Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Kau baik- baik saja...?
Sebelum berangkat meeting, terlebih dulu Suzan mengirim pesan pada Tomi kalau sang suami sebentar lagi akan pulang ke rumah. Suzan ingin memastikan Bagas beneran pulang, dan tidak mampir ke manapun. Tomi yang memang sudah stand by di depan gedung perusahaan Hartanto Group pun segera bersiap mengikuti mobil Bagas.
Setelah itu Suzan dan Alma bertolak ke hotel Dahlia untuk meeting bersama Bintang dari perusahaan Perkasa Mandiri.
Sesampainya di ruang meeting, seperti sebelumnya Bintang sudah datang lebih dulu dan sedang duduk di salah satu kursi yang berjejer mengelilingi meja. Namun kali ini bintang tidak sendiri, melainkan ditemani oleh seorang laki- laki. Mungkin asistennya.Bintang yang sedang fokus dengan laptopnya melirik sekilas ke arah Suzan dan Alma yang berdiri di pintu ruang meeting.
"On time banget dia beb..." bisik Alma pada Suzan.
Suzan hanya diam sambil menatap Bintang. Kemudian Bintang berdiri dan menyapa keduanya.
"Selamat sore, bu Suzan.... Bu Alma...silahkan..." ucap Bagas dengan ekspresi cool tapi tetap berwibawa.
Suzan dan Alma lalu duduk di kursi masing- masing. Seperti pertemuan sebelumnya, Suzan duduk tepat berhadapan dengan Bintang, sedangkan Alma di sebelah kiri Suzan dan kali ini Alma berhadapan dengan asisten Bintang.
"Oya perkenalkan, di sebelah saya ini Arman. Dia yang akan membantu saya..." ucap Bintang sambil menoleh sekilas ke arah Arman yang duduk di sampingnya.
Arman lalu menyalami Suzan dan Alma, dan mereka saling memperkenalkan diri.
Tak lama kemudian meeting pun segera dimulai. Mereka membahas tentang rencana kerja sama mereka ke depan. Dan setelah tiga puluh menit berlalu ketika mereka berempat sedang fokus dengan berbagi saran serta pendapat, tiba- tiba ponsel Suzan berdering menandakan panggilan masuk.
Suzan melirik ke arah ponsel yang terus berdering yang ada di depannya. Terlihat di layar ponsel Tomi memanggil. Suzan ragu, antara ingin menerima panggilan dari Tomi atau dia akan mendiamkannya karena ini masih di tengah- tengah meeting. Tentu saja Suzan merasa tidak enak pada Bintang.
Namun di sisi lain Suzan juga begitu penasaran dengan apa yang akan disampaikan padanya. Suzan yakin pasti Tomi akan menyampaikan hasil penyelidikannya hari ini.
"Angkat saja, siapa tahu itu telpon penting..." ucap Bintang dengan raut wajah datar.
Suzan menoleh ke arah Bintang kemudian beralih ke arah Alma. Alma pun mengangguk pada Suzan.
"Ehm...saya permisi sebentar ya ..." ucap Suzan pada Bintang dan juga Arman. Dan Suzan segera pergi ke luar ruang meeting untuk menerima telpon dari Tomi.
Alma menoleh ke arah pintu ruangan meeting yang setengah terbuka. Iya, tentu saja Alma juga penasaran apa yang sebenarnya disampaikan oleh Tomi pada Suzan.
Sedangkan Bintang nampak fokus dengan laptopnya. Namun sesekali dia melirik ke arah pintu.
Sementara itu Suzan yang ada di luar ruang meeting fokus mendengarkan apa yang disampaikan oleh Tomi.
"Kapan bu Suzan ada waktu, kita harus ketemu langsung. Ada yang ingin saya sampaikan tetapi saya tidak bisa bicara lewat telpon. Sebaiknya kita langsung ketemuan saja biar enak ngomongnya..." ucap Tomi di sebrang telpon sana.
Suzan nampak berfikir kapan kira- kira dia bisa menemui Tomi. Sebenarnya dia ingin secepatnya bertemu dengannya karena penasaran apa sebenarnya yang akan Tomi sampaikan sehingga dia meminta untuk bertemu secara langsung. Namun sekarang ini tentu saja Suzan tidak akan bisa karena meeting dengan Bintang belum selesai.
Dan setelah meeting selesai Suzan juga harus langsung pulang karena Bagas dan Alvaro sudah menunggunya untuk makan malam bersama.
"Ehm... Bagaimana kalau besok saja bu Suzan... Kita ketemu di cafe jam sembilan atau jam sepuluh..." ujar Tomi.
"Oh....i...iya baiklah... Besok saja ya, besok saya kabari kamu..." jawab Suzan.
Setelah selesai bicara dengan Tomi, Suzan kembali masuk ke ruang meeting, untuk melanjutkan pembicaraan tentang rencana kerja sama mereka.
Namun Suzan nampak tidak bisa fokus, dia masih kepikiran dan penasaran tentang apa yang akan disampaikan oleh Tomi.
