Indonesia
NovelToon NovelToon
PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Selingkuh / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PABRIK YANG KOSONG HARUS DIISI

Pukul 11 siang, Alya akhirnya keluar dari ICU.

Setelah 4 hari di dalam ruangan dengan lampu putih yang tidak pernah mati, pintu kaca itu terbuka ke arah koridor yang ada jendelanya. Ada matahari. Benar-benar ada matahari yang masuk lewat jendela koridor lantai 5.

"Bu Alya, kita pindah ke HCU ya, ruang intermediet. Sudah tidak perlu ICU lagi kalau saturasi stabil," kata perawat sambil mendorong bed.

Alya menutup mata sebentar karena silau. Silau matahari yang biasa saja, tapi baginya seperti hadiah.

Arga berjalan di samping bed, satu tangan pegang tiang infus, satu tangan genggam tangan Alya. Di pangkuan Alya ada map coklat hasil biopsi: foto sumsum tulang yang kosong itu.

Ruang HCU lebih tenang. Tidak ada bunyi monitor sekeras ICU. Ada jendela yang bisa dibuka sedikit. Ada tirai motif bunga, bukan tirai putih polos. Ada kursi tunggu yang lebih empuk.

Mbok Sari dan Bu Ratna sudah menunggu di dalam. Bu Ratna langsung berdiri, mukena masih di tas, matanya bengkak.

"Alya..." Bu Ratna memeluk Alya hati-hati, takut menyentuh selang.

"Bu..." Alya baru bisa ngomong itu, lalu nangis. Bukan nangis sesak seperti di ICU, tapi nangis lega karena keluar dari ruangan itu.

Arga memberi ruang. Ia berdiri di dekat jendela, menatap taman bawah rumah sakit. Taman yang Alya bilang mau lihat bunga kuningnya.

Dokter hematologi datang jam 12 siang, tidak sendirian. Ia membawa satu dokter lagi, dokter farmasi klinik.

"Bu Alya, Pak Arga, Bu Ratna, kita diskusi terapi ya," katanya.

Ia duduk.

"Diagnosis kita sudah jelas: Anemia Aplastik Berat. Sumsum tulang hipoplasia 80%. Ini bukan karena keturunan, bukan karena makanan, bukan karena stres. Ini autoimun. Sistem imun Ibu menyerang pabriknya sendiri."

Bu Ratna menggenggam tangan Alya lebih erat.

"Lalu pengobatannya gimana, Dok?" tanya Arga.

"Kita akan pakai protokol ATG," jawab dokter. "Anti-Thymocyte Globulin. Obat ini dari serum kuda, fungsinya mematikan sel imun yang nakal yang menyerang sumsum tulang. Setelah sel nakalnya mati, kita harap sumsumnya mau tumbuh lagi."

"Obat dari kuda, Dok?" Bu Ratna kaget.

"Iya, Bu. Makanya efeknya keras. Saat disuntikkan, biasanya pasien demam tinggi, menggigil, tekanan turun, seperti alergi berat. Makanya harus di ruang HCU, dipantau ketat. Satu siklus ATG itu 4 hari infus, tiap hari 8 jam."

Alya menatap Arga. "4 hari 8 jam?"

"Ya. Dan setelah itu lanjut minum siklosporin, obat penekan imun, setiap hari selama minimal 6 bulan sampai setahun. Sambil tetap transfusi kalau Hb atau trombosit turun."

Dokter farmasi menambahkan, "Obat ATG-nya harus kita pesan dari Jakarta, Bu. Di Makassar stok tidak ada. Paling cepat datang besok sore. Harganya satu vial 25 juta, butuh 6 vial."

Arga langsung mengangguk. "Pesan, Dok. Berapa pun. Saya transfer hari ini."

Alya menarik tangan Arga. "Mas..."

"Jangan pikirin uangnya," kata Arga pelan ke Alya, tapi cukup keras didengar Bu Ratna. "Pabrik kamu kosong, harus diisi."

Bu Ratna menatap Arga, untuk pertama kalinya sejak Alya dirawat, tatapannya bukan marah, tapi terima kasih.

Dokter melanjutkan, "Satu lagi. Untuk jangka panjang, penyembuh total adalah transplantasi sumsum tulang. ATG itu mengosongkan ruangan supaya pabrik bisa tumbuh lagi. Transplantasi itu ganti pabriknya sekalian."

"Donornya siapa, Dok?" tanya Bu Ratna.

"Terbaik saudara kandung. Bu Alya anak tunggal ya?"

"Iya," jawab Alya.

"Maka kita tes dulu Pak Arga sebagai donor. Suami bisa dites kecocokan HLA, walau kemungkinan cocok kecil, tapi kita coba. Kalau tidak cocok, kita daftarkan ke bank data donor Indonesia dan luar negeri. Sambil jalan ATG dulu."

Arga langsung berdiri. "Tes sekarang, Dok. Ambil darah saya sekarang."

