Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.
Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.
Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.
Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Cincin di Balik Laci
Sinar matahari sore menyusup malas melalui celah-celah gorden kain katun yang kusam dan penuh debu di sebuah rumah kontrakan sempit berukuran tiga kali empat meter. Ruangan itu terasa sesak dipenuhi tumpukan kardus mi instan, meja kayu kecil yang catnya sudah mengelupas parah, serta lemari pakaian plastik murah yang pintu sebelah kanannya patah engselnya.
Di lantai semen tanpa ubin, Lin Meiying duduk bersimpuh. Tangannya menggenggam erat selembar surat pemberitahuan tunggakan kontrakan berwarna merah terang. Batas waktu pengosongan rumah jatuh tempo besok pagi pukul sembilan. Dompet kain usang di pangkuannya hanya berisi beberapa lembar uang kertas kusut—jumlah yang bahkan tidak cukup untuk membeli beras satu kilogram.
Di atas tempat tidur busa tipis, ibunya terbaring lemah dengan mata terpejam. Selang oksigen portabel kecil di hidungnya mendesah pelan setiap kali tarikan napas wanita tua itu menderu berat. Batuk kering yang menyiksa membuat tubuh rapuh tersebut bergetar hebat. Wanita tua itu membuka matanya perlahan, menatap Meiying dengan tatapan sayu.
"Meiying... Nak..." suara sang ibu terdengar serak. "Jika memang sudah tidak ada uang lagi, biarkan Ibu tinggal di panti sosial saja. Jangan siksa dirimu sendiri demi membayar sewa rumah dan menebus obat Ibu."
Meiying menggeleng cepat. Ia merangkak mendekati ranjang, menggenggam tangan ibunya yang dingin. "Jangan bicara seperti itu, Bu. Aku masih bisa mencari pinjaman. Aku akan bekerja lebih keras lagi."
Meski berkata demikian, Meiying tahu ia sedang membohongi diri sendiri. Tidak ada lagi tempat baginya meminjam uang sejak kecelakaan tragis yang merenggut nyawa suaminya, Chen Guowei, tepat satu tahun yang lalu di proyek pembangunan gedung pencakar langit milik Lu Group. Janji santunan dari perusahaan korporat itu hanyalah isapan jempol; mereka memutarbalikkan fakta dengan menyatakan Guowei melanggar standar keselamatan kerja, sehingga sepeser pun uang santunan tidak pernah turun.
Senja perlahan tenggelam. Meiying melewatkan makan malam hanya dengan semangkuk bubur encer yang dibagi bertiga. Setelah memastikan ibu dan putrinya, Anqi, tertidur lelap di atas ranjang, ia kembali membereskan barang-barang yang mungkin harus mereka bawa jika benar-benar diusir esok pagi.
Saat ia menarik laci meja kayu kecil yang sudah miring sebelah untuk mencari kasa steril, jarinya menyentuh sebuah benda keras di balik tumpukan kain tua dan baju-baju kerja Guowei. Ia menarik benda itu keluar.
Sebuah kotak kecil berlapis kain beludru hitam yang dipenuhi debu tipis berada di dalam genggamannya. Meiying tertegun. Ia sangat mengenali kotak cincin pernikahan sederhana yang dulu dibeli Guowei dengan menabung dari upahnya sebagai kurir.
Dengan tangan gemetar, Meiying membuka penutup kotak tersebut. Di dalamnya terbaring sepasang cincin perak sederhana dengan ukiran inisial nama mereka di bagian dalam. Namun, bukan cincin itu yang membuatnya terpaku. Di bawah alas cincin, terselip secarik kertas memo kecil. Tulisan tangan Guowei sangat khas—huruf 'y' pada nama Meiying selalu dibuat sedikit melengkung tajam ke bawah. Memo itu berbunyi:
“Untuk Meiying, maaf aku sering terlambat pulang dan melanggar janji untuk tidak mengambil lembur malam. Apa pun yang terjadi, hidupku adalah milikmu dan Anqi.”
Membaca tulisan tangan itu, pertahanan Meiying runtuh tanpa suara. Guowei bukanlah suami yang sempurna; pria itu sering keras kepala, pelit pada diri sendiri, dan kerap menyembunyikan rasa lelahnya di balik senyum tipis. Tapi justru karena ketidaksempurnaan itulah kehilangannya terasa begitu menyesakkan. Kematian Guowei yang tiba-tiba selalu menyisakan kecurigaan besar di hatinya—bagaimana mungkin seorang pekerja teliti bisa mengalami kecelakaan fatal akibat kelalaian sendiri?
Jam dinding tua kini menunjukkan pukul 23.10 malam.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu depan terdengar nyaring. Ketukan itu tegas dan berulang-ulang, sangat berbeda dari ketukan ringan para tetangga.
Meiying terperanjat kaget. Jantungnya melonjak ke tenggorokan. Di tengah malam begini, tidak mungkin ada orang lain selain penagih sewa yang datang untuk mengusir mereka lebih awal.
Dengan tangan basah oleh keringat dingin, Meiying melangkah pelan menuju pintu depan, bersiap menghadapi kenyataan pahit di balik kayu lapis yang rapuh itu.