"Beb..." Alma menyenggol lengan Suzan karena dia melamun dan tidak menjawab apa yang disampaikan oleh Bintang.
"Oh...i...iya....ehm...apa tadi....?'' Suzan nampak gugup karena kaget.
Bintang menghela nafas melihat reaksi Suzan.
"Maaf...saya kurang fokus..." Suzan merasa tidak enak hati pada Bintang.
Bintang hanya diam sambil menatap ke arah Suzan beberapa saat kemudian dia kembali fokus ke laptopnya.
"Ehm... Begini pak Bintang..." ucap Alma yang akhirnya menggantikan Suzan untuk bicara.
Iya, tentu saja Alma sebagai asisten Suzan tentu paham dengan pembicaraan soal kerja sama. Sementara itu Arman mencatat poin- poin yang disampaikan oleh Alma. Sedangkan Suzan diam sambil mendengarkan apa saja yang disampaikan oleh Alma. Yang tentu saja apa yang disampaikan oleh Alma sama sesuai dengan apa yang dia mau. Karena sebenarnya Suzan dan Alma sudah berdiskusi terlebih dahulu soal apa saja yang akan disampaikan kepada Bintang saat meeting.
"Baiklah...bagaimana menurutmu dengan apa yang disampaikan oleh asisten anda, bu Suzan...?" tanya Bintang.
"Iya, pak Bintang... Saya sepakat..." jawab Suzan setuju dengan apa yang disampikan oleh Alma.
"Baiklah..." sahut Bintang.
Lima belas menit kemudian meeting pun selesai. Mereka berempat bersiap- siap untuk berpamitan dan pulang ke rumah.
"Apa kita bisa bicara sebentar...?'' tanya Bintang kepada Suzan.
Suzan diam beberapa saat sambil menatap Bintang. Lalu dia beralih menoleh ke arah Alma. Alma pun mengangguk yang artinya dia mengijinkan Suzan untuk bicara dengan Bintang.Alma dan Arkan keluar dari ruang meeting, dan tinggallah Bintang bersama Suzan.
"Apa kau baik- baik saja...?'' tanya Bintang yang berdiri berhadapan dengan Suzan sambil menatap lekat wajahnya.
Suzan yang juga menatap Bintang diam beberapa saat tidak langsung menjawab pertanyaannya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu...? Kalau aku tidak baik- baik saja, aku tidak mungkin datang ke sini untuk meeting denganmu. Lagi pula aku baik- baik saja ataupun tidak, itu tidak ada urusannya denganmu ,bukan..." sahut Suzan.
Bintang menghela nafas, namun dia belum mau mengalihkan pandangannya dari wajah Suzan.
"Iya, aku paham soal itu... Maaf kalau pertanyaanku membuatmu tidak nyaman..." ucap Bintang.
Suzan mengangguk.
"Saya permisi..." ucap Suzan undur diri dari hadapan Bintang dan segera pergi dari ruangan tersebut.
Dan Bintang hanya diam mematung sambil menatap nanar kepergian Suzan.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
"Beb..." ucap Alma ketika mereka berdua sudah ada di dalam mobil dan sedang dalam perjalanan menuju rumah kediaman keluarga Hartanto.
Suzan yang sejak tadi hanya diam, menoleh ke arah Alma yang sedang mengemudi.
"Apa yang dibicarakan oleh Tomi...?'' tanya Alma.
"Dia belum mengatakan apa- apa padaku, tapi dia meminta untuk ketemuan besok di cafe dekat perusahaan..." jawab Suzan.
"Kok dia minta ketemuan segala, nggak langsung ngomong lewat telpon saja atau kirim foto dan Video kalau memang dia punya informasi tentang suamimu dan selingkuhannya...?'' tanya Alma merasa heran.
Suzan menghela nafas.
"Ya itulah yang membuat aku penasaran dari tadi..." jawab suzan.
Alma menoleh ke arah Suzan lalu kembali fokus dengan jalanan yang ada didepan.
"Ya udah kamu sabar aja tunggu sampai besok..." sahut Alma.
"Lalu apa yang dikatakan oleh Bintang....?'' tanya Alma mulai kepo.
"Nggak...." jawab Suzan sambil menatap lurus ke depan dan menyenderkan tubuhnya pada sandaran jok mobil.
"Nggak, apa....?'' tanya Alma
"Nggak ada yang diomongin..." jawab Suzan cuek.
"Kalau nggak ada yang diomongin, trus tadi dia ngapain sama kamu di dalam...?'' Alma tidak percaya kalau Bintang tidak bicara apapun pada Suzan.
Suzan kembali menghela nafas.
"Dia cuma nanya apa aku baik- baik saja kok... Udah sih ah, nggak usah bahas Bintang lagi..." ucap Suzan.
"Eh bentar- bentar... Dia tanya apa kamu baik- baik saja...? Wah ...wah...wah ..perhatian banget dia sama kamu ..." sahut Alma.
Suzan berdecak.
"Ternyata Bintang nggak pernah berubah. Dia masih perhatian sama kamu, beb. Atau jangan- jangan, dia masih cinta sama kamu ..." ucap Alma.
