Indonesia
NovelToon NovelToon
Pewaris Dalam Sangkar Emas

Pewaris Dalam Sangkar Emas

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:21.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.

​Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.

​Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17

****

Sinar matahari pagi menerobos tirai tipis kamar perawatan VIP Rumah Sakit Utama Elard. Cahaya keemasan menyiram lantai marmer dan tempat tidur yang dihuni oleh sosok kecil Alana. Bunyi konstan dari monitor detak jantung menjadi satu-satunya melodi di dalam ruangan yang sunyi bagaikan makam tersebut.

Kenzo duduk di kursi samping tempat tidur, tubuh kokohnya tampak lunglai. Kemeja putih mewahnya masih kusut, dengan beberapa kancing atas terbuka dan lengan baju tergulung kaku. Pria yang biasanya tampil sempurna tanpa cela sebagai CEO dingin itu kini berantakan, dengan lingkaran hitam menggelap di bawah matanya dan dagu yang ditumbuhi brewok tipis.

Sepanjang malam, Kenzo tidak memejamkan mata sedikit pun. Rasa bersalah yang asing, kepanikan yang meremukkan dada, serta ingatan saat Alana tergeletak bersimbah darah terus menyiksa kesadarannya.

Srak.

Kelopak mata Alana bergetar pelan. Jemari tangannya yang tertancap selang infus bergerak tipis di atas sprei putih.

Kenzo yang menyadari pergerakan itu seketika menegakkan punggungnya. Binar lega dan kecemasan luar biasa terpancar dari iris mata hitamnya. "Alana...?" bisik Kenzo dengan suara berat yang parau.

Alana perlahan membuka matanya. Pandangannya semula kabur, memantulkan bayangan langit-langit kamar rumah sakit yang putih bersih, sebelum akhirnya memusat pada wajah Kenzo yang berada sangat dekat darinya.

Kenzo terburu-buru mengulurkan tangannya, merengkuh jemari dingin Alana dalam genggaman hangatnya. "Alana... kamu sudah sadar? Ada yang sakit? Saya dipanggilkan dokter sekarang—"

Namun, Alana tidak menjawab.

Tidak ada tangisan histeris, tidak ada amarah yang meledak, bahkan tidak ada gejolak ketakutan seperti biasanya. Manik mata Alana yang redup menatap Kenzo dengan iris yang benar-benar hampa—bagaikan cermin retak yang tak lagi memantulkan emosi apa pun.

Alana menatap genggaman tangan Kenzo, lalu dengan gerakan yang sangat pelan namun tegas, wanita itu menarik jemarinya keluar dari cengkeraman suaminya.

Tangan Kenzo mengambang di udara. Rahang pria itu mengeras pelan, terasa ada tikaman tak kasat mata yang menghantam dadanya.

"Alana..." bisik Kenzo lagi, suaranya bergetar menahan gejolak asing yang merayapi tenggorokannya. "Maafkan saya... Maafkan saya untuk segalanya. Saya tidak akan membiarkan Ibu atau Dr. Maya menyentuhmu lagi. Kamu tidak perlu minum obat-obatan itu lagi..."

Alana memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap dedaunan pohon yang bergoyang di luar. Suaranya keluar dengan amat pelan, tipis, dan tanpa intonasi emosi sedikit pun.

"Tolong... keluar, Mas Kenzo," bisik Alana.

"Alana, dengarkan saya—"

"Tolong keluar," ulang Alana tenang, suaranya sedingin es di dasar samudra. "Saya tidak ingin melihat Mas Kenzo. Saya ingin sendiri."

Kata-kata tenang yang tak tersentuh emosi itu menghantam keangkuhan dan rasa bersalah Kenzo jauh lebih telak daripada caci maki. Pria yang biasa mengendalikan segalanya itu mendadak kehilangan suara di hadapan tembok mati rasa yang didirikan oleh istrinya sendiri.

Sebelum Kenzo sempat membalas, pintu kamar perawatan VIP mendadak terdorong buka secara kasar.

Brak!

Suara ketukan tongkat kayu berujung perak menggema nyaring menghantam lantai marmer, memecah keheningan ruangan. Sosok Kakek Hendra Elard melangkah masuk dengan aura intimidasi yang teramat pekat. Di belakangnya, Ayah Bramantyo dan Nyonya Helena mengikutinya dengan raut wajah panik dan tegang.

