Indonesia
NovelToon NovelToon
Batal Cerai Setelah Suami Mendengar Isi Pikiran Sang Istri

Batal Cerai Setelah Suami Mendengar Isi Pikiran Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:58.2k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.

Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.

Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.

Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.

Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.

Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”

Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Urusan pembatalan gugatan perceraian sudah beres. Sekarang giliran mencari bukti pengkhianatan Bianca," ucap Lorenzo.

Pagi itu, Lorenzo duduk sendirian di ruang kerjanya. Satu tangan bertumpu di sandaran sofa, sementara tangan lainnya memegang ponsel. Wajahnya serius.

Perceraian sudah dihentikan. Setidaknya untuk sementara.

Sebastian sudah memastikan tidak ada berkas yang diteruskan ke pengadilan. Semua urusan administratif yang sebelumnya disiapkan untuk mengakhiri pernikahan Lorenzo dan Alina kini berhenti begitu saja. Tetapi masih ada satu persoalan yang mengganggu pikirannya, Bianca.

Lorenzo belum bisa mengabaikan apa yang didengar dari Alina. Selama ini ia percaya Bianca mencintainya. Bahkan ketika beberapa kali Bianca bersikap aneh, Lorenzo selalu menemukan alasan untuk memakluminya.

Lorenzo mengambil ponsel dan mencari satu nomor. Nama seseorang muncul di layar, Marcus. Detektif swasta yang sudah beberapa kali membantunya menangani urusan pribadi dan bisnis.

Lorenzo menekan tombol panggil. Tidak lama kemudian, suara seorang pria terdengar.

"Ya, Lorenzo?"

"Aku punya pekerjaan."

"Sepertinya serius."

"Memang serius." Nada Lorenzo terdengar datar. "Aku ingin kamu menyelidiki seseorang."

"Siapa?"

"Bianca Moretti."

Di ujung telepon terdengar jeda. "Perlu latar belakang lengkap?"

"Tidak. Fokus pada hubungan pribadinya."

Marcus terdiam sebentar. "Apa yang ingin kamu cari?"

Lorenzo menyandarkan tubuhnya. "Bukti bahwa dia menjalin hubungan dengan pria lain."

"Perselingkuhan?"

"Ya."

"Berapa banyak?"

Lorenzo mengernyit. "Aku tidak tahu."

Marcus tertawa kecil. "Jadi?"

"Cari semuanya."

Tawa Marcus langsung menghilang. "Semua?"

"Aku ingin tahu dengan siapa saja dia berhubungan. Kapan mereka bertemu, di mana, dan bukti apa pun yang bisa menunjukkan hubungan mereka," jelas Lorenzo.

"Foto?"

"Foto, rekaman, pesan kalau memang bisa diperoleh secara legal. Apa pun yang bisa menjadi bukti."

Marcus menarik napas. "Baik. Aku mulai hari ini."

"Jangan sampai Bianca tahu."

"Tenang."

Sambungan telepon berakhir. Lorenzo menurunkan ponselnya. Ia menatap layar beberapa detik sebelum meletakkannya di atas meja.

Satu masalah selesai. Sekarang tinggal menunggu hasil penyelidikan. Namun, baru beberapa detik kemudian, rasa bosan mulai menyerang.

Lorenzo menghela napas. Rumah terlalu sepi. Beberapa hari dia selalu menghabiskan waktu bersama Alina. Setiap waktu berisik oleh ocehan yang ada di dalam kepalanya.

Lorenzo melirik jam. “Sebentar lagi makan siang.”

Lorenzo bangkit perlahan dari sofa, lalu berjalan dengan hati-hati menuju ruang makan. Di atas meja sudah tersedia makanan yang tadi pagi disiapkan.

Lorenzo membuka salah satu wadah. Lalu mengerutkan kening. "Ini makanan sudah dingin."

Pria itu membuka wadah kedua. "Ini juga apa?"

Wadah ketiga. Lorenzo menatap isinya dengan wajah tidak puas. Tidak ada satu pun yang terlihat menggugah selera.

Lorenzo mengambil ponsel. Jempolnya bergerak membuka nama Alina. Ia menatap nama itu, tidak langsung menelepon.

"Kenapa aku harus menghubunginya?"

Lorenzo meletakkan ponsel. Dua detik kemudian, ia mengambilnya lagi.

"Dia istriku." Masih terdengar seperti pembenaran. "Kalau aku butuh sesuatu, wajar aku menghubunginya."