Dokter mengangguk ke perawat. Perawat datang membawa tabung darah 3 tabung besar.

Arga duduk di kursi samping Alya, lengan bajunya digulung. Jarum masuk. Arga yang dulu takut jarum, yang dulu pingsan waktu donor darah di kantor, sekarang melihat darahnya sendiri mengalir ke tabung tanpa memalingkan wajah.

Alya menatapnya. "Mas nggak takut?"

"Takut," jawab Arga jujur, sambil menahan perih. "Tapi lebih takut kamu nggak punya pabrik."

Setelah darah diambil, perawat membawa tabung itu ke lab HLA.

Siang itu, untuk pertama kalinya dalam 5 hari, Alya makan siang di luar ICU. Bukan bubur saring ICU, tapi nasi tim dengan ayam cincang dan sup bening yang dibuat Mbok Sari di rumah, dibawa dengan rantang.

"Nasi tim, Non, bukan bubur," kata Mbok Sari, menyuapi pelan. "Kata dokter boleh yang lunak, bukan yang cair terus."

Alya makan 7 suap. Lebih banyak dari 3 suap di ICU kemarin. Bu Ratna mengusap kepala Alya sambil baca istighfar pelan.

Sore jam 4, HP Arga bergetar.

Bukan Keisya datang ke lobi lagi. Keisya sudah belajar dari Bab 18. Sekarang hanya chat.

Keisya: Hasil HLA kamu belum keluar?

Arga kaget. "Kamu tau dari mana aku tes HLA?"

Keisya: Suster di HCU teman aku. Aku tanya kabar Alya, dia bilang kamu donor.

Arga menatap Alya yang sedang tidur siang habis makan, lalu membalas:

Arga: Iya. Aku tes. Kalau cocok aku donor.

Keisya: Kalau cocok, kamu akan operasi?

Arga: Ya.

Hening 5 menit. Keisya mengetik lama.

Keisya: Arga, kamu yakin? Itu tulang kamu diambil. Bukan donor darah biasa.

Arga: Aku yakin. Karena ini satu-satunya cara pabriknya bisa ada lagi.

Keisya tidak membalas lagi. Tidak ada "kamu harus memilih" lagi. Kalimat itu sudah selesai di Bab 18.

Malam jam 8, dokter kembali.

"Hasil HLA Pak Arga tidak cocok sebagai donor penuh, Pak. Hanya 50% cocok, half-matched. Bisa dipakai kalau terpaksa dengan teknik haploidentik, tapi risikonya lebih tinggi daripada donor 100% cocok. Kita tetap daftarkan Pak Arga sebagai cadangan, sambil kita mulai ATG besok sore setelah obat datang."

Arga mengangguk. Tidak kecewa berlebihan. Ia sudah menduga.

"Berarti ATG dulu, Dok?"

"Ya. ATG dulu. Besok jam 3 sore kita mulai hari pertama. Siap-siap, Bu Alya, biasanya hari pertama paling berat. Demam menggigil lagi, tapi itu tanda obat bekerja."

Alya menatap Arga, lalu menatap foto sumsum tulangnya yang kosong di meja.

"Berarti besok pabrik saya dibersihkan dulu ya, Dok? Baru diisi lagi?"

Dokter tersenyum, pertama kali senyum sejak diagnosis. "Bahasa Bu Alya bagus. Ya, kita bersihkan dulu yang nakal, baru kita kasih pupuk biar tumbuh lagi."

Malam itu, HCU lebih tenang dari ICU. Tidak ada monitor yang berbunyi setiap 10 menit. Hanya infus siklosporin percobaan yang menetes pelan.

Alya menatap jendela. Dari jendela HCU, taman bawah rumah sakit terlihat, dengan lampu taman kuning.

"Mas," panggilnya pelan.

"Iya?"

"Taman bunga kuning yang aku bilang mau pulang kemarin... ternyata dari jendela sini kelihatan juga ya."

Arga mendekat ke jendela, melihat taman yang sama.

"Kelihatan. Kuning-kuning kecil."

"Besok kalau aku ATG, aku bakal demam lagi ya?"

"Mungkin."

"Mas masih di sini?"

Arga duduk kembali di kursi, yang sekarang lebih empuk dari kursi biru ICU. Ia menggenggam tangan Alya, tangan yang tadi pagi habis transfusi trombosit dan sekarang sedikit lebih hangat.

"Di sini. Sampai pabrik kamu isi lagi."

Alya menutup mata. Bukan karena menyerah seperti di Bab 19, tapi karena akhirnya ada rencana. Ada nama penyakit, ada obat yang dipesan, ada donor yang dicari.

Di luar, obat ATG sedang dalam perjalanan dari Jakarta ke Makassar, dalam box dingin, menuju pabrik yang kosong yang harus diisi.

1
Inarrr Ulfah
semgat alaya
Nuna_Pena: hehe.. makasi cayank sudah mampir..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!