Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.
Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.
Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Kabut dan Bayangan
Aku berlari mengikuti kabut putih yang bergerak pelan di depanku, napasku terasa berat, paru-paruku terasa panas karena udara malam yang dingin. Di belakangku, suara hancur pintu rumahku perlahan menghilang, digantikan oleh suara desiran angin di antara pepohonan tua yang berdiri rapat seolah penjaga purba. Kabut itu seolah tahu aku di belakangnya — bergerak cukup cepat agar aku tidak tertinggal, tapi tidak terlalu cepat hingga aku kelelahan mengejarnya.
"Ke mana kau membawaku?" tanyaku pelan, meski tahu kabut itu tidak akan menjawab dengan kata-kata. Tapi entah kenapa, aku merasa aman mengikutinya. Rasanya seperti tangan Orion yang menuntunku dari kejauhan.
Setelah berjalan cukup lama, pepohonan di depannya menipis, dan aku tiba di sebuah lembah yang tersembunyi. Tempat itu sunyi, tenang, dan di tengahnya ada sebuah danau kecil yang airnya memantulkan cahaya bintang-bintang yang sesekali terlihat di sela-sela awan gelap. Di pinggir danau itu, ada sosok yang berdiri membelakangku. Punggungnya tegap, jubahnya berkibar pelan tertiup angin malam.
Aku tersenyum lega, berlari mendekat. "Orion! Kau di sini!"
Sosok itu berbalik perlahan. Tapi langkahku terhenti seketika. Wajahnya memang mirip Orion, tapi matanya bukan berwarna keemasan yang aku kenal. Matanya hitam pekat, tanpa ada sedikit pun cahaya di sana. Dia tersenyum, tapi senyum itu terasa dingin, kosong.
"Kau cepat sekali datang, cahayaku," suaranya terdengar persis seperti Orion, tapi ada nada yang aneh di sana — seolah dia sedang menahan tawa. "Aku sudah menunggumu cukup lama."
Aku mundur selangkah, meremas lionting di leherku yang terasa hangat di bawah jubahku. "Kau bukan dia. Di mana dia? Apa yang kau lakukan padanya?"
Sosok itu tertawa pelan, suara yang bergema di lembah itu. "Kau cerdas, seperti yang dia ceritakan. Namaku Valdris. Aku adalah kakak kandungnya. Dan dia... dia sedang beristirahat di tempat yang pantas untuknya — di kedalaman kegelapan yang tak akan pernah kau temukan."
Darahku terasa mendidih sekaligus dingin. Kakak? Orion tidak pernah bercerita punya kakak. "Kau berbohong. Dia tidak pernah menyebutkan namamu."
"Tentu saja tidak. Siapa yang mau menceritakan tentang bayangan yang selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi? Aku yang lebih tua, aku yang seharusnya memegang kekuasaan, tapi ayah selalu lebih memihak padanya. Bahkan saat dia membangkang, saat dia menolak takdirnya..." Valdris melangkah selangkah ke depan, dan aku mundur selangkah ke belakang. "Dia tetaplah kesayangan. Sampai akhirnya aku yang mengirimnya ke perbatasan itu. Dan sekarang... aku datang mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal."
"Maksudmu... kau yang mengutuknya? Bukan ayahmu?" suaraku bergetar, tapi aku memaksanya tetap tegas.
Valdris tersenyum miring. "Kebenaran itu sering kali diubah menjadi cerita yang lebih nyaman didengar, Aruna. Ayah sudah tua dan lemah. Aku yang memerintah sekarang. Dan aku tidak akan membiarkan cahaya seperti kau merusak tatanan yang sudah kubangun."
"Tatanan yang dibangun di atas kebohongan dan ketakutan itu tidak akan bertahan lama," kataku mantap. "Orion bukanlah musuh siapa pun. Dia hanya ingin diperlakukan seperti makhluk yang berperasaan."
"Perasaan?" Valdris tertawa keras, suaranya memecah keheningan lembah. "Perasaan adalah kelemahan, adik kecil. Dan dia membiarkan kelemahan itu menghancurkan segalanya."