Meskipun Nyonya Helena telah berusaha keras menutupi insiden pendarahan ini dari sang penguasa tertinggi Elard Group, kabar dilarikannya Alana ke ICU tengah malam tetap bocor ke telinga Kakek Hendra.

"Kenzo!" suara Kakek Hendra menggema berat, sarat akan kemurkaan mutlak. Matanya yang tajam bak elang menghujam cucunya. "Pemandangan apa yang harus Kakek lihat di rumah sakit ini?!"

Kenzo berdiri tegap dari kursinya, secara refleks melangkah menyamping hingga tubuh kokohnya menutupi Alana dari pandangan Kakek Hendra. "Kakek... kenapa Kakek datang ke sini?"

"Bagaimana Kakek tidak datang saat mendengar menantu keluarga Elard dilarikan ke ICU karena pendarahan parah?!" bentak Kakek Hendra seraya menghentakkan tongkatnya ke lantai. Pria tua itu menatap sinis pada Nyonya Helena yang tertunduk ketakutan di belakangnya. "Kalian pikir kalian bisa menyembunyikan kegagalan medis ini dari Kakek?!"

Bramantyo Elard ikut melangkah maju, memandang Kenzo dengan raut kecewa. "Kenzo! Para pemegang saham dan jajaran direksi sudah mulai mendengar desas-desus ini! Kegagalan kehamilan di bulan kedua dan skandal rawat inap ini mengancam posisi kepemimpinanmu di Elard Group!"

Kakek Hendra melangkah mendekati tempat tidur, mengabaikan Kenzo yang mencoba membentengi Alana. Matanya menatap dingin sosok Alana yang terbaring lemah di atas kasur.

"Satu bulan gagal, dan sekarang di bulan kedua kamu justru berbaring di rumah sakit karena pendarahan?" ujar Kakek Hendra dengan nada suara tanpa belas kasihan. "Keluarga Elard sudah membayar puluhan miliar untuk menyelamatkan keluargamu yang hampir membusuk di jurang kebangkrutan, Alana! Dan ini balasanmu? Rahim yang menyusahkan?!"

Alana tetap berbaring bisu. Ia tidak menunduk ketakutan seperti biasanya; matanya yang hampa hanya menatap Kakek Hendra datar, seolah kata-kata hinaan itu hanyalah angin berlalu.

Kenzo mengepalkan tangannya di samping tubuh hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Gejolak amarah dan rasa bersalah yang membakar dadanya mendadak meluap.

"Cukup, Kakek!" bentak Kenzo dengan suara berat yang menekan, berani memotong ucapan penguasa tertinggi Elard Group tersebut.

Kakek Hendra menyipitkan matanya tajam. "Kamu berani membentak Kakek, Kenzo?!"

"Alana baru saja melewati masa kritis!" amuk Kenzo, matanya berkilat penuh intimidasi dan kepanikan terselubung. "Pendarahan ini terjadi karena paksaan suntikan hormon dosis tinggi yang berlebihan! Mulai sekarang, saya tidak akan membiarkan siapa pun menekan atau memaksakan pengobatan medis apa pun pada Alana lagi!"

Kakek Hendra terkekeh sinis—sebuah tawa hampa yang dipenuhi tekanan kekuasaan. Pria tua itu memajukan tubuhnya, menatap Kenzo tepat di matanya.

"Kamu bertingkah seolah-olah kamu punya pilihan, Kenzo?" bisik Kakek Hendra dingin. "Kamu lupa siapa dirimu? Sejak dulu, trah keluarga Elard memang sangat sulit untuk mendapatkan keturunan! Darah murni keluarga kita butuh pengorbanan dan usaha ekstra keras agar bisa menghasilkan pewaris!"

Kakek Hendra menegakkan kembali tubuhnya, mengetukkan tongkat peraknya di lantai dengan nada mutlak. "Jika rahim wanita ini tidak sanggup menampung benih murni Elard dan terus-menerus gagal, Kakek tidak akan segan-segan menggantikannya dengan wanita lain yang lebih layak! Dan posisi Direktur Utama yang kamu pegang saat ini... akan Kakek alihkan pada sepulumu!"

Nyonya Helena menahan napasnya panik, sementara Bramantyo hanya bisa terdiam kaku di tempatnya.

Kenzo berdiri kaku, rahangnya mengeras rapat menahan gejolak amarah yang mendidih di dalam dadanya. Pria yang tak pernah membangkang perintah dinasti itu kini menatap sang kakek dengan pandangan penuh pembangkangan.