"Jangan ngaco deh..." sahut Suzan karena ucapan Alma sudah berlebihan.
"Trus dia ngapain nanyain kamu baik- baik saja atau nggak, kalau dia nggak punya rasa sama kamu, beb..." jawab Alma.
Suzan hanya diam.
"Dia sudah punya istri apa belum sih...?'' tanya Alma.
"Mana aku tahu...Kenapa tadi kamu nggak nanya langsung ke dia...?'' jawab Suzan dengan jutek.
"Ish malu lah...dia aja gitu cuek banget orangnya..." sahut Alma.
"Tapi jujur beb, kamu sendiri gimana...? Perasaan kamu ke Bintang apa sudah benar- benar hilang...?'' tanya Alma.
Suzan menoleh ke arah Alma.
"Ngapain sih nanya kayak gitu...?'' tanya Suzan.
"Ya pengin tau aja...." jawab Alma sambil nyengir.
"Udah deh... Aku bilang nggak usah bahas dia lagi. Bagiku Bintang itu cuma masa lalu. Buat apa aku bahas orang yang udah ninggalin aku. Nggak penting tahu nggak...." ucap Suzan.
Alma diam lalu menghela nafas.
"Oke deh..." jawab Alma sambil memanyunkan bibirnya.
"Kenapa manyun begitu bibirnya ...?'' tanya Suzan sambil melirik Alma.
"Nggak papa..." jawab Alma.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Keesokan harinya Suzan yang sudah datang ke kantor bersama Bagas, segera masuk ke ruang kerja. Dan tak lama kemudian tepat pukul sepuluh, Suzan pergi keluar kantor untuk menemui Tomi di cafe tak jauh dari Perusahaan Hartanto Group. Tentunya tanpa sepengetahuan Bagas.
"Alma..." panggil Bagas.
Alma yang baru saja dari toilet kaget melihat Bagas ada di depan ruang kerja Suzan. .
"Pak Bagas..." sahut Alma.
Alma menghampiri Bagas.
"Ada apa pak...?'' tanya Suzan.
"Istriku mana...? Kok dia nggak ada di ruang kerjanya....?'' tanya Bagas.
"Ehm...itu bu Suzan...." Alma terlihat gugup.
Bagaimana tidak gugup, Suzan sedang menemui Tomi detektif yang disuruh untuk memata- matai Bagas dan Sonia. Tentu saja Alma harus mencari jawaban yang tidak membuat Bagas curiga.
"Mana istriku ...?'' Bagas mengulangi pertanyaannya sambil menelisik wajah gugup Alma.
"Itu pak Bagas, bu Suzan sedang keluar ..." jawab Alma.
"Ke mana...? Kok dia nggak ngasih tahu saya...?'' tanya Bagas.
"Oh itu pak, tadi bu Suzan bilang, dia ingin beli krayon buat Alvaro..." jawab Alma akhirnya menemukan jawaban yang masuk akal.
"Oh...." sahut Bagas sambil terus menatap Alma karena menurutnya Alma seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Baiklah kalau begitu saya kembali ke ruang kerja saya..." ucap Bagas.
"Baik pak Bagas..." jawab Alma dengan sopan.
Bagas pergi menuju lift.
"Oh ya ampun, bikin panik saja..." ucap Alma sambil mengusap dadanya.
Alma bergegas masuk ke ruang kerjanya mengambil ponsel lalu mengirim pesan kepada Suzan.
"Beb...tadi suamimu datang mencarimu. Aku bilang kamu sedang beli krayon buat Alvaro. Abis ini nanti kamu beli krayon ya, biar suamimu nggak curiga..."
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Sementara itu Suzan sudah bertemu dengan Tomi. Mereka berdua duduk di meja yang nyaman di pojokan. Dan tanpa berbasa- basi lagi Tomi memberikan informasi yang telah dia dapatkan.
"Apa...? Sonia bukan selingkuhan suami saya...?" tanya Suzan.
"Bukan, bu Suzan..." jawab Tomi begitu yakin.
"Kalau Sonia bukan selingkuhan suamiku, apa itu artinya saya telah yang telah berburuk sangka pada suami saya...?" tanya Suzan.
"Lalu foto dan video yang kemarin kamu kirimkan ke saya itu artinya apa...?'' sambung Suzan yang tidak paham dengan ucapan Tomi.
"Saya ini perempuan, insting saya kuat, saya sangat yakin kalau suami saya menyembunyikan sesuatu dari saya. Dan saya minta tolong sama kamu buat menyelidiki suami saya. Tapi kamu malah memberikan informasi yang membuat saya bingung. ..." lanjut Suzan.
"Kamu sendiri yang mengirim foto dan video kebersamaan suami saya dan Sonia. Tapi sekarang kamu bilang Sonia bukan selingkuhan suami saya. Saya tidak mengerti maksud kamu itu apa...." Suzan nampak kesal pada Tomi karena menurutnya kerja Tomi tidak profesional.
Bersambung .....