung Dayang seolah berhenti berdetak seketika.
Seluruh aliran darahnya mendesir dingin menuju kepala.
Tangannya bergetar hebat memegang pin emas bernilai mahal itu.
"Rimba.?" bisik Dayang parau, matanya membelalak tak percaya.
Ingatan Dayang langsung berputar liar. Nama 'Rimba Suryo'—nama pemilih Suryo Group yang dokumen kerja samanya baru saja disepakati kemarin.
Sosok CEO misterius yang diwakili oleh Dio. Analisis bisnis Bima yang luar biasa cerdas soal floor price dan kuota nelayan, postur tubuhnya yang begitu berwibawa, hingga kedatangan Dio yang terkesan sangat patuh pada pria itu.
"Nggak mungkin," Dayang menggelengkan kepalanya keras-keras, berusaha menolak kenyataan pahit yang mulai terurai di depan matanya.
"Apa, selama ini dia membohongiku? Bima itu, Rimba Suryo?"
Rasa bingung, syok, dan perasaan dikhianati bergemuruh menjadi satu badai besar di dadanya.
Air mata yang sempat mengering kembali membendung di pelupuk matanya, namun kali ini bercampur dengan amarah dan keputusasaan untuk menuntut kebenaran.
Dayang tak bisa lagi berdiam diri meratapi nasibnya di rumah kayu ini.
Tanpa membuang waktu, Dayang menyapu air matanya kasar.
Ia berjalan cepat menyambar jaket tebalnya, merogoh kunci motor sport-nya, lalu menggenggam erat pin emas itu di dalam kepalan tangannya.
Dayang melangkah keluar rumah kayu dengan tatapan mata yang menyala, melajukan motornya membelah jalanan menuju gedung pencakar langit Suryo Group di pusat kota untuk mencari jawaban langsung dari pria bernama Rimba Suryo.
Dayang memarkirkan motor sport-nya tepat di depan plataran megah gedung pencakar langit Suryo Group.
Langkah kakinya yang menghentak keras membelah pintu kaca otomatis lobi utama.
Pakaian sederhananya dan jaket motor yang agak berdebu tampak begitu kontras di antara lantai marmer mengkilap, lampu-lampu kristal, dan deretan pegawai berpakaian rapi yang lalu-lalang.
Belum sempat Dayang melangkah ke arah lift, dua orang petugas security bertubuh tegap langsung memasang badan membendung jalannya.
"Selamat siang, Mbak. Maaf, mau ke mana? Area ini khusus karyawan dan tamu bertamu yang punya janji," tegur salah satu security dengan nada dingin dan penuh keraguan, memandangi penampilan Dayang dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Saya mau ketemu Rimba Suryo!" tegas Dayang, matanya menatap lurus tanpa ada rasa gentar sedikit pun.
Security kedua terkekeh sinis, menganggap perempuan di hadapannya hanyalah orang asing yang berhalusinasi.
"Mbak, Pak Rimba itu CEO perusahaan ini. Ndak bisa sembarangan orang masuk tanpa kartu akses. Silakan keluar baik-back sebelum kami seret secara paksa."
"Saya tidak akan mundur satu langkah pun sebelum ketemu sama bos kalian!" amarah Dayang meluap seketika.
Suara lantangnya memantul di seluruh sudut lobi, menyedot perhatian puluhan staf kantor yang mendadak menghentikan aktivitas mereka.
Saat petugas security hendak memegang kedua lengannya untuk mengusir secara paksa, Dayang menepisnya dengan kasar.
Ia merogoh saku jaketnya, lalu menghempaskan pin emas perak berukir nama Rimba Suryo tepat ke atas meja resepsionis dengan dentaman keras.
Brak!
"Kasih tahu CEO kalian, pemilik pin ini yang minta dia turun!" seru Dayang dengan napas memburu dan dada kembang-kempis menahan kemarahan yang membakar jiwanya.
Petugas resepsionis dan security terperanjat melihat pin eksklusif yang hanya dimiliki secara pribadi oleh sang penguasa Suryo Group tersebut.
Keributan yang makin meluas dan tak terkendali di lobi membuat staf resepsionis bergegas menelpon sekretaris lantai atas dengan tangan bergetar.
Hanya dalam hitungan menit, pintu lift khusus eksekutif terbuka.
Dio melangkah keluar dengan terburu-buru untuk memeriksa kekacauan di lobi bawah.
Namun langkah kaki pria berjas itu seketika terhenti kaku—matanya membelalak lebar saat mendapati siapa sosok yang berdiri tegak di tengah kerumunan.
"Mbak. Mbak Dayang?!" bisik Dio terperanjat, mukanya mendadak pucat pasi.
Melihat kehadiran Dio, amarah di mata Dayang makin menyala.
"Mana bosmu? Mana Bima, atau Rimba Suryo yang sebenarnya?!"
Sadar akan situasi darurat yang bisa merusak citra sang CEO dan membocorkan rahasia besar jika dibiarkan di lobi umum, Dio cepat-cepat mengambil kendali.
"Mbak Dayang, tolong tenang dulu," ujar Dio dengan suara serak, mengisyaratkan para petugas security untuk mundur.
"Mari ikuti saya. Saya akan bawa Mbak Dayang bertemu Pak Rimba sekarang."
Dio mengawal Dayang langsung menuju lift VIP—lift khusus bernuansa emas yang membawa mereka melaju cepat tanpa henti menuju lantai teratas gedung pencakar langit tersebut.
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