Tiba-tiba, dari bayang-bayang di belakang Valdris, muncul kabut tebal yang berputar perlahan. Dan di tengah kabut itu, aku melihatnya — Orion terbaring di atas bebatuan, matanya tertutup, tubuhnya terikat oleh tali cahaya gelap yang melilit tubuhnya erat. Wajahnya pucat, napasnya terlihat berat dan lemah.
"Orion!" Aku ingin berlari ke arahnya, tapi Valdris menahanku dengan satu gerakan tangan — angin kuat mendorongku mundur hingga aku terjatuh di tanah yang lembap.
"Jangan mendekat," katanya dingin. "Dia ada di bawah kendaliku sekarang. Kalau kau ingin dia tetap hidup... kau harus ikut denganku. Kembalilah ke duniamu, lupakan dia, dan biarkan kutukan itu berjalan sebagaimana mestinya. Atau..." Dia menunjuk ke arah Orion yang perlahan membuka matanya, "aku akan menghabisinya sekarang juga."
Mata Orion perlahan terbuka. Dia melihatku, lalu melihat Valdris. Matanya membelalak. "Aruna... lari... pergilah..." suaranya lemah, nyaris tak terdengar.
Aku bangkit berdiri, menyeka tanah di rokku, menatap Valdris lurus ke matanya yang kosong itu. "Kau pikir aku akan meninggalkannya? Kau tidak mengerti apa yang kita miliki. Kita bukan sekadar dua jiwa yang kebetulan bertemu. Kita adalah bagian dari satu sama lain. Kalau kau mengambilnya dariku, kau tidak hanya mengambil seseorang dariku. Kau mengambil rumahku."
Valdris terdiam sejenak, seolah tertegun oleh ketegasan dalam suaraku. Lalu dia tersenyum sinis. "Manusia selalu bicara dengan emosi berlebihan. Baiklah. Kalau kau tidak mau pergi... kau akan menyaksikan saat dia melupakanmu sendiri. Sihir ini akan menghapus semua kenangannya tentangmu, dan dia akan kembali menjadi pangeran kegelapan yang dingin dan patuh."
Valdris mengangkat tangannya, dan cahaya hitam mulai mengalir dari ujung jarinya menuju kepala Orion. Aku melihat wajah Orion meringis kesakitan. Dia berjuang melepaskan diri, tapi ikatan itu terlalu kuat.
"Tidak!" teriakku. Aku merogoh sakuku, mengeluarkan kelopak bunga hitam itu. Dia masih bersinar, masih hangat. Aku memegangnya erat di kedua tanganku, menutup mataku, dan memanggil namanya dengan seluruh kekuatan yang kupunya. Orion. Ingat aku. Ingat cahayamu. Ingat rumahmu.
Cahaya perak yang lembut memancar dari kelopak bunga itu, menyilaukan hingga aku harus memejamkan mata sejenak. Saat aku membukanya, ikatan di tubuh Orion melemah sedikit. Dia mengangkat tangannya, menangkis sihir Valdris dengan kekuatan yang belum pernah kulihat sebelumnya — cahaya keemasan dan perak bercampur, memancar dari seluruh tubuhnya.
Valdris mundur terkejut. "Mustahil! Kau tidak punya kekuatan itu!"
"Kau benar," jawab Orion, suaranya terdengar lebih kuat, lebih berwibawa. "Kekuatan ini bukan milikku sendirian. Ini milik kami berdua."
Ikatan itu putus sepenuhnya. Orion melompat turun dari bebatuan itu, mendarat dengan lembut di depanku. Dia berdiri di antara aku dan Valdris, melindungiku dengan tubuhnya yang kini memancarkan aura yang berbeda — tidak lagi sekadar lembut, tapi gagah dan penuh keyakinan.
"Pergilah, Valdris," katanya tegas, suaranya bergema di seluruh lembah. "Kebohonganmu sudah terbongkar. Banyak yang sudah tahu kebenarannya. Kau tidak bisa menutupinya lagi."
Valdris menatap kami berdua dengan pandangan yang penuh kebencian, tapi dia tahu dia tidak bisa menang saat ini. "Ini belum selesai, adikku. Kita akan lihat seberapa kuat ikatan kalian saat aku menyentuh kelemahan terbesarmu."
Lalu dia lenyap, menyatu dengan bayangan di antara bebatuan, meninggalkan kami berdua dalam keheningan yang pelan-pelan kembali tenang.
