Indonesia
NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:370
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 31 : Rute Yang Tak Ada Di Peta

Alarm di jam tangan Gilang bunyi.

Bip...Bip.. Bip.. Bip..

Gak nyaring sebenarnya tapi di tempat itu terasa amat nyaring. Gilang bangun pertama lalu mematikan alarm di jam tangannya.

Bip...

Api kecil semalam sudah mati, gasnya habis.

Hari sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi jika di dunia normal. Tapi disana meski jam 05.00 pagi cuacanya tetap sama. Temaram.

" Bima, Arga. Bangun." Gilang menepuk pelan pundak kedua temannya.

" Jam berapa Lang?"tanya Bima yang baru bangun sembari mengucek pelan matanya.

" Jam 5 pagi."jawab Gilang lalu ia beranjak membangunkan Maira dan Elina.

" Ga, bangun." Bima menepuk agak kuat pundak Arga yang terlihat pulas. Efek kelelahan di sarang pohon bermata sampai membuat Arga tidur seperti orang mati.

" Arga." Bima sedikit membentak barulah Arga bangun.

" Ck, gue denger ya. Nggak usah pukul pundak gue kuat-kuat."protesnya yang baru bangun.

" Halah, tidur aja kayak orang mati lo." Bima mencibir lalu beranjak dari posisinya.

Gilang berhasil membangunkan Maira dan Elina. Dan sekarang kelima sekawan sudah duduk berkumpul dengan wajah ngantuk mereka.

" Tidur gue nyenyak banget."timpal Elina sembari merenggangkan otot-ototnya.

" Sama. Baru kali ini gue bisa tidur nyenyak di tempat aneh ini."timpal Gilang.

" Gue juga." Bima menyahut.

" Syukurlah. Kayaknya kita semua tidur dengan baik semalam."tukas Maira.

Mereka bersyukur semalam nggak ada gangguan berarti sehingga mereka bisa istirahat dengan tenang. Setidaknya untuk sekarang.

" Ohya Ga, setelah ini rute kita kemana?"tanya Bima.

Arga mengambil peta di tasnya lalu membuka peta itu di hadapan teman-temannya. Lima kepala memperhatikan peta tersebut.

" Setelah pohon bermata rute selanjutnya gunung cahaya."kata Arga.

" Itu doang?"tanya Gilang seakan tak percaya.

" Tapi kenapa rute ini ditulis panjang banget dari pohon bermata?" Maira heran sekaligus merasa aneh.

" Eh, iya ya. Garisnya panjang banget ini."Elina ikut nimbrung. Ia juga merasa ada yang aneh.

" Mungkin perjalanannya lama makanya panjang."tebak Arga asal.

" Bisa jadi sih. Antara waktu yang lama atau jarak gunung cahaya yang jauh. Mungkin..."ucap Bima juga tak yakin.

" Hmm, feeling gue nggak enak banget nih. Nggak mungkin perjalanan panjang nggak ada jebakan. Atau hal lain kan."

" Lang, lo jangan nakuti-nakutin dong."protes Elina merinding. Ia masih trauma diseret pas awal masuk tempat ini.

" Tau nih. Lo positif thinking aja bisa nggak." Maira ikut ngomel. Dia bisa lihat tatapan nggak nyaman Elina dan Arga yang masih trauma. Meski sebenarnya Maira juga cemas.

" Enggak, gue nggak bisa berpikir positif di tempat begini. Gue yakin banget pasti ada sesuatu didepan yang kita nggak tau itu apa. Lagian nih ya, kalian nggak ngerasa aneh sama garis panjang ini. Kek plong aja gitu, nggak ada petunjuk lagi. Gue sih nggak yakin perjalanan kesana semulus itu."ujar Gilang berpendapat.

Bima, Arga, Elina dan Maira terdiam. Ucapan Gilang ada benarnya juga.

Ini dimensi lain. Tempat Bhayavedin tinggal. Mereka nggak tau sama sekali tempat asing ini. Satu-satunya petunjuk hanya peta usang ini.

" Lo bener Lang. Tapi apapun yang ada didepan kita bakalan hadapi sama-sama. Sekalipun itu nggak ada di peta ini."kata Bima.

" Benar. Apapun kita hadapi bersama. Pergi berlima pulang juga harus berlima."sambung Maira menyemangati teman-temannya.

" Oke, ayo berangkat."seru Arga yang sejak tadi hanya diam.

" Bentar. Isi perut dulu baru berangkat." Maira mengambil tasnya lalu mengeluarkan 2 bungkus roti sobek dan membaginya rata.

Mereka sarapan dengan roti itu. Makan seadanya sebab persediaan makanan sudah hampir habis.

