Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Hari Sidang
Aula Sidang Utama jauh lebih besar dari yang Ji Ming bayangkan—ruangan berbentuk setengah lingkaran raksasa dengan deretan kursi bertingkat mengelilingi area tengah, dipenuhi perwakilan dari puluhan sekte besar dan kecil, masing-masing dengan lambang berbeda berkibar di jubah mereka.
Di podium tertinggi, tujuh tetua senior Dewan Aliansi Sekte duduk berjajar, wajah mereka serius dan sulit dibaca, menyimpan kekuasaan yang akan menentukan nasib mereka semua hari ini.
Ji Ming berdiri di tengah aula bersama Su Mei, Tetua Kang, Tetua Feng, Yun Xia, dan Old Bo, merasakan ribuan pasang mata tertuju padanya—lebih banyak perhatian daripada yang pernah ia rasakan sepanjang delapan belas tahun hidupnya sebagai murid buangan yang diabaikan.
"Sidang ini dibuka," Ketua Dewan, seorang wanita tua berwibawa dengan rambut putih tersanggul rapi, mengumumkan dengan suara yang menggema ke seluruh aula, "untuk menginvestigasi tuduhan serius terhadap integritas seorang tetua sekte, dugaan penyalahgunaan wewenang, dan klaim tentang sejarah Perang Boneka Jiwa yang mungkin selama ini keliru dipahami. Tetua Kang dari Puncak Elang Hitam, silakan mulai dengan kesaksianmu."
Tetua Kang melangkah maju, dan meski suaranya sempat gemetar di awal, ia menceritakan seluruh kebenaran tanpa menyembunyikan apa pun—ekspedisi tiga puluh tahun lalu, penemuan fragmen kesadaran Mo Yan, tiga dekade hidup dalam kebohongan, hingga akhirnya pemburuan tak berdasar terhadap Ji Ming yang berujung pada penebusan di reruntuhan lembah tersembunyi.
Gemuruh bisikan memenuhi aula saat kesaksian itu selesai, beberapa tetua saling pandang dengan wajah terkejut, yang lain menampilkan kecurigaan yang belum sepenuhnya reda.
Su Mei melanjutkan dengan memaparkan dokumen-dokumen sejarah, dan Tetua Feng—yang kemunculannya sendiri sudah menimbulkan gempar di kalangan tetua senior yang mengira ia telah lama tiada—memberikan kesaksian yang tak terbantahkan tentang sejarah asli sekte pengukir jiwa, tentang bagaimana mayoritas dari mereka menjadi korban salah tuduh, bukan pelaku kejahatan sesungguhnya.
Ketua Dewan mengangguk pelan setelah mendengarkan seluruh kesaksian. "Bukti-bukti ini sangat meyakinkan. Namun—"
Sebuah suara memotong dari salah satu sisi aula, tegas dan penuh percaya diri.
"Mohon izin, Ketua Dewan." Seorang tetua berjubah gelap dengan lambang yang tak sepenuhnya dikenali Ji Ming berdiri dari kursinya, wajahnya tenang namun matanya menyimpan sesuatu yang licik. "Sebelum Dewan mengambil keputusan, saya ingin mengajukan seorang saksi tambahan yang mungkin memberikan perspektif berbeda tentang pemuda ini dan kekuatan yang ia klaim sebagai warisan mulia."
Ji Ming merasakan jantungnya berdegup kencang, mengingat peringatan Han Lie semalam. Ini dia.
Ketua Dewan, meski tampak sedikit ragu, akhirnya mengangguk. "Diizinkan. Silakan hadirkan saksi tersebut."
Pintu besar di ujung aula terbuka, dan seorang pria muda berjalan masuk dengan langkah gemetar yang tampak meyakinkan sebagai ketakutan tulus, wajahnya pucat dan matanya berkaca-kaca seolah menahan trauma.
"Namaku Deng Wei," pria itu berkata dengan suara bergetar, "seorang pedagang dari Kota Tapal Perbatasan. Aku... aku ingin bersaksi tentang apa yang kulihat pemuda ini lakukan padaku, menggunakan boneka kayunya untuk memanipulasi pikiranku, memaksaku memberikan seluruh tabunganku tanpa aku sadari sepenuhnya apa yang terjadi."
Bisikan-bisikan kembali memenuhi aula, kali ini dengan nada yang jauh lebih waspada dan curiga, beberapa tetua menatap Ji Ming dengan pandangan yang mulai berubah.
Ji Ming menatap Yun Xia yang berdiri di sampingnya, keduanya saling bertukar pandang penuh arti—Han Lie telah memperingatkan mereka, tapi mendengarnya secara langsung, menyaksikan kebohongan yang begitu meyakinkan diucapkan di hadapan seluruh Dewan, tetap terasa seperti pukulan telak yang mengancam menghancurkan semua yang telah mereka perjuangkan.
"Itu kebohongan," Ji Ming berkata tegas, melangkah maju meski jantungnya berdebar kencang. "Aku tidak pernah bertemu orang ini seumur hidupku."
Deng Wei menatapnya dengan mata berkaca-kaca yang tampak begitu meyakinkan. "Kau bahkan tidak ingat korban-korbanmu sendiri? Itu membuktikan betapa berbahayanya kekuatan yang kau miliki—bahkan kau sendiri tidak sepenuhnya sadar apa yang telah kau lakukan pada orang lain."
Ketua Dewan menatap tajam ke arah Ji Ming, wajahnya kini dipenuhi kekhawatiran yang baru. "Ini tuduhan yang sangat serius. Kalau benar, ini mengubah seluruh sifat sidang ini dari sekadar pemulihan nama baik, menjadi investigasi tentang bahaya nyata dari seni yang kalian klaim aman ini."