"Lakukan sesuka Kakek," sahut Kenzo dengan suara rendah, tajam, dan tanpa keraguan. "Tapi Alana adalah istri saya. Dan tidak ada seorang pun di rumah ini yang boleh menyentuhnya lagi."

Kakek Hendra menatap cucunya dengan pandangan berkilat penuh ancaman, sebelum akhirnya berbalik kaku. "Kakek berikan waktu sampai evaluasi saham semester depan. Jika rahimnya tetap kosong... Kakek sendiri yang akan menghancurkan kalian berdua!"

Dengan langkah kaku dan sarat intimidasi, Kakek Hendra melangkah keluar dari kamar perawatan VIP, disusul oleh Ayah Bramantyo dan Nyonya Helena yang melempar tatapan penuh kepanikan pada Kenzo.

Pintu kamar kembali tertutup rapat. Keheningan yang menekan kembali melingkupi ruangan besar itu.

Kenzo menghembuskan napas panjang yang berat, berbalik menatap Alana yang terbaring kaku. Pria itu berharap melihat setidaknya sedikit binar rasa terima kasih atau kebingungan di mata istrinya usai ia membentengi Alana dari Kakek Hendra.

Namun, Alana hanya memejamkan matanya pelan, membelakangi Kenzo tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Benteng mati rasa wanita itu telah berdiri kokoh, tak terobek sedikit pun oleh pembelaan terlambat dari sang suami.

Bersambung....

1
imel
makasih buat cerita kerennya😍
Mia Camelia
puas 😊 akhirnya happy ending.
thor sklian dong bikin cerita nya Kalila x lucas 🤭😂
Gita ayu Puspitasari
cerita Lukas sama Kalila dong kak
Anonim
crazy up thor
merry
mereka Alana dan kenzo bnr bnr membangun rumh tangga yg manis tnp ada kebohongan,, keegoisan dan sm sm berjuang dan berakhir indah,,,
Heresnanaa_: 😚❤️❤️🫶
total 1 replies
merry
asal Damai, tenang saling suport mky mslh berat pun terasa ringan,,, kejayaan di kejar gk bkln hbs di msa tua yg plg penting menikmati msa tua dengan tenang
aku
penisirin sama mantan kluarga alana tor kyk mana 😖
aku
oke, bikin pengalaman, baca novel mending malam aja 😌😌 gk siang2 gini 😭😭😭
Heresnanaa_: kenapa kak ?😭
total 1 replies
merry
ya tamat hrs ya jgn dulu🤭🤭🤭soalnya blm liat aki aki itu nyesel ap lg ank ken kembar cwo lg blm liat lila yg polos lucu gemes pintar ngoceh gt,,, blm minta maaf sm Alana jg atas perbuatan y,, blm lg di mutiara itu blm tau x gmn dulu Alana yg dijual orgtua ya
Gita ayu Puspitasari
ada extra part ga kak, trs kbr kakek Kenzo gmn
merry
akhirnya bhgia mrk tnp di gangu sm aki aki,, moga al hamil lg ank cwo 🤭🤭🤭
guest1053527528
Akhirx thor semoga bahagia selalu dan sukses thor mereka
merry
pengen suatu saat di Muti Muti itu tau kenyataan pahit bhwa al tdk seperti pikiran picik ya klo untuk orgtua kn dh tau y krn mrk tukang bhong,, moga Helena ksh tau
merry
syukur bgtt y tu nenk sihir dh sdr trs aku aku gk gangguin usha mrk justru tnp kenzo perusahaan kebanggaan mrk mulai runtuh, gantian tu aki aki yg sujud sm ken dan al
Mia Camelia
kapan lahirannya thor🤭🤭🤭
aku sih berharap baby nya berubah jadi cowo🤣🤣🤣
guest1053527528
ngitundoong hehehe
Mia Camelia
suka banget ngliat mereka berdua bahagia😍😍😍
Heresnanaa_: kann, author aja happ kaliii🤭😚
total 1 replies
merry
moga berkembang kue y Alana dan pyn tko kua jg,,
merry
yg plg penting komunikasi semua mslh yg terasa berat pun psti jdi ringan,, cm takut dech ush klian tu atau al y bkln diganggu sm aki aki tua bangka dan nenek lampir,, cb pindah ajj keluar kota gt alana
Gita ayu Puspitasari
tambah dong kak🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!