Kemudian mereka berkemas lalu pergi meninggalkan area pohon bermata. Menuju rute berikutnya, gunung cahaya.

*

Kelima sekawan berkemas lalu meninggalkan area tersebut. Mereka berjalan lurus kedepan selama 10 menit. Sampai akhirnya masuk ke sebuah ladang.

Depan mereka, ladang ilalang luas. Rumputnya

tinggi sekitar 2 meter. Kuning keemasan, tapi keringnya aneh. Daunnya gak tajam, lembut, kayak rambut.

Bima yang di depan, senterin. Cahaya senter lowbatnya mantul-mantul, karena di antara ilalang ada yang berdiri.

Boneka.

Puluhan.

Boneka kayu setinggi manusia, 170cm, badan dari batang ilalang yang diikat, kepala dari batok kelapa, muka polos, gak ada mata hidung mulut. Tangannya panjang, juntai sampai tanah. Berdiri diam di antara ilalang, kayak orang-orangan sawah.

Gilang yang di belakang berbisik: "Bim.. ini... ladang boneka kah? Kok banyak banget bonekanya."

" Gue nggak tau Lang. Di peta kan nggak ditulis apa-apa lagi selain rute gunung cahaya."

" Guys, coba lihat tulisan di pohon besar itu."bisik Elina sembari menunjuk pada pohon besar yang berada diantara ilalang.

LADANG BONEKA

PANTANGAN: JANGAN BERKEDIP LAMA & JANGAN LENGAH

Tulisan itu ditulis pakai arang dengan huruf kapital.

Lalu tulisan kecil di bawahnya bilang,

CATATAN: DIA BELAJAR JADI KAMU_

Maira ngerasa gak enak. Dia ngitung boneka yang keliatan dari senter Bima.

"...12, 13, 14..." Maira ngitung pelan.

Gilang nimbrung: "Tadi di awal 14, sekarang 15 deh?"

Berlima diem.

Bima senterin lagi, pelan, dari kiri ke kanan.

1...2...3... sampai 14. Pas balik ke kanan lagi, di paling ujung, ada satu boneka baru. Berdiri mepet sama ilalang, jaraknya cuma 3 meter dari mereka.

Boneka itu beda. Mukanya gak polos. Udah ada coretan arang, bentuk mata, hidung, senyum. Coretannya masih basah.

Dan coretan itu... mirip Elina.

Mata sipit, senyum kecil.

Elina yang liat langsung nutup mulut, hampir teriak. "Itu... itu muka gue..."

Boneka mirip Elina itu kepalanya miring dikit.

Krek... Kayu lehernya bunyi.

Padahal gak ada yang nyentuh.

Arga yang sejak tadi hanya diam, dia langsung kedip. Matanya kelilipan abu Pohon Bermata.

Kedip.

Pas dia buka mata...

Boneka yang tadi 3 meter, sekarang jadi 1 meter di depan Arga.

Maju 2 meter cuma gara-gara Arga kedip sekali.

Arga jatuh ke belakang, nabrak Maira.

"WOI! JANGAN KEDIP!" Bima teriak, tapi pelan.

Semua langsung melek lebar-lebar. Mata dipelototin.

Bima jongkok, liat punggung boneka yang maju ke Arga tadi. Di punggungnya yang dari ilalang diikat, ada tulisan diukir pakai kuku, kecil:

`KEDIP \= DEKAT`

Bima bacain pelan, "Kedip sama dengan dekat... Jadi kalau kita kedip, dia deketin kita."

Maira langsung paham. "Jadi kita gak boleh kedip barengan! Harus gantian! Satu orang kedip, empat orang lain harus melek ngawasin bonekanya biar gak maju!"

Tadi di pohon bermata jangan bersuara,jangan liat lama-lama.Sekarang di tempat ini harus nahan kedip.

Gilang matanya udah berair,"Mata gue perih banget woy. Gimana nih."

" Gantian! Gue jaga dulu, kalian kedip cepet! Satu-satu!"sahut Bima.

Di tengah ilalang setinggi manusia itu, berlima berdiri melingkar, punggung ketemu punggung, ngawasin 15 boneka polos dan 1 boneka yang mukanya udah mirip Elina.

Dan dari dalam ilalang, di antara goyangan ilalang yang gak ada angin...

Ada suara...

Srek... srek...

Kayak ada yang jalan di antara ilalang, tapi jalannya merangkak, pelan, ngikutin mereka kedip.

Maira bisik, suaranya gemeter,"Kok bonekanya... nambah satu lagi? Tadi 15, sekarang..."

Bima senterin lagi.

16.

Boneka baru lagi muncul di belakang Gilang, mukanya udah mulai mirip Gilang, tapi senyumnya lebar banget, giginya dari kayu runcing.

***

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!