Orion berbalik seketika, tangannya meraih kedua bahuku dengan cemas. "Apakah kau terluka? Dia tidak menyakitimu, kan?"
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya melangkah maju, memeluknya erat, menyembunyikan wajahku di dadanya yang berdetak cepat. Dia terkejut sejenak, lalu tangannya perlahan melingkar di punggungku, memelukku balik dengan rasa rindu dan kelegaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Aku pikir aku kehilanganmu..." bisikku, air mata akhirnya jatuh membasahi bajunya.
Dia mengusap punggungku dengan lembut, mencium puncak kepalaku berulang kali. "Tidak ada yang bisa memisahkan kita, Aruna. Tidak ada. Bahkan bukan kematian sekalipun."
Aku mendongak, menatap matanya yang bersinar lembut di bawah cahaya bintang yang kini mulai terlihat kembali. "Dia kakakmu... kau tidak pernah bercerita."
Dia menghela napas panjang, lalu menyisir rambutku yang berantakan dengan jemarinya yang dingin namun menenangkan. "Itu bagian yang paling menyakitkan dari masa laluku. Dia selalu iri padaku, selalu merasa tidak adil. Aku mencoba memahaminya dulu. Tapi dia memilih jalur yang salah. Dan aku harus menerima bahwa tidak semua orang bisa berjalan berdampingan dengan kita."
"Kau tidak sendirian lagi," kataku lembut, menyentuh pipinya yang sedikit tergores. "Aku di sini. Kita akan menghadapinya bersama, apa pun yang terjadi."
Dia menatapku lama sekali, matanya menyusuri setiap inci wajahku seolah ingin mengukirnya di dalam ingatannya selamanya. Perlahan, dia mendekat, jarinya menyentuh daguku dengan lembut, mengangkat wajahku sedikit agar kami saling menatap.
"Kau adalah mukjizat terbesar dalam hidupku, Aruna. Cahaya yang tidak hanya menerangi jalanku, tapi juga menyembuhkan luka-luka yang kubawa ribuan tahun lamanya. Aku tidak pantas mendapatkanmu. Tapi aku akan berusaha menjadi orang yang pantas berdiri di sisimu, setiap hari seumur hidupku."
"Kau sudah pantas," bisikku, mendekatkan wajahku hingga hidung kami hampir bersentuhan. "Dan kau akan selalu pantas, bagiku."
Saat bibirnya menyentuh bibirku, rasanya seperti seluruh lembah itu berhenti berputar. Tidak ada ketakutan, tidak ada bahaya, tidak ada dua dunia yang berbeda. Hanya kami berdua — utuh, nyata, dan saling memiliki. Ciumannya lembut namun penuh kerinduan yang mendalam, seolah dia takut aku akan lenyap jika dia melepaskanku. Aku melingkarkan lenganku di lehernya, menariknya lebih dekat, membiarkan dia tahu bahwa aku di sini, aku nyata, dan aku tidak akan ke mana-mana.
Saat kami berpisah, napas kami terengah, dahi kami masih saling menempel. Dia memelukku erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku, dan aku merasakan bahunya bergetar pelan. Dia menangis — bukan tangisan kesedihan, tapi kelegaan yang akhirnya datang setelah perjalanan yang begitu panjang dan sepi.
"Tetaplah bersamaku," bisiknya di telingaku. "Biarkan aku belajar bagaimana rasanya tidak sendirian."
"Aku akan selalu di sini," janjiku sambil membelai rambutnya yang hitam pekat. "Selamanya."
Namun di kejauhan, di puncak bukit yang menghadap ke lembah ini, sepasang mata merah menyala masih mengawasi dari balik kegelapan. Valdris tidak pergi sepenuhnya. Dia hanya mundur, menunggu momen yang lebih tepat. Dan di tangannya, dia memegang sesuatu yang membuatnya tersenyum licik — selembar foto lama kakekku yang sudah lama hilang, dengan tulisan di bagian belakangnya yang terbaca jelas di bawah cahaya bulan yang perlahan muncul kembali:
"Cahaya yang terlalu terang akan membakar dirinya sendiri. Hanya kegelapan yang abadi."
😊🖤