Indonesia
NovelToon NovelToon
Penemu Rahasia Orang Mati

Penemu Rahasia Orang Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Kenapa aku?

Malam makin larut di sudut kota. Jam dinding di kamar kontrakan Arya menunjukkan pukul 01.15 WIB. Udara malam terasa dingin, membawa gema halus deburan gerimis kecil yang mengetuk kaca jendela.

Arya duduk di tepi ranjangnya, memandangi kedua telapak tangannya sendiri di bawah temaram lampu meja.

Sejak ritual pemutusan benang emosional bersama Iptu Farhan dua malam lalu, otaknya memang jauh lebih tenang. Bisikan gema suara para jenazah tak lagi menggerogoti otaknya.

Namun, di tengah keheningan yang baru ia rasakan ini, sebuah pertanyaan besar yang selama ini terdesak oleh rasa takut mendadak muncul ke permukaan dengan begitu jelas.

'Kenapa aku?'

Arya mengepalkan jarinya pelan. Kenapa ia bisa melihat reka adegan detik-detik kematian seseorang hanya melalui sentuhan fisik? Kenapa keanehan ini baru meledak dan aktif setahun belakangan, saat bekerja sebagai pemulasara jenazah di RSUD Bina Husada?

Selama ini, Arya selalu menganggap kemampuan ini sebagai kutukan liar atau anomali medis tak terjelaskan. Namun, sensasi arus magis saat ia bersentuhan dengan memori orang mati terasa terlalu terstruktur, seperti sebuah mekanisme yang memiliki pola dan 'aturan main' tersendiri.

Arya bangkit dari ranjang, lalu melangkah menuju lemari kayu di sudut kamar. Ia membuka pintu lemari yang berderit pelan, lalu merogoh bagian paling bawah.

Di balik tumpukan baju seragam IKKJ. Tangannya menarik keluar sebuah album foto tua bersampul kain bludru merah yang sudah kusam dan berdebu.

Album itu berisi ingatan samar masa kecilnya sebelum orang tuanya meninggal. Arya membalik halaman demi halaman hingga matanya terhenti pada sebuah foto tua yang agak menguning.

Foto itu menampilkan dirinya yang masih berusia enam tahun, duduk di samping seorang pria tua berwajah tegas namun bermata teduh, yaitu Mbah Broto, kakeknya. Di belakang kakeknya, berdiri sebuah rumah panggung kayu tua di desa kelahirannya.

Arya mengusap permukaan foto berdebu itu. Sebuah memori samar yang sangat redup mendadak terlintas di benaknya, bukan memori dari jenazah, melainkan memorinya sendiri yang terkubur dalam-dalam.

Ia ingat aroma kemenyan tua, suara kain kafan yang dikibas, dan bisikan Mbah Broto saat mengelus kepalanya di malam hari:

'Darah itu dingin, Arya. Tapi hati kita yang harus menyalakannya...'

Dada Arya berdesir. Jarinya gemetaran di atas foto Mbah Broto.

"Mbah..." bisik Arya parau. "Apa Mbah tahu sesuatu soal ini?"

Tekad bulat seketika mengepul di dada Arya. Ia tidak bisa terus-menerus hidup dalam ketidakpastian. Ia harus tahu apakah kemampuan ini merupakan cacat mental, kutukan, atau ada rahasia silsilah keluarga yang selama ini disembunyikan rapat-rapat darinya. Ia harus pulang ke rumah tua almarhum kakeknya di desa akhir pekan ini.

Sendirian.

Keesokan harinya di koridor IKKJ RSUD Bina Husada.

Suasana laboratorium pemulasaraan terbilang lengang. Tidak ada rujukan jenazah baru sejak pagi. Arya sedang sibuk menyusun botol-botol alkohol dan formalin di rak penyimpanan saat langkah kaki tegap yang sangat ia kenal terdengar mendekat.

Iptu Farhan melangkah masuk dengan jaket kulit hitamnya yang biasa. Di tangannya ada dua kantong kertas berisi roti bakar warmindo.

"Nih, sarapan susulan," kata Farhan santai seraya meletakkan kantong kertas itu di atas meja staf. "Teguh mana?"

"Mas Teguh lagi ke bagian logistik ambil stok kain kafan, Pak," jawab Arya seraya menerima roti bakar itu. "Terima kasih, Pak Farhan."

Farhan menyandarkan tubuhnya ke tepi meja dan memerhatikan gerak-gerik Arya. Sebagai reserse senior yang terbiasa membaca bahasa tubuh orang, Farhan langsung menyadari ada sesuatu yang beda dari sikap Arya hari ini. Pemuda itu terlihat fokus, namun matanya terus menerus melamun menatap dinding.