Lorenzo menekan tombol panggil.

Sementara itu, di kantin perusahaan Romano, Alina sedang makan siang bersama Clara dan beberapa rekan kerja. Suasana kantin cukup ramai. Suara percakapan bercampur dengan bunyi sendok dan piring.

Alina baru saja memasukkan satu suap makanan ke mulut ketika ponselnya bergetar. Ia melihat layar. Matanya langsung membesar.

“Lorenzo.”

Alina hampir tersedak. "Uhuk!"

Clara langsung menoleh. "Kamu kenapa?"

Alina buru-buru menutup mulut sambil mengambil air. "Tidak apa-apa."

Ponselnya kembali bergetar. Nama Lorenzo masih terpampang jelas. Alina menatap layar seperti sedang melihat benda asing.

“Kenapa dia menelepon? Apa terjadi sesuatu?Jangan-jangan dia jatuh? Atau lukanya berdarah lagi?”

Alina menekan tombol jawab. "Halo?"

Suara Lorenzo terdengar dari seberang.

"Alina. Aku lapar."

Alina berkedip. "Hah?"

"Aku mau makan."

Alina menatap kosong ke depan. Ia baru saja khawatir suaminya mengalami sesuatu yang serius. Ternyata, lapar.

"Kamu sudah lihat makanan di meja?" bisik Alina sambil menutup bagian speaker dan mulutnya agar tidak ada yang mendengar jelas pembicaraannya.

"Sudah."

"Terus?"

"Aku tidak suka."

Alina menghela napas. "Kamu mau makan apa?"

"Aku tidak tahu."

"Kalau begitu pesan saja."

"Aku tidak tahu mau pesan apa."

Alina memijat pelipis.

Di seberang meja, Clara mulai memasang wajah penasaran. Tatapannya tertuju kepada ponsel Alina. Alina menangkap tatapan itu.

"Sebentar," kata Alina kepada Lorenzo. Ia menutup mikrofon dengan tangan.

Clara langsung menyenggol lengannya. "Siapa?"

Alina menggeleng.

Clara menyipitkan mata. "Suara laki-laki."

Beberapa orang di meja langsung ikut menoleh.

Alina tersenyum kaku. "Te-teman."

Clara langsung tersenyum lebar. "Teman?"

"I-iya."

"Teman yang menelepon jam makan siang?"

Alina menelan ludah.

"Pacar kamu, kan?" Clara tersenyum jahil.

Alina hampir menjatuhkan ponselnya. "Hah?"

Clara tertawa. "Jangan bilang kamu punya pacar dan selama ini merahasiakannya!"

"Enggak!" Jawaban Alina terlalu cepat dan beberapa orang langsung tertawa.

Clara semakin menggoda. "Berarti benar!"

"Bukan!"

"Kalau bukan pacar, siapa?"

Alina terdiam. Mau bilang suami? Tidak mungkin karena sebentar lagi mereka akan bercerai.

“Untuk apa memperkenalkan seseorang sebagai suami kalau beberapa waktu lagi status itu mungkin sudah tidak ada?”

Alina tersenyum canggung. "Pokoknya teman."

Clara belum puas. "Teman rasa pacar?"

"Clara!"

Tawa kembali pecah di meja. Alina hanya bisa menggeleng sambil menahan malu.

Sementara itu, Lorenzo masih menunggu di seberang telepon. "Alina?"

"Iya."

"Kamu masih di sana?"

"Masih."

"Aku bilang aku lapar."

"Iya, aku dengar."

"Jadi?"

Alina menarik napas. "Sebentar. Aku pesan makanan untukmu."

Lorenzo langsung terdengar lebih tenang. "Baik."

Panggilan berakhir. Alina memasukkan ponsel ke tas.

Clara masih menatapnya dengan senyum penuh arti. "Kamu perhatian sekali sama pacarmu."

Alina tertawa kecil. "Dia tuh banyak maunya," celetuknya.

"Berarti memang pacar." Clara tertawa puas.

Alina tidak menjawab, tetapi di dalam pikirannya dia berisik.

“Pacar dari mana? Dia suamiku. Tapi sebentar lagi juga mungkin jadi mantan suami.”

Alina kembali mengambil sendok.

“Sudahlah. Lebih baik makan.”

Tidak lama kemudian, seorang kurir datang ke rumah membawa makanan dari restoran. Lorenzo menerima pesanan itu.

"Ini dari Nyonya Alina, Tuan."

Lorenzo mengangguk. "Terima kasih."

Ketika tutup kotak dibuka, aroma makanan langsung memenuhi ruangan. Lorenzo mencicipinya. Matanya sedikit membesar. Jauh lebih enak daripada makanan yang tersedia di rumah.

Lorenzo mengambil ponselnya. Entah kenapa, tangannya kembali mencari nama Alina. Ia menekan tombol video call.

Satu kali. Tidak dijawab. Lorenzo menunggu. Panggilan ditolak.

Lorenzo mengerutkan kening sampai kedua alisnya langsung bertaut Dia menatap layar.

Ditolak. Bukan tidak terjawab.

"Dia menolak panggilanku?!"

Rasa tidak senang perlahan muncul di dalam diri Lorenzo. Pria itu meletakkan ponsel di meja sedikit lebih keras daripada seharusnya.

"Berani sekali kau menolak panggilan aku, Alina."

1
Inooy
kamu y Reen mulai nakal kamuu,,kasian tau jantung Alina pasti g bisa d kondisikan gara2 serang ngedadak kamu 😆
Uthie
Kalaauuuuu... ?!???
penasaran niii Thor 😆😍🙏🙏
Inooy
itu kamu tau sendiri,,ada yg udh halal knapa masih ngurusin yg lain..nyesel kan kamu Ren!? 🤦‍♀️
Inooy
ckckck,,mulai curi2 ciuman nih Lorenzo..ketagihan y kamuu 😁
Inooy
waduuuhh, gara2 ciuman kamu ngedadak garang Aal...😆
Inooy
nyesel kan kamu Reen, punya istri selama 3 taun d anggurin..kamu malah sibuk dengan kekasih kamu, yg jelas2 udh selingkuhin kamuuu...😮‍💨
Uthie
Duhhhhh... jadi makin sukkkkaaa BANGETTT sama chemistry mereka 😍😍😍
Eka Haslinda
Kamu kira Alina bahagia dgn pernikahan mereka.. nggaaaakkk.. kamu kira Alina suka sama Lorenzo.. nggaaakkkk 🤣🤣🤣
Inooy
koq y pengen ketawa yaaa,,kamu kaya remaja yg baru kesentuh hati nya oleh seorang pria, Al..klo d dekat nya pasti aj salah tingkah 😁
Esther
Lorenzo bibirmu ada lipstiknnya🤣🤣🤣
Uba Muhammad Al-varo
hadeuh....... Bianca perkiraanmu meleset dikira Alina wanita lemah tak tahunya Badas dan nggak gampang ditindas 😊😊😊
Desifa Juni Raya: ini klanjunjutan nya mana
total 1 replies
ryuka
bagusss.. lucuuu menyenakan baca nya bikin senyum senyum sendirii 😂😂😂
ryuka
kalau apa thooorrr ??? kamu bikin penasaran
ryuka
🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
kalo Lorenzo bercerai dari aku maka dia akan miskin 🤭🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
lipstik Alina pindah ke Lorenzo 🤣🤣🤣
Muslimah Adn
maraton dari bab 1 Sampek sekarang kesimpulan ku adalah : terlepas dari suasana humor, kayaknya terlalu cepat baikannya, kenapa gak ada sanksi buat Lorenzo ?
1. dia selingkuh selama pernikahan, berniat menceraikan istrinya demi menikahi wanita lain, membiarkan istrinya diperlakukan semena-mena dikeluarganya, tapi tidak dihargai dirumah, 2.Alin dibuat bertahan 3 tahun dengan suami yang dingin, tidak menghargai istri dan selingkuh dengan pacarnya, sekaligus tekanan dari keluarga suami, tidak punya Sandaran, mengurus rumah dan sekaligus masih bekerja dikantor suami yang mana entah itu privat / disembunyikan.
coba kesampingkan humor tentang membaca pikiran, yg aku tangkap dari rumah tangganya itu semua, rasanya terlalu mudah dimaafin, padahal untungnya cuma Alin gak cinta, dan Lorenzo gak celap celup. sisanya kalo dipikir sakit ya
Muslimah Adn: btw semangat Thor, jangan buat Alin gampang disentuh ya, soalnya kalau sudah hamil, padahal rumah tangganya masih stuck rasanya cuma Alin yg rugi
total 1 replies
Uthie
ditunggu double or more update nya lagii 😍🙏🙏
ros
ceritanya menarik 👍
Inooy
karena kamu mulai menyukai nya,,dn kamu tidak menyadari nyaaa....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!