"Ada apa, Arya?" tanya Farhan mendadak.

Arya tersentak pelan, lalu menghentikan tangannya yang sedang menata botol. "Eh? Nggak ada apa-apa, Pak."

Farhan menyipitkan mata, dan menyilangkan kedua tangannya di dada. "Jangan bohong. Tatapan matamu itu tatapan orang yang lagi merencanakan sesuatu. Krisis mentalmu kemarin memang sudah lewat, tapi pikiranmu masih muter. Soal apa lagi?"

Arya menghela napas panjang. Ia tahu sangat sulit menyembunyikan sesuatu dari perwira polisi satu ini.

"Saya... saya cuma lagi berpikir, Pak," ujar Arya pelan seraya menduduki kursi plastik di samping meja. "Soal dari mana sebenarnya kemampuan ini berasal."

Farhan mengangguk pelan, mendengarkan tanpa menyela.

"Semalam saya buka-buka album foto lama," lanjut Arya. "Saya ingat kakek saya di kampung dulu juga seorang pemandian jenazah desa. Dan ada beberapa ingatan masa kecil saya yang aneh... yang rasanya sengaja dilupakan oleh otak saya. Saya mau cari tahu jawabannya, Pak Farhan. Saya mau pulang ke rumah tua kakek saya di desa sabtu besok."

Farhan menatap Arya lurus. "Kamu mau cari tahu sendirian?"

"Iya, Pak," jawab Arya mantap. "Ini urusan pribadi dan silsilah keluarga saya. Saya nggak mau merepotkan Pak Farhan lagi setelah semua kekacauan yang saya buat kemarin."

Farhan diam sejenak. Ia merogoh saku jaketnya, lalu mengeluarkan pemantik api dan mengomandokannya tanpa menyalakannya. Sebuah senyum tipis yang sulit diartikan muncul di bibir sang polisi.

"Rumah kakekmu itu sudah berapa lama kosong?" tanya Farhan.

"Sekitar lima belas tahun, Pak. Sejak orang tua dan kakek saya meninggal."

"Rumah tua kosong belasan tahun di daerah terpencil, dan kamu mau datang ke sana sendirian membongkar rahasia magis yang belum kamu pahami?" Farhan menggeleng-gelengkan kepala. "Arya, Arya... kamu ini pintar memecahkan kasus, tapi kadang nekatnya nggak pakai otak."

Arya mengerutkan dahi. "Tapi Pak, ini cuma rumah tua biasa di kampung..."

"Kamu lupa siapa yang hampir gila gara-gara ketindihan memori dua hari lalu?" potong Farhan tegas namun dengan nada bercanda. "Kalau di rumah tua itu ada peninggalan atau benda yang memicu penglihatanmu lagi dalam skala besar, siapa yang mau menyeret tubuhmu keluar dari sana kalau kamu pingsan sendirian?"

Arya bungkam. Kata-kata Farhan menghantam logika sederhananya.

Farhan mengantongi kembali pemantiknya, lalu menepuk bahu Arya keras-keras.

"Sabtu pagi aku jemput jam tujuh di kontrakanmu. Kita naik mobilku," ujar Farhan tanpa menerima bantahan.

Arya membelalakkan mata. "Pak Farhan mau ikut? Bapak kan sibuk di polda, lagian ini kan bukan tugas kepolisian—"

"Siapa bilang?" potong Farhan seraya menyeringai tipis. "Menjaga 'aset penting' kepolisian agar tidak hilang atau gila di kampung orang itu bagian dari tugas perlindungan saksi. Lagipula..."

Raut wajah Farhan berubah menjadi lebih hangat dan penuh keseriusan.

"...kita ini sudah melangkah terlalu jauh dalam kasus-kasus gila ini, Arya. Kamu bukan cuma sekadar informan atau rekan kerja buatku. Kalau kamu mau mencari jawaban atas siapa dirimu sebenarnya, aku bakal ada di sana buat memastikan kamu pulang dengan selamat."

Arya menatap polisi di depannya itu. Rasa hangat dan lega yang luar biasa perlahan merayapi dadanya, mengikis sisa-sisa rasa cemas dan kesepian yang sempat hinggap.

Arya mengangguk pelan dengan senyum tulus. "Baik, Pak Farhan. Terima kasih banyak."

"Sip. Sekarang makan rotimu, habis itu beresin botol-botol itu," kata Farhan seraya berbalik melangkah keluar dari ruang IKKJ. "Dan ingat, jam tujuh pagi tepat! Kalau kamu belum siap, tak klakson rumahmu sampai tetanggamu bangun semua!"

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
keren kaya baru ❤️
Aurora: iya kak, semoga bisa menghibur para